Audene (Chapter 1)

Summary: Haruno Sakura dan Hasegawa Saki dipindahkan ke sekolah asrama oleh orang tua mereka.  Di hari pertama kedatangan mereka, keduanya terkejut mendengar peraturan bahwa setiap murid tingkat pertama harus memiliki pelayan pria.   Bagaimana dengan Sakura yang takut pada pria dan Saki yang tomboy menghadapi pelayan mereka dan serangan dari orang-orang yang ingin menyingkirkan mereka?

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto & Hakkenden: Touhou Hakken Ibun © Abe Miyuki

Inspired by Mei-chan no Shitsuji [Jangan heran kalo ada kesamaan cerita, tapi saya usahakan untuk tidak menyamai] & Hakkenden: Touhou Hakken Ibun

Warning: Alternative Universe, OC, OOC

Suatu hari aku hampir saja celaka dan mengalami pelecehan di kereta.  Tapi, tiba-tiba dia muncul dan menyelamatkanku dengan sebuah tongkat untuk berlatih kendo, bukan shinai.  Tapi, aku tahu kalau itu biasa digunakan untuk berlatih kendo.

Aku sangat berterima kasih padanya, jika ia tidak ada mungkin aku sudah kehilangan masa depanku.  Seorang bishounen yang membuatku terpesona.

“A… arigatou.” Ucapku terbata-bata setelah ia menarikku keluar.

“Tak apa, aku hanya tidak suka kaum sesamaku dilecehkan.”

“Eh?” aku terkejut mendengar kalimat barusan.

Ia melepas topinya dan aku menahan napas begitu melihat rambut pirang panjangnya tergerai.  Aku sedikit terkejut melihat matanya yang masing-masing berbeda warna. “Namaku Hasegawa Saki.  Yoroshiku!”

“Eeeeeh?” aku hanya bisa mematung.  Dan keesokan harinya, aku mendapatinya sebagai teman sekelasku yang baru.  Oh, entah mengapa sampai sekarang aku selalu merasa bahwa Saki adalah jodohku.  Yah, bukan sebagai kekasih.  Melainkan sebagai teman baik.

Haruno Sakura

Audene

“Huaaaaah~ capek sekali.” Keluh Saki sambil merebahkan tubuhnya di atas rumput taman sekolah.  “Aku senang sekali sekolah di sini.  Aku sering mendengar tentang Kendo, itu mengingatkanku pada seorang samurai.  Dan entah mengapa aku ingin menjadi seperti itu.”

Sakura tertawa.  “Kau ini ada-ada saja.”

“Tidak apa-apa kan?  Lagipula aku tidak terlalu menyukai sekolah di Amerika.  Bagiku di sini lebih menantang.”

Sakura tersenyum lembut ia merogoh tasnya lalu memberikan Saki botol air minumannya.  Saki dengan penuh terima kasih langsung menyambar botol itu dan meneguknya sampai isi botol penuh itu menjadi setengah.

“Kau sudah dengar dari orang tuamu?” Tanya Sakura.

“Apa?”

“Orang tuaku mengundang orang tuamu untuk makan malam di rumahku.”

“Benarkah?” Saki terduduk dan menatap Sakura penuh tanya.  “Aku tak tahu bahwa orang tua kita saling mengenal?”

Sakura angkat bahu.  “Entahlah, biasanya keluarga pengusaha sukses saling mengenal bukan?”

“Mendengar ucapanmu itu menjadi tidak menyenangkan lagi.” Saki mendengus.

“Ada apa?  Kenapa kau tak senang dengan hal itu?”

“Entahlah, rasanya sebuah beban berat jatuh tepat dibahuku dan membuatku kelimpungan.”

Sakura tertawa kecil.  “Kau tidak akan merasakan beban itu jika kau mencoba melaluinya dengan baik.”

“Itu karena orang tuamu begitu perhatian padamu.  Mereka selalu ada dan memperhatikan perkembanganmu sekecil apa pun.”

