<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Fanfiction</title>
	<atom:link href="http://fan3less.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fan3less.wordpress.com</link>
	<description>Fanfic for fun</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Jan 2012 10:26:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='fan3less.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/2f9e23df9ef9a4a44e2a37bf06afe62e?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Fanfiction</title>
		<link>http://fan3less.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://fan3less.wordpress.com/osd.xml" title="Fanfiction" />
	<atom:link rel='hub' href='http://fan3less.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>I Wanna Meet You, My Special Fangirl</title>
		<link>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/28/i-wanna-meet-you-my-special-fangirl/</link>
		<comments>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/28/i-wanna-meet-you-my-special-fangirl/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 08:47:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Min</dc:creator>
				<category><![CDATA[fanfiction korea]]></category>
		<category><![CDATA[DBSK]]></category>
		<category><![CDATA[Hiro-Jaejoong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fan3less.wordpress.com/?p=12278</guid>
		<description><![CDATA[Tittle: I Wanna Meet you, My Special fangirl (special Jaejoong’s birthday) Author: IdeaFina a.k.a Jung Yuuri (@ideaFina) Genre: Romance (mudah-mudahan) Rate: PG Main Cast: Kim Jaejoong DBSK/JYJ, Jung Yuuri (author nampang lagi, hehe~ ) Support Cast: Park Yoochun &#38; Kim Junsu DBSK/JYJ Disclaimer: Thanks to anin (@aaaanins) yang udah ngasih ide ceritanya. Tapi isi cerita&#160;&#8230; <a href="http://fan3less.wordpress.com/2012/01/28/i-wanna-meet-you-my-special-fangirl/">Read&#160;more</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fan3less.wordpress.com&amp;blog=8241797&amp;post=12278&amp;subd=fan3less&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h4>Tittle: I Wanna Meet you, My Special fangirl (special Jaejoong’s birthday)</h4>
<h4><span style="color:#0000ff;">Author: IdeaFina a.k.a Jung Yuuri (@ideaFina)</span></h4>
<p>Genre: Romance (mudah-mudahan)<br />
Rate: PG<br />
Main Cast: Kim Jaejoong DBSK/JYJ, Jung Yuuri (author nampang lagi, hehe~ )<br />
Support Cast: Park Yoochun &amp; Kim Junsu DBSK/JYJ<br />
Disclaimer: Thanks to anin (@aaaanins) yang udah ngasih ide ceritanya. Tapi isi cerita secara keseluruhan adalah hasil pemikiranku sendiri. So, everybody, don’t be plagiator ok?^^</p>
<p>Annyeong, readers-nim~<br />
Dalam rangka merayakan ultahnya Jaejoong Oppa tercinta, kupersembahkan FF edisi ultah penuh cinta dariku. Genrenya seperti biasa: Romance. Mudah-mudahan beneran romantis deh ya.<br />
Oke, met baca yeoreobeun~</p>
<p>~STORY BEGIN~<br />
Jaejoong’s POV<br />
Aku melihat tanggal yang tertera di ponsel androidku.Ternyata dua minggu lagi ulang tahunku.Bagi hampir kebanyakan orang hari ulang tahun adalah hari yang special.Begitu juga denganku. Pada hari itu aku akan mendapatkan banyak perhatian dan doa. Dari keluarga, teman-teman, fans-fansku, juga dari member-memberku.<br />
Member?Mengingat itu membuatku merasa sedih.Sudah semenjak dua tahun yang lalu aku tidak merayakan ulang tahunku bersama mereka, Yunho dan Changmin.Gugatan yang aku, Junsu dan Yoochun ajukan kepada mantan managemen kami, SM, memang membuat kami harus kehilangan banyak hal.<br />
Aku sangat mengerti jika semua keputusan yang kuambil pasti akan memiliki resiko. Dan sekarang kurasakan resiko itu sangat besar.Bukan sulitnya mempromosikan album-album JYJ atau tampil di stasiun TV, tapi lebih dari itu.Perpisahan antara kami bertiga dengan Yunho dan Changmin. Berada di dua stage terpisah dari mereka berdua sangat membuat hatiku sakit. Apalagi adanya perpecahan di antara Cassiopeia, yang memihak JYJ dan yang memihak Homin, membuat diriku terkadang menyesali keputusan yang kubuat ini.<br />
Walaupun aku mengerti apa alasan Yunho untuk tetap bertahan disana bersama Changmin, tapi sampai sekarang aku masih sering menyalahkan diriku sendiri. Kenapa saat itu aku malah meninggalkan mereka berdua disana?Seharusnya aku tetap berada di sisi mereka.Seharusnya aku menemani mereka untuk bangkit dari keterpurukan.Rasanya aku ingin sekali berteriak marah pada orang-orang yang menyalahkan Yunho atas berpisahnya kami. Yunho disalahkan karena ia dianggap sebagai leader yang tidak bisa mempertahankan member-membernya.<br />
Tidak! Jangan salahkan dia!Biar bagaimanapun, akulah yang tertua di antara mereka, aku hyung mereka.Seharusnya semua kesalahan itu ditimpakan padaku, bukan pada Yunho.Ingin sekali aku meminta maaf pada Yunho atas semua ini.Tapi perpisahan kami yang tidak baik membuat kami sulit untuk menghubungi satu sama lain.<br />
Hah… kepalaku pusing. Mengingat semua itu membuat perasaanku memburuk.<br />
Aku membuka akun twitterku dan membaca mention-mention yang masuk.Kebanyakan dari fans.Walaupun aku tidak meng-tweet tapi mereka masih tetap setia me-mentionku.Itulah salah satu hal yang berhasil menghiburku, mention perhatian dari para fans setiaku.<br />
Tapi sebenarnya ada mention dari satu fans yang sangat kutunggu-tunggu.</p>
<p>Ada seorang fans yang selalu mengaku berhasil memotretku setiap hari semenjak tiga tahun yang lalu. Dan ia bilang di twitter ia akan memberikan foto-foto itu sebagai kado ulang tahunku. Awalnya aku tidak percaya, tapi ternyata ia memang benar-benar memotretku. Sudah dua tahun ini aku menerima hadiah ulang tahun berisi album fotoku selama satu tahun. Di bawah foto itu ia menuliskan setiap perasaannya mengenaiku setiap harinya.<br />
Yoochun dan Junsu menganggap hal itu sangat mengerikan, karena jika fans itu bisa mendapatkan foto-fotoku, bahkan sampai saat kami di luar negeri, itu berarti ia benar-benar menguntit kami. Pernah manager kami ingin mengusut fans itu, karena menurutnya ini benar-benar membahayakan. Tapi aku melarangnya. Menurutku fans itu bukanlah orang jahat. Karena foto-foto yang dikirimkannya padaku hanya foto-foto biasa, dan tidak sampai tersebar di internet.Aku juga tidak pernah mendapat telpon ancaman atau apapun yang mengganggu.<br />
Ia juga sering me-mentionku.</p>
<p>JY @nature_Yuu<br />
@mjjeje Hari ini aku berhasil memotretmu lagi, oppa.Rasanya bahagia sekali bisa melihatmu dari dekat. Keep ur health ok?</p>
<p>Setiap hari ia selalu me-mention seperti itu disertai mention-mention perhatian lainnya.<br />
Karena penasaran aku pun membuka akun twitternya.Aku terkejut karena statusnya kebanyakan me-mentionku, hanya sedikit yang me-mention orang lain. Tapi ada yang aneh. Sejak setengah tahun yang lalu aku tidak mendapat mention darinya sama sekali. Padahal sebelumnya ia selalu mementionku setiap hari. Malahan twitternya sama sekali tidak menunjukkan aktivitas apapun selama setengah tahun ini. Tidak ada update status ataupun mention darinya ke twitter orang lain.<br />
Timbul berbagai pertanyaan di benakku.Apa ia sudah berhenti menjadi fansku? Tapi kalau iya kenapa akun twitternya tidak beraktivitas lagi?apa terjadi sesuatu dengannya?<br />
Aku bangkit dari dudukku dan mengambil album foto berukuran sedang, hadiah ulang tahun fans itu di rak buku. Kubuka satu persatu halaman itu dan membaca tulisan-tulisannya di bawah foto tersebut.Aku tersenyum kecil membaca tulisan-tulisan itu.Bisa kurasakan perasaannya yang sangat tulus padaku.<br />
“Hyung, kau sedang apa?”<br />
Aku menoleh dan melihat Junsu dan Yoochunyang baru datang memandangku penuh tanya.<br />
Mereka menghampiriku dan melihat apa yang kau pegang.<br />
“Ah, si nature Yuu itu ya?”kata Yoochun. “Kira-kira ia bisa dapat foto-foto hyung lagi tidak ya buat kado ulang tahun?”<br />
“Kurasa tidak. Kita kan konser keliling beberapa negara tahun lalu. Mana mungkin ia mengikuti kita terus.”timpal Junsu.<br />
Aku menatap mereka berdua suram.“Kurasa tidak akan ada hadiah darinya tahun ini.Sudah setengah tahun ini ia tidak me-mentionku.”<br />
“Mwo?Jinjja?”ucap Junsu kaget.<br />
“Mungkin dia sudah berhenti jadi fans hyung.”tebak Yoochun.<br />
Aku menggeleng pelan.“Karena penasaran aku pernah membuka akun twitternya, ternyata selama setengah tahun ini tidak ada aktivitas apapun di twitternya.Aneh sekali kalau berhenti jadi fansku dia juga berhenti menggunakan twitternya.”<br />
“Hmm… mungkin saja ia mengganti akun twitternya.”tebak Junsu.<br />
“Ya, mungkin saja hyung. Trus karena dia udah nggak ngefans sama hyung lagi jadi dia nggak ada mention hyung lagi.”kata Yoochun.<br />
“Mungkin saja.”gumamku perlahan sambil terus menatap album dari fans itu.<br />
***</p>
<p>Author’s POV</p>
<p>Jaejoong sangat mengkhawatirkan fans berinisial JY itu.<br />
Setelah selama lebih dari dua tahun ia mendapatkan perhatian dari fans itu berupa foto-foto dan pesan, juga mention di twitter, Jaejoong jadi merasakan perasaan lain pada yeoja itu. Iamenyayangi yeoja itu karena besarnya perasaan sayangnya pada Jaejoong. Memang banyak fans lain yang memperhatikan Jaejoong. Tapi caranya yang berbeda itu membuat Jaejoong tahu betapa iasangat special di mata yeoja itu.<br />
Jaejoong menyesap air jeruk hangat sambil melihat-lihat album foto itu.<br />
Ia membuka halaman selanjutnya dan melihat fotonya yang sedang menguap menaiki mobil di parkir basement apartemen. Ada tulisan berwarna merah di bawahnya:</p>
<p>Hey, ada apa denganmu oppa? Kau terlihat lelah sekali. Minumlah air jeruk hangat, itu akan menyegarkanmu kembali. ^^</p>
<p>Jaejoong tersenyum membacanya. Karena nasehat itulah ia sekarang sering sekali meminum air jeruk hangat tiap ia lelah.Ternyata cukup manjur untuk menghilangkan penatnya.<br />
Jaejoong membuka akun twitternya dan membaca kembali mention-mention dari fans. Tiba-tiba ada satu mention yang tidak disangka-sangka.</p>
<p>JY @nature_Yuu<br />
@mjjeje Setelah sekian lama akhirnya aku bisa menyapa oppa lagi.Apa kabar? Apakah oppa merindukanku?Kurasa tidak. Tenang saja, sebentar lagi oppa pasti tidak akan kuganggu lagi.^^</p>
<p>Alis Jaejoong mengernyit membaca mention itu. Setelah sekian lama yeoja itu tidak me-mentionnya, kenapa mentionnya malah seperti ini? Sebenarnya ada apa dengannya?<br />
Sekarang hati Jaejoong diliputi kecemasan.Ia ingin mencari tahu ada apa dengan yeoja fansnya itu.<br />
***</p>
<p>TING TONG.<br />
Jaejoong berjalan malas-malasan ke pintu apartemennya sambil sesekali menguap.Ia menggerutu kecil karena adanya gangguan pagi-pagi begini. Padahal tadi malam tidurnya kurang nyenyak karena memikirkan mention fans itu.Fans spesial yang perhatiannya begitu dirindukan oleh seorang Kim Jaejoong.<br />
Dengan masih sesekali menguap Jaejoong membuka pintunya dan mendapati seorang gadis cantik dengan rambut panjang dikepang dan memakai topi rajut putih tersenyum padanya. Sejenak ia terpaku pada gadis itu.Mata coklatnya terlihat indah.<br />
“Apa Anda Kim Jaejoong-ssi?”tanya gadis itu membuat Jaejoong tersadar dari keterpesonaannya.<br />
“Ne. aku Kim Jaejoong.Nuguseyo?”tanya Jaejoong dengan pandangan menyidik kepada gadis itu. ia heran kenapa ada orang yang tidak mengenal penyanyi terkenal sepertinya.<br />
“Jweseonghamnida saya mengganggu anda pagi-pagi begini.Saya cleaning service baru di gedung apartemen ini.”<br />
Jaejoong mengangkat alisnya bingung.Ia sungguh tidak percaya ada gadis cantik yang menjadi cleaning service, padahal ia yakin sekali jika gadis itu pasti akan laku sebagai seorang model. Kemudian Jaejoong memperhatikan gadis itu dari atas ke bawah.Memang benar gadis itu memakai seragam cleaning service, dan sepatu kets yang dikenakannya pun sangat lusuh.<br />
Hmm…. Dunia tidak selalu sama dengan yang kita pikirkan kan?<br />
“Mm… kenapa melihatku seperti itu?”tanya gadis itu risih.<br />
“Ah, mianhada.”jawab Jaejoong lalu tersenyum membuat gadis itu menundukkan wajahnya malu. “Ada apa?”<br />
Gadis itu menyerahkan sebuah bungkusan dengan kertas kado berwarna merah.“Saya dititipkan ini oleh seseorang.”<br />
Jaejoong mengamati bungkusan itu seksama.“Dari siapa?”<br />
“Saya tidak mengenalnya.Gadis itu hanya mengatakan ini untuk anda.”jelas gadis itu sambil terus menunduk. “Kalau begitu saya permisi dulu.”<br />
“Chankaman….” Jaejoong ingin menahan gadis itu, tapi gadis itu sudah berjalan cepat meninggalkannya.<br />
Jaejoong menutup pintu apartemennya dan berjalan ke sofa di depan TV, lalu duduk. Dengan penasaran Jaejoong membuka bungkusan itu.Sebuah syal putih lembut kemudian sebuah buku agenda.<br />
Jaejoong membuka buku tersebut dan tekejut melihat fotonya yang berada di halaman awal. Kemudian ia membuka halaman selanjutnya.Ada sekitar sepuluh halaman yang berisi fotonya.Di halaman ke sebelas tidak ada foto, hanya ada pesan yang tertulis disana.</p>
<p>Annyeong hasseyo Jae oppa.<br />
Apa kau masih mengingatku? Aku fans-mu dengan id twitter @nature_Yuu.</p>
<p>Dia?Kenapa hadiahnya berbeda?</p>
<p>Ah, tentu saja tidak. Aku kan hanya satu dari sekian banyak fans yang sering me-mentionmu dan mengirimkan hadiah untukmu. Tapi walaupun aku tahu kemungkinan untuk kau mengenalku kecil sekali, aku tetap saja ingin mengirimu hadiah.<br />
Saengilchuka hamnida, uri Jaejoong oppa. Maaf aku mengucapkannya terlalu cepat, setidaknya aku jadi orang pertama yang mengucapkannya kan?hehe~<br />
Aku ingin bercerita sedikit.Tenang saja, hanya sedikit kok.Kuharap kau mau membaca ceritaku dan tidak segera bosan.</p>
<p>Apa yang ingin diceritakannya? Pikir Jaejoong penasaran.Ia kembali membaca.</p>
<p>Tiga setengah tahun yang lalu aku bertemu dengan seorang namja di suatu taman kecil di sudut kota Seoul. Saat itu aku yang baru saja datang dari tempat yang jauh ke Seoul, berjalan-jalan sendirian kemudian tersesat dan tidak tahu jalan pulang.Selain itu dompetku terjatuh entah dimana dan ponselku low batt, sehingga aku tidak bisa menghubungi siapapun untuk menolongku.Di tengah kemalanganku itu tiba-tiba saja ada seorang namja menghampiriku. Awalnya aku ketakutan karena ia berpenampilan aneh. Ia menutup wajahnya dengan syal, memakai kacamata hitam, dan topi. Apalagi itu sudah menjelang malam, aku takut jika namja itu akan berbuat hal buruk padaku di taman sepi itu.Tapi melihatku yang ketakutan, ia melepas atribut anehnya itu dan memperlihatkan wajah tampannya.<br />
Namja itu adalah kau, Jaejoong oppa.</p>
<p>Jaejoong mengernyitkan keningnya.Berusaha mengingat.Benarkah ia pernah menolong gadis itu?<br />
Kemudian Jaejoong membalik agenda itu ke halaman selanjutnya.</p>
<p>Saat itu kau mengajakku yang ketakutan berbicara dan berusaha meyakinkanku kalau kau akan menolongku. Memang benar.Kau memanggilkan taksi untukku dan membayarkan ongkos taksi itu agar aku bisa pulang.<br />
Karena kebaikanmu itulah aku jatuh cinta padamu, oppa.Kau adalah cinta pertamaku.</p>
<p>Jaejoong tersenyum membaca kalimat itu.</p>
<p>Saat itu aku tidak tahu jika kau adalah seorang penyanyi terkenal.Tapi sejak aku tahu kalau kau adalah seorang Hero Jaejoong DBSK, aku mulai menjadi fangirl-mu. Maafkan aku karena selama dua tahun sebelumnya aku selalu menguntitmu kemana-mana dan memotretmu diam-diam. Jangan bertanya bagaimana aku bisa mengikutimu, karena aku tidak akan memberitahu <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> . Tapi aku tidak bermaksud jahat kok. Aku hanya ingin memotret namja yang kucintai. Setidaknya jika aku tidak bisa bertatap muka langsung denganmu, aku bisa melihat wajah tampanmu di balik lensa kameraku.^^<br />
Foto-foto hasil potretanku itu kususun rapi di sebuah album foto dan setiap harinya kutulis semua perasaanku mengenai dirimu di bawah foto-foto itu.tadinya aku hanya ingin menjadikannya koleksi, tapi tiba-tiba saja aku kepikiran untuk menjadikan itu hadiah ulang tahun untukmu.<br />
Kuharap kau terkesan dengan hadiahku yang kubuat dengan penuh perjuangan itu, dan menyimpannya dengan baik. ^^<br />
Maafkan aku karena tahun ini aku tidak bisa memberikan hadiah yang sama. Sebagai gantinya aku merajutkan sebuah syal untukmu.Kuharap perasaan tulusku bisa tersampaikan kepadamu.</p>
<p>Ada bercak-bercak basah berbentuk bulat, seperti tetesan air mata, yang mengenai tulisan itu sehingga tulisannya agak luntur, tetapi Jaejoong masih bisa membacanya.</p>
<p>Maafkan aku juga karena setelah ini aku tidak akan me-mentionmu lagi. Tahun depan pun aku tidak akanbisa memberikan hadiah ulang tahun lagi padamu. Ada hal yang membuatku sadar untuk tidak lagi melakukannya.Aku akan menyerah pada cinta pertama yang tidak akan mungkin terbalaskan ini. Seorang fangirl tidak mungkin mendapatkan idola yang dimiliki semua orang kan?<br />
Doakan aku agar aku bisa menjalani kehidupan baruku dengan baik.<br />
Selamat tinggal oppa.Semoga kau menjalani hidupmu dengan baik.<br />
With love,<br />
JY</p>
<p>Jaejoong tertegun membaca tulisan itu. Banyak hal yang membuatnya bingung akan gadis berinisial JY itu. Pertama, ia tidak mengingat seperti apa dulu ia menolong gadis itu sehingga gadis itu menyukainya. Kedua, ia penasaran dengan cara seperti apa gadis itu selalu mengikutinya selama dua tahun bahkan sampai keluar negeri. Ketiga, jika gadis itu mencintainya, kenapa ia ingin menyerah begitu saja? Padahal jika gadis itu bisa mengikutinya kemanapun, seharusnya gadis itu bisa langsung datang menemuinya dan memberikan hadiahnya langsung. Tidak dengan cara diam-diam seperti ini. Keempat, apa maksudnya dengan kehidupan barunya?<br />
Jaejoong mengacak-acak rambutnya frustasi. Padahal ia ingin sekali bertemu dengan gadis berinisal JY itu. Fangirl yang selalu memperhatikannya dengan cara yang berbeda.<br />
Tapi kenapa gadis itu tidak pernah mau muncul di hadapannya?<br />
***</p>
<p>“Hyung mencemaskannya?”tanya Junsu saat Jaejoong menceritakan mengenai hadiah dari fans itu kepada Junsu dan Yoochun.<br />
“Kau tahu, Su, selama lebih dari dua tahun ini aku mendapatkan dukungan dan perhatian darinya. Aku merasa sangat bersemangat setiap membaca mention darinya atau membuka album foto darinya. Apalagi tahun kemarin ia memberikan video berisi ucapan selamat ulang tahun dari Yunho dan Changmin. Entah bagaimana caranya bertemu mereka berdua.Tapi dari usahanya itu, membuatku merasakan perhatian yang besar darinya.Dan sekarang rasanya aneh sekali tidak mendapatkan semua itu darinya.”Jaejoong mengungkapkan dengan jujur.<br />
Yoochun menyipitkan mata memandang hyungnya. “Jangan-jangan hyung  menyukainya?”tebak Yoochun.<br />
Jaejoong tersentak kaget mendengar tuduhan Yoochun itu.“Bagaimana mungkin aku menyukainya!Melihatnya saja tidak pernah!”<br />
“Lho?Memangnya di twitternya tidak ada fotonya sama sekali?”Yoochun terkejut.<br />
“Hanya ada fotoku saja.”<br />
“Kalau begitu bagaimana cara hyung mencarinya?”tanya Junsu.<br />
Jaejoong menghela napas.“Entahlah.Aku juga bingung.”katanya sambil membuka-buka buku agenda itu.Kemudian Jaejoong menyadari sesuatu saat melihat-lihat foto-fotonya itu.<br />
“Kenapa foto-fotonya kebanyakan diambil di basement apartemen ya?”<br />
Junsu dan Yoochun pun mengambil buku agenda itu dan memperhatikan foto-foto Jaejoong disana.Kemudian mereka menyadari sesuatu.<br />
“Hyung, lihat foto pertama ini.”kata Junsu. “Ini bukannya baju barumu yang baru kau pakai sebulan lalu ya?”Jaejoong melihat foto tersebut. Memang benar itu baju yang baru saja ia beli sebulan yang lalu, dan belum pernah dipakainya lagi. Junsu mengingatnya karena saat ituiatidak sengaja menumpahkan minumannya di baju Jaejoong sehingga Jaejoong langsung saja memakai baju yang baru saja dibelinya.<br />
Kemudian Jaejoong memperhatikan foto-foto yang lain. Semuanya adalah fotonya sebulan terakhir ini dan dibidik dari tempat yang sama, karena yang terlihat hampir semua fotonya mempunyai angle yang sama.Jaejoong memperhatikan dengan seksama foto-foto tersebut. Jika mobilnya biasa diparkir disini, arah dimana foto itu diambil adalah…<br />
Ruang petugas cleaning service!<br />
***</p>
<p>Jaejoong’s POV</p>
<p>Setelah menyadari darimana foto itu diambil, aku langsung mencurigai satu orang. Gadis yang saat itu memberikan hadiah itu padaku, ia pasti mengenal siapa gadis JY itu. Pagi-pagi sekali aku sengaja keluar apartemen untuk mencari gadis petugas cleaning service itu. Benar sekali.Ia terlihat sedang mengepel lantai koridor apartemen.<br />
Aku menghampirinya yang sedang berdiri membelakangiku.“Annyeonghasseyo.”sapaku. Gadis itu terlihat terkejut karena sapaanku, kemudian ia berbalik. Iamelihatku dengan ekspresi… entahlah, aku bingung mengartikan pandangan itu,tapi aku menyukai mata coklatnya itu. Kemudian iamenundukkan wajahnya.<br />
Aku sendiri terpana melihat wajah cantiknya itu. Walaupun wajahnya terlihat begitu lelah dengan kantung mata di wajah pucatnya itu, serta keringat yang mengalir di sepanjang wajah ovalnya, entah kenapa ia masih tetap terlihat cantik di mataku. Aish! Apa sih yang kupikirkan! Tujuanku untuk menemuinya kan bukan itu!<br />
“Annyeong… hasseyo…”jawabnya. “Ada perlu apa?”Ia bertanya masih sambil menundukkan wajahnya.<br />
“Mm… mengenai hadiah yang kemarin…”Aku ragu-ragu ketika akan menanyakannya, tapi tiba-tiba gerakan tubuh gadis itu terlihat tidak tenang.<br />
“Jweseonghamnida, Kim Jaejoong-ssi! Aku harus segera pergi. Aku masih harus bekerja di tempat lain.”katanya lalu membungkukkan tubuhnya dalam-dalam dan membawa troli yang berisi berbagai alat kebersihan itu.<br />
Hei! Aku kan belum sempat bertanya!<br />
Akhirnya aku memutuskan untuk mengikutinya. Aku menarik troli yang susah payah ia dorong dan kubantu ia mendorongnya.“Kubantu.”ucapku.<br />
Ia berusaha melepaskan tanganku dari troli. “Andwaeyo, Kim Jaejoong-ssi. ini pekerjaanku, tidak pantas jika anda yang mengerjakannya.”katanya lalu mengambil pegangan troli itu lagi. Dengan terburu-buru ia mendorong trolinya ke dalam lift dan meninggalkanku yang masih menatapnya kesal.<br />
***</p>
<p>Aku bukanlah tipe orang yang gampang menyerah, apalagi dengan hal yang sangat membuatku penasaran seperti ini. Saat akan keluar dari lobi apartemen aku memutuskan untuk bertanya pada petugas security mengenai gadis petugas cleaning service itu.<br />
“Petugas cleaning service yang mana?”tanyaLee ahjusshi, petugas security berusia 40 tahunan.<br />
“Yang cantik, masih muda, rambut panjangnya biasa dikepang dan… ah ya!dia selalu pakai topi rajut putih!”<br />
“Ah dia… Dia petugas cleaning service baru. Baru sebulan ia bekerja disini.”<br />
“Sebulan?”tanyaku tidak percaya. Apa petugas cleaning service itu gadis bernama JY itu?<br />
“Namanya siapa?”<br />
Lee ahjusshitersenyum menggoda padaku.“Kenapa menanyakannya?Kau menyukainya ya?”<br />
Aku langsung menggeleng kuat.“Anhiyo, ahjusshi! Aku hanya bertanya! Aku memang ada perlu dengannya.”<br />
Lee ahjusshi tersenyum.“Suka juga tidak apa-apa.Dia gadis yang cantik, sopan, dan baik.Namanya Jung Yuuri.”<br />
***</p>
<p>Author’s PoV</p>
<p>Jaejoong merasa sangat bersemangat sekali saat Lee ahjusshi mengatakan padanya jika gadis cleaning service itu bernama Jung Yuuri. Inisialnya JY, sama seperti fans rahasianya selama tiga tahun ini.<br />
“Hyung, kurasa gadis itu bukan fans hyung itu.”kata Yoochun saat mendengar cerita Jaejoong.<br />
“Kurasa juga bukan.”timpal Junsu.<br />