Sakura tesipu mendengarnya.  “Kau sendiri?  Aku tak pernah dengar kau menceritakan tentang orang tuamu.”

“Karena itu tidak menyenangkan untuk diceritakan.” Balasnya sambil menguap lebar.

Sakura tersenyum.  “Oya, kau pernah dengar Audene Gakuen?”

“Oh, sekolah para orang kaya itu.  Kenapa?”

“Um.” Sakura menggeleng.  “Aku hanya bertanya saja.”

Saki angkat bahu.  “Yang kudengar itu sekolah asrama.”

“Ya benar.” Ujar Sakura dengan sedih.

“Kenapa?” Tanya Saki heran.

“Kau tahu kan, ayahku seorang pengusaha yang bergerak di bidang mesin?”

“Hm? Lalu?”

“Sejak dulu ayahku berharap aku bisa menjadi sepertinya, tapi yah karena aku anak perempuan dia agak sedikit ragu.  Terlebih lagi saat aku mengatakan padanya bahwa aku ingin menjadi Dokter.”

“Cita-cita yang bagus, Sakura.” Puji Saki.

Arigatou.” Sakura tersenyum senang mendengarnya.  “Tapi, ayahku memberiku penawaran.  Jika aku ingin menjadi dokter, aku harus pindah ke sekolah lain.”

“Eh?  Aneh sekali penawarannya.”

“Dan itu berarti…” Sakura melanjutkan dengan sedih.  “kita tidak akan bertemu dalam waktu yang lama.”

Audene

“Kami berencana untuk memindahkan Sakura ke sekolah yang bagus, aku berharap dia menjadi apa yang ia harapkan.” Ujar Haruno Mebuki sambil tersenyum lebar.  Sakura sedikit tak senang mendengarnya.  Bukankah sedari tadi orang tua mereka membicarakan tentang pekerjaan saja, kenapa sekarang beralih ke sekolahnya?

“Eh itu…” Sakura melirik Saki yang tetap makan dengan tenang.  Sepertinya gadis itu tidak begitu berminat untuk memberikan opini.

Mebuki yang tahu bahwa putrinya mulai kikuk memandang Saki.  “Saki-chan, bagaimana denganmu?”

“Saki,” panggil ibunya, Hana dengan lembut, begitu Saki tidak menjawab selama beberapa saat.

Saki agak sedikit terkejut, namun ia cepat-cepat menjawab, “Sebenarnya aku tidak masalah sekolah di mana saja.  Asalkan aku bisa ikut klub Kendo aku akan dengan senang hati sekolah di sana.  Yah, itulah mengapa aku senang bersekolah di sana.”

Sakura merutuk dalam hati mendengar jawaban Saki.  Keempat orang yang berada di meja itu langsung bergumam senang.

“Jadi, asalkan kau bisa masuk klub Kendo kau akan dengan senang hati berada di sana?” Tanya Hana dengan separo senang.

“Hm…” Saki mengangguk sambil mengunyah makanannya.

“Saki, bagaimana jika kau dan Sakura sekolah bersama lagi?”

Sakura yang mendengar itu sedikit merasa cemas memandang kawannya.  Saki menatap Sakura sejenak, lalu beralih ke ayahnya.  “Tidak masalah.”

“Baguslah.” Jawab Kizashi sambil terkekeh.  “Aku lega Sakura tidak akan merasa sendiri di sekolahnya.”

“Ya.  Saki, kami sudah memutuskan untuk mendaftarkanmu juga ke Audene Gakuen.”

PRANG!

Suara sendok yang terjatuh mewakili rasa terkejut Saki.

Audene

“Saki,”

“Ya ampun!  Bodohnya aku mengatakan hal itu.”

Sakura mendengus, “Sudah terlambat mengatakannya.”

Tentu saja sudah terlambat, karena mereka sekarang sedang di dalam mobil yang melaju ke arah gedung sekolah mereka yang baru.  Mereka sedikit heran saat melihat pintu gerbang tinggi yang menjulang itu terbuka, lalu setelahnya mereka disuguhi pemandangan taman bunga luas yang membentang di kiri dan kanan sebuah gedung tingkat empat bergaya greek revival.

“Aku kira kita akan ke sekolah lain, selain sekolah ini.  Dan inikah yang dinamakan sekolah?” gumam Saki begitu melihat gedung utama.  “Jika aku jadi pemimpin negara, aku akan membuatnya jadi museum.”

“Saki,”

“Apa?”

Mobil berhenti, kedua gadis itu keluar dengan wajah kusut.

Ohayou gozaimasu,” seorang gadis berambut pirang dengan kuncir empat menyambut mereka bersama seorang pemuda dengan wajah mengantuk mengekor di belakangnya.

Ohayou gozaimasu,” balas keduanya dengan tidak bersemangat.

“Aku ketua kelas kalian, Sabaku Temari-desuKorewa shitsuji ne, Nara (Ini pelayanku, Nara).”

“Nara Shikamaru-desu.” Katanya, setelah mengucapkan itu pria itu menguap tanpa bersuara di belakang Temari.

Shitsuji?” seru kedua gadis itu.

“Ya,” Temari mengangguk.  “Murid-murid wanita di tingkat pertama akan mendapatkan seorang pelayan dari murid pria tingkat dua.  Seperti Shikamaru yang berasal dari kelas militer tingkat dua.  Dan nanti saat kita naik ke tingkat dua, sebagai gantinya kita akan menjadi Maid untuk para murid pria tingkat akhir.”

Uso?!?!

Uso janai.” Balas Temari kalem.  “Nanti kalian pun akan mendapatkan seorang pelayan.  Shikamaru,” panggilnya.

Haik, Temari-sama.” Pemuda itu lalu pergi selama beberapa saat dan kembali dengan dua orang pemuda.

“Uchiha-sama, Namikaze, pilihlah majikan yang kalian inginkan.” Ujar Temari. “Ah, aku lupa menanyakan nama kalian.”

“Haruno Sakura-desuYoroshiku onegaishimasu.”

“Hasegawa Saki.” Ujarnya pendek.  “Kenapa kau menyebut Uchiha dengan embel-embel ‘-sama’, sedangkan Namikaze tidak?  Bukankah itu tidak adil?” Tanya Saki dengan nada tak suka.

“Uchiha-sama bukan pelayan sembarangan.  Dia satu-satunya yang mendapat peringkat S saat menjalani kelas pelayan, sedangkan Namikaze mendapat peringkat C.”

Pemuda berambut pirang itu menggerutu pelan di belakang Temari.

“Nara wa?”

“Dia peringkat A, walaupun agak pemalas dia cukup membantu.” Ujar Temari sambil mendelik pada pemuda di belakangnya.  “Silahkan, Uchiha-sama.” Lanjutnya.

Pemuda berambut raven dan tampan itu melangkah ke depan Sakura dan membungkuk di depan gadis itu.  “Watashiwa Sakura-sama no shitsuji-desu.” Pemuda itu tersenyum, namun senyumnya yang menyerupai seringaian itu membuat Sakura ketakutan dan memeluk lengan Saki.

Saki berkata dengan nada memperingatkan, “Uchiha, hentikan senyum menjijikanmu itu!” Saki mendorong Sakura ke belakang punggungnya.  “Dia tidak memerlukan pelayan sepertimu.  Sakura, biar aku yang mengurusnya.”

“Tidak bisa.” Ucap Temari tegas.  “Itu sudah menjadi peraturan di sini. Jika kau ingin melanggar peraturan itu, kalian pasti akan diberi hukuman.”

“Tidak bisakah Sakura dilayani oleh murid wanita?”

“Itu mustahil Hasegawa-san,”

Saki memandang Sasuke dengan geram, sedangkan pemuda itu balas memandangnya dengan wajah datar.  Shikamaru yang menyaksikan itu menguap lebar dan bergumam, “Mendokusai na,”

“Shikamaru,” Temari memperingatkannya.