“Kenapa bukan?Ia yang memberikanku hadiah itu, dan inisialnya JY, sama seperti si pengirim hadiah. Id twitternya saja nature_Yuu.Sudah pasti Yuu itu kependekan dari Yuuri.”<br />
“Hyung, di Korea ini banyak gadis yang berinisial JY, dan bernama kecil Yuu.Jung Yuuri, Jang Yuuri, Jung Yurin, Jang Yurin, Jung Yumi, Jang Yumi, Jang Yura, Jung Yura, atau bisa saja JY itu kependekan dari namanya, Park Jungyuu, Lee Jungyuu atau bahkan Kim Jungyuu seperti nama sepupu hyung itu.”jelas Yoochun.<br />
“Dan lagi kalau dia memang si nature_yuu itu, kenapa ia bekerja sebagai petugas cleaning service? Bukankah selama dua tahun kemarin ia selalu mengikuti hyung kemana-mana, bahkan sampai kita keluar negeri segala? Apalagi ia bisa dengan mudah mendapatkan akses untuk bertemu Yunho hyung dan Changmin. Seharusnya itu sudah cukup membuktikan kalau gadis itu pastilah dari keluarga berkecukupan.Dan gadis petugas cleaning service itu sudah pasti bukan dia.”tambah Junsu.<br />
Jaejoong terdiam mendengar penjelasan kedua dongsaengnya yang dianggap masuk akal. Tapi kenapa ia masih saja merasa jika keyakinannya itu benar? Jaejoong hanya merasa, pandangan mata Jung Yuuri padanya itu terlihat sangat berbeda, dan pandangan mata gadis itulah yang membuat Jaejoong merasa yakin.<br />
Mengingat pandangan mata itu membuat Jaejoong semakin ingin bertemu dengannya lagi. Tanpa ia sadari, ia mulai merindukan pandangan mata itu.<br />
***</p>
<p>Yuuri’s PoV</p>
<p>Aku merasakan kelelahan yang sangat di tubuhku.Karena hari ini hari minggu, dan aku tidak ada kuliah, jadi waktuku kuhabiskan untuk bekerja. Pagi hari aku harus mengantarkan susu, setelah itu bekerja di gedung apartemen termewah di Seoul sebagai petugas cleaning service, siangnya aku bekerja sebagai kasir di swalayan kecil dekat rumahku sampai sore hari. Benar-benar melelahkan, tapi aku harus tetap bersemangat melakukannya, karena ini adalah kewajibanku sekarang.<br />
Tubuhku memang sudah sangat lelah, tapi aku harus tetap belajar untuk kuis besok, makanya hari ini aku tidak bekerja sampai malam.Tapi bodohnya, aku malah meninggalkan diktat kuliahku di ruang petugas cleaning service apartemen.Jadi mau tidak mau aku harus mengambilnya kesana.Setelah mengambilnya di ruangan itu yang terletak di basement, aku bertemu dengan Lee ahjusshi, petugas security yang ramah, tetanggaku sekaligus teman mengobrolku selama sebulan aku bekerja di gedung apartemen ini.<br />
“Yuuri-ya, kenapa kembali lagi? Bukankah shift kerjamu hari ini pagi?”tanya Lee ahjusshi.<br />
Aku mengangkat diktat kuliahku dan tersenyum. “Diktat kesayanganku tertinggal, jadi aku harus kembali lagi untuk mengambil….” Tiba-tiba perutku dengan kurang ajarnya berbunyi.Aku langsung memegang perutku dan menatap malu Lee ahjusshi yang sekarang sudah tertawa.<br />
“Kau pasti belum makan Yuuri-ya, ayo makan bersama ahjusshi.Istri ahjusshi membawakan bekal cukup banyak.”tawar Lee ahjusshi sambil mengacungkan kotak bekal yang sebelumnya tidak kulihat.<br />
Aku menatap ragu Lee ahjusshi.Sebenarnya aku lapar, tapi rasanya tidak enak harus meminta makanan yang dibuatkan Lee ahjumma.“Anhiyo ahjusshi.Tidak usah.”tolakku akhirnya.<br />
Lee ahjusshi terus memaksa, begitu juga cacing-cacing di perutku, yang membuatku akhirnya menyerah juga untuk mengikuti tawaran Lee ahjusshi.Kami berdua pun makan di pos security.<br />
Kemudian aku melihat Lamborghini putih masuk ke basement dan parkir tidak jauh dari pos security tempatku berada.Aku menahan napas saat melihatnya keluar dari mobil mewah itu.Reaksi yang selalu saja muncul setiap aku melihatnya, secara langsung ataupun di televisi.<br />
“Siapa yang kau lihat?”tanya Lee ahjusshi. Aku langsung gugup ditanya seperti itu.segera saja aku kembali sibuk dengan makananku (?)<br />
“Ah, Kim Jaejoong-ssi.”kata Lee ahjusshi, lalu tersenyum. “Dia pemuda yang baik.Walaupun dia seorang penyanyi terkenal, tapi dia ramah pada orang-orang.”<br />
“Oh ya?”<br />
“Dia sering mengajak ahjusshi mengobrol.Sesekali memberikan oleh-oleh jika dia pulang bepergian.”<br />
Aku tersenyum mendengar cerita Lee ahjusshi.Aku tahu dia orang yang sangat baik.Itulah yang membuatku jatuh cinta padanya.<br />
Kuperhatikan ia yang terus berjalan ke arah lift sambil mengotak-atik ponselnya. Wajahnya terlihat pucat dan sangat kelelahan.Ia pasti sibuk sekali.<br />
Aduh… bagaimana ini?Aku sangat mencemaskan kesehatannya.<br />
***</p>
<p>Entah darimana datangnya keberanianku sampai-sampai aku bisa berada di depan pintu apartemennya. Yang aku ingat jika tadi aku sangat mengkhawatirkannya yang terlihat sangat kelelahan.Wajahnya pun pucat.Lalu tiba-tiba saja aku sudah berada disini.<br />
Lalu apa yang selanjutnya kulakukan? Aku kan tidak mungkin memencet bel apartemennya lalu bertanya ‘apakah kau baik-baik saja?’, padahal aku bukan siapa-siapanya.Lagipula saat bertemu pertama kali aku juga bersikap seolah-olah tidak mengenalnya.<br />
Kemudian sebuah ide muncul di kepalaku. Kuambil bolpoin dan notes milikku, lalu menuliskan sesuatu disana. Kertas notes itu kutempelkan di depankamera bel, kemudian kupencet bel itu dua kali.<br />
Setelah yakin ia mendengarnya, aku langsung berlari dan bersembunyi di sudut dekat lift. Jantungku berdegup kencang saat melihatnya keluar dari dalam apartemennya.<br />
***</p>
<p>Jaejoong’s PoV</p>
<p>Hari ini aku merasa tidak enak badan, makanya walaupun hari masih sore aku meminta ijin kepada managerku untuk pulang lebih dulu.Sesampainya di apartemen aku ingin sekali langsung tidur. Baru saja aku akan memejamkan mataku, bel apartemenku berbunyi.<br />
“Siapa sih?”gumamku kesal, lalu berjalan ke pintu apartemenku. Kutekan lock apartemenku untuk melihat siapa yang datang. Tapi kenapa tidak terlihat siapapun di luar. Yang terlihat di layar lock pintu hanya…. Apa itu? Seperti tulisan.Apa ada yang menempel kertas di kameranya?<br />
Aku pun langsung membuka pintu apartemen dan melihat bel apartemenku yang sudah ditempeli kertas di bagian kameranya. Kucabut kertas notes itu dan kubaca tulisan yang ada disana.</p>
<p>Oppa, apakah kau sakit?Atau hanya kelelahan biasa?Minumlah air jeruk hangat.Bisa sedikit membantumu untuk rileks. ^^</p>
<p>Aku tercengang saat membacanya. Tulisan ini sangat kukenal! Ini kan tulisan gadis JY itu! Dan pesannya saat aku lelah juga sama! Berarti ia sebelumnya ada disini?<br />
Aku langsung menatap ke sekeliling koridor. Aku pun berlari ke arah lift untuk mencarinya. Kemudian kudengar suara derap langkah kaki yang berlari di dekat tangga. Aku pun langsung berlari ke tangga yang memang tidak jauh jaraknya dari lift.<br />
Entah seberapa jauh aku menuruni tangga, tapi aku masih tidak juga menemukan orang yang derap langkahnya kudengar tadi.Akhirnya karena lelah aku memutuskan untuk kembali ke lantai apartemenku lewat lift. Aku menghampiri lift lalu mataku menangkap kain kecil berwarna biru muda yang terjatuh di depan pintu lift. Kupungut kain yang ternyata saputangan itu.aku terkejut membaca inisial yang tertulis disana. JY.<br />
Berarti ia baru saja menaiki lift ini?<br />
Aku melihat angka yang tertera di lift. Kira-kira ia akan turun di lantai mana?<br />
Angkanya berhenti di… Basement?<br />
***</p>
<p>Author’s PoV</p>
<p>Yuuri menarik napasnya yang sesak karena berlari dari kejaran Jaejoong tadi.  Beruntung tadi saat Jaejoong mengejarnya ia berhasil masuk lift. Kalau tidak pasti Yuuri akan tertangkap dan Jaejoong pasti akan tahu dari siapa hadiah yang diberikannya kemarin.<br />
Tentu saja hadiah itu dari Yuuri.Selama dua tahun sebelumnya setiap Jaejoong ulang tahun Yuuri lah yang selalu mengiriminya foto-foto hasil jepretannya beserta pesan-pesan di setiap foto itu. Yuuri memang tidak yakin jika hadiah itu akan langsung diterima oleh Jaejoong, mengingat banyaknya hadiah yang pasti akan diterima Jaejoong. Tapi hadiah ketiga yang beberapa hari yang lalu diberikannya langsung pada Jaejoong itu sudah pasti akan dibuka dan pesannya pun pasti akan dibaca Jaejoong kan? Itulah yang membuat Yuuri cemas.Ia tidak ingin Jaejoong tahu mengenai dirinya.Ia tidak ingin berkenalan dengan Jaejoong. Karena ia tidak ingin semakin mengharapkan cinta dari seorang idola seperti Kim Jaejoong.<br />
Yuuri mengelap peluh yang menetes di wajahnya karena berlari tadi. Kemudian ia merogoh kantung jaketnya untuk mengambil sapu tangannya. Tapi mana?Kenapa tidak ada?<br />
***</p>
<p>Jaejoong memandangi sapu tangan biru muda itu dengan penasaran.Inisial yang tertulis disana adalah JY. Dan tadi lantai tempat lift itu berhenti adalah lantai basement. Membuat Jaejoong yakin sekali jika gadis fans berinisial JY itu adalah Jung Yuuri, gadis petugas cleaning service itu.<br />
Tapi yang Jaejoong heran adalah kenapa gadis itu tidak mau muncul di hadapannya? Lalu kenapa ia bekerja sebagai petugas cleaning service, padahal menurut analisa Yoochun dan Junsu seharusnya gadis itu berasal dari kalangan berada makanya bisa mengikuti kegiatan mereka sampai keluar negeri. Ada apa dengan gadis itu sebenarnya?<br />
Karena rasa penasaran itulah Jaejoong jadi melupakan rasa lelahnya dan ikut turun ke basement lewat tangga.Sesampainya di basement Jaejoong langsung berlari ke ruang petugas cleaning service, tapi tidak ada siapapun disana.<br />
“Cari siapa nak?”<br />
Jaejoong berbalik dan melihat Lee ahjusshi memandangnya penuh tanya.<br />
“Ah, ahjusshi!Apa ahjusshi lihat Jung Yuuri-ssi?”tanya Jaejoong langsung.<br />
“Jung Yuuri?”<br />
“Ne. tadi aku menemukan sapu tangan ini. Inisialnya JY. Ini punyanya kan?”tanya Jaejoong sambil mengacungkan sapu tangan yang tadi ditemukannya.<br />
Lee ahjusshi memperhatikan sapu tangan itu. “Ah ne. Tadi aku memang melihatnya menggunakan sapu tangan itu.”<br />
Hati Jaejoong berdegup kencang mendengar jawaban Lee ahjusshi.Jadi benar fangirl berinisial JY itu adalah Jung Yuuri?<br />
“Sekarang dimana dia?”tanya Jaejoong bersemangat.<br />
“Oh, tadi dia buru-buru pulang.Katanya ia harus belajar untuk kuis besok di kuliahnya.”<br />
Jadi ia mahasiswa? Pikir Jaejoong.<br />
“Tapi aku tidak yakin ia bisa belajar dengan baik.”gumam Lee ahjusshi.<br />
“Maksud ahjusshi?”<br />
Lee ahjusshi tersenyum muram.“Sepertinya ia kelelahan karena terlalu banyak bekerja.Dia masih terlalu muda untuk bekerja keras sendirian. Dia terlihat cantik dan terawat kan? Itu karena sebelumnya ia berasal dari keluarga berada. Tapi setengah tahun lalu perusahaan ayahnya bangkrut dan ayahnya meninggal karena serangan jantung, jadi sekarang ia kuliah sambil bekerja untuk membiayai ibu juga adiknya yang masih kecil.”<br />
Jaejoong tercengang mendengar cerita Lee ahjusshi.“Ahjusshi tahu darimana?”tanyanya pelan.<br />
“Sekitar lima bulan yang lalu ia datang kemari membawa sebuah bungkusan.Ia terus menatap gedung apartemen ini, ragu-ragu untuk masuk. Aku menanyakan apa keperluannya, tapi ia hanya diam. Kemudian ia mengatakan ingin bekerja disini. Saat itu aku ragu dengan kata-katanya, karena bajunya terlihat bagus. Tidak mungkin gadis dengan penampilan yang bagus mengatakan ingin bekerja sebagai petugas cleaning service disini. Lagipula saat itu sudah tidak ada lowongan.”<br />
“Lalu aku bertemu dengannya lagi saat di swalayan 24 jam di dekat rumah.Wajahnya itu tidak mudah dilupakan, sehingga aku masih mengingatnya.Iapun ternyata masih mengingatku.Ternyata jarak rumah kami tidak begitu jauh. Dari situlah kami sering bertemu dan ia menceritakan masalahnya. Kemudian sekitar sebulan yang lalu aku menawarinya untuk bekerja sebagai petugas cleaning service disini.”<br />
Jaejoong terdiam mendengar cerita Lee ahjusshi.Apa itu penyebab gadis itu tidak lagi me-mentionnya ataupun memotretnya lagi? Karena iaharus bekerja untuk keluarganya?<br />
Jaejoong tidak bisa berpikir lagi.Terlalu banyak pertanyaan di kepalanya. Dan ia terlalu merindukan perhatian gadis itu. Entahlah. Satu-satunya yang ia pikirkan sekarang adalah ia ingin bertemu dengan Jung Yuuri.Dengan gadis yang akhir-akhir ini selalu memenuhi pikirannya.<br />
***</p>
<p>Jaejoong’s PoV</p>
<p>Cerita Lee ahjusshi tadi membuat pertanyaan-pertanyaanku mengenai gadis itu sedikit terjawabkan.Sekarang aku mengerti kenapa Yuuri tidak lagi mengikutiku kemana-mana dan memotretku.Tapi ada satu hal yang paling penting yang belum terjawabkan. Kenapa ia tidak mau menemuiku secara langsung?Padahal selama ini aku selalu ingin bertemu dengannya.<br />
Paginya aku menemui Yuuri yang seperti biasa sedang mengepel koridor di lantai apartemenku.<br />
“Annyeong.”sapaku. Kemudian aku merutuki kebodohanku yang tadi memanggilnya dengan bahasa banmal.Ia pasti merasa aku sok akrab. Benar saja, ia menatapku aneh.<br />
Iamelihat ke belakangnya, kemudian berbalik dan menatapku ragu. “Apa kau berbicara padaku?”tanyanya.<br />
Aku tersenyum yang langsung membuatnya menundukkan wajahnya. Sepertinya ia malu. “Ne. Aku berbicara denganmu, Jung Yuuri-ssi.”<br />
Ia mengangkat wajahnya dan menatapku terpana. “Bagaimana kau tahu namaku?”tanyanya pelan.<br />
“Aku menanyakannya pada Lee ahjusshi.”jawabku sambil terus memperhatikan mata coklatnya yang indah itu. Sejak pertama melihatnya aku langsung menjadi sangat menyukai pandangan matanya padaku.<br />
Tapi kenapa hari ini wajahnya terlihat pucat sekali?apa ia sakit?<br />
“A… ada apa?”tanyanya. Ia menundukkan wajahnya lagi dan meremas-remas ujung bajunya dengan kedua tangannya. Sepertinya ia sangat gugup.<br />
Aku memberikan sapu tangan biru itu ke depan wajahnya. “Ini sapu tanganmu kan?”tanyaku. Ia terbelalak melihat sapu tangan itu. “Ada inisialmu disana.”<br />
“A… anhi…”<br />
“Lee ahjusshi yang bilang ini punyamu.”kataku cepat sebelum ia membantah.<br />
Ia terdiam lama lalu mengambil sapu tangan itu dengan tangan gemetar. “Gamsa… ham… nida&#8230;”ucapnya dengan suara bergetar.<br />
Aku tersenyum padanya lalu kugenggam tangannya yang memegang sapu tangan itu.Ia terkejut. Hampir saja ia menarik tangannya, tapi aku menggenggamnya kuat.Ia menatapku bingung.<br />
“Gomawo untuk hadiah-hadiah spesialmu setiap aku berulang tahun.Dan juga perhatian-perhatianmu di setiap mention-mentionmu.”ucapku tulus.<br />
Ia langsung menarik tangannya dan memandangku takut dengan wajah yang sangat pucat.<br />
“Hadiah apa?Mention apa?”tanyanya tanpa memandangku. Ia memandang ke lantai. “Aku tidak mengerti.Kurasa anda salah orang, Kim Jaejoong-ssi.”<br />
“Jangan mengelak.Aku sudah tahu jika kau adalah fangirl yang sering memention twitterku dan mengikutiku kemana-mana untuk mendapatkan fotoku.”<br />
Kemudian ia memandangku tajam. “Kurasa kau benar-benar salah orang, Kim Jaejoong-ssi. Aku bahkan tidak punya twitter, bagaimana mungkin aku mementionmu?” Setelah berkata begitu iaberbalik untuk mengambil troli yang berisi alat-alat kebersihan. Tapi aku mengejarnya dan menarik tangannya.Aku membalikkan tubuhnya menghadapku.<br />
“Bisakah kau jujur?Aku sudah berusaha mencari tahu siapa dirimu selama dua tahun ini.Aku ingin tahu seperti apa fans yang begitu mencintaiku.”ucapku lirih dan memandang dalam-dalam matanya yang sudah berair itu.Kemudian matanya perlahan menutup dan tubuhnya lemas.<br />
Ia pingsan! Refleks aku memegang lengannya lebih kuat agar ia tidak terjatuh.<br />
“Jung Yuuri-ssi?”panggilku. Ia tidak menyahut.<br />
Akhirnya aku menggendongnya bridal style ke dalam apartemenku.Aku meletakkannya di tempat tidurku.Kusentuh dahinya dengan telapak tanganku.<br />
“Ya Tuhan, panas sekali!” Ternyata benar ia sakit!<br />
Aku pun mengambil air es dan mengompres dahinya dengan handuk kecil.Kupandangi wajah cantiknya yang pucat itu.Wajah yang selama ini selalu ingin kulihat.Wajah fangirl yang sangat mencintaiku dan memperhatikanku.Wajah gadis yang kucintai.<br />
***</p>
<p>Author’s PoV</p>
<p>Yuuri membuka matanya perlahan.Ia masih merasakan pusing di kepalanya. Kemudian setelah berusaha membiasakan matanya yang cukup lama terpejam, akhirnya ia bisa melihat dengan jelas. Ia langsung duduk saat menyadari dirinya berada di tempat yang tidak dikenalnya.<br />
Saat itulah ia merasakan genggaman di tangannya terlepas. Ia menengok ke sebelah kirinya dan terkejut melihat Jaejoong sedang menggeliat-geliat kecil. Ternyata saat Yuuri tertidur Jaejoong terus memegang tangan kiri Yuuri sampai ia tertidur dengan posisi duduk di bawah.<br />
Jaejoong menguap kecil lalu menatap Yuuri dengan tersenyum, membuat jantung Yuuri berdetak kencang.“K    au sudah bangun?”tanya Jaejoong.<br />
Yuuri menggeser duduknya di kasur, menjauh dari Jaejoong.“Kenapa aku ada disini?”tanya Yuuri dengan suara yang sangat pelan seperti berbisik.Tapi Jaejoong masih bisa membaca gerak bibir gadis itu.<br />
“Kau pingsan tadi pagi.Demam tinggi.Sepertinya karena terlalu kelelahan.”jelas Jaejoong.Kemudian Yuuri turun dari tempat tidur, dari sisi yang berlawanan dengan Jaejoong.Ia berjalan menghampiri Jaejoong.<br />
“Gamsahamnida sudah menolongku.”ucapnya lalu membungkuk kecil.“Aku harus pulang sekarang.”Kemudian ia terburu-buru keluar dari kamar Jaejoong.<br />
“Kajima!”kata Jaejoong lalu menyusulnya keluar kamar.<br />
Jaejoong menarik tangan Yuuri sebelum Yuuri mencapai pintu apartemen.Ia membalikkan tubuh gadis itu agar menghadapnya.<br />
“Kumohon jangan menghindar…”ucap Jaejoong lirih.Ia memandang wajah pucat Yuuri yang terlihat sangat ketakutan.Tapi walaupun takut, Yuuri tidak bisa memalingkan matanya dari tatapan lembut Jaejoong.<br />
“Apa yang kau takutkan dariku sehingga membuatmu selalu bersembunyi dariku?”tanya Jaejoong. Yuuri tidak menjawab, ia hanya diam sambil terus menatap mata Jaejoong yang memandangnya lembut. Mata namja yang sangat ia cintai.<br />
“Kenapa kau selalu mengikutiku tapi tidak pernah muncul di hadapanku?Kenapa kau selalu memberiku perhatian lebih tanpa membiarkanku mengetahui siapa dirimu?”<br />
Mata Yuuri mulai berair sekarang.Ia menggigit bibirnya untuk mencegah isak tangisnya yang akan keluar.<br />
“Apa kau tidak tahu bahwa aku ingin sekali bertemu denganmu?”<br />
“Benarkah?”kali ini Yuuri mengeluarkan suaranya walaupun hanya berupa suara yang lirih.Airmata Yuuri menetes.<br />
Jaejoong tersenyum lalu menghapus airmata yang mengalir di pipi Yuuri dengan lembut.“Kau selalu bisa menghiburku dengan mention-mention darimu dan tulisan-tulisanmu di album itu.Seolah-olah kau sangat mengerti diriku. Seolah-olah kau selalu berada di sisiku…”<br />
“Apa kau tidak sadar jika semua yang kau lakukan itu sudah membuatku jatuh cinta padamu?”<br />
Mata basah Yuuri membelalak lebar.Ia menatap Jaejoong tak percaya.<br />
“Anhiyo…”ucapnya lirih.Ia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. “Tidak mungkin&#8230;. Mana mungkin kau mencintai aku yang hanya seorang fangirl…?”<br />
“Itulah yang terjadi Jung Yuuri…”kata Jaejoong lalu menangkupkan kedua tangannya di wajah Yuuri. Ia menatap mata Yuuri dalam-dalam.“Saranghaeyo, Jung Yuuri…”<br />
Kemudian Jaejoong mendekatkan wajahnya ke wajah Yuuri lalu mencium lembut bibir gadis itu.Ciuman yang singkat tapi penuh dengan seluruh perasaan Jaejoong yang selama ini terpendam.Airmata Yuuri semakin banyak menetes.<br />
Jaejoong melepaskan ciumannya lalu menatap lembut Yuuri.“Uljima…”ucapnya, lalu menghapus airmata di pipi Yuuri.<br />
“Apa aku bermimpi…?”ucap Yuuri lirih. Ia memandang mata Jaejoong dalam-dalam dan hanya bisa melihat ketulusan di dalamnya.<br />
Jaejoong menggeleng dan tersenyum lembut.“Apa aku harus menciummu lagi agar kau sadar ini bukan mimpi?”goda Jaejoong.<br />
Perasaan lega yang didapatnya, serta rasa bahagia yang menjalari tubuhnya saat melihat mata Jaejoong membuat bibir Yuuri otomatis tersenyum.<br />
“Saranghaeyo…”ucap Yuuri pelan.Jaejoong tersenyum semakin lebar, kemudian mengecup kening Yuuri lalu memeluk gadis itu erat.Yuuri membalas pelukannya.<br />
“Saranghae, neomu saranghaeyo, Jung Yuuri…”ucap Jaejoong.<br />
“Saengilchukae.”<br />
Jaejoong melepas pelukannya lalu memandang Yuuri bingung.“Selamat ulang tahun ke-27!”ucap Yuuri dengan senyum lebar.<br />
“Memang sekarang tanggal berapa?”tanya Jaejoong bingung.<br />
“Tanggal 26 Januari.Apa kau tidak ingat?”<br />
Jaejoong mengelus lembut pipi Yuuri.“Karena memikirkanmu aku jadi lupa sekarang tanggal berapa.”<br />
Yuuri tersenyum lalu balas mengelus lembut wajah Jaejoong dengan kedua tangannya. “Mianhada aku tidak bisa memberimu hadiah lagi…”<br />
“Bertemu denganmu adalah hadiah terindah untukku.”ucap Jaejoong lalu mengecup lembut bibir Yuuri. “Gomawo, Jung Yuuri. Tetaplah di sisiku…”</p>
<p>END</p>
<br />Filed under: <a href='http://fan3less.wordpress.com/category/fanfiction-korea/'>fanfiction korea</a> Tagged: <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/dbsk/'>DBSK</a>, <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/hiro-jaejoong/'>Hiro-Jaejoong</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fan3less.wordpress.com/12278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fan3less.wordpress.com/12278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fan3less.wordpress.com/12278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fan3less.wordpress.com/12278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fan3less.wordpress.com/12278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fan3less.wordpress.com/12278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fan3less.wordpress.com/12278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fan3less.wordpress.com/12278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fan3less.wordpress.com/12278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fan3less.wordpress.com/12278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fan3less.wordpress.com/12278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fan3less.wordpress.com/12278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fan3less.wordpress.com/12278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fan3less.wordpress.com/12278/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fan3less.wordpress.com&amp;blog=8241797&amp;post=12278&amp;subd=fan3less&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/28/i-wanna-meet-you-my-special-fangirl/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://fan3less.files.wordpress.com/2012/01/30e.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://fan3less.files.wordpress.com/2012/01/30e.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">30e</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c65fdc18334ebb65e63182dff5c9149d?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yuuri66</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>our beloved girl ( Part 3 )</title>
		<link>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/28/our-beloved-girl-part-3/</link>
		<comments>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/28/our-beloved-girl-part-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 00:12:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dikariani</dc:creator>
				<category><![CDATA[fanfiction korea]]></category>
		<category><![CDATA[Super Junior]]></category>
		<category><![CDATA[SNSD]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fan3less.wordpress.com/?p=11758</guid>