Shikamaru terlihat berpikir lalu berkata- lambat-lambat, “Bagaimana jika berduel saja untuk menyelesaikan masalah ini?” usul Shikamaru.

“Jangan bercanda!  Mana ada peraturan yang memperbolehkan seorang pelayan berduel dengan majikan wanita.”

“Tidak masalah.”

TAK!

Saki memukulkan tongkat yang selalu ia bawa di dalam sebuah silinder hitam yang biasa dibawa arsitek untuk menyimpan hasil desain mereka.  Mereka begitu terkejut melihat Saki membawa-bawa tongkat itu.

“Hasegawa-san,”

“Aku tidak takut padamu.” Saki menantang pemuda Uchiha itu.

“Eh?  Jadi, kau menantangku?” pemuda Uchiha itu menyeringai lebar.

Shikamaru maju dan menyingkirkan tongkat itu.  “Tidak begitu, Hasegawa-sama.” Ucapnya.  “Maksudku, Uchiha berduel dengan pelayanmu.  Bukan denganmu.”

“Apa?”

“Ya, begitulah seharusnya duel yang sesungguhnya.”

“Tapi,”

“Tidak ada pilihan lain.  Aku menerima duel ini.”

“Oi, Sasuke!” Naruto yang mendengarnya tak senang.

Sasuke menegakkan tubuhnya dan memandang Saki dengan menantang.  “Aku terima tantanganmu.”

Chotto, aku belum mengatakan apa pun.”

“Aku tidak akan membiarkan siapa pun menjadi pelayan Sakura-sama.  Zettai ni.” Pemuda itu memandang Sakura lalu membungkuk dengan hormat sekali lagi.  “Ojousama yang akan aku layani hanyalah Sakura-sama.  Tidak ada yang lain.  Dan jika Hasegawa-sama kalah, maka kau harus mengizinkan aku melayani Sakura-sama.”

Sakura termundur dengan gugup.  “Tidak perlu seperti itu.”

“Baiklah, duel akan dilaksanakan dua hari dari sekarang.  Uchiha-sama, Namikaze, bersiaplah!”

Saki hanya bisa melongo mendengar keputusan Temari.  Pemuda Uchiha itu membungkuk hormat sekali lagi pada Sakura dan pergi.

Anata no namae wa?

“Naruto.  Namikaze Naruto-desu, Saki-sama.”

Saki lalu menunjuk Naruto dengan tongkatnya.  “Dengar Naruto, aku ingin kau menang dalam duel itu!  Ini perintah!”

Naruto langsung bergidik ngeri melihat tatapan membunuh Saki.  “Wakarimashita, Saki-sama.”

Audene

“Ini ruang kelas kami.” Temari mengajak kedua gadis itu untuk masuk.

Beberapa siswi dan shitsuji mereka memandang heran ke arah Temari yang diikuti dua gadis asing.  Saki menghela napas melihat kursi-kursi dan meja-meja tidak diatur berbaris, melainkan dengan berjajar membelakangi dinding.  Berbeda sekali dengan sekolah umum tempat mereka belajar kemarin.

Ohayou gozaimasu minna-san,” Temari yang berdiri di depan mimbar mengucapkan salam.

Ohayou gozaimasu.” Balasan dengan malas dari mereka terdengar.

“Minna-san, hari ini Yuuhi Sensei sedang tidak bisa masuk untuk mengajar.  Jadi, kita diharapkan untuk mengerjakan tugas yang berada di halaman tiga puluh delapan.”

Para murid wanita berseru senang mendengarnya.

“Dan satu lagi, kita kedatangan dua murid baru hari ini.”

“Haruno Sakura-desu, yoroshiku onegaishimasu.”

“Hasegawa Saki.”

“Eh, dingin sekali.” Seorang gadis berambut pirang mendekati kedua murid baru itu bersama seorang pemuda berambut merah mengekor di belakangnya.  “Sebagai seorang calon Hime –jika  ini adalah audisi– mungkin kau akan langsung didiskualifikasi.” Komentarnya

“Oi boneka plastik, aku tidak minta pendapatmu.” Balas Saki.

Wajah gadis itu langsung memerah.  “Apa?  Beraninya kau–”

“Ino-sama,” pemuda berambut merah di belakangnya memegang lengan gadis pirang tadi.  “tidak baik seorang calon Hime sepertimu meladeninya.  Itu nanti akan mengurangi poin Ino-sama.”

“Kau benar Gaara.” Ino menarik napas dan menghembuskannya.  “Dan kau… kurasa kau berbeda dengannya.” Ino mengedikkan kepalanya menunjuk Saki.

Sumimasen deshita.” Ujar Sakura.  “Watak Saki memang begitu.”

Ara~ jadi kalian berteman rupanya.” Seorang gadis cokelat kehitaman yang dicepol dua. “Aku Tenten dan ini Hyuuga Neji, dari kelas bisnis dan manajemen.”

Yoroshiku,” balas Saki.  “Setidaknya ada seseorang yang lebih baik berkenalannya daripada si boneka plastik.”

“Kau…” Ino menahan geramannya.  “Yamanaka Ino.  Dan ini Gaara dari kelas kepemimpinan tingkat dua sekaligus adik dari ketua kelas kita.”

“Eh? Bukankah seharusnya…” Sakura memandang Temari heran.

“Aku baru masuk tahun ini karena masih berada di Jerman dua tahun lalu.” Jawabnya.

“Ya ampun pagi-pagi sudah berisik sekali.  Kalian membuat konsentrasiku dalam membaca terganggu.” Suara angkuh gadis berumur sepuluh tahun menginterupsi perkenalan mereka.

“Eh? Dare ano Ojou-chan?

“Hyuuga Hanabi, dan kau jangan menyebutku ‘Ojou-chan!

Are,” Saki lalu menangkap pipi Hanabi yang mengembung karena ekspresinya itu dan meulai mencubitinya.  Hanabi menjerit-jerit. “Anak kecil, bertingkahlah selayaknya usiamu.”

“Adudududuh~”

“Ya Tuhan, Hanabi-sama.” Seorang pemuda berambut hitam dengan alis tebal langsung memisahkan Ojousama-nya dari Saki dengan menggendong gadis kecil itu.  “Gomennasai Hasegawa-sama.”

“Lee, turunkan aku!  Kau mau aku laporkan Osaki-sama, hah?” jerit Hanabi terdengar saat pemuda itu membawa jauh Hanabi dari kerumunan.

“Ma… maafkan adikku ya?” Seorang gadis beraroma lavender membungkuk ke arah Saki.

“Ah, daijoubu.”

Watashi wa Hyuuga Hinata-desu.  Ini Inuzuka Kiba, dari kelas kedokteran hewan.”

“Wah, banyak juga yang memiliki nama Hyuuga.” Komentar Saki.

“Neji Oniisama adalah sepupuku.”

“Pantas saja.” Ujar Sakura pelan

“Ya ampun, aku terlambat!” seru seorang gadis berambut merah diikuti seorang pemuda berambut perak di belakangnya memasuki kelas dengan terburu-buru.  Gadis itu membenarkan letak kacamata berbingkai merah yang merosot di hidungnya dan membenahi seragam sekolahnya.

“Karin-sama, dasinya~”

Gadis bernama Karin itu merebut dasi dari tangan pemuda itu dan memakainya dengan terburu-buru.  Ia lalu menatap kelas yang masih berantakan. “Eh, Yuuhi Sensei wa?”

“Absen untuk hari ini.”

“Oh, untunglah.” Ucapnya penuh syukur.  Ia lalu memandang kedua gadis yang belum pernah dilihatnya itu.  “Eh, siapa mereka?  Dan apa yang mereka lakukan di sini?”

“Mereka murid baru.  Haruno Sakura dan Hasegawa Saki.  Dan Karin, ini sudah keempat kalinya kau terlambat.” Tegur Temari.