		<description><![CDATA[Chapter 3 Soo membeli kaset PS3 Final fantasy versus XIII dan saat membayar dia mengantri tepat di belakang gadis aneh itu &#160; ?????:”berapa harga discnya??” sambil menunjukan kaset nya kepada kasir Kasir:” 5000won” ?????:”bentar..”sambil membuka tas ny dan mencari-cari sesuatu dan mencari sekitar kantongnya, ”omo…keknya dompetku hilang la” kata perempuan misterius ini Soo:”kasir tolong hitung&#160;&#8230; <a href="http://fan3less.wordpress.com/2012/01/28/our-beloved-girl-part-3/">Read&#160;more</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fan3less.wordpress.com&amp;blog=8241797&amp;post=11758&amp;subd=fan3less&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Chapter 3</strong></p>
<p>Soo membeli kaset PS3 Final fantasy versus XIII dan saat membayar dia mengantri tepat di belakang gadis aneh itu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>?????:”berapa harga discnya??” sambil menunjukan kaset nya kepada kasir</p>
<p>Kasir:” 5000won”</p>
<p>?????:”bentar..”sambil membuka tas ny dan mencari-cari sesuatu dan mencari sekitar kantongnya,</p>
<p>”omo…keknya dompetku hilang la” kata perempuan misterius ini</p>
<p>Soo:”kasir tolong hitung punya dia dan punyaku sekalian”</p>
<p>Kasir:”ok..total nya 10000won”</p>
<p>Soo pun mengeluarkan dompet dan membayar kemudian berjalan keluar dan diikuti wanita misterius ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@Soo PVO</p>
<p>”gamsahabnida..sapa ya nama anda?”tanyanya padaku tanpa memperkenalkan dirinya terlebih dahulu</p>
<p>”ne..kamu sendiri?sebelum bertanya perkenalkan diri dulu dong”langsung kujawab</p>
<p>?????:”nama saya Sunny,tau kan?ssst..jangan keras-keras nanti banyak orang dengar”</p>
<p>Aku kebinggungan melihat tingkah wanita ini dan membuatku merasa lucu”emangnya dia pikir dia siapa?artis?penyanyi besar?”pikirku dalam hati</p>
<p>” nama ku Jung SooHee panggil saja dengan SooHee dan kamu sendiri mau kemana?kok berpakaian begitu aneh?”Tanya ku tanpa ragu-ragu</p>
<p>”mueo!!..aneh??ini demi menjaga agar indentitas ku tidak ketahuan tau” jawab Sunny yang agak kesal dan melotot ke arah ku</p>
<p>”hah..ya..memang lu pikir lu artis ato penyanyi terkenal apa..”kataku langsung sambil ketawa  dan memegang perutku yang dari tadi menahan tawa</p>
<p>” Omo..jinja?kamu tidak tau aku sapa?tanyanya keheranan dan melihat kepadaku</p>
<p>Dan langsung kujawab dengan menggeleng kepala sambil melambaikan tangan dan pergi dari hadapan wanita bernama Sunny ini</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@Sunny PVO</p>
<p>“Gamsahabnida” kataku sambil menanyakan nama lelaki yang ganteng dan telah menolongku namun aku dibalas dengan pandangan dingin yang seolah-olah bisa membekukan dan malah menyuruh ku memperkenalkan diri sebelum menanyakan namanya</p>
<p>“Sunny” kujawab namun aku takut ketahuan banyak orang dan kuminta jangan bilang kuat-kuat..eh  malah senyum-senyum dan ternyata nama laki-laki ini SooHee</p>
<p>“kamu sendiri mau kemana?kok berpakaian begitu aneh?”Tanya SooHee padaku yang membuatku merasa di hina dan dengan mata kesal aku menatapnya dan kujawab “ini demi menjaga agar indentitas tidak ketahuan”</p>
<p>Dan betapa terkejutnya aku saat dia mengatakan”emang lu pikir lu artis?ato penyanyi terkenal?”</p>
<p>Dalam hatiku bertanya-tanya apa orang ini pura-pura gak kenal ato memang dia ketinggalan jaman..masa aku yang dari SNSD ini dia tidak kenal??padahal selama ini asalkan aku kemana dan kalo ketahuan warga pasti bakalan banyak yang minta tanda tangan ataupun foto bersama</p>
<p>Dan ku Tanya”kamu beneran gak tau aku siapa?</p>
<p>Sambil menggelengkan kepala,Soohee membalikan badan dan melambaikan tangan tanda bye-bye padaku dan aku pun pergi untuk mencari Sooyoung dan yoona</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Soo pergi dari hadapan Sunny berjalan keliling mall dan merasa bahwa perut nya lapar dan mencari makan.Akhirnya soo pun singgah di restoran korea bernama <em>Sawore Boribap</em><em>.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>@Soo PVO</p>
<p>Setelah pergi dari hadapan sunny si cewek aneh tadi dan berjalan-jalan perut sudah terasa lapar.</p>
<p>“Ahh..kebetulan ada restoran makanan korea di lantai 5 ini,lagian dah lama gak makan makanan korea” pikirku dalam hati</p>
<p>Kemudian aku masuk dan memesan beberapa makanan yaitu Boribap,Hunje-ori-barbecue dan Bulgogi “tah habis gak ni kumakan nanti,tapi ya udalah” gak berapa lama Sunny muncul lagi dihadapanku dan membuatku terkejut</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>#</em>Sawore Boribap</p>
<p>“Kamu cewek aneh tadi kan?yang bernama Sunny?”tanyaku padanya sambil melotot melihat nya</p>
<p>Hah..kamu kan cowok jadul tuh…katanya padaku dan membuatku emosi dan merasa gak senang di bilang kek gitu</p>
<p>“YAAaaa..maksud mu apa?”tanyaku yang lagi emosi rasanya pengen ku jitak kepala perempuan ini</p>
<p><em>“Mianhamnida”katanya sambil menundukkan </em><em>ke</em><em>palanya </em></p>
<p><em>Dan aku bertanya apa dia mengikuti ku? Yang di respon dengan tawa.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Setelah berbincang-bincang Ternyata dia ke sini kar</em><em>e</em><em>na janji ketemu</em><em> dengan orang </em><em> disini</em></p>
<p>“Kek nya aku memesan banyak makanan dan gak mungkin kuhabiskan sendiri,gimana kalo kamu dan teman mu ato pacarmu itu makan bersama saja”tawarku padanya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada awalnya dia menolak tetapi akhirnya dia mau juga</p>
<p>Gak berapa lama kemudian teman-temanya muncul..dan yang mengejutkannya kedua temannya wanita semua</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Astaga..hari apa ini?setelah semalam di Tanya masalah pacaran hari ini malah sudah ketemu 1 cewek aneh dan sekarang makan bersama cewek tadi plus 2 temannya,jangan-jangan temanya pun pada aneh”gumamku dalam hati sambil melihat gerak gerik mereka dan kuminta mereka memanggil menu yang mereka mau</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@Sunny PVO</p>
<p>Setelah berpisah dengan lelaki jadul yang bahkan gak tau tentang SNSD</p>
<p>Aku pun menelepon SooYoung</p>
<p>“Annyeonghaseyo..Young a..kamu dimana?aduh dompetku ketinggalan ni”sambil berjalan aku berjalan turun ke lantai 5 dan Young memintaku berjumpa di tempat makan terdekat ku dan aku pun melihat restoran <em>Sawore Boribap</em><em> </em>dan aku pun memberitahu young bertemu di restoran <em>sawore boribap. </em>dan didepan restoran aku menunggu soalnya dompet ketinggalan pikirku sedih</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terus dari dalam restoran terdengar suara yang agak familiar “Kamu cewek  aneh tadi kan?yang bernama Sunny?” mendengarnya saja membuatku emosi dan setelah kulihat langsung ku balas dengan”kamu kan cowok jadul tadi” yang membuatnya melotot padaku</p>
<p>Rasakan balasanku karna mengataiku aneh tapi dia langsung membentak dan membuatku takut dan akupun meminta maaf</p>
<p>Dan cowok jadul ini memintaku duduk dan ikut makan bersamanya soalnya dia memesan banyak makanan,awalnya kutolak tapi terakihir kuterima karena dia mengatakan anggap ni pembayaran kaset yang tadi dibayarinya.</p>
<p>Gak berapa lama Young dan Yoona datang dan aku mengajak mereka dengan melambaikan tangan dan hasilnya mereka datang dengan ekspresi keheranan?(0.o?)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@Young PVO</p>
<p>Betapa terkejut aku melihat Sunny duduk 1 meja dengan seorang cowok tampan dan keren..sambil melihat ke yoona aku berbisik”itu pacar Sunny ya?”</p>
<p>Yoona sendiri cuma menjawab”molla”  dan kami pun duduk 1 meja dengan sunny dan cowok ini,kemudian kami pun menanyakan namanya</p>
<p>“Lee SooHee” jawabnya,dan ternyata nama kami sama-sama Soo kemudian aku dan yoona memperkenalkan diri,dia bertanya apa pekerjaan kami</p>
<p>Dan aku cuma mengatakan bekerja di bagian admin Hyundai department store ini</p>
<p>Sambil melihat kearah Sunny dan Yoona agar mereka juga ikut berpura-pura.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>#Author PVO</p>
<p>Makanan pun tiba dan mereka menambah pesanan berupa Buchu-haemul-jeon</p>
<p>Dan betapa terkejutnya Soo melihat SooYoung dan Yoona yang dengan lahap,melahap makanan mereka</p>
<p>“wah..jago makan ini mereka berdua,tapi kok bisa ya mereka tetap langsing gini”pikir Soo yang keheranan</p>
<p>Dan setelah makan mereka berbincang-bincang dan bertanya beberapa hal kepada Soo termaksud lulusan mana?kerja?dan lain-lain</p>
<p>Gak berapa lama kemudian restoran penuh oleh para warga yang ingin meminta tanda tangan anggota SNSD</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>#Soo PVO</p>
<p>“Wow..kok banyak orang ya di depan pintu”tanyaku pada pelayan sambil menunjuk kearah pintu dan juga di lihat oleh Sunny,SooYoung dan Yoona</p>
<p>pelayan menjawab”mereka sedang menunggu teman-teman anda,soalnya mereka mau meminta tanda tangan member SNSD”</p>
<p>Mendengar kenyataan itu membuatku menjadi sangat terkejut</p>
<p>Akupun bertanya pada mereka apa kah bernar mereka anggota SNSD?</p>
<p>“ya..kami anggota SNSD,makanya aku bilang kamu jadul,masa aku dan teman-teman ku kamu gak kenal??”Sunny menjawab sambil tertawa ringan yang diikuti tawa SooYoung</p>
<p>Aku pun menjawab”aku ini orang yang sibuk waktu dulu di amerika,jadi gak peduli sama musik-musik kataku membela diri”padahal sebenarnya karena takut mengingat kesedihan kehilangan hyung yang membuatku meninggalkan dunia musik dan bahkan selama di amerika aku bahkan tidak pernah mendengar MP3.</p>
<p>Jadi kita gimana keluarnya?tanyaku pada pelayan</p>
<p>Ternyata pelayan sudah menelepon ke petugas untuk melindungi agar anggota SNSD dapat keluar..dan kami pun keluar dan di depan mall telah ada mobil yang menunggu dan aku di tarik ikut masuk ke dalam mobil.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>#Didalam Mobil SM(ini sudah kembali ke author PVO)</p>
<p>mobil menuju ke SM Enterteiment</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di dalam mobil Cuma ada keheningan sampai di pecahkan oleh seorang lelaki bernama Thomas</p>
<p>“kalian kok kabur kesana?dan siapa lelaki ini?pacarmu ya Sunny?” Tanya lelaki ini yang tidak lain adalah manager SNSD</p>
<p>“Mo??Ani..Ani…”jawab Soo dengan cepat</p>
<p>Yang membuat manager dan anggota SNSD pada kebinggungan</p>
<p>“beneran kamu bukan pacar Sunny?”sambil melirik ke arahku</p>
<p>“Ani..aku Cuma kebetulan mengenalnya dari toko game saat Sunny kelupaan membawa dompet”kata Soo untuk membela dirinya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>#SM entertainment Academy</p>
<p>Mobil yang ditumpangi oleh Soo dan member SNSD sampai disebuah gedung yang besar yang kelihatan megah dann tidak lain adalah SM Entertaiment tempat dulu Soo dilatih bersama hyung nya dulu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Academy…ngapain kita disini?”Tanya Soo pada manager SNSD</p>
<p>“Nanti anda akan kami antar pulang,lagian ini adalah keberuntungan anda dapat makan satu meja sama mereka bahkan dapat melihat mereka latihan”kata Thomas padaku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sunny,SooYoung dan Yoona yang turun dari mobil langsung masuk kedalam academy sedangkan Soo Cuma berdiri di depan pintu sambil melihat keatas sambil termenung</p>
<p>“Anda kenapa?dan sedang melihat apa??”Tanya seorang wanita kepada Soo</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>#???PVO</p>
<p>Setelah aku melihat member SNSD yang lain tiba,aku pun keluar dari academy karena merasa capek,dan di depan aku melihat muka yang agak familiar dan sedang termenung melihat keatas dengan wajah yang tampak sedih</p>
<p>“Anda kenapa?dan sedang melihat apa??” tanyaku padanya dan saat dia melihatku dia langsung memanggil ku BoA unni dengan muka yang terkejut</p>
<p>#BoA PVO</p>
<p>“Hah?kamu siapa ya?rasanya aku pernah melihat mu”tanyaku heran pada cowok ini</p>
<p>“Kita pernah bertemu saat pemakaman hyungku”balasnya padaku</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>~Flashback~</p>
<p>#lokasi salah satu tempat pemakamam ternama di korea</p>
<p>Seorang lelaki dan wanita berumur 40an yang terlihat berpelukan dan menangis melihat pemakaman Lee Sung DongWon yang tidak lain adalah omma dan appa Sung dan Soo.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan seorang lelaki yang berlutut dan bermuka sedih namun tidak bisa lagi menangis bagaikan danau yang telah kekeringan adalah Soo,yang merasa kehilangan sosok seorang hyung yang selama ini selalu baik,menyayangi nya dan mengalah padanya telah tiada.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sambil memegang bahu Soo sebelah kanan,leeteuk berkata pada Soo agar bersabar,dan pasti Sung akan sedih jika melihat keadaan Soo yang seperti sekarang ini</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan gak berapa lama seorang wanita juga memegang bahu kiri Soo dan mengatakan”Soo,jangan terlalu sedih..sampai kapan pun Sung tetap hidup di hati orang yang mencintainya,termaksud kamu”perkataan ini sontak membuat Soo melihat ke arah wanita ini</p>
<p>Yang ternyata adalah BoA.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@BoA PVO</p>
<p>“Aku adalah senior hyung mu,dan hyung mu juga sering bercerita tentang adiknya yang manja,dan selalu mau menang tapi dia juga bilang bahwa kamu adalah orang yang berhati lembut dan baik,yang bahkan tidak tega untuk melempari kucing jalanan..”kataku pada Soo yang melihatku dengan tatapan serius dengan mata ber air.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Hyung mu sangat menyayangi mu,tentu dia juga gak mau melihatmu bersedih seperti ini”sambil aku berjalan ke arah omma dan appa Sung.</p>
<p>Dan aku pun pergi bersama manager ku untuk ke bandara</p>
<p>~Flashback End~</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Ooow…aku ingat sekarang,kamu adik nya Sung ya”tanyaku sambil menepuk bahunya yang sekarang bahkan sudah menjadi pria ganteng yang hampir tidak dapat kukenali.</p>
<p>Dan aku mengajak nya ke sebuah Café yang gak jauh dari SM.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>#Café</p>
<p>Setelah memesan minum Soo bertanya pada boa”gimana kabar Unni sekarang?masih aktif sebagai penyanyi?”dan BoA cuma menganguk dan BoA pon bertanya kepada Soo selama ni gimana kabar Soo dan apa pekerjaan nya sekarang?apa sudah menjadi penyanyi atau melanjutkan usaha ayahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan Soo pun bercerita kalau dia selama ini berada di amerika kuliah sekaligus kerja sebagai broker dan sendiri juga menjadi investor dan tidak lagi ingin berhubungan dengan dunia musik setelah kematian hyung nya,karena selama ini Soo bercita-cita menjadi penyanyi karena mengagumi sosok hyungnya.</p>
<p>Boa pun menanyakan pekerjaan nya sekarang</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Molla unii…aku sendiri masih belum tau mau kerja jadi apa..hahaha..apa unni ada lowongan kerja ya buatku?”balas Soo bercanda</p>
<p>“Ada..menjadi manager SNSD selama 1 bulan menggantikan Thomas yang akan menikah minggu depan,gimana?”balas BoA unni dengan muka serius..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><em>BAGAIMANA TANGGAPAN SOO?apakah dia akan menjadi manager SNSD ataukah dia akan tetap dengan prinsipnya TIDAK berhubungan dengan Dunia musik.</em></span></p>
<br />Filed under: <a href='http://fan3less.wordpress.com/category/fanfiction-korea/'>fanfiction korea</a> Tagged: <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/snsd/'>SNSD</a>, <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/super-junior/'>Super Junior</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fan3less.wordpress.com/11758/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fan3less.wordpress.com/11758/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fan3less.wordpress.com/11758/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fan3less.wordpress.com/11758/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fan3less.wordpress.com/11758/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fan3less.wordpress.com/11758/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fan3less.wordpress.com/11758/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fan3less.wordpress.com/11758/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fan3less.wordpress.com/11758/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fan3less.wordpress.com/11758/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fan3less.wordpress.com/11758/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fan3less.wordpress.com/11758/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fan3less.wordpress.com/11758/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fan3less.wordpress.com/11758/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fan3less.wordpress.com&amp;blog=8241797&amp;post=11758&amp;subd=fan3less&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/28/our-beloved-girl-part-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4e11ffec65306fa8048212455fc7ea6?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikariani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DUMB ( Oneshoot )</title>
		<link>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/27/dumb-oneshoot/</link>
		<comments>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/27/dumb-oneshoot/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 00:59:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dikariani</dc:creator>
				<category><![CDATA[fanfiction korea]]></category>
		<category><![CDATA[DBSK]]></category>
		<category><![CDATA[Hiro-Jaejoong]]></category>
		<category><![CDATA[Mickey-Yoochun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fan3less.wordpress.com/?p=12304</guid>
		<description><![CDATA[Title: DUMB Cast: -          Park Yuchun -          Kim Jaejoong -          Park Sang Yoo a.k.a Elly -          Shin Rei Na a.k.a Asri R Saputri Genre: Drama kalo ga romance. Mungkin akan bertambah seiring berjalannya cerita. Rating: PG13 /Straight Author: Lee Eun Ri a.k.a Kumiko a.k.a Chinatsu &#160; a/n: ff ini dpt inspirasi dari film Hollywood yang judulnya ‘Blind’. Author lupa&#160;&#8230; <a href="http://fan3less.wordpress.com/2012/01/27/dumb-oneshoot/">Read&#160;more</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fan3less.wordpress.com&amp;blog=8241797&amp;post=12304&amp;subd=fan3less&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#ff0000;">Title: DUMB</span></p>
<p><span style="color:#ff0000;">Cast:</span></p>
<p><span style="color:#ff0000;">-          Park Yuchun</span></p>
<p><span style="color:#ff0000;">-          Kim Jaejoong</span></p>
<p><span style="color:#ff0000;">-          Park Sang Yoo a.k.a Elly</span></p>
<p><span style="color:#ff0000;">-          Shin Rei Na a.k.a Asri R Saputri</span></p>
<p><span style="color:#ff0000;">Genre: Drama kalo ga romance. Mungkin akan bertambah seiring berjalannya cerita.</span></p>
<p><span style="color:#ff0000;">Rating: PG13 /Straight</span></p>
<p><span style="color:#ff0000;">Author: Lee Eun Ri a.k.a Kumiko a.k.a Chinatsu</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color:#ff0000;">a/n: ff ini dpt inspirasi dari film Hollywood yang judulnya ‘Blind’. Author lupa siapa yang maen yg jelas cast cowonya ganteng bgt deh  hehehe  n jalan ceritanya menurut author jauh banget deh. Ga ada yang author ambil/jiplak satu pun…suweeer ^^v satu lagi author minta maaf klo ada kesalahan ketik soalnya ga di edit dulu. Mian oiya satu lagi FF ini sebelumnya udah pernah di post di blog pribadi (<a href="http://dbskoneaktf.wordpress.com/"><span style="color:#ff0000;">http://dbskoneaktf.wordpress.com/</span></a> )</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color:#ff0000;">Happy reading</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>YUCHUN POV</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku melihat yeoja manis itu lagi di arena ice skating, yeoja itu berpegangan di pinggir arena dan maju pelahan dengan takut. Wajahnya terlihat sangat ketakutan membuatku ingin menghampirinya tapi aku terlalu pengecut hingga sudah 1 tahun ini aku hanya melihatnya dari jauh. Aku bernapas lega saat melihat ada temannya yang seorang yeoja membantu yeoja manis yang setahun ini kucintai diam-diam. Sering kumengikutinya sampai rumah hanya sekedar ingin melihatnya selamat sampai di rumah. Perlahan kudekati yeoja itu, ia duduk di sebuah cafe yang tak jauh dari arena ice skating.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku duduk tak jauh darinya, kutatap wajahnya yang manis dan sedang tersenyum itu. Ia selalu tersenyum dan tak pernah kulihat yeoja itu bersedih atau pun menangis. Tak pernah bisa kuberpaling darinya. Aku selalu mengingatnya  dimana pun aku berada. Aku mempunyai beberapa fotonya yang kuambil secara diam-diam dengan kamera milikku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“hei” panggil seseorang sambil menepuk pundakku yang berhasil membuatku yang tengah asik menatap yeoja pujaanku menjadi kaget setengah mati. Kulihat kebelakang dan melihat ternyata jaejoong. Aku menatapnya kesal. Namja itu hanya terseyum dan duduk di sebelaku. Kulihat jaejoong menatap ke arah yeoja yang kutatap tadi lalu kembali menatapku dengan senyuman yang menurutku sangat menakutkan bagaikan iblis dari neraka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“masih saja kau mengikuti yeoja itu. Rajin sekali. Kenapa kau tidak menyapanya saja dan berusaha mendekatinya? Sudah satu tahun kau terus seperti ini. Hanya menatap yeoja itu dari jauh dan tak pernah melakukan apa-apa. Apa kau tidak takut jika yeoja itu di ambil namja lain?” ucap jaejoong membuatku berpikir. Sepertinya apa yang di katakan sahabatku ini ada benarnya, jika tak segera mendekatinya aku pasti akan kehilangannya dan mungkin yeoja itu akan di rebut oleh namja lain. Aku tak bisa melihat yeoja manis itu bersama namja lain. Aku hanya ingin yeoja itu bersamaku, mungkin ini terdengar egois tapi aku benar-benar mencintainya dan ingin membahagiakannya. Kutatap namja di sebelahku, ia tersenyum setan padaku yang membuatku merinding.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“jangan tersenyum seperti itu padaku, membuatku merinding dengan senyuman setanmu. Aku akan segera mendekatinya, puas? Ngomong-ngomong dimana yeojachingumu? Aku tak melihatnya? Biasanya kau selalu bersamanya.” Tanyaku sambil mencari sekeliling. Jaejoong menunjuk kesuatu arah tempat dimana yeojachingu jaejoong berada.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“eun ri ada di sana sedang membelikanku makanan. Seperti biasa dia melarangku makan makanan kesukaanku karena takut aku sakit. Sedikit menyebalkan tapi aku senang dengan perhatiannya padaku.” Jawab jaejoong ssambil tersenyum. Aku senang melihat sahabatku bahagia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“ah iya, semoga kau sukses mendekati yeoja itu dan segera mendapatkannya. Ngomong-ngomong bagaimana pekerjaanmu yang kau katakan kemarin?” ucap jaejoong.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“gumawo. Pekerjaanku sudah hampir selesai karena kau menyarankanku mencari ilham di tempat yang kau katakan kemarin aku jadi bisa kembali mengerjakannya. Ah itu eun ri mencarimu.” Jaejoong pun berpamitan padaku. Kulihat namja itu pergi mendekati yeojachingunya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku kembali menatap yeoja manis yang sangat kucintai. Kutatap dengan lembut sambil memikirkan cara untuk mendekati yeoja itu. Tak lama kulihat yeoja itu pergi dengan temannya. Temannya itu memang selalu ada di dekat yeoja manis itu selama setahun ini. Aku pun berdiri dan kembali mengikuti yeoja itu sampai di depan rumahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah melihat yeoja manis itu masuk ke dalam rumah aku pun pulang ke rumahku. Selama perjalanan pulang aku terus memikirkan cara untuk mendekati yeoja manis itu. Sampai di rumah aku menaruh tasku dan membersihkan tubuhku. Kupikir pasti tidak akan bisa mendekati yeoja itu dalam waktu dekat karena aku mulai besok akan sangat sibuk.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>( ^o^ )  ( ^o^ )  ( ^o^ )</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sudah beberapa hari ini aku sibuk dengan pekerjaanku sebagai novelis. Aku sangat rindu pada yeoja itu tapi aku benar-benar tak bisa meninggalkan pekerjaanku. Terkadang jaejoong meneleponku dan memberitahukan tentang yeoja yang kucintai, jaejoong meneleponku karena namja itu bilang tak sengaja melihat sang yeoja saat sedang berjalan-jalan dengan eun ri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku mendesah dan meregangkan otot lenganku yang pegal. Sudah berjam-jam aku melukis membuatku sangat lelah. Kulihat ponselku tidak ada pesan maupun telepon dari jaejoong. Aku berharap jaejoong kembali bertemu secara tak sengaja dengan yeoja manis itu dan meneleponku lalu memberitahukanku tentang yeoja manis itu. Jika bukan karena pihak penerbit yang mendesakku agar novelku segera di selesaikan, aku pasti sekarang sedang mengikuti yeoja manis itu ke tempat kuliahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku berjalan menuju taman di depan rumahku. Aku duduk di kursi yang ada di sana dan menghirup udara segar. Hal itu menyejukkan dan menenangkan pikiranku yang sedang kacau. Kupejamkan mataku dan melihat bayangan yeoja manis itu muncul tiba-tiba membuatku tersenyum. Kubuka mataku dan kembali masuk ke dalam rumah, aku mengambil kunci mobilku. Aku memutuskan untuk keluar mencari inspirasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku mengelilingi beberapa kota seoul agar mendapatkan inspirasi hingga akhirnya aku lelah dan memutuskan untuk mengunjungi café terdekat. Kupesan minuman dan makanan kecil. Saat akan duduk aku melihat ada satu meja yang kosong tapi sayang saat aku akan menghampirinya sepasang kekasih langsung menempati meja itu. Kulihat sekeliling ternyata sudah tidak ada tempat. Pandanganku terhenti saat melihat ada seseorang yang tengah duduk sendirian di dekat jendela. Aku hanya bisa melihat punggung orang itu, jika melihat dari rambutnya yang panjang aku pikir itu pasti seorang yeoja. Aku pun menghampiri orang itu dan betapa kagetnya, aku melihat orang itu ternyata yeoja manis yang selama ini kucintai.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku diam dan hanya menatap yeoja itu penuh rindu. Aku sedikit tersentak saat yeoja itu mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahku. Aku melihat yeoja itu seolah bertanya padaku ada apa. Aku pun mengangguk dan menanyakan apa yeoja itu sedang menunggu seseorang. Yeoja itu menjawab dengan menggelengkan kepalanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“apa boleh aku duduk di sini? Aku tadi sudah memesan tapi ternyata meja yang tadi kulihat kosong sudah di tempati orang terlebih dahulu.” Ucapnya ramah. Yeoja itu pun tersenyum padanya dan mempersilahkannya untuk duduk di kursi depan. Ia pun duduk, ia menatap yeoja itu dan berterima kasih. Ia sangat senang dengan pertemuan tak terduga ini, ia merasa tuhan mengijinkannya untuk mendekekati yeoja manis di depannya ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“aku park yuchun kau bisa memanggilku yuchun. Namamu?” tanyaku. Kulihat yeoja itu bukannya menjawab malah mengeluarkan buku kecil lalu menulis sesuatu. Ia memperlihatkan buku kecil itu padaku. Kulihat sebuah nama, sang yoo nama yang cukup indah bagiku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“itu namamu?” tanyaku yang di jawab anggukan olehnya sambil tersenyum. senyuman yang kini tertuju hanya untukku, tak seperti biasanya yang kulihat dari jauh senyumannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“namamu sangat bagus dan cantik sesuai dengan orangnya. Kau sering kemari?” ucapku sedikit merayunya. Ia kembali mengangguk menjawab pertanyaanku. Kulihat ia kembali menulis sesuatu dan tak lama ia tunjukkan padaku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>apa kau juga sering kemari? Aku jarang melihatmu di sini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku menatap yeoja itu setelah membacanya. Aku sedikit bingung kenapa yeoja itu selalu bertanya dan berkomunikasi denganku melalui tulisan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“aku baru pertama kali kesini. Sejak jam 10 tadi aku pergi jalan-jalan untuk mencari inspirasi untuk pekerjaanku.” Jawabku jujur. Ia mengerutkan dahinya lalu kembali menulis dan lagi-lagi memperlihatkannya padaku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Memangnya apa pekerjaanmu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“aku seorang novelis. Aku harus segera menyelesaikan novelku dengan segera karena pihak penerbit mengatakan akan segera menerbitkan novelku.” Jawabku jujur. Kulihat ia membelalakan mata dan tersenyum. ia terlihat bersemangat mendengar jawabanku. Ia kembali menuliskan sesuatu dan menunjukannya padaku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Novel apa yang kau buat? Judulnya apa?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“novel yang kubuat itu ‘journey’ dan sekarang aku sedang membuat lanjutannya.” Jawabku. Ia terlihat senang dan mengeluarkan sesuatu dan memberikannya padaku. Aku tersenyum, ia memiliki novel yang kubuat. Kutersenyum padanya dan melihat ia kembali menulis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kupikir awalnya namamu dan penulis novel itu hanya kebetulan sama, ternyata kau sendiri yang menulisnya. Aku salah satu penggemar novelmu bolehkah aku minta kau menandatangani novel itu? aku sangat senang bertemu dengan penulis novel favoritku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku tersenyum membacanya dan meminjam pena agar bisa kutandatangani novelku. Ia dengan cepat memberikan pena padaku. Aku pun menuliskan kata-kata untuknya lalu menandatanganinya di bawah tulisanku itu. kuberikan novel itu kembali padanya beserta penanya. Ia menerimanya dengan sangat senang lalu melihat tulisan dan tandatanganku. Ia terus ternyaum lalu tak lama kulihat ada semburat merah di wajahnya. Kurasa ia malu dengan tulisan yang kubuat untuknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gumawo, aku senang sekali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“sama-sama. Aku pun senang bertemu denganmu. Maukah kau datang di peluncuran novelku jika sudah selesai?” tanyaku. Ia pun dengan cepat mengangguk. Aku meminta buku kecil miliknya lalu menuliskan nomor ponselku. Kuberikan lagi buku kecilnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“boleh aku meminta nomor ponselmu?” tanyaku yang di jawab anggukan olehnya. Aku memberikan ponselku padanya agar ia bisa memberikan nomornya langsung. Saat ia mengetik nomornya di ponselku pelayan datang dengan membawa pesananku. Aku mengangguk berterima kasih. Yeoja itu memberikan ponselku lagi, kulihat nomor yang ia berikan lalu mengubah id callernya yang awalnya sang yoo menjadi my lovely girl.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku makan sambil mengobrol dengannya, ya bukan mengobrol dengan normal karena setiap aku mengajaknya mengobrol ia selalu menjawab/meresponnya dengan menulis di buku kecilnya. Aku tak tau kenapa ia tak mau mengeluarkan suara karena sejak tadi aku tak mendengar suaranya sedikit pun. Aku ingin sekali mendengar suaranya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah sekitar 2 jam kami asik mengobrol akhirnya aku dan sang yoo pulang. Kutawarkan untuk mengantarnya pulang tapi ia menolak dan menunjuk sebuah mobil yang berada tepat di depan mobilku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“mobilmu?” tanyaku. Ia mengangguk pelan. aku tersenyum melihatnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“kalau begitu hati-hati di jalan. Ayo cepat masuk.” Ucapku. Tapi ia memandangku dengan tatapan bingung.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“aku akan masuk jika sudah melihatmu pergi.” Ucapku yang mengerti tatapannya. Ia pun tersenyum dan mengangguk berpamitan pergi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah itu aku pun masuk dan pulang ke rumah. Sampai di rumah aku berteriak senang karena pertemuan tadi. Aku benar-benar sangat senang sekaligus bahagia. Mulai sekarang aku bisa berdekatan dengan yeoja yang sangat kucintai. Tak lama aku mengingat nomornya tadi yang minta. Kukeluarkan ponselku dan meneleponnya tapi sayang ia merejectnya. Aku mengerutkan dahiku lalu mengiriminya pesan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apa kau sedang sibuk? Mianhae jika telepon dariku mengganggumu. Aku hanya ingin tau apa kau sudah sampai rumah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kukirim pesan itu pada sang yoo. Kuharap yeoja itu tak marah karena aku menganggunya. Tak lama aku mendapat pesan darinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Anni, aku tidak sedang sibuk. Kau tak menganggu hanya saja aku malu. Apakah kau keberatan jika kita hanya saling mengirim pesan? Oiya aku sudah sampai rumah 15 menit yang lalu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku tersenyum saat melihatnya ternyata tak marah padaku. Aku mencium-cium pesan darinya seperti orang gila. Aku kembali membalas pesannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Baiklah tak apa, kita saling mengirim pesan saja jika kau malu. Ah syukurlah jika kau sudah sampai di rumah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku menaruh ponselku di meja samping tempat tidurku. Lalu aku berjalan menuju laptopku untuk meneruskan mengetik novelku yang tadi sempat terunda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(^_^)  (^_^)  (^_^)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sudah 3 minggu sejak aku bertemu dengan sang yoo, kami semakin dekat. Aku sering menemuinya di café atau tempat lain. Tapi jika tidak bisa bertemu seperti biasa kami akan saling mengirim pesan. Satu hal yang membuatku sangat bingung, sang yoo tak pernah mengeluarkan suaranya saat bersamaku. Ia selalu diam dan hanya mengobrol denganku melalui tulisan yang ia tulis. Aku ingin bertanya namun aku takut ia tersinggung jadi aku hanya diam saja. Aku berpikir untuk mencari tahu tentang itu nanti jika ada kesempatan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kini aku melanjutkan novelku yang tertunda, minggu depan aku sudah harus menyerahkan novelku. Penerbit sudah menentukan deadlinenya padaku karena mereka sudah tak bisa lagi menunggu. Aku harus segera menyelesaikannya karena setelah ini aku bisa mencari tahu tentang sang yoo yang tak mau mengeluarkan suaranya. Satu-satunya cara agar aku tau tentangnya adalah teman sang yoo yang selalu aku lihat jika berada di arena ice skating.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berjam-jam aku terus mengetik novel di laptopku agar cepat selesai. Aku merasa jika sebentar lagi kulanjutkan aku akan segera menyelesaikan novelku ini dan bisa kuberikan pada pihak penerbit. Lalu setelah itu aku bisa mulai mencari tau tentang sang yoo. Aku pun kembali melanjutkan mengetik novelku, aku tak berhenti sedikitpun. Telepon dari jaejoong pun tak kuhiraukan. Semua pesan dan telepon dari siapapun tak kuangkat maupun kubaca.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“ahhhhhhh.” Lenguhku sambil meregangkan otot lenganku yang sangat pegal. Akhirnya novelku selesai, tinggal kuserahkan besok pada penerbitku. Aku beranjak dari kursi menuju dapur, kuambil minuman dingin lalu meminumnya hingga habis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah itu kuambil ponselku dan pergi ke ruang tengah. Kubaca dan kulihat siapa saja yang menelepon maupun mengirim pesan padaku. Ternyata telepon dan pesan itu dari jaejoong, sang yoo, dan umma-ku yang tinggal di jepang bersama appa. Kubalas pesan mereka satu persatu. Tak lama bel rumahku berbunyi, aku pun membuka pintu dan mendapatkan pihak menerbit datang dengan wajah kusam. Aku mempersilahkannya untuk masuk.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“mana novelmu? Sudah selesai?” tanyanya tanpa basa basi. Aku mendengus kesal mendengar pertanyaannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“sudah selesai. Sebentar aku ambilkan dulu.” Ucapku lalu beranjak ke kamarku dan mengambil kertas berisi novelku yang baru saja selesai. Untung tadi aku sempat mengeprintnya jika tidak Mr.Lee pasti akan menceramahiku lagi. Kuberikan novelku padanya, lalu kulihat ia sedikit mengecek ratusan lembar novelku itu. ia tersenyum senang lalu menatapku dengan wajah tak sesuram tadi saat ia datang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“aku akan segera mencetak novelmu ini dan nanti akan kuhubungi jika sudah selesai. Ingat kau harus menghadiri launching novelmu ini. ini pertama kalinya kau muncul di public setelah beberapa novelmu terbit. Sebenarnya saat buku kedua kau harus muncul karena penggemar novelmu memintanya tapi kenapa baru sekarang kau menyetujuinya?” ucap Mr.Lee.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“ada seseorang yang ingin kutemui saat launching novelku nanti.” Jawabku asal. Aku tak mau memberitahukan alasannya karena menurutku ini sangat pribadi. Tak lama Mr.Lee pun berpamitan. Kuantar hingga kedepan pintu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“ahhh akhirnya.” Ucapku lega.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>AUTHOR POV</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yuchun istirahat sejenak lalu memikirkan cara agar bisa mendekati sang yoo ia pun teringat jika hari ini adalah weekend. Biasanya yeoja itu akan mengunjungi ice skating bersama temannya. Ia bisa menanyakan tentang sang yoo pada teman yeoja itu. ia pun bergegas berdiri dan mengambil kunci mobilnya lalu pergi ke arena ice skating. Selama perjalanan ia berharap jika teman yeoja itu akan datang seperti biasa jika weekend tiba.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sampai di arena ice skating, yuchun langsung masuk dan mencari-cari keberadaan sang yoo dan teman yeoja itu. Matanya berhenti mencari saat melihat yeoja yang ia cari sedang bermain ice skating bersama teman yang ia cari sejak tadi. Ia pun menyewa sepatu ice skating dan menghampiri sang yeoja yang ia cintai itu. ia melihat yeoja itu kaget dengan kedatangannya. Ia reflek mencium pipi sang yoo membuat yeoja itu malu dan wajahnya langsung memerah. Ia tersenyum melihat perubahan di wajah yeoja itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sang yoo menundukkan wajahnya karena malu. Ia tak menyangka jika yuchun akan mencium pipinya di depan umum seperti ini apa lagi di hadapan temannya, rei na. ia tak berani melihat wajah namja itu sekarang karena ia yakin wajahnya sangat merah seperti kepiting rebus. Tak lama ia merasakan tangan namja itu menyentuh dagunya membuatnya menatap namja itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“gwenchana?” tanya namja itu padanya. Ia pun mengangguk pelan sambil tersenyum. ia menoleh kesamping melihat temannya rei na hanya diam menatapnya juga yuchun bergantian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“kau siapa?” tanya rei na. yuchun menatap rei na lalu tersenyum ramah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“aku park yuchun. Kau temannya sang yoo ya?” jawab yuchun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“aku rei na. ah kau park yuchun. Sang yoo sering menceritakanmu padaku. Kalian berpacaran?” tanya rei na menggoda keduanya. Mendengar pertanyaan itu membuat wajah keduanya memerah. Rei na tersenyum kecil melihat tingkah keduanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“aku bukan pacarnya tapi calon pacar.” Jawab yuchun mantap. Sang yoo menatap yuchun tak percaya, selama ini ia berpikir jika yuchun hanya menganggapnya teman saja dan tak mempunyai perasaan apa-apa padanya. Namja itu menatapnya lembut sambil tersenyum. ia membalas senyuman namja itu. ia beralih menatap rei na dengan tatapan tak percaya tapi temannya itu hanya tersenyum penuh arti padanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“jadi sang yoo sering membicarakanku denganmu?” tanya yuchun sambil menatap rei na lalu sang yoo.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“jujur iya. Hampir setiap hari ia membicarakanmu.” Jawab rei na.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yuchun tersenyum mendengar semua itu, ia kembali menatap yeoja manis yang ia cintai itu dengan lembut. Tak lama yeoja itu kembali menundukkan kepalanya. Ia mengelus lembut rambut sang yeoja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“kau ternyata diam-diam bercerita tentangku pada rei na.” ucap yuchun. Yeoja itu hanya mengangguk pelan.Tak lama ia memberi isyarat jika ia akan membeli minum. Dengan cepat ia pergi membeli minum, ia tak tau lagi harus bersikap bagaimana jika terus berada di sana. Pasti ia akan semakin malu karena rei na membongkar semuanya. Tadi saja ia di buat malu karena yeoja itu mengatakan jika ia pernah menceritakan tentang namja itu padanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara itu yuchun mengobrol dengan rei na. ia merasa jika yeoja itu sangat ramah. Yeoja itu pun memberitahukannya jika sepertinya sang yoo mencintainya. Mendengar itu membuatnya sangat senang, ia sudah tak sabar untuk menyatakan cintanya pada yeoja yang ia cintai, sang yoo. Ia pun teringat alasannya kemari dan langsung menanyakan tentang apa yang ada di benaknya selama ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“rei na-sshi, aku mau bertanya sesuatu boleh kah?” tanya yuchun. Ia melihat yeoja itu bingung namun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaannya itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“mengapa sang yoo tidak pernah mengeluarkan suaranya jika sedang bersamaku? Apa dia malu? Sejak pertama kali bertemu dengannya aku tak pernah mendengar suaranya sedikit pun. Aku sangat ingin mendengar suaranya. Selama ini jika saling bertemu dia selalu berkomunikasi denganku melalui tulisan. Dan ia menolak jika kutelepon, jadi aku hanya bisa mengiriminya pesan saja.” Ucapnya panjang lebar. Ia melihat yeoja di depannya ini menatapnya dengan pandangan tak percaya. Ia hanya menatap yeoja itu dengan bingung.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“ada apa? Kenapa kau berwajah seperti itu? ada yang salah dengan pertanyaanku?” tanyanya lagi. Yeoja itu mengangguk tapi satu detik kemudian menggelengkan kepalanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“kau tidak tau?” tanya yeoja itu balik padanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“apa?”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“sang yoo itu bisu. Ia bisa bicara sedikit tapi itu pun tak jelas karena memang ia bisu sejak kecil. Orang tuanya melakukan terapi padanya agar paling tidak bisa berkomunikasi sedikit. Tapi jika memang mau berkomunikasi lancar dengannya kita harus belajar bahasa isyarat. Apa sang yoo tak pernah memberitahukanmu?” ucap yeoja itu. Yuchun diam dan tak percaya dengan apa yang ia dengar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“dia tak pernah memberitahukanku. Sejak awal bertemu ia selalu berkomunikasi denganku melalui tulisan. Aku pun tak menyadarinya karena aku terlalu terbuai olehnya. Karena aku terlalu mencintainya hingga tak sadar akan hal itu.” jawab yuchun sambil berpikir sesuatu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tak lama sang yoo datang dengan membawa 3 minuman. Yuchun pun tiba-tiba berpamitan. Ia pun kembali mencium pipi sang yoo.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“aku pulang dulu.” Ucap yuchun setelah mencium pipi yeoja itu. ia pun berpamitan dengan rei na. ia bergegas pergi ke rumahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sang yoo menatap yuchun yang sudah pergi. Ia merasa aneh dengan perubahan yuchun yang sangat tiba-tiba itu. Ia menatap rei na yang juga menatap pintu keluar. Ia merasa ada suatu hal yang di bicarakan yuchun dengan rei na yang membuat sang namja langsung pergi begitu saja. Ia menyentuh bahu temannya itu lalu memberi isyarat ada apa dengan yuchun. Ia melihat rei na hanya menggelengkan kepalanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“tidak ada apa-apa. Aku tak tau mengapa yuchun tiba-tiba aneh seperti itu.” jawab rei na bohong. Ia tak tega mengatakan yang sebenarnya pada sang yoo jika namja yang di cintai temannya itu pergi setelah mendengar penjelasannya kalau sang yoo itu bisu. Ia pun merutuk yuchun yang langsung pergi setelah mendengar penjelasannya. Ia pikir namja itu berbeda dengan namja lainnya tapi ternyata sama saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‘mianhae sang yoo -a aku tak bermaksud membohongimu. Aku hanya tak mau kau sakit hati lagi sama seperti dulu. Kau di tinggalkan namja yang kau cintai hanya karena kekuranganmu itu’ batin rei na sedih sambil menatap temannya itu lalu menatap pintu keluar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‘apa rei na memberitahukan pada yuchun jika aku bisu ya?’ batin sang yoo sambil menatap rei na.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ya selama ini sang yoo memang sengaja tak memberitahukan yuchun jika ia sebenarnya cacat, tak bisa berbicara. Itu ia lakukan karena ia tak mau namja itu pergi setelah tau ia bisu. Ia tak mau kejadian yang menimpanya dulu terjadi lagi. Semua namja akan menjauhinya setelah mengetahui ia bisu. Ia takut namja yang mulai ia cintai itu akan pergi sama seperti namja lain yang pernah dekat dengannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tak lama ia pun mengajak rei na untuk pulang karena ia sudah tak mau berada di arena ice skating. Selama perjalanan pulang ia terus termenung sambil memikirkan yuchun yang tiba-tiba pergi tadi. Saat sampai di rumah ia langsung pergi ke kamarnya dan mengirim pesan pada namja itu. lama ia menunggu tapi tak ada satu pun balasan dari namja itu membuatnya sedih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‘biasanya ia akan langsung membalas pesan dariku atau paling tidak membalas pesanku dengan singkat. Sama seperti tadi ia akan membalas pesanku walaupun cukup lama. Tapi ini sudah cukup lama ia tak membalas pesanku.’ Batinnya lemas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‘apa yuchun sudah tau kalau aku bisu? Lalu ia sama seperti namja lain yang akan pergi setelah mengetahui aku bisu.’ Batinnya lagi lalu kini perlahan menangis. Ia membenamkan wajahnya di atas bantal. Ia merasa dunia tak adil baginya, setiap namja yang ia cintai pasti akan pergi jika sudah mengetahui tentang kekurangannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Malamnya ia berusaha kembali mengirim pesan pada yuchun tapi sama seperti tadi. Namja itu tak membalas pesannya. Setelah makan malam ia kembali ke kamarnya dengan langkah lesu. Ia tak menyangka jika yuchun akan sama seperti namja lain. Awalnya ia berpikir jika yuchun berbeda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‘kenapa kau sepertinya menjauh?’ batinnya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sudah seminggu yuchun tak mengirim pesan atau pun menemui sang yoo. sang yoo merasa jika yuchun sudah melupakannya. Selama seminggu itu pula ia menjalani harinya dengan tak bersemangat. Ia juga terlalu malas untuk bertemu siapa pun. Ia kini berada di rumahnya menatap novel yuchun yang pernah di tanda tangani oleh namja itu. ia kembali mengingat pertemuan pertamanya bersama namja itu. ia tersenyum kecil saat mengingat kenangan manis itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‘jika aku tak seperti ini sepertinya yuchun tak akan pergi meninggalkanku.’ Batinnya sedih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di sisi lain kini rei na tengah menatap yuchun tajam dan tak suka. Setelah satu minggu menghilang tanpa kabar, membuat temannya sedih dan sulit di temui. Tiba-tiba saja sekarang datang padanya dan meminta bantuan agar bisa bertemu sahabatnya itu. Namja itu terus meminta bantuannya berkali-kali selama dua jam ini tapi ia diam saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“kenapa kau tidak menemuinya langsung? Kenapa meminta bantuanku?” tanya rei na ketus. Ia melihat namja itu menatapnya dengan memelas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“aku sudah menemuinya langsung di rumah tapi orang rumahnya bilang jika dia tak mau bertemu siapapun. Hanya kau yang bisa membantuku agar aku bisa bertemu dengan sang yoo lagi. Ayolah bantu aku.” Pinta yuchun lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“kenapa kau baru muncul? Dan kenapa setelah aku menjelaskan tentang sang yoo kau malah langsung pergi. Asal kau tau sang yoo jadi tak bersemangat satu minggu ini setelah melihatmu tiba-tiba pergi waktu itu. hal ini sering terjadi padanya, dulu pun sering terjadi. Ada namja yang mendekatinya lalu pergi begitu saja setelah mengetahui jika ia bisu. Dan kau salah satu dari mereka. Aku tak mengatakan padanya tentang aku sudah bercerita tentangnya padamu tapi kurasa dia sudah sadar saat kau pergi.” Ucap rei na panjang lebar. Hati yuchun sedikit sakit saat mendengar jika yeoja yang ia cintai sering di tinggal begitu saja setelah mengetahui kalau sang yoo itu bisu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ia berusaha meyakini rei na agar membantunya menemui sang yoo. Ia pun berusaha menjelaskan mengapa ia tiba-tiba pergi waktu itu. Semuanya ia jelaskan pada yeoja di hadapannya ini. Mendengar penjelasan yuchun hati rei na pun luluh, ia tak tega pada yuchun yang ternyata berusaha untuk bisa berkomunikasi dengan rei na.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“jadi kau selama seminggu ini belajar bahasa isyarat? Dan kau melakukan itu hanya untuk teman baikku, sang yoo? Kenapa kau tak menghubunginya? Kasihan sang yoo. Dia merasa kau telah menjauhinya.” Ucap rei na mulai melunak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“ne, selama satu minggu ini aku belajar bahasa isyarat mati-matian sampai aku lupa jika ponselku mati dan itu hanya untuk sang yoo seorang. Aku pun baru sadar jika ponselku mati setelah pihak penerbit bukuku datang ke rumah kemarin malam. Bisakah kau menolongku? Aku akan mengadakan launching novel terbaruku sekarang di seoul green mall. Bisakah kau mengajaknya ke sana? Aku akan ada di sana sampai jam 3 sore nanti. Dan kumohon jika dia tak datang bujuk dia untuk datang ke sungai han. Aku akan menunggunya di sana.” Ucap yuchun sambil menatap yeoja itu penuh harap.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“baiklah aku akan berusaha membujuknya.” Jawab rei na pada akhirnya. Mendengar jawaban yeoja itu yuchun pun langsung tersenyum dan berpamitan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“aku pergi. Sebentar lagi akan di mulai. Gumawo rei na-a” ucap yuchun sambil berlari menuju mobilnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rei na pun langsung pergi dari arena ice skating tempatnya bekerja sambilan. Ia bergegas menuju rumah teman baiknya itu. Ia berharap jika sang yeoja mau menemui yuchun di seoul green mall. Selama perjalanan ia terus berdoa untuk kebahagiaan temannya itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sampai di rumah sang yoo ia berusaha menemui temannya itu tapi tetap saja temannya itu tak membukakan pintu untuknya. Ia terus berdiri selama dua jam di depan pintu kamar sang yeoja berharap yeoja itu keluar dan mendengarkannya. Ia mendesah kecil, sudah berkali-kali ia membujuk agar yeoja itu membuka pintu tapi tak juga di buka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“baiklah sang yoo -a, aku tak akan membujukmu untuk kedua kalinya aku hanya ingin kau pergi denganku ke seoul green mall karena ada yang ingin kutunjukkan padamu. Tapi kau sepertinya tak mau, kalau begitu aku pulang ya sang yoo.” Ucapnya lalu melangkah pergi dengan perlahan. Ia berharap jika temannya itu akan membuka pintu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“naaaa.” Panggil sang yoo padanya dengan suara yang terbilang tak jelas tapi ia sudah  hapal dengan suara temannya itu. Ia pun berbalik dan tersenyum. senyumnya hilang saat melihat kondisi temannya yang sangat kacau. Ia menghampiri temannya itu dan menatapnya dari atas hingga ke bawah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“aigoo kenapa temanku menjadi kusut seperti ini? Ayo ganti baju, kau harus berdandan yang cantik dan manis. Lalu setelah itu kita pergi.” Ucap rei na sambil mendorong pelan yeoja itu agar masuk ke kamar. Ia merombak habis temannya itu agar terlihat cantik saat bertemu dengan yuchun nanti.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sang yoo melihat rei na yang terus tersenyum senang. Ia tersenyum tipis saat melihat temannya itu. Ia ikut senang jika temannya ini senang. Ia diam saja di dandani oleh rei na. Tak lama ia melihat yeoja itu menyuruhnya berdiri. Yeoja itu melihatnya dan tersenyum puas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“cantik.” Ucap rei na sambil menggerakkan tangannya yang merupakan bahasa isyarat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“ummaooo (gumawo) “ balas sang yoo dengan menggunakan bahasa isyarat. Keduanya tersenyum. Saat melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 2:30 sore rei na pun langsung menarik tangan temannya itu agar cepat pergi ke seoul green mall. Ia menyuruh yeoja itu untuk masuk. Selama perjalanan ia merutuk dalam hati karena merasa jarak antara rumah sang yoo dengan seoul green mall sangat jauh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saat sampai di tempat yang di tuju rei na kembali menarik tangan sang yoo untuk masuk. Ia melihat sekeliling, ia sedikit bingung karena tak tau jelas dimana tempat launching berada. Ia mencari di sekeliling mall itu dengan perasaan panik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara itu sang yoo merasa jika orang-orang menatapnya dengan tatapan yang sulit ia artikan.  Ia sedikit berlari kecil karena rei na menarik tangannya sejak tadi. Ia berusaha menahan yeoja itu agar berjalan santai saja tapi yeoja itu tak menghiraukannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‘aish di mana sih tempatnya?’ batin rei na kesal. Akhirnya saat melihat ada sepasang kekasih yang keluar dari toko buku ia pun menanyakan tentang launcing novel yuchun. Ia melihat sepasang kekasih itu menatapnya dan sang yoo.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“ada apa? Kenapa kalian menatap kami seperti itu? Terutama temanku ini? apa kalian bisa memberitahuku dimana tempat launching novel park yuchun?” tanyanya lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“tidak ada apa-apa hanya saja temanmu itu ternyata memang sangat cantik. Sesuai yang aku dan namjachinguku lihat di novel. Jika kalian mau datang ke launching itu, sayang sekali launching itu sudah selesai sejak beberapa menit yang lalu.” Jawab yeoja itu pada rei na. Rei na sedikit mengerutkan dahinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“lihat temanku ini di novel?” ucapnya. Kedua orang itu mengangguk lalu memperlihatkan novel yuchun yang baru mereka beli padanya dan sang yoo. Ia dan sang yoo sangat kaget saat melihat foto sang yoo ada dalam novel terbaru yuchun. Namja itu pun menuliskan sesuatu untuk sang yoo.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“tadi saat acara launching novelnya. Park yuchun-sshi mengatakan tentang isi hatinya untuk yeoja yang ia cintai, park sang yoo. Perkataannya tadi membuat kami terharu dan membuat kami semua yang ada di sana mendukungnya untuk mendapatkan cintanya. Dia mengatakan juga jika dia tak mempedulikan kekurangan anda sang yoo-sshi. kami rasa park yuchun-sshi sudah pergi sejak tadi.” Ucap namja itu pada sang yoo.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rei na dengan cepat mengembalikan novel itu pada yeoja itu dan berterima kasih. Ia masuk dan dengan cepat membeli buku yuchun yang baru saja terbit. Lalu setelah itu mereka berdua pergi. Rei na menyuruh sang yoo untuk segera masuk. Setelah melihat yeoja itu masuk ia pun masuk dan mulai mengemudikan mobilnya menuju tempat ke dua yang di beritahu yuchun tadi. Ia melihat sekilas yeoja di sampingnya yang terlihat jelas sangat sedih. Ia tau jika yeoja itu merasa sudah terlambat untuk menemui yuchun lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‘tenanglah sang yoo-a, kau pasti akan bahagia. Sebagai teman sejak kecil aku akan membantumu bersatu dengan yuchun.’ Batin rei na. Ia kembali merutuk dalam hati.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‘kenapa yuchun menyuruh ke sungai han sih? Jaraknya kan sangat jauh dari mall itu. Dasar, awas kau jika bertemu nanti.’ Batinnya lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sang yoo membaca novel yang di beli rei na tadi. Ia membaca bagian yuchun yang mengungkapkan isi hatinya melalui buku itu. Ia membaca semuanya yang yuchun katakan. Mulai dari selalu mengikutinya dari jauh selama satu tahun sampai terakhir kali mereka bertemu. Ia perlahan menangis karena tak menyangka yuchun mencintainya sama seperti ia mencintai yuchun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kau inspirasiku dan kau merupakan matahari bagiku. Semenjak kedatanganmu di dalam hidupku, hidupku menjadi cerah dan selalu kulalui dengan semangat. Setiap mataku terpejam yang kulihat hanyalah dirimu. Senyumanmu membuat jantungku selalu berdetak sangat cepat. Kau lihat kan fotomu di sini? Kau sangat cantik saat tersenyum. Kekuranganmu itu bukanlah apa-apa, itu bukan penghalang bagiku. Aku akan tetap mencintaimu sama seperti dulu bahkan lebih besar dari sebelumnya. Aku ingin sekali membahagiakanmu sampai akhir hidupku nanti. Maukah kau menjadi yeojaku sampai akhir hayatku?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sungai han</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Park Yuchun</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ia menangis dan sedikit mengerutkan dahinya. Ia bingung mengapa ada kata sungai han di akhir kata-kata namja itu. ia menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Ia menatap rei na yang tengah fokus mengemudikan mobilnya. Lalu ia menatap keluar jendela tempat yang tak asing baginya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ia merasakan jika rei na memperlambat laju mobilnya lalu memarkirkannya. Ia keluar saat temannya itu pun keluar. Ia melihat yeoja itu menatapnya sambil tersenyum. yeoja itu kembali menuntunnya untuk mengikuti yeoja itu. Ia melihat ada cukup banyak orang yang sepertinya sedang melihat sesuatu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“bisa permisi? Kami mau lewat.” Ucap rei na ramah. Ia cukup bingung dengan adanya orang-orang yang berkumpul di sungai han itu. Ia melihat beberapa orang menatapnya dan sang yoo lalu setelah itu memberi mereka jalan. Orang yang berada di depan orang sebelumnya juga seperti itu. terus seperti itu hingga ia dan sang yoo bisa melewati kerumunan orang-orang dengan lancar. Di carinya sosok namja yang ingin ia pertemukan dengan sang yoo. Tak lama seorang yeoja menunjukkan sesuatu padanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“di sana jika kau mencari park yuchun sang novelis itu. Sejak dua jam yang lalu dia duduk di sana.” Ucap yeoja itu padanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“lalu ada apa dengan orang-orang di sini? Mencari yuchun?” tanyanya bingung.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“kami penggemar novelnya dan saat membaca tulisan untuk sang yoo dan ada tulisan sungai han kami berpikir jika yuchun akan menunggu yeoja itu di sini. Kami hanya ingin memberinya dukungan. Apa temanmu itu sang yoo yang di tunggu yuchun?” ucap yeoja itu. rei na pun menjawab dengan anggukan kecil.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rei na mengajak sang yoo agar menghampiri yuchun tapi saat sudah hampir sampai yeoja itu menahannya. Ia pun menatap temannya itu yang berdiri di belakangnya. Ia melihat yeoja itu sepertinya tidak yakin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“kau takut? Atau kau sudah tidak mencintai yuchun lagi?” tanya rei na lembut sambil tangannya kembali menggunakan bahasa isyarat. dengan cepat yeoja itu menggelengkan kepalanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“auuu u up an t ta uuut uuu chuun annya b boong (aku gugup dan takut yuchun berbohong).” Ucap yeoja itu tak jelas dengan tangannya menggunakan bahasa isyarat agar temannya itu mengerti. Ia melihat teman baiknya itu tersenyum lembut. Lalu mendekatinya perlahan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“jangan khawatirkan tentang hal itu. Yuchun sangat mencintaimu dan aku yakin jika itu tidak berubah sama sekali. Dengarkanlah penjelasannya nanti mengapa dia menghilang begitu saja waktu itu. Ayo jangan membuatnya menunggu lama. Kau lihat punggungnya itu? Kurasa ia sudah sangat kelelahan.” Ucap rei na dengan tangannya menggunakan bahasa isyarat. Ia pun kembali menuntun tangan sang yoo agar menghampiri yuchun.  Saat sudah sampai ia pun memanggil yuchun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“yuchun-a.” panggil rei na. Mendengarnya memanggil, namja itu pun menoleh kebelakang menatapnya dan sang yoo bergantian. Ia bisa melihat raut wajah namja itu yang terlihat sangat bahagia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“aku sudah membawanya ke sini sesuai janjiku. Selanjutnya kau yang harus berusaha.” Ucap rei na lalu melangkah menjauh dari kedua pasang yang saling mencintai itu. sang yoo menatap kebelakang, ia menatap rei na dengan bingung.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yuchun tersenyum cerah melihat yeoja yang sangat ia cintai akhirnya datang. Ia menghampiri yeoja itu dan memberikan bunga mawar yang ia beli tadi. Ia mengelus lembut pipi yeoja manis itu. Ia melihat mata sang yoo, ia tau jika yeoja itu baru saja menangis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“kau menangis? Karena aku? Mianhae.” Ucap yuchun sambil menunjukkan hasil belajarnya mengenai bahasa isyarat. Sang yoo menatap yuchun tak percaya, namja itu bisa bahasa isyarat membuatnya lebih mudah mengerti ucapan yuchun. Walaupun ia bisa mengerti jika namja itu berbicara tanpa menggunakan bahasa isyarat tapi terkadang ia juga mengalami kesulitan. Ia pun menjawab pertanyaan namja itu hanya melalui bahasa isyarat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jangan meminta maaf</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“kau masih tak mau membuka suara? Aku tau jika kau tak bisa bicara sejak kecil tapi kau masih bisa berbicara walaupun tak terlalu jelas kan? Aku ingin mendengar suaramu.” Ucap yuchun dengan tetap seperti tadi, menggunakan bahasa isyarat agar sang yoo mengerti. Ia melihat yeoja itu diam saja. Yuchun pun menjelaskan kemana ia pergi selama satu minggu ini pada yeoja itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah mendengar penjelasan yuchun, sang yoo merasa senang karena ternyata dugaannya yang menyangka namja itu pergi dan tak mau menemuinya lagi itu salah. Ia tersenyum lalu meminta maaf karena telah berpikiran yang tidak-tidak tentang yuchun. Keduanya berkomunikasi dengan bantuan bahasa isyarat. Melihat yeoja itu kesulitan dalam menggunakan bahasa isyarat yuchun pun membantu membawakan bunga yang di pegang yeoja itu. Yuchun merasa gemas karena sang yoo tak kunjung membuka suara walaupun hanya satu kata. Ia sudah tak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitar yang menatapnya sejak tadi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“masih tak mau mengeluarkan suara? Bisakah sekali saja aku mendengarkan suaramu?” tanyanya lembut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“uu cchun (yuchun).” Ucap yeoja itu. Mendengar itu yuchun sangat senang karena akhirnya yeoja manis di depannya mengeluarkan suara dan yeoja itu menyebutkan namanya. Ia membungkukkan badannya agar sejajar dengan sang yoo.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“suaramu sangat indah. Sama sepertimu.” Ucap yuchun yang sukses membuat wajah yeoja itu memerah. Sang yoo menundukkan kepalanya malu, saat ia menunduk dan melihat novel baru namja di depannya ia pun mundur sedikit dan membuka halaman yang memuat foto dirinya dan tulisan yuchun untuknya. Setelah menemukannya ia menunjukkannya pada namja di depannya. Ia melihat namja itu hanya tersenyum penuh arti.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“kau sudah membacanya? Itu kubuat khusus untukmu. Kau tau aku tak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Aku menyatakan perasaanku padamu melalui novelku hingga seluruh korea tau akan perasaanku padamu. Sengaja aku meminta pihak penerbit agar mencetaknya di halaman depan agar orang-orang membaca itu terlebih dahulu. Lalu bagaimana jawabanmu?” ucap yuchun. Ia melihat ada keraguan di mata sang yoo, ia bisa mengerti akan hal itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“semua perasaanku yang kutulis di buku, itu benar-benar semua yang kualami dan kurasakan selama ini. Aku tak pernah berbohong padamu.” Ucap yuchun sambil menggerakan tangannya perlahan agar sang yoo mengerti. Lama ia menunggu jawaban yeoja itu. Jantungnya berdetak sangat cepat, suara teriakkan orang-orang sekitar yang mendukungnya pun malah membuatnya tambah gugup. Tak lama ia melihat yeoja itu menatapnya lembut dan tersenyum.</p>
<p>Saranghae yuchun-a</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melihat yeoja itu memberi isyarat seperti itu membuatnya amat bahagia. Ia mendekati yeoja itu dan langsung memeluknya dengan erat. Ia sangat bersyukur karena sang yeoja menerima cintanya. Ia bisa mendengar sangat jelas sorak sorai orang-orang yang mendukungnya. Orang yang merupakan pembaca setia novelnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“katakan kau mencintaiku. Sekali lagi.” Pinta yuchun lalu melepas pelukannya dan menatap sang yeoja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“ s sarrang eee (saranghae).” Ucap yeoja itu dengan bersusah payah mngeluarkan suaranya yang hanya bisa keluar sangat sedikit dan pelan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mendengar yeoja itu mengatakannya sekali lagi membuatnya tersenyum lebar dan sangat bahagia. Ia memegang kedua pipi yeoja itu dan menatap mata indah itu sangat dalam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“nado saranghae. Gumawo telah menerimaku. Aku sangat bahagia.” Ucap yuchun lalu mencium bibir yeoja itu dengan lembut. ia sudah tak mempedulikan puluhan orang yang menatapnya yang tengah mencium yeojanya itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Keduanya sangat bahagia sekarang dan akan memulai langkah baru dalam hidup mereka. Suasana saat ini sangat romantic tapi sayang kedua sejoli itu tak menyadarinya. Mereka saling berciuman di tengah sungai han dan sunset yang membuat pemandangan terlihat sangat indah. Rei na tersenyum bahagia melihat temannya sudah meraih kebahagiaannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">END</span></strong></p>
<p><span style="color:#ff0000;"> Gumawo yang udah baca  n mau komen ^_^</span></p>
<br />Filed under: <a href='http://fan3less.wordpress.com/category/fanfiction-korea/'>fanfiction korea</a> Tagged: <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/dbsk/'>DBSK</a>, <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/hiro-jaejoong/'>Hiro-Jaejoong</a>, <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/mickey-yoochun/'>Mickey-Yoochun</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fan3less.wordpress.com/12304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fan3less.wordpress.com/12304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fan3less.wordpress.com/12304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fan3less.wordpress.com/12304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fan3less.wordpress.com/12304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fan3less.wordpress.com/12304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fan3less.wordpress.com/12304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fan3less.wordpress.com/12304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fan3less.wordpress.com/12304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fan3less.wordpress.com/12304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fan3less.wordpress.com/12304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fan3less.wordpress.com/12304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fan3less.wordpress.com/12304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fan3less.wordpress.com/12304/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fan3less.wordpress.com&amp;blog=8241797&amp;post=12304&amp;subd=fan3less&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/27/dumb-oneshoot/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4e11ffec65306fa8048212455fc7ea6?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikariani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Two Face (one shoot)</title>
		<link>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/26/two-face-one-shoot/</link>
		<comments>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/26/two-face-one-shoot/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 07:36:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nine</dc:creator>
				<category><![CDATA[fanfiction korea]]></category>
		<category><![CDATA[BIGBANG]]></category>
		<category><![CDATA[Kang Daesung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fan3less.wordpress.com/?p=12188</guid>
		<description><![CDATA[<img class="aligncenter" title="two face" src="http://fan3less.files.wordpress.com/2012/01/two-face.jpg?w=640" alt="" width="420" height="620" />

Pernah mencintai seseorang? Tentu saja, setiap manusia di bumi ini pasti pernah merasakan cinta. Hanya perbedaannya, siapakah yang kau cintai itu? Dan kisah cinta apa yang kau jalani. Juga sebesar apakah cintamu padanya?
<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fan3less.wordpress.com&amp;blog=8241797&amp;post=12188&amp;subd=fan3less&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>entah kenapa, tiba-tiba pengen nulis ff make cast anak-anak bigbang *curcol. Semoga dapat menghibur dan mensejahterakan para readers sekalian <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Selamat membaca</p>
<p><a href="http://fan3less.files.wordpress.com/2012/01/two-face.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-12189" title="Two face" src="http://fan3less.files.wordpress.com/2012/01/two-face.jpg?w=640" alt=""   /></a></p>
<h3 style="text-align:center;"><span style="color:#ffffff;">.</span></h3>
<h3 style="text-align:center;">#TWO FACE#</h3>
<h3 style="text-align:center;"><span style="color:#ffffff;">.</span></h3>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#000000;"><em>Pernah mencintai seseorang? Tentu saja, setiap manusia di bumi ini pasti pernah merasakan cinta. Hanya perbedaannya, siapakah yang kau cintai itu? Dan kisah cinta apa yang kau jalani. Juga sebesar apakah cintamu padanya?</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#000000;">ooOoo</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Lelah, hari ini tubuhku terasa tak bertenaga sama sekali. Mata ini terasa sungguh berat hanya untuk mengintip dunia pagi ini. Memangnya apa sih yang membuat badan ini terasa mati? Ah, tidak ingat. Untuk berpikir saja membuat badan ini makin lelah.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Tunggu dulu, kenapa ini? Tubuhku terasa berguncang. Gempa? Tidak mungkin.</span><br />
<span style="color:#000000;">Ayolah mata, terbukalah dan lihat apa yang sedang terjadi. Eh? Guncangan itu berhenti. Perlahan otot-otot mataku mulai bergerak dan seberkas cahaya langsung menyerang mataku. Terlalu terang. Semuanya masih terlihat kabur. Beberapa kali aku harus mengerjapkan mata untuk menyesuaikan diri.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Byuur!!</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Basah? Apa ini?</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">“Bencana alam!!” kini mataku benar-benar sudah terbuka lebar.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">“Yaa ampun, Daesung.” Hyunra sedikit terkekeh. Wanita itu memegang ember besar ditangannya. Pasti ini perbuatannya.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">“Hyunra…” perasaan lega menyeruak di hatiku mendapati sosok itu pagi ini.“Yaa Chagi… beginikah caramu untuk membangunkan kekasihmu?”</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">“Untuk membangunkan beruang besar yang mendengkur, tentu saja begini” Hyunra kini duduk disampingku. “Dae, kau tidak lupa mengantarku untuk berbelanja hari ini kan?”</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Ah, tentu saja. Hyunra menyeka wajahku yang basah dengan sapu tangannya. Senangnya bisa mendapati Hyunra yang seperti itu. Gerakan tangan Hyunra berhenti seketika. Ada apa? Ia memperhatikan wajahku dengan sangat serius. Sebelah tangannya menyibakkan rambutku yang agak menutupi dahi.</span><br />
<span style="color:#000000;">Tunggu dulu, dahiku…</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">“Aaww…” aku agak meringis kesakitan saat dia menyentuk dahiku yang terluka.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">“Dae, luka itu…” wajahnya yang ceria hilang. “Luka itu? Apa aku yang menyebabkannya?” raut wajahnya terlihat sedih.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">“Chagi… tidak apa-apa. Hanya luka kecil.” Aku menyentuh wajahnya, berharap senyum kecilku ini dapat menghiburnya. “Tidak apa-apa… kau tenang saja.”</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">“Omong kosong! Tidak apa-apa bagaimana? Pasti… pasti aku sering melakukan ini padamu kan?” Bibirnya gemetar. Matanya memancarkan suatu ketakutan yang tidak bisa dijelaskan.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Sampai kapan ia akan menderita seperti itu? Menyalahkan dirinya atas perbuatan yang tidak ingin dilakukannya. Semanis apapun aku tersenyum, sepertinya tidak akan bisa menenangkannya saat ini.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">“Sudahlah chagi, kumohon jangan merasa bersalah atas apapun.”</span><br />
<span style="color:#000000;">Tetes air mulai menggenang di matanya. Rasanya melihatnya menangis lebih menyakitkan dari luka apapun yang pernah ditorehkannya padaku.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#000000;">ooOoo</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#000000;"><em>Ia gadis manis yang kukenal, bukan&#8230; Ia gadis kasar yang kukenal. Sangat pemalu pada siapaun yang baru dikenalnya, tidak&#8230; Sangat agresif pada siapapun yang baru dikenalnya. Tidak akan tega melihat kekasihnya terluka walau sedikit, kadang&#8230; Sering membuat kekasihnya terluka karena perbuatannya.</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#000000;">ooOoo</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">“Hyunra! Kim Hyunra…”</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Aku langsung menyeretnya dari kerumunan orang-orang mabuk yang tengah menari erotis. Lampu remang-remang agak menyulitkanku.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">“Apa yang kau lakukan, hah?!!” Ia terus memukuli punggungku, mulutnya berbau alkohol. Jangan lagi… jangan Hyunra yang seperti ini lagi.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">“Kita pulang,” Aku memutuskan untuk menggendongnya di punggungku. Agak sulit untuk menyuruhnya mengikuti perintahku, ditambah dengan kondisinya yang mabuk seperti itu.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">“Kau ini… bukankah kita sudah putus minggu lalu,” kata-katanya mulai terdengar tidak jelas. “Aku sudah tidak mau lagi menjadi kekasihmu…” setelahnya ia terdengar mengoceh tidak jelas.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Udara malam ini sungguh menyesakkanku. Bukan.. bukan karena udaranya. Tapi Hyunra… dia bertingkah layaknya wanita jalang. Bermain-main dengan pria di tempat seperti itu. Entah sudah berapa banyak laki-laki yang diciumnya tadi? Rasa sesak ini makin menggerogoti tubuhku. Sakit.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Aku mendudukkannya pada bangku mobil. Dia sudah tertidur. Aku menelan ludah, berusaha mengumpulkan keberanian untuk menyentuh wajahnya. Hyunra. Terserah apa yang kau katakan, apa yang kau perbuat, aku akan tetap mencintaimu. Hyunraku… gadisku yang manis.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#000000;">ooOoo</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#000000;"><em>Tidurnya bagai malaikat. Tapi entah saat bangun nanti, wajah itu… apakah akan tetap menjadi malaikat atau sosok lain yang mengerikan. Apapun itu, aku akan berusaha untuk mencari sosok malaikat itu di wajahnya.</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#000000;">ooOoo</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">“Dae…”</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Suara Hyunra. Aku segera menghampirinya dikamarnya. Ia terlihat memegangi kepalanya, mungkin pusing karena terlalu banyak minum kemarin.</span><br />
<span style="color:#000000;">“Chagi… kau mau minum?” Aku membawakan segelas teh hijau padanya. </span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Kemudian ikut duduk disampingnya.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Hyunra meminumnya perlahan, kemudian memandangku. “Dae… apa aku berbuat sesuatu yang membuatmu sedih?”</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">Melihat sosokmu yang seperti ini lagi. Bagaimana aku bisa sedih…</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#000000;">“Tidak.” Aku mengelus rambutnya yang panjang. Menyenderkan kepalanya pada bahuku. “Chagi… hari ini jadilah malaikat yang baik untukku”</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#000000;">ooOoo</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#000000;"><em>Inilah caraku mencintainya, mencintai malaikat kecilku.</em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#000000;"><strong>_END_</strong></span></p>
<p style="text-align:center;">
<br />Filed under: <a href='http://fan3less.wordpress.com/category/fanfiction-korea/'>fanfiction korea</a> Tagged: <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/bigbang/'>BIGBANG</a>, <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/kang-daesung/'>Kang Daesung</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fan3less.wordpress.com/12188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fan3less.wordpress.com/12188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fan3less.wordpress.com/12188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fan3less.wordpress.com/12188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fan3less.wordpress.com/12188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fan3less.wordpress.com/12188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fan3less.wordpress.com/12188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fan3less.wordpress.com/12188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fan3less.wordpress.com/12188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fan3less.wordpress.com/12188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fan3less.wordpress.com/12188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fan3less.wordpress.com/12188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fan3less.wordpress.com/12188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fan3less.wordpress.com/12188/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fan3less.wordpress.com&amp;blog=8241797&amp;post=12188&amp;subd=fan3less&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/26/two-face-one-shoot/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/634230e7cbdded1552f6eba5096dfd70?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nine junki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fan3less.files.wordpress.com/2012/01/two-face.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Two face</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Story Has Just Begun ( One Shot &#8211; Special Jae Joong Birthday )</title>
		<link>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/26/story-has-just-begun-one-shot-special-jae-joong-birthday/</link>
		<comments>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/26/story-has-just-begun-one-shot-special-jae-joong-birthday/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 00:23:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dikariani</dc:creator>
				<category><![CDATA[fanfiction korea]]></category>
		<category><![CDATA[DBSK]]></category>
		<category><![CDATA[Hiro-Jaejoong]]></category>
		<category><![CDATA[Max-Changmin]]></category>
		<category><![CDATA[Mickey-Yoochun]]></category>
		<category><![CDATA[U know-Yunho]]></category>
		<category><![CDATA[Xiah-Junsu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fan3less.wordpress.com/?p=12159</guid>
		<description><![CDATA[Dedicated for uri Kim Jae Joong ^__^ Saengil chukkae uri jae joong-a ^___^ hope the best For you, and God Bless you in Every Way ^___^ Love You Oppa Story Has Just Begun ( One Shot ) &#8220;Hyung, kau tak ikut?&#8221; Aku menghentikan kegiatanku seketika, membiarkan spatula yang ku gemgam berada di atas wajan, tergeletak&#160;&#8230; <a href="http://fan3less.wordpress.com/2012/01/26/story-has-just-begun-one-shot-special-jae-joong-birthday/">Read&#160;more</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fan3less.wordpress.com&amp;blog=8241797&amp;post=12159&amp;subd=fan3less&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#ff0000;">Dedicated for uri Kim Jae Joong ^__^</span></p>
<p><span style="color:#ff0000;">Saengil chukkae uri jae joong-a ^___^</span></p>
<p><span style="color:#ff0000;">hope the best For you, and God Bless you in Every Way ^___^</span></p>
<p><span style="color:#ff0000;">Love You Oppa <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></p>
<p><strong>Story Has Just Begun ( One Shot )</strong></p>
<p>&#8220;Hyung, kau tak ikut?&#8221;</p>
<p>Aku menghentikan kegiatanku seketika, membiarkan spatula yang ku gemgam berada di atas wajan, tergeletak begitu saja.</p>
<p>&#8220;Hyung?&#8221;</p>
<p>Sakit. Rasa itu kembali menghampiriku, rasa sesak yang sama membuat aku sulit bernafas.</p>
<p>Damn! I really hate this feelin!</p>
<p>&#8220;Jae Joong hyung?&#8221;</p>
<p>&#8220;Anni, Junsu-a, kau duluan saja, masih banyak hal yang ingin kulakukan hari ini&#8221;</p>
<p>hening.</p>
<p>Sial, Junsu pasti tahu bahwa aku berbohong. Kim Jae Joong, kenapa sampai saat ini kau tak pernah bisa berbohong?</p>
<p>Ku gerakkan spatula di atas wajanku, berharap Junsu tak mendekatiku, dan memperhatikan wajahku.</p>
<p>Aku tak mau ia tahu apa yang kurasakan saat ini.</p>
<p>Tidak sedikitpun.</p>
<p>Jantungku berdetak cepat, sedikit was was Junsu akan mencurigai jawabanku tadi.</p>
<p>Well, aku blum mendengar suara langkah kakinya menjauh dariku sejak tadi.</p>
<p>Suara dentingan spatula yang ku genggam terdengar nyaring mengisi ruangan.</p>
<p>God, kenapa Junsu tak beranjak juga?</p>
<p>&#8220;Arraseo, kami menunggumu hyung. Disana&#8221;</p>
<p>aku hanya menggumamkan kata &#8216;hmm&#8217; menjawab perkataannya, tanpa repot-repot membalikkan tubuhku, untuk menatapnya.</p>
<p>Langkah kaki Junsu terdengar begitu enggan bagiku, aku bisa membayangkan, ia menatapku beberapa saat, sebelum berjalan pergi meninggalkanku.</p>
<p>&#8220;Saengil Chukkae, Hyung..&#8221;</p>
<p>&#8216;Cklek&#8217;</p>
<p>Suara pintu depan apartmentku, membuat aku menghela nafas lega.</p>
<p>Seketika , tubuhku terasa rilex, aku memejamkan mataku, melepaskan spatula yang ku genggam sejak tadi.</p>
<p>Kini kedua tanganku justru menggenggam erat meja dapurku.</p>
<p>Bayangan hal yang mungkin akan terjadi beberapa jam mendatang membuatku takut.</p>
<p>Sangat amat takut.</p>
<p>God, kenapa mereka setuju untuk menghadiri acara penghargaan tolol itu?</p>
<p>Kilasan wajah kedua memberku yang sudah lama tak kulihat secara langsung berkelebat di kepalaku.</p>
<p>Aku memang menunggu hari ini, hari dimana kami akan bertemu. Secara langsung.</p>
<p>Bertatap muka.</p>
<p>Tapi bukan sebagai rival!</p>
<p>Aku mendesah panjang, membuka kedua mataku, menatap kosong langit-langit apartmentku.</p>
<p>Betapa aku merindukan mereka..</p>
<p>Sangat merindukan mereka..</p>
<p>Helaan nafas kembali menjadi andalanku, saat rasa sesak itu kembali melesak ke dalam dadaku.</p>
<p>Well, Kim Jae Joong, kau harus tenang, mungkin sekarang ada baiknya kau menengkan diri dengan secangkir coffee dan omelete yang sedang kau masak.</p>
<p>Sebuah senyum terulas di wajahku, membayangkan betapa nikmatnya meluangkan waktu sambil menikmati omelete dan secangkir coffee.</p>
<p>&#8220;Fighting!&#8221;</p>
<p>Aku menyemangati diri sendiri, yeah, Kim Jae Joong, kau harus semangat!</p>
<p>Aku mematikan kompor dihadapanku, dan hendak mengangkat omelete dihadapanku, ketika aku menyadari sesuatu.</p>
<p>Shit.</p>
<p>Aku bahkan belum menuangkan adonan omelete yang kubuat ke atas wajan.</p>
<p>***</p>
<p>&#8216;Klik&#8217;</p>
<p>Aku mematikan TV yang beberapa menit lalu aku tonton.</p>
<p>Bosan, semua sama, membahas tentang hal yang sama.</p>
<p>JYJ vs TVXQ.</p>
<p>Aku mendesah panjang, seraya menyenderkan tubuhku di sofa, membiarkan rasa nyaman memenuhi kepalaku.</p>
<p>Aku memejamkan mataku.</p>
<p>JYJ vs TVXQ.</p>
<p>Kenapa harus membesar-besarkan hal itu?</p>
<p>Kilasan peristiwa yang akhir-akhir ini ku alami berkelebat di kepalaku.</p>
<p>Mulai dari berhentinya block JYJ oleh seluruh stasiun TV, berhentinya block JYJ di Jepang.</p>
<p>Hingga JYJ bisa berada dan masuk hitungan di tangga lagu tangga lagu papan atas.</p>
<p>Yeah, album JYJ selalu berada di posisi atas.</p>
<p>Entah orichon, gaon, bahkan billboard sekalipun.</p>
<p>Siapa yang tak mengenal JYJ? Grup korea yang sudah mendunia.</p>
<p>Langkah kami mengadakan konser di peru dan chili ternyata berdampak besar.</p>
<p>Kini semua mata tertuju pada kami.</p>
<p>Ya, hanya kami.</p>
<p>Shit.</p>
<p>Rasa sakit itu kembali menyerangku, membuatku mengerutkan keningku.</p>
<p>Seluruh rasa bangga , haru dan senang yang kami rasa, semua menguap saat kami mengingat mereka.</p>
<p>Ya, mereka. Yunho dan Changmin.</p>
<p>Aku sadar, Mereka masih berada di sana, di Sment, perusahaan yang baru-baru ini di nyatakan bangkrut.</p>
<p>&#8220;memberku..&#8221;</p>
<p>Member-memberku, masih bolehkan aku berkata begitu?</p>
<p>Rasa sakit saat melihat penjualan album mereka yang selalu sejajar dengan kami.</p>
<p>Tidak, bukan sejajar, tapi selalu bersaing. Itulah yang mereka katakan.</p>
<p>Semua artikel yang berhubungan dengan kesuksesan kami akan berujung dengan mereka.</p>
<p>Dengan perbandingan kami dan mereka.</p>
<p>Damn it.</p>
<p>Kenapa mereka tak bisa berhenti membandingkan kami?</p>
<p>Apa mereka tak pernah berfikir bahwa kami itu satu?</p>
<p>Aku terdiam seketika, membuka kedua mataku, menatap langit-langit apartmentku.</p>
<p>&#8220;satu..&#8221;</p>
<p>Senyum kecut terpasang di wajahku.</p>
<p>Satu.</p>
<p>Betapa aku selalu berharap bahwa kami akan selalu satu.</p>
<p>Bahwa JYJ selalu menjadi bagian dari TVXQ. Begitupun sebaliknya.</p>
<p>Aku menghela nafas panjang, saat teringat beberapa perkataan mereka yang mengaku &#8216;fans&#8217; ku.</p>
<p>Mereka menginginkan kami tidak kembali bersama mereka.</p>
<p>Karena mereka yang mengaku &#8216;fans&#8217;ku itu berkata bahwa mereka, kedua orang memberku yang tersisa di sment, itu pengkhianat, karena tidak mengikuti jejak kami.</p>
<p>Untuk meninggalkan perusahaan itu.</p>
<p>Mereka selalu berfikir bahwa kami tidak memerlukan kedua member itu.</p>
<p>Bahwa sudah cukup JYJ, tidak perlu lagi ditambah dengan HoMin.</p>
<p>Bahwa kami tidak perlu lagi diingatkan dengan masa lalu.</p>
<p>Aku tertawa kecil. Rasanya sangat menggelikan.</p>
<p>Bagaimana mungkin mereka yang mengaku &#8216;fans&#8217;ku itu bisa berkata seperti itu?</p>
<p>Aku bahkan terang-terangan menuliskan di biografiku &#8216;JYJ from TVXQ&#8217; apa mereka buta?</p>
<p>Bahkan sampai detik ini, aku tak berniat sedikitpun untuk menghapus tatto di punggungku yang bertuliskan &#8216;TVfXQ Soul&#8217;</p>
<p>Come on, bahkan di dadaku tertulis jelas kata &#8216;always keep the faith!&#8217;</p>
<p>So what the hell about anything being JYJ and Forget TVXQ?</p>
<p>Mereka berfikir mengerti penderitaanku, tapi apa mereka tahu betapa berartinya TVXQ bagiku?</p>
<p>Aku pernah mengatakan TVXQ adalah hidupku, dan itu tak pernah berubah.</p>
<p>Aku selalu berkata ingin keluar dari Sment, bukan TVXQ, apa mereka tuli?</p>
<p>Damn it.</p>
<p>Aku jadi emosional, aku tahu mereka tak salah, karena toh ini kesalahanku juga yang tidak mengclearkan masalah ini.</p>
<p>Tapi setelah selama ini mereka bersamaku apa mereka tak mengerti perasaanku? Jalan fikiranku?</p>
<p>Apa aku yang hidup dengan bermodal mimpi dan nekat, untuk menjadi penyanyi, hingga aku harus banting tulang bekerja siang malam, hingga akhirnya aku bisa menjadi seperti ini bisa dengan mudah melupakan mereka?</p>
<p>Orang-orang yang ikut ambil bagian dalam kesuksesanku?</p>
<p>Well, just forget about Lee So Man.</p>
<p>Aku fikir apa yang kuberikan selama 6 tahun untuknya dan perusahaan sudah cukup banyak, dan setimpal dengan pengorbanan dan jasanya untuk mendidikku.</p>
<p>Tapi Yunho dan Changmin? Kedua member yang sudah kuanggap saudaraku sendiri?</p>
<p>Member yang sama-sama menangis saat kami gagal mendapat penghargaan pertama kami?</p>
<p>Member yang sama-sama menangis saat caci dan maki terlontar kepada kami?</p>
<p>Member yang sama-sama menangis saat kami merasa putus asa karena tak dibekali apapun saat memulai karir di jepang?</p>
<p>Hingga kami harus menahan malu dengan mengumpulkan fans dengan cara mengamen?</p>
<p>Bernyanyi di depan supermarket?</p>
<p>Yang bahkan kami dilempari uang receh oleh orang-orang yang lewat?</p>
<p>Damn, dan kalian yang merasa &#8216;fans&#8217;ku masih bisa berkata bahwa aku telah move on dan melupakan mereka.</p>
<p>Bahwa itu hanya masa lalu.</p>
<p>Aku tertawa getir.</p>
<p>Ya, itu memang masa lalu, tapi tanpa masa lalu aku tak mungkin seperti ini.</p>
<p>&#8216;Duk&#8217;</p>
<p>Aku tersentak ketika merasa sesuatu yang hangat bergerak di pingganggku, membuatku mau tak mau membuka mata dan menatap benda kecil yang tengah bergelung manis di sisiku.</p>
<p>Aku tersenyum.</p>
<p>&#8220;mungkin memang hanya dirimu yang tulus mengerti diriku, jiji&#8221;</p>
<p>Aku mengelus pelan bulu lembut milik jiji, tertawa kecil saat jiji bergelung manja.</p>
<p>Aku menghela nafas.</p>
<p>&#8220;seandainya mereka semua seperti mu jiji.. Begitu manis dan damai&#8221;</p>
<p>***</p>
<p>&#8216;Kimiga ireba soredeii</p>
<p>Sousa close to heart, close to my love</p>
<p>Tatta hitotsu shikanai aiga kokoni arukara</p>
<p>Kimino tameni irebaii&#8217;</p>
<p>&#8220;Yoboseyo?&#8221;</p>
<p>&#8216;Hyung! Oddiegayo?&#8217;</p>
<p>&#8220;hmm? Di apartment, waeyo?&#8221;</p>
<p>Aku mengusap wajahku secara kasar, mengedipkan mataku beberapa kali, dan meregangkan tubuhku.</p>
<p>Sial, aku tertidur.</p>
<p>&#8216;kau tak datang hyung?&#8217;</p>
<p>&#8216;deg&#8217;</p>
<p>Aku terdiam. Datang? Kemana?</p>
<p>Aku mengerutkan keningku, mencoba berfikir, ketika aku menatap jiji, aku teringat sesuatu.</p>
<p>Shit!</p>
<p>Tanpa basa basi, aku terlonjak dari sofa yang telah membuatku tertidur.</p>
<p>Aku memberikan tatapan maaf kepada jiji, yang terlihat kaget dengan perbuatanku yang tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;aku datang Junsu-a, aku datang!&#8221;</p>
<p>Aku berkata cepat, seraya bergegas melesat ke dalam kamarku.</p>
<p>Sial, aku bahkan belum sempat berfikir akan mengenakan pakaian apa.</p>
<p>&#8216;baiklah hyung, kami menunggumu&#8217;</p>
<p>&#8220;Junsu-a_&#8221;</p>
<p>&#8216;Cklek&#8217;</p>
<p>&#8216;Tuuuut..&#8217;</p>
<p>Damn it.</p>
<p>Aku mendesah panjang, menatap ponsel ku beberapa detik, sebelum melemparkannya ke tempat tidurku.</p>
<p>Kakiku melangkah menuju sebuah ruangan kecil, dimana baju-baju formalku tergantung rapi, berderet.</p>
<p>Kedua mataku menatap kosong beberapa setelan kemeja dan jas yang tergantung disana.</p>
<p>Membuatku menggerutu sendiri, karena aku tak bisa memutuskan harus menggunakan yang mana.</p>
<p>&#8220;aish!&#8221;</p>
<p>Aku mengacak kesal rambut cepakku, sebelum menyambar sepasang jas dan kemeja berwarna merah maroon, berjalan cepat menuju kamar mandi, seraya melirik sekilas ke arah jam di kamarku.</p>
<p>Good, 3 jam lagi acara itu dimulai.</p>
<p>Aku mendesah kesal, seraya mempercepat langkahku ke dalam kamar mandi.</p>
<p>&#8216;Blam&#8217;</p>
<p>Kututup pintu kamar mandi dengan kasar, sebelum menatap wajahku yang terpantul di cermin wastafel kamar mandi.</p>
<p>Sepertinya, waktu takkan cukup jika aku harus mandi.</p>
<p>Aku menghela nafas, menggantungkan setelan kemeja dan jas di dekat pintu, sebelum berdiri tepat di depan wastafel. Menatap wajah putihku yang terlihat mulus.</p>
<p>Tampak sama, tak ada perubahan.</p>
<p>Aku mendesah sejenak, sebelum meraih sikat gigi, menuangkan pasta gigi di atasnya, menatap kembali wajahku di depan cermin.</p>
<p>Tidak akan ada yang tahu kau sudah mandi atau belum Kim Jae Joong.</p>
<p>&#8220;ne, tidak ada yang tahu&#8221;</p>
<p>Dengan cepat kugosokkan sikat gigi itu ke dalam mulutku.</p>
<p>Well, untuk pertama kalinya aku bersyukur memiliki kulit yang putih dan bersih.</p>
<p>Kim Jae Joong, kau memang luar biasa.</p>
<p>***</p>
<p>&#8220;I&#8217;m On the way Yoochun-a.. Just wait&#8221;</p>
<p>&#8216;Klik&#8217;</p>
<p>Kututup ponsel ku dan kuletakkan dengan asal di sisi kursi yang kududuki.</p>
<p>Jalanan seoul terasa begitu lengang malam, ini. Kenapa ya?</p>
<p>Ku hentikan laju kendaraanku saat kulihat nyala lampu merah di depanku.</p>
<p>Mataku menatap lurus sejenak, sebelum melirik ke arah jendela mobil lamborginiku.</p>
<p>&#8220;salju..&#8221;</p>
<p>Aku tersenyum.</p>
<p>26 januari, salju turun dari langit begitu indah.</p>
<p>Membuatku mau tak mau mendongak, menatap langit gelap, tanpa bintang, yang terus menurunkan butiran-butiran salju.</p>
<p>Indah.</p>
<p>Tanpa sadar, tanganku terangkat dari kemudi mobilku, mencoba meraih salju dari dalam mobilku.</p>
<p>Ya, aku ingat saat pertama kali kami debut, tanggal 26 desember 2003.</p>
<p>Rasa gugup yang kurasakan, hingga badanku tak bisa berhenti bergetar.</p>
<p>Suara sangau Yunho yang tiba-tiba terdengar.</p>
<p>Ekspresi cool milik Changmin meski aku tahu ia begitu takut.</p>
<p>Senyum penuh semangat yang terpancar dari wajah Junsu.</p>
<p>Dan wajah nervous Yoochun yang berkali-kali menghela nafas panjang.</p>
<p>Penampilan pertama kami, di depan semua orang.</p>
<p>Aku tersenyum.</p>
<p>Well, tidak begitu bagus memang, dan aku akui aku selalu tertawa melihat betapa culunnya diriku dulu.</p>
<p>Kaku di depan kamera, dengan wajah tanpa ekspresi.</p>
<p>Aku tertawa.</p>
<p>Kim Jae Joong, kau memalukan.</p>
<p>Aku ingat saat penampilan kami selesai, kami semua langsung berpelukan dan menangis, menghabiskan malam kami tanpa tidur.</p>
<p>Bersama-sama,menatap indahnya salju yang berguguran.</p>
<p>Di malam kudus.</p>
<p>&#8216;TIIIN!&#8217;</p>
<p>Aku tersentak dari lamunanku, shit! Aku terlalu lama berkhayal.</p>
<p>Aku melirik sekilas jendela disamping mobilku, sebelum mengatur gigi mobilku dan menginjak pedal gas.</p>
<p>Well Kim Jae Joong, semangat!</p>
<p>***</p>
<p>Hingar bingar ruangan itu tampak sama, tak ada yang berbeda.</p>
<p>MKMF, rasanya sudah berpuluh-puluh tahun aku tak menghadiri penghargaan ini.</p>
<p>Okeh, aku tahu aku sedikit berlebihan.</p>
<p>Karena MKMF hanya diadakan setiap 10tahun sekali, oleh Mnet.</p>
<p>Kuedarkan mataku keseluruh ruangan.</p>
<p>Tidak ada yang berubah, sejak terakhir kali aku menghadiri MKMF.</p>
<p>Aku terdiam, saat kilasan memori MKMF 2008 menghampiriku.</p>
<p>Saat dimana mereka menyebutnya sebagai kejayaaan kami, DBSK.</p>
<p>Tanpa sadar aku mengulas sebuah senyum di wajahku, aku ingat bagaimana kami berdiri di panggung, dengan hampir seluruh bangku penonton, bahkan artis-artis menyoraki nama kami.</p>
<p>Dong Bang Shin Ki.</p>
<p>Ah~ aku merindukan perasaan itu.</p>
<p>&#8220;Jae Joong Hyung!&#8221;</p>
<p>Aku memutar kepalaku hanya untuk melihat G-dragon dan Daesung tersenyum padaku.</p>
<p>Rasanya sudah lama tidak bertemu mereka.</p>
<p>Aku berjalan ke arah mereka, dan memeluk mereka hangat.</p>
<p>&#8220;apa kabar kalian?&#8221;</p>
<p>&#8220;kami baik, amat sangat baik, bagaimana dengan mu? Dengan kalian?&#8221;</p>
<p>aku terdiam sejenak.</p>
<p>Kalian?</p>
<p>Kata yang seharusnya mereferensikan 4 orang member lainnya.</p>
<p>Aku tersenyum getir.</p>
<p>&#8220;kami baik&#8221;</p>
<p>Jawabku pelan, sebelum menatap dua sosok yang aku kenal, tengah melambai ke arah ku.</p>
<p>Membuatku mau tak mau mem&#8217;permisi&#8217;kan diriku dari hadapan G-dragon dan Daesung, melemparkan senyum tipis ke arah beberapa member Boyband lain yang aku kenal.</p>
<p>Dan mereka berdiri, membungkuk ke arahku.</p>
<p>Well, aku cukup terkenal sepertinya.</p>
<p>Dan effect block TV mungkin tak begitu berpengaruh mungkin?</p>
<p>Entahlah, aku tak mau menebak dan aku malas menebak, kupercepat langkahku menuju kedua sahabatku yang tersenyu  lebar menatapku.</p>
<p>Sesekali melirik ke arah penonton yang meneriakkan namaku.</p>
<p>Aku tersenyum getir.</p>
<p>Suara itu tidak seramai dulu.</p>
<p>Meski warna merah tetap menjadi dominan di deretan penonton.</p>
<p>Aku tahu, hanya sebagian dari warna merah itu yang meneriakkan namaku.</p>
<p>Tidak seperti dulu, saat mereka bersatu, meneriakkan nama kami.</p>
<p>Tak peduli siapa bias mereka.</p>
<p>Okeh stop it Kim Jae Joong, stop to feel emotional!</p>
<p>&#8220;aku fikir kau takkan datang hyung&#8221;</p>
<p>Aku merebahkan tubuhku di bangku, dan tersenyum kecil.</p>
<p>&#8220;I already said that I will come rite~&#8221;</p>
<p>aku tersenyum kecil, dan mereka membalas senyumku.</p>
<p>Lampu meredup sejenak, dan aku tahu, penghargaan ini akan segera di mulai.</p>
<p>Aku menghela nafas.</p>
<p>Sejujurnya aku belum siap, tapi aku tahu, cepat atau lambat, aku akan menghadapi ini.</p>
<p>Aku menghela nafas sejenak, saat Lee Jun ki and Park Eun Hye Muncul, untuk menjadi MC acara ini.</p>
<p>Aku tersenyum mencoba bersikap tenang,meski tanpa sadar, aku mengedarkan kedua mataku.</p>
<p>Yah, aku sedikit nervous saat mereka menyebutkan satu persatu Idol yang hadir di acara ini.</p>
<p>&#8220;mereka tidak datang hyung..&#8221;</p>
<p>&#8216;deg&#8217;</p>
<p>Aku terdiam seketika, kedua mataku langsung menatap Yoochun yang masih menatap lurus ke depan.</p>
<p>&#8220;maksudmu?&#8221;</p>
<p>Aku berkata langsung, meski aku tahu, apa yang mereka ucapkan, dan siapa yang hendak mereka katakan.</p>
<p>Tapi aku tahu, sebagian diriku takut menerima kenyataan, bahwa yang dimaksud Junsu dan Yoochun adalah mereka.</p>
<p>Sebagian jiwaku yang lain.</p>
<p>Yunho dan Changmin.</p>
<p>Kedua mata Yoochun dan Junsu menatapku beberapa detik, hanya membuatku semakin nervous.</p>
<p>Aku berusaha bersikap tenang, meski sepertinya tangan dan kedua mataku tak mau menurutiku.</p>
<p>Well, aku bahkan saat ini tak bisa mengontrol diriku sendiri.</p>
<p>&#8220;Yunho hyung dan Changmin, mereka tidak datang&#8221;</p>
<p>&#8220;oh&#8221;</p>
<p>Hanya itu yang keluar dari bibirku, saat kedua nama itu disebutkan oleh Junsu.</p>
<p>Kedua mataku menatap Junsu sesaat, sebelum menunduk, dan mengalihkan mataku, menatap MC yang terlihat masih asik berbicara.</p>
<p>Tak ada perkataan lagi yang terucap dari Junsu dan Yoochun, dan aku pun tak mau mengatakan apapun.</p>
<p>Sejujurnya, saat ini situasi sangat ramai, tapi entah mengapa aku merasa sangat sepi.</p>
<p>Aku memejamkan mataku, saat mau tak mau aku harus mengakui.</p>
<p>Sesuatu disana, di dalam hatiku, merasa kecewa.</p>
<p>Aku tak bisa melihat mereka, bahkan di hari Ulang Tahunku.</p>
<p>***</p>
<p>&#8221; and now, It&#8217;s time to Daesang!!&#8221;</p>
<p>Aku menatap tak minat ketika MC berkata dengan riang, tentang Daesang, disambut gegap gempita dari seluruh penonton yang ada.</p>
<p>Aku hanya tersenyum tipis.</p>
<p>Jujur saja, sejak aku tahu bahwa Yunho dan Changmin tak hadir, seluruh minatku menguap begitu saja.</p>
<p>Meski aku bingung dengan diriku sendiri, beberapa jam lalu, aku berkata kepada diriku, bahwa aku belum siap bertemu mereka, tapi ketika aku mendengar mereka tidak datang di acara ini, entah kenapa aku tak merasa lega.</p>
<p>Malah kecewa.</p>
<p>Yah, aku harus akui, aku merindukan mereka.</p>
<p>Sejak tadi, beberapa penghargaan telah kami terima, dan aku merasa sakit setiap kali cuplikan nominasi, selalu menampilkan kami.</p>
<p>Dan mereka.</p>
<p>Dalam grup yang berbeda.</p>
<p>Aku tak bisa menahan rasa tergangguku, saat berkali-kali nominasi menampilkan cuplikan video kami dan selanjutnya mereka.</p>
<p>Dan pada akhirnya, kami yang dipanggil utk menerima penghargaan.</p>
<p>Sejujurnya, aku sedikit malas untuk menerima penghargaan ini, meski aku tahu, penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi kerja keras kami.</p>
<p>Dan usaha keras fans kami.</p>
<p>Tapi sesuatu terasa hilang di sudut hatiku, saat aku sadar.</p>
<p>Ini penghargaan pertama kami.</p>
<p>Tanpa mereka.</p>
<p>Dan karena itu, sejak tadi, aku tak mengatakan apapun, dan hanya tersenyum.</p>
<p>Membiarkan Yoochun dan Junsu memberikan speach, atas kemenangan kami.</p>
<p>Aku bahkan sempat mengedarkan pandanganku saat di panggung tadi, menatap seksama satu persatu manusia yang hadir.</p>
<p>Berharap, aku akan melihat sosok mereka.</p>
<p>Sosok Yunho dan Changmin yang kurindukan.</p>
<p>&#8220;.. Silahkan menuju ke stage..&#8221;</p>
<p>Aku tersentak saat, Junsu menyentuh bahuku, meremasnya sedikit, membuatku menatapnya.</p>
<p>&#8220;ayo hyung&#8221;</p>
<p>Aku termangu menatapnya, melirik Yoochun yang terlihat sudah berdiri dari kursinya.</p>
<p>&#8220;kali ini kau harus memberikan speach, hyung&#8221;</p>
<p>Aku terdiam, haruskah?</p>
<p>Aku menatap Junsu tak yakin, sementara Junsu menatapku serius, membuatku mau tak mau mengerti.</p>
<p>Aku memang harus melakukannya.</p>
<p>Aku berjalan cepat, melangkah mengikuti Junsu dan Yoochun yang sudah beberapa meter di depanku, menaiki satu persatu tangga yang entah  mengapa kali ini terasa lebih berat.</p>
<p>Kakiku terus melangkah menuju panggung, berdiri di tengah-tengah panggung, menatap kosong saat Lee Junki menyerahkan Piala Daesang kepada kami.</p>
<p>Yang diterima Junsu dengan cepat.</p>
<p>Aku bisa merasakan tatapan Junsu dan Yoochun, yang membuatku mau tak mau maju, mendekati mic, di panggung.</p>
<p>Aku menghela nafas, mengangkat wajahku, dan menatap kosong ke arah kerumunan orang dihadapanku.</p>
<p>Menatap kosong beberapa wilayah yang ditandai dengan warna merah.</p>
<p>Rasa nyeri terasa di dadaku.</p>
<p>Wilayah itu kini tak seluas dulu.</p>
<p>Bahkan kini aku bisa melihat wilayah itu seperti terbagi, sebagian terlihat begitu merah menyala, sebagian terlihat begitu..</p>
<p>Sepi.</p>
<p>Kim Jae Joong kau bisa melewati ini semua!</p>
<p>Aku menyemangati diriku sendiri.</p>
<p>&#8220;annyeong~&#8221;</p>
<p>Sapaku pelan, yang disertai gemuruh riuh beberapa orang yang tak berhenti berteriak.</p>
<p>Menyerukan namaku.</p>
<p>Aku tersenyum.</p>
<p>&#8220;hari ini, merupakan hari istimewa bagiku, karena selain hari ini hari ulang tahunku, hari ini merupakan pertama kalinya, kami, diberi kesempatan untuk menerima penghargaan sebesar ini&#8221;</p>
<p>Tanpa kalian, Yunho Dan Changmin.</p>
<p>Aku mengucapkannya dalam hati, sementara senyum tak berhenti terpasang di wajahku.</p>
<p>&#8220;Terimakasih, atas dukungan kalian selama ini, kepada kami, tanpa kalian kami tak mungkin ada disini&#8221;</p>
<p>Senyum kembali kupasang diwajahku,saat kudengar beberapa suara teriakan terdengar di telingaku.</p>
<p>&#8220;terimakasih, karena telah memberikan hadiah yang indah di hari ulang tahunku&#8221;</p>
<p>Aku membungkuk beberapa kali, sebelum kembali tersenyum dan berbicara.</p>
<p>&#8220;terimakasih, saranghae..&#8221;</p>
<p>Cassiopeia.</p>
<p>Aku menyimpan lekat nama itu di dalam hatiku, nama yang berarti bagiku, namun kini aku tak berhak menyebutkannya.</p>
<p>Aku membalikkan tubuhku, menatap Junsu dan Yoochun yang menatapku kosong beberapa detik, sebelum melangkah, meninggalkan panggung.</p>
<p>&#8220;Jae Joong-ssi&#8221;</p>
<p>Langkahku terhenti seketika, aku membalikkan tubuhku, dan menatap Lee Junki dan Han Cae Young yang kini tersenyum di hadapanku.</p>
<p>Mereka berjalan ke arahku, membuatku mau tak mau membalikkan badan, dan mendekat ke arah mereka.</p>
<p>&#8220;ne?&#8221;</p>
<p>&#8220;kami dengar hari ini hari ulang tahunmu?&#8221;</p>
<p>Aku tersenyum simpul.</p>
<p>&#8220;ne, hari ini memang hari ulang tahunku&#8221;</p>
<p>&#8220;chukkaehimnida~chukkaehimnida~ ahh~ ottokhae? Aku tidak menyiapkan apapun~&#8221;</p>
<p>Suara han cae young membuatku tersenyum kecil, menundukkan kepalaku, sebelum kembali menatapnya.</p>
<p>&#8220;ah, tidak apa, penghargaan ini sudah cukup bagiku&#8221;</p>
<p>&#8220;ah, keuddaeyo? Kalau begitu, apa harapan Jae Joong-ssi untuk ke depannya?&#8221;</p>
<p>Aku terdiam.</p>
<p>Tanpa sadar aku melirik Yoochun dan Junsu yang masih menatap kosong kearahku.</p>
<p>Kenapa dengan mereka?</p>
<p>Aku menghela nafas sejenak, menatap kerumunan warna merah yang terlihat dihadapanku.</p>
<p>&#8220;harapanku..&#8221;</p>
<p>Bisa menyebut nama kalian tanpa rasa takut lagi.</p>
<p>&#8220;semoga kalian terus mendukung kami..&#8221;</p>
<p>dan mendukung mereka.</p>
<p>Cassiopeia.</p>
<p>&#8220;dan terus mensupport kami, tanpa lelah&#8221;</p>
<p>Menunggu kami kembali bersama, meski aku tak tahu pasti kapan itu akan terjadi.</p>
<p>&#8220;untuk selanjutnya..&#8221;</p>
<p>Aku harap kalian kembali bersatu, dan tak terpecah lelah.</p>
<p>&#8220;aku minta bantuan kalian..&#8221;</p>
<p>Agar kami bisa menjadi kuat.</p>
<p>&#8220;untuk terus bekerja keras, bersama kami..&#8221;</p>
<p>Tanpa menyakiti satu sama lain.</p>
<p>&#8220;dan terus mempercayai kami..&#8221;</p>
<p>Bahwa kami dan mereka satu. Takkan berubah.</p>
<p>&#8220;aku mohon bantuannya..&#8221;</p>
<p>Seperti Kalian, yang seharusnya satu, Tanpa ada embel-embel HoMin Atau JYJ Stand.</p>
<p>Aku membungkukkan tubuhku, sementara suara tepuk tangan terdengar di telingaku.</p>
<p>Aku menegapkan tubuhkan dan tersenyum ke arah mereka, fansku.</p>
<p>Aku menatap Lee Junki dan Han Cae Young, membungkukkan tubuhku dan hendak berjalan, ketika mereka kembali memanggilku.</p>
<p>&#8220;Jae Joong-ssi, sebenarnya, kami telah menyiapkan sesuatu untukmu&#8221;</p>
<p>Aku terdiam, mengulas senyum tipis di wajahku, menatap lee jun ki.</p>
<p>&#8220;keuddae?&#8221;</p>
<p>&#8220;ne, ini merupakan hadiah special yang mereka berikan untukmu.&#8221;</p>
<p>Aku mengerutkan keningku, mereka?</p>
<p>Aku melirik Junsu dan Yoochun, mereka hanya mengangkat bahu mereka. Secara bersamaan.</p>
<p>&#8220;nuguya?&#8221;</p>
<p>Aku berkata pelan, sementara Lee Junki dan Han Cae Young hanya tersenyum, membuatku semakin penasaran.</p>
<p>Sebenarnya ada apa?</p>
<p>Aku hendak bertanya, ketika suara teriakan terdengar kencang di seluruh ruangan. Membuatku sedikit mengerutkan kening, menatap kosong ke arah gerombolan warna merah di depanku.</p>
<p>Well, ada apa?</p>
<p>Aku mengerutkan keningku, menatap salah satu dari mereka yang terlihat menatap ke arah lain. Ke belakangku.</p>
<p>Aku terdiam, dan memutar tubuhku.</p>
<p>&#8216;Deg&#8217;</p>
<p>seketika aku terdiam, tak bergerak, menatap kosong dua sosok yang sejak tadi aku rindukan kini berdiri tak jauh di hadapanku.</p>
<p>Mendorong sebuah Troli, yang diatasnya terdapat sebuah Kue, berwarna merah, berbentuk..</p>
<p>Entahlah, kue itu berbentuk huruf w, dengan masing-masing Ujungnya terdapat sebuah bintang kecil.</p>
<p>Dan masing-masing bintang itu, terdapat boneka kecil, refleksi wajah orang-orang yang aku kenal.</p>
<p>&#8220;kalian..&#8221;</p>
<p>&#8220;saengil Chukkae Jae Joong-a..&#8221;</p>
<p>Suara husky yang cukup berat yang sangat kurindukan, terdengar mulus di telingaku.</p>
<p>&#8220;saengil chukkae Hyung..&#8221;</p>
<p>Kali ini suara nyaring menyambutku, terdengar lantang di hadapanku.</p>
<p>&#8220;Yunho-a, Changmin-a..&#8221;</p>
<p>Aku tak bisa mencegah air mataku untuk terus mengalir, sementara kedua namja itu hanya tersenyum, menatapku.</p>
<p>&#8220;B-Bagaimana K-kalian&#8230; D-disini&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku bisa melihat air mata tergenang di sudut mata mereka.</p>
<p>Membuatku tak bisa memikirkan apapun, hanya menatap mereka kosong.</p>
<p>Betapa aku merindukan mereka..</p>
<p>&#8220;a-apa kabar kalian?&#8221;</p>
<p>Hanya itu yang bisa kuucapkan, dengan suara parau.</p>
<p>Mataku masih menatap kedua sosok dihadapanku tak percaya, sementara kedua sosok itu semakin mendekat ke arahku, berdiri di hadapanku.</p>
<p>Apa aku bermimpi?</p>
<p>&#8220;kami.. Merindukan mu Jae Joong-a..&#8221;</p>
<p>Ucapan itu terdengar tulus, membuatku tak bisa menahan perasaanku.</p>
<p>Aku menundukkan kepalaku, karena tak bisa lagi menahan air mataku yang tak berhenti mengalir.</p>
<p>Tuhan apa aku bermimpi?</p>
<p>Aku menatap lekat kue yang kini berada tepat dihadapanku.</p>
<p>Kue berbentuk w, dengan bintang di ujungnya masin-masing.</p>
<p>Aku bisa melihat jelas, ada replikaku tertancap di atas bintang yang terletak di tengah.</p>
<p>Dan replika Junsu, Yoochun, Yunho dan Changmin, di masing-masing bintang.</p>
<p>Aku bisa melihat tulisan always keep the faith yang tertulis di depannya.</p>
<p>Dan happy birthday my Lovely Dong Bang Boys, Hero Jae Joong.</p>
<p>&#8220;ini..&#8221;</p>
<p>&#8220;kami membuatnya bersama..&#8221;</p>
<p>Aku terdiam, saat entah sejak kapan Junsu dan Yoochun berada di sisiku. Tepat di kiri dan kananku.</p>
<p>&#8220;kalian??&#8221;</p>
<p>Junsu dan Yoochun tersenyum lebar, membuatku menatap mereka tak percaya.</p>
<p>&#8220;hyung, berhenti menangis, dan cepat tiup lilinnya, kau tahu, wajahmu jelek sekali saat ini&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya!!&#8221;</p>
<p>Aku menepuk keras bahu Changmin, sementara magnaeku itu hanya tertawa.</p>
<p>Magnaeku..</p>
<p>Aku tersenyum dan menghapus air mataku.</p>
<p>&#8220;jadi, kalian sudah saling bertemu, dan berpura-pura tidak pernah bertemu?&#8221;</p>
<p>&#8220;well, aku hanya ingin melihatmu menangis&#8221;</p>
<p>Suara Yunho membuatku mencibir, meski aku tak bisa menyembunyikan senyum diwajahku.</p>
<p>Ah~ aku menyukai suasana ini, sangat hangat.</p>
<p>Beberapa saat, kami saling bertatapan, sebelum tanpa sadar, detik berikutnya yang aku tahu.</p>
<p>Kami sudah berpelukan.</p>
<p>Berlima.</p>
<p>Aku tak bisa menahan rasa haruku, hingga tanpa sadar air mataku kembali mengalir.</p>
<p>Aku tak peduli siapa yang kini kupeluk, atau memelukku, yang aku tahu, aku merasa perlu memeluk nya erat.</p>
<p>Untuk meyakinkanku, bahwa aku tak sedang bermimpi.</p>
<p>Beberapa menit berlalu, tanpa aku sadar, suara riuh dan tepuk tangan terdengar di penjuru ruangan.</p>