Gadis itu angkat bahu.  “Uzumaki Karin, dan ini Suigetsu.” Tunjuknya pada pemuda berambut perak di belakangnya.  “Dia pelayan dengan peringkat B dari kelas militer.”

“Oh, kalian belum mendapatkan pelayan ya?” tanyanya melihat kedua gadis itu tak bersama seorang pemuda lain.

“Sudah, tapi ada kejadian tak terduga.  Jadi, selama dua hari Haruno-san belum akan mendapatkan pelayan.”

“Eh? Nande?” Tenten heran mendengarnya.

“Karena pelayan Hasegawa-san dan pelayan Haruno-san harus berduel lusa.”

“Apa yang terjadi?” Tanya Ino terdengar bersemangat.

“Hasegawa-san melarang Uchiha-sama untuk menjadi pelayan Haruno-san.  Jadi, lusa duel antara Uchiha-sama dan Namikaze akan terlaksana.”

Tiba-tiba seruan riuh ramai gadis-gadis terdengar.

“Apa? Uchiha-sama?”

“Sasuke-sama ga?”

“Dia melayani seseorang?”

Minna-san, kuharap kalian tenang!” seru Temari.

“Temari, apa maksudmu?” Tanya Ino terdengar menuntut.

Temari menghela napas dan terpaksa menjawab, “Uchiha-sama memutuskan untuk melayani Haruno-san.”

“EEEH?” terdengar seruan kaget di seluruh penjuru kelas.

“Kau majikan Sasuke-sama?” desak Karin pada Sakura.

“Eh ano.. etto…” Sakura bingung harus menjawab apa.

“Haruno-san, berhati-hatilah.  Karena akan ada badai menerjang jika Uchiha-sama benar-benar menjadi pelayanmu.” Ujar Tenten dengan seringaiannya.

“Haruno-san, berhati-hatilah.” Ino mengulang ucapan Tenten.  “Kau tidak akan bisa tenang selama Uchiha-sama yang menjadi pelayanmu.”

“Eh, kenapa?”

“Cukup minna-san, mereka harus menemui Saiki Sensei.”  Temari mendorong kedua gadis itu keluar kelas untuk menghindari keributan yang lebih besar lagi.

Namun, sebelum mereka keluar Karin tiba-tiba menarik lengan Saki.  “Naruto melayanimu?”

Saki memandangnya heran.  “Ya.”

“Hati-hati.” Bisik Karin sambil tersenyum.  “Ada orang yang berkuasa menyukainya.”

Audene

“Jadi kalian murid baru ya?” wanita bernama Saiki Akane itu memandang mereka dari balik kacamatanya.

Kedua gadis itu hanya diam dan saling lirik dengan matanya.  Yang mereka dengar dari Temari, wanita ini agak menyeramkan.  Akane tersenyum.

“Aku dokter umum di sini.  Jika kalian sakit atau tidak enak badan kalian bisa berkunjung ke sini.”

Haik, Sensei.”

Akane mendekati Sakura dan mengusap pipi gadis itu.  Wanita itu tersenyum. “Temuilah Tsunade-sama.  Dia menunggu kalian.”

Kedua gadis itu bergegas keluar dan mendapati Temari masih tetap menunggu di luar bersama Shikamaru.  “Sudah selesai?”

“Hm.” Sakura mengangguk.

“Oya, kalian tahu dimana ruangan Tsunade-sama?” Tanya Saki.

Temari lalu saling pandang dengan Shikamaru.  “Mengapa kau menanyakannya, Hasegawa-san?” gadis itu bertanya heran.

Ano Sabaku-san, Saiki Sensei bilang Tsunade-sama menunggu kami.”

Temari terlihat berpikir.  Ia lalu memandang Shikamaru.  “Shikamaru,”

Haik, wakarimashita Temari-sama.” Pemuda itu lalu berlari.

“Eh?  Sugoi, hanya dengan menyebut namanya seakan-akan dia sudah mengerti tanpa perlu kau katakan.” Saki menggeleng dengan kagum.

“Yah, begitulah cara Ojousama dan shitsuji-nya saling berkomunikasi.  Dengan menaruh kepercayaan dan pengertian semua akan mengalir apa adanya.”

Tak berapa lama kemudian Shikamaru kembali.  “Semua sudah siap, Temari-sama.”

Audene

“Kenapa jauh sekali ruangan Tsunade-sama itu?” gerutu Saki.

“Wajar saja, dia adalah pemilik sekolah ini.  Yang kita datangi bukan hanya ruangannya saja, tapi sekaligus tempat tinggalnya.”

“Kita sudah berkendara lumayan jauh, apa ini masih berada di area sekolah, Sabaku-san?” Tanya Sakura.

“Ya.  Sekolah ini seperempat negara Hi dengan pintu gerbang yang berada di setiap bagian negara seperti Konoha, Suna, Ame dan Kiri.  Terlebih lagi empat keturunan pendiri sekolah ini selain Tsunade-sama juga tinggal di sini.”

“Begitu?” suara Sakura terdengar melamun.

“Nah, kalian masuklah.  Kami akan menunggu di sini.”

“Eh?  Kau tidak masuk?” Tanya Sakura.

“Tsunade-sama bukan orang yang ditemui dengan sembarangan.  Aku tidak tahu siapa kalian, tapi mendengar Saiki Sensei menyuruh kalian menemui Tsunade-sama, rasanya itu membuat kalian menjadi orang penting di mataku.”’

“Tidak perlu berkata begitu.” Gumam Saki.  “Baiklah, kami masuk dulu.  Jaa ne.”

Kedua gadis itu lalu memasuki sebuah rumah bertingkat dua dengan dua pilar besar di teras.  Mereka melangkah dengan cepat menaiki undakan tangga menuju teras dan berdiri di depan pintu besar.  Keduanya saling pandang sejenak sebelum menekan bel.  Pintu lalu terbuka lebar.  Kedua gadis itu saling pandang dengan gugup lalu melangkah masuk dengan perlahan.  Mereka menahan napas dengan saat memandang seorang wanita berambut pirang menyambut mereka.

“Selamat datang di Audene, cucu-cucuku.”

Kedua gadis itu menarik napas terkejut.  “Obaa-sama!” seru mereka bersamaan.

To be continue…

Yosh, ini baru Chapter 1. Di sini saya masukin juga beberapa chara dari anime Hakkenden: Touhou Hakken Ibun.  Itu anime semi yaoi, dan saya suka semua chara di sana. Pair straight yang saya suka Osaki & Hamaji, sedangkan chara yang saya suka Genpachi & Daikaku.  Mau bikin Genpachi agak straight mikir-mikir dulu karena takut merusak fantasi para fujoshi, tapi karena ini fanfict saya akan coba apa pun tantangannya. Yeah!  Arigatou gozaimasu sudah baca.

About these ads

10 responses to “Audene (Chapter 1)

  1. Waahh, udh da ff’a. N seneng bgt bnrn ff yg no.3 yg di share..
    Baca dl ah,,
    Arigatou, Annisa..

    Jia Jung

  2. yeyy yg num 3 di posting, pas bca sinopsisnya aja udh mnarik dn trnyta bner ffnya mnarik bgt lin XD
    ditunggu duel antara naru n sasu :D
    next paRt psti lbih seru ;) ga sbar nunggu part brikutnya ;)

  3. Jujur, aku pusing sm nama2′a.. Banyak bbaaanngggeeettt..
    Inget’a cm sebagian ja, tp grs bsr cerita’a udh ngerti.
    Jd Sakura sm Saki tu msh sepupu dnk, ko sama2 di panggil cucu? B’arti pemilik sekolah’a kakek mereka??
    Mkn penasaran…

    Jia Jung

  4. wah, ada apa sama Sasuke & Naruto ya, sepertinya anak2 yg lain begitu waspada. kayaknya nanti udah keliatan hasil tanding NaruSasu :D *sotoy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s