<p>Aku menatap sejenak,dari balik bahu namja yang kupeluk, yang aku tahu ternyata Yunho, menatap hangat gerombolan merah yang kini terlihat begitu berkilau.</p>
<p>Entah karena perasaanku saja, atau bagaimana, tapi aku merasa kali ini gerombolan merah itu terlihat begitu hangat.</p>
<p>&#8220;trimakasih..&#8221;</p>
<p>Aku berkata pelan, masih tetap memeluk dan berusaha memeluk, Changmin, yang berada di belakang Yunho.</p>
<p>&#8220;ini kado ulang tahun terindah buatku&#8221;</p>
<p>aku tersenyum, dan tak peduli apapun lagi, yang aku tahu, mereka, kini ada disisiku.</p>
<p>Aku tersenyum, Dan berdiri tepat di depan troli, yang terdapat Kue diatasnya.</p>
<p>Menatap lekat Kue itu. Aku memejamkan mataku sejenak, saat suara sorak Sorai Cassiopeia, dan Beberapa teman dekat Kami meneriakkan nama kami.</p>
<p>Dong Bang Shin Ki.</p>
<p>Terdengar begitu benar di dadaku.</p>
<p>Keempat memberku.</p>
<p>Terasa lengkap.</p>
<p>Leaderku, Yunho.</p>
<p>Vocal ku, Junsu.</p>
<p>Rapper ku, Yoochun.</p>
<p>Dan Magnae ku, Changmin.</p>
<p>Kami bersama, dalam satu Stage.</p>
<p>Ahh~ sangat menyenangkan.</p>
<p>Dengan cepat, Aku meniup Lilin di hadapanku, dan mengucapkan harapan.</p>
<p>Bahwa kali ini, kami akan bersama, selamanya, tanpa terpisah.</p>
<p>Aku tertawa, seraya menghapus air mataku, sementara keempat memberku, dengan reflek memelukku lagi.</p>
<p>Membentuk lingkaran, dan saling berpelukan.</p>
<p>God, betapa aku merindukan suasana ini~</p>
<p>Kami melepas pelukan kami, dan saling bertatapan satu sama lain.</p>
<p>&#8220;Bagaimana kalian bisa berada disini? Bagaimana dengan Sment?&#8221;</p>
<p>Aku Menatap Yunho dan Changmin yang hanya mengulas senyum datar.</p>
<p>&#8220;kau tentu mengerti tanpa harus kami jelaskan&#8221;</p>
<p>Aku terdiam beberapa detik, menatap wajah kedua memberku itu.</p>
<p>&#8220;K-kalian..&#8221;</p>
<p>&#8221; Yap, apapun yang kau fikirkan aku tahu itu benar, hyung, kau tak berfikir bahwa kami bisa berkeliaran menemui kalian di depan seluruh orang jika kami masih berada disana kan?&#8221;</p>
<p>Aku terpana. Apa ini nyata?</p>
<p>Aku mengedipkan kedua mataku, menatap tak percaya dengan apa yang mereka katakan.</p>
<p>Aku hendak mengatakan sesuatu, ketika sebuah sentuhan hangat yang familiar terasa di bahuku.</p>
<p>Yunho, leaderku tersenyum menatapku.</p>
<p>&#8220;aku rasa hal itu tak perlu dibicarakan sekarang, aku tak mau merusak moment ini&#8221;</p>
<p>Aku terdiam beberapa saat, sebelum tersenyum.</p>
<p>Yah, tak perlu dibicarakan, jangan merusak moment bahagia ini.</p>
<p>Aku tertawa bahagia, seraya menatap memberku satu persatu.</p>
<p>Cerita kami, belum berakhir.</p>
<p>It&#8217;s just started.</p>
<p>In My Birthday. 26 Januari 2012.</p>
<p>Yes, the story has just begun.</p>
<p>Dong Bang Shin Ki, will be Comeback.</p>
<p>And We Know that.</p>
<p><strong>*End*</strong></p>
<p><span style="color:#ff0000;">kkwkwkwkkwkw Otte? Aneh? Ga nyambung? Mian, ini pelampiasan frustasi dan rasa sakit admin krn kejadian kemrn di salah satu web <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </span></p>
<p><span style="color:#ff0000;">Note : No Bashing, This Fic Just made By me, and My Own Story.</span></p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">Always Keep The Faith!!</span></strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://fan3less.wordpress.com/category/fanfiction-korea/'>fanfiction korea</a> Tagged: <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/dbsk/'>DBSK</a>, <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/hiro-jaejoong/'>Hiro-Jaejoong</a>, <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/max-changmin/'>Max-Changmin</a>, <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/mickey-yoochun/'>Mickey-Yoochun</a>, <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/u-know-yunho/'>U know-Yunho</a>, <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/xiah-junsu/'>Xiah-Junsu</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fan3less.wordpress.com/12159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fan3less.wordpress.com/12159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fan3less.wordpress.com/12159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fan3less.wordpress.com/12159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fan3less.wordpress.com/12159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fan3less.wordpress.com/12159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fan3less.wordpress.com/12159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fan3less.wordpress.com/12159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fan3less.wordpress.com/12159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fan3less.wordpress.com/12159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fan3less.wordpress.com/12159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fan3less.wordpress.com/12159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fan3less.wordpress.com/12159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fan3less.wordpress.com/12159/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fan3less.wordpress.com&amp;blog=8241797&amp;post=12159&amp;subd=fan3less&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/26/story-has-just-begun-one-shot-special-jae-joong-birthday/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4e11ffec65306fa8048212455fc7ea6?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikariani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>In The End ( Part 8-End )</title>
		<link>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/26/in-the-end-part-8-end/</link>
		<comments>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/26/in-the-end-part-8-end/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 00:00:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dikariani</dc:creator>
				<category><![CDATA[fanfiction korea]]></category>
		<category><![CDATA[2pm]]></category>
		<category><![CDATA[Hwang Chansung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fan3less.wordpress.com/?p=11728</guid>
		<description><![CDATA[Nama author   :  Mrs. Kimila Main Cast        :  -     Hwang Chansung -          Yoon Donghwa -          Yong Junhyung -          Cho Kyuji Other cast       : Find it Title                 : In The End Part 8 Genre              : AU, Friendship, romance Rating              : PG 13 Disclaimer       : Nama diatas itu ya milik mereka sendiri, aku hanya memliki alur&#160;&#8230; <a href="http://fan3less.wordpress.com/2012/01/26/in-the-end-part-8-end/">Read&#160;more</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fan3less.wordpress.com&amp;blog=8241797&amp;post=11728&amp;subd=fan3less&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://fan3less.files.wordpress.com/2011/12/cover-ff-fix-copy3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-11729" title="cover FF fix copy" src="http://fan3less.files.wordpress.com/2011/12/cover-ff-fix-copy3.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<ul>
<li><span style="color:#ff0000;"><strong>Nama author   :  Mrs. Kimila</strong></span></li>
<li>Main Cast        :  -     Hwang Chansung</li>
</ul>
<p>-          Yoon Donghwa</p>
<p>-          Yong Junhyung</p>
<p>-          Cho Kyuji</p>
<ul>
<li>Other cast       : Find it</li>
<li>Title                <span style="color:#ff0000;"> : In The End Part 8</span></li>
<li>Genre              : AU, Friendship, romance</li>
<li>Rating              : PG 13</li>
<li>Disclaimer       : Nama diatas itu ya milik mereka sendiri, aku hanya memliki alur ceritanya saja.</li>
<li>Note                : mohon banget untuk di komen soalnya ini FF buatanku yang pertama. Dan harap maklum kalo ceritanya gak jelas yaaa, karena aku juga masih pemula hehe. Happy reading guys Semoga kalian tertarik J</li>
</ul>
<p>*author’s pov*</p>
<p>Hari ini adalah hari selasa yang sangat cerah untuk donghwa. Pagi – pagi sekali ia sudah bangun dan memasak makanan didapur. Para pelayan yang tinggal dirumahnya pun  merasa aneh, karena tidak biasanya nona mereka mau berkutat didapur pagi – pagi buta seperti ini.</p>
<p>“nona, sedang membuat apa? Tumebn sekali.” Tanya salah satu pelayan yang baru saja akan membuat sarapan untuk nonanya.</p>
<p>“aku sedang memasak sesuatu untuk seseorang. Tolong bantu aku…. Coba ini.” donghwa memberikan semangkuk kecil sup kepadanya pelayannya dan menyuruhnya untuk mencicipinya. “bagaimana rasanya?” tanya donghwa penasaran.</p>
<p>Pelayan itu mengecap – ngecap lidahnya berusaha meresapi rasa masakan milik nonanya itu. “rasanya enak sekali nona, gurihnya pas.” Jawab pelayan itu sambil mengancungkan kedua jempolnya.</p>
<p>“benarkah?” tanya donghwa memastikan.</p>
<p>Pelayan itu pun mengangguk. “aku tahu nona memang jago memasak seperti ibu nyonya.”</p>
<p>“hihihi.” Donghwa cekikikan mendapat pujian dari pelayannya itu. Lalu ia bergegas membereskan semua masakannya dan memasukkannya ke rantang. “aku pergi ya, aku ingin membrikan ini untuk junhyung.” Ijin donghwa kepada pelayannya itu lalu ia beranjak pergi ke parkiran untuk mengambil  mobilnya.</p>
<p>“nona tunggu.” Teriak pelayan itu sambil berlari kecil mengejar donghwa.</p>
<p>Donghwa berbalik dan bertanya. “ada apa?”</p>
<p>“anda yakin akan pergi sambil memakai celemek?” tanya pelayannya. Seketika itupun donghwa langsung memerhatikan tubuhnya dan benar ia masih memakai celemek. Ia lupa melepasnya karena terburu – buru.</p>
<p>“hahah, untung kau mengingatkanku.” Ujar donghwa sambil melepas celemek dan memberikannya kepada pelayan. “terima kasih.”</p>
<p>Sesampainya dirumah seseorang…..</p>
<p>“Ting tong” donghwa memencet bel rumah seseorang. Lalu ada seorang yeoja paruh baya muncul dari balik pintu.</p>
<p>“hai donghwa… wah pagi – pagi begini kau sudah datang.” Ujar yeoja itu yang tak lain adalah luna, ibu dari junhyung.</p>
<p>“hihihi.” Donghwa nyengir memamerkan selruh giginya. “aku membawa ini untuk kalian.” Donghwa menunjuk rantang yang ia bawa.</p>
<p>“waaaah kau yang memasaknya? Ayo masuk.” Ajak luna kepada donghwa.</p>
<p>“iya tante.” Jawab donghwa ketika mereka memasuki ruang tamu rumah keluarga yong. Donghwa memutarkan pandangannya. Baru kali ini ia engunjungi rumah junhyung dan ia agak takjub melihat rumah junhyung yang besar namun bergaya minimalis itu.</p>
<p>lalu luna mengajak donghwa kelantai dua rumahnya dan berhenti didepan pintu suatu ruangan. “masuklah junhyung sepertinya masih tidur.” Saran luna, kemudia luna meninggalkan donghwa sendiri didepan pintu ruangan itu.</p>
<p>Dengan sedikit ragu donghwa mengetuk pintu itu namun tidak ada jawaban hingga akhirnya ia memutuskan untuk masuk.</p>
<p>“junhyung….” Panggilnya dengan suara pelan. Ternyata benar kata luna, junhyung masih tertidur. Donghw apun masuk dan menaruh rantang bawaannya disalah satu meja diruangan itu. Ia mengedarkan pandangannya. Kamr milik junhyung tak kalah besar dengan miliknya. Bernuansa sangat cowok dengan beberapa poster sebuah tim basket yang donghwa tidak tahu. Lalu ada 2 seragam basket yang sengaja digantung ditembok lengkap dengan bolanya. Dan ada sebuah piano disudut ruangan yang menarik perhatian donghwa.</p>
<p>Ia pun melangkahkan kakinya menuju benda itu lalu duduk dan menyentuh piano itu.<em>’kau suka bermain musik yah? Aku baru tahu hehehe’</em> ujar donghwa dalam hati. Ia pun tersenyum kembali mengalihkan pandangannya ke sesosok namja yang masih tertidur.</p>
<p>Kemudian karena iseng ia menekan salah satu tuts piano itu dan donghwa sangat kaget karena tiba – tiba junhyung terbangun.</p>
<p>Sambil mengucek – ngucek matanya junhyung melihat donghwa aneh. “donghwa?” tanya memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.</p>
<p>“iya ini aku hehehe. Maaf membangunkanmu.” Ujar donghwa sambil berjalan kearah junhyung.</p>
<p>“kenapa kau bisa ada disini?” tanya junhyung lagi.</p>
<p>“aku datang membawa sarapan untukmu, ingat kan bahwa aku berkata akan menjagamu seterusnya. Nah hal itu akan kumulai hari ini dengan membawakanmu sarapan. Tapi ketika aku datang ternyata kau masih tidur, dan ibumu memintaku membangunkanmu, makanya aku ada disini. Tapi berhubung aku tidak tega membangunkanmu jadi aku diam saja.” Jelas donghwa kepada junhyung.</p>
<p>“hm.. kau bawa makanan apa? Sini biar aku makan.”</p>
<p>“ya! Tidak cuci muka dulu memangnya? Jorok sekali. Sana cuci muka duluuu dan sikat gigimu pasti bau hihihi.” Donghwa menyuruh junhyung sambil cekikikan.</p>
<p>“tuh kan, kamu itu persis seperti ibuku. Huh!” lalu junhyung beranjak ke kamar mandinya sedang donghwa menyiapkan sarapan untuk junhyung di sofa.</p>
<p align="center">***</p>
<p>*junhyung’s pov*</p>
<p>Aku tidak tahu mengapa, aku ingin donghwa tidak peduli padaku, aku ingin ia menjauh dari sisa hidupku yang sudah tinggal sebentar lagi ini, tapi aku tak bisa. Melihatnya berada didekatku sungguh membuatku nyaman dan membuat rasa sakit yang belakangan ini sering sekali muncul sedikit ringan. Ia begitu baik dan lembut merawatku. Ini sungguh membuatku gila. Bagaimana aku bisa meninggalkannya kalau begini?</p>
<p>Aku ingin dia pergi karena aku takut akan melukainya, tapi aku juga membutuhkannya disisi lain. Ia selalu menguatkanku. Aku masih bertahan hingga saat ini, semua karena dia. Dan satu hal yang kuinginkan saat ini hanyalah aku ingin melihatnya bahagia, meski bukan aku yang membuatnya bahagia.</p>
<p>And I realize that only one who can makes donghwa happy and he is chansung. Tapi kini untuk bertemu dengan donghwa saja, chansung tidak mau sama sekali. Haruskah aku membantu donghwa? Hm…. Kurasa ia. Sebaiknya aku segera kerumah chansung.</p>
<p>Berhubung hari ini donghwa tidak bisa datang menemaniku *biasanya setiap hari ia selalu datang menemuiku* aku pun memutuskan untuk pergi kerumah chansung. Segera aku mengambil kunci mobilku dmeja dan bergegas ke garasi.</p>
<p>“jun, mau kemana?” ibu yang melihatku ingin pergi bertanya.</p>
<p>“aku ingin kerumah chansung bu.” Jawabku.</p>
<p>“ya sudah hati – hati.” Ujar ibu lalu aku berpamitan dengannya, dan segera pergi menuju rumah chansung.</p>
<p>Rumah chansung…..</p>
<p>“chansung ada yang ingin bertemu denganmu.” Ujar seorang yeoja yang kutahu ialah noona chansung yaitu Victoria. Aku mengikuti kemana Victoria pergi. Ternyata ia menuju keruang keluarga. Disana ada chansung yang sedang duduk sambil mengarah ke kendela. Wajahnya sendu. Aku tahu pasti ia masih sedih perihal yang baru saja dialaminya ini.</p>
<p>“siapa?” tanya chansung datar.</p>
<p>“temanmu, junhyung.” Lalu Victoria mengangguk satu kali kemudian pergi meninggalkan aku dan chansung berdua.</p>
<p>“hai,” sapaku, terdengar sangat aneh. Aku menghampirinya dan duduk disebelahnya.</p>
<p>“lama tidak berjumpa jun” ujarnya, masih terdengar sangat datar.</p>
<p>“iya, maafkan aku yaaa aku baru datang menjengukmu sekarang hehe. Penyakitku kumat lagi.”  Selain keluargaku, dan sekarang donghwa, hanya chansunglah yang tahu tentang penyakitku ini. karena hanya kepadanya aku bercerita.</p>
<p>“tidak apa – apa jun, aku mengerti.”</p>
<p>“bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?” tanyaku basa basi.</p>
<p>“aku tidak akan pernah lebih baik dengan keadan seperti ini.” jawabnya.</p>
<p>“chan… kamu harus semangat. Jangan seperti ini. dunia tidak hanya sampai disini hwang chansung.” Aku berusaha member semangat padanya karena dari yang kulihat ia seperti orang yang putus asa. Sedih rasanya melihat teman baikku seperti ini.</p>
<p>“mungkin mudah untuk dikatakan, tapi tidak mudah untuk dijalankan.” Nadanya kini agak ketus.</p>
<p>“kamu bukan satu-satunya. Mau sampai kapan terpuruk seperti ini? kamu bukan seperti hwang chansung yang kukenal.”</p>
<p>“sebenarnya mau apa datang kemari? Aku tak berniat untuk bertengkar denganmu.”</p>
<p>“bertengkar? Jadi kamu pikir aku kesini untuk bertengkar denganmu? Kau salah. Aku kesini untuk menyadarkanmu.” Aku mulai kesal karena perlakuannya. Ia berubah, tidak seperti chansung yang ku kenal. Aku jadi kesal.</p>
<p>“menyadarkan apa? Tidak ada yang perlu disadarkan.”</p>
<p>“chansung! Berhentilah berlaku seperti ini, aku tahu kamu sebenarnya tidak  ingin kan.”</p>
<p>“lalu aku harus berbuat apa?” ia membentakku.</p>
<p>“tidak ada yang kau harus lakukan. Kau hanya perlu kembali seperti dulu. Seharusnya kau menjadikan ini sebagai pelajaran bukan justru sebagai penghalang. Kau tahu banyak orang yang khawatir dengan keadaanmu yang seperti ini. kembalilah seperti dulu, seperti chansung yang kukenal.”</p>
<p>“oh, aku tahu maksudmu. Ini pasti berkaitan dengan donghwa ya?” tanyanya agak sinis.</p>
<p>“aku tak tega melihatnya sedih terus chansung. Kumohon jangan sakiti dia seperti ini. ia sangat mencintaimu.”</p>
<p>Chansung hanya diam sambil menundukkan kepalanya, lalu aku pun merangkulnya. “ak tahu ini berat untukmu tapi membuatnya seperti ini juga bukan hal yang baik. Bukan hanya kau yang terpuruk dengan semua ini tapi ia pun juga. Bagaimana bisa kamu memintanya pergi padahal kamu tahu hatinya untuk kamu.”</p>
<p>“lalu aku harus bagaimana? Aku tidak mau menyusahkannya. Aku sudah cukup merasa bersalah karena awalnya aku salah paham dengannya. Dan dengan keadaanku yang saat ini? aku yakin aku hanya akan merepotkannya.”</p>
<p>“jangan berpikir dari sudut itu. Ia dengan senang hati ingin sekali merawatmu dan juga menjagamu. Ia ingin sekali menjadi mata sementaramu. Ia ingin ada disisimu untuk membuatmu kuat menghadapi ini semua chan.”</p>
<p>“benarkah seperti itu?” tanya chansung. Agaknya ia tersentuh dengan ucapanku.</p>
<p>“tentu saja. Kini minta maaflah padanya” pintaku.</p>
<p>“tapi..”</p>
<p>“sudahlah jangan terus berpikiran hal yang buruk. Percaya saja padaku.”</p>
<p>Chansung terdiam. Lalu aku terpikir untuk mengatakan sesuatu padanya.</p>
<p>“chan… boleh aku mengatakan sesuatu? Tapi berjanjilah jangan beri tahu donghwa, ini sangat penting.”</p>
<p>“apa itu?”</p>
<p align="center">***</p>
<p>*author’s pov*</p>
<p>Seminggu telah berlalu semenjak kedatangan junhyung ke rumah chansung. Kini chansung sudah berbaikan dengan donghwa. Dan keadaan mulai membaik. Namun tidak dengan keadaan junhyung. Semakin lama kesehatannya terus menurun, dan penyakitnya juga semakin sering kambuh. Tapi dengan setia donghwa selalu mendampingi dirinya, begitu juga dengan kedua orang tuanya yang membuat dirinya mampu bertahan.</p>
<p>“apa dia sudah sadar?” tanya donghwa khawatir kepada dokter yang baru saja keluar dari kamar junhyung untuk memeriksa keadaan junhyung.</p>
<p>“yaaa, dia mencarimu masuklah.” Ujar dokter itu lalu dengan segera donghwa masuk ke kamr junhyung.</p>
<p>Kedua orang tua junhyung yang sejak tadi bersama donghwa tetap diluar.</p>
<p>“sudah semakin parah, maafkan aku. Tapi ia sama sekali tak ingin diobati. Ia terus memintaku untuk hanya memberinya obat penahan rasa sakit.” Dokter itu mencoba menjelaskan kepada kedua orang tua junhyung.</p>
<p>“sebaiknya kita bicara dibawah saja, aku tak ingin donghwa mendengarnya.” Ajak luna. Lalu mereka pun turun kelantai dasar menuju keruang kerja ayah junhyung.</p>
<p>“kami sudah pasrah dok, kami tak akan memintanya lagi untuk bertahan. Dia memang sudah ingin pergi.” Ujar luna parau, Ketika mereka sampai.</p>
<p>“aku tahu, kini kita hanya dapat berdoa.” Dokter itu menghembaskan tubuhnya disofa.</p>
<p>“apa yeoja itu tahu hal ini? Perihal junhyung yang tak ingin diobati lagi?”</p>
<p>“tidak. Junhyung merahasiakannya.” Dokter itu mengangguk tanda ia mengerti.</p>
<p>“kalian tahu alasannya?” tanya dokter</p>
<p>“iya kami tahu. Hatinya sungguh mulia, ia benar – benar ingin melihat donghwa bahagia sampai ia merelakan dirinya sendiri.” Jawab jonghyun prihatin. Ia sebenarnya merasa tidak setuju dengan keputusan junhyung ini, tapi apa yang bisa ia lakukan untuk mencegahnya? Itu sudah merupakan keputusan anaknya, dan ia tahu ia harus menghargainya.</p>
<p>Kamar junhyung&#8230;..</p>
<p>“jun&#8230;” panggil donghwa lembut. Ia memainkan bulu mata junhyung yang lembut. Namja itu memejamkan matanya tapi ia tidak tidur.</p>
<p>“kenapa?” tanya junhyung.</p>
<p>“aku ingin kau sembuh, kau harus kuat.” Nada bicara donghwa terdengar manja membuat junhyung terkekeh.</p>
<p>“kenapa kau ini? Aku serius.” Melihat junhyung terkekeh donghwa jadi agak kesal lalu ia menggembungkan pipinya.</p>
<p>Namja itu beranjak duduk kemudia menatap donghwa lekat.</p>
<p>“kalaupun aku tidak sembuh kau jangan marah padaku ya, kau harus tetap menyayangiku.”</p>
<p>*donghwa’s pov*</p>
<p>“kalaupun aku tidak sembuh kau jangan marah padaku ya, kau harus tetap menyayangiku.”  Ujar junhyung. Aku mendengarnya seperti sebuah permintaan. Ada suatu maksud yang tersimpan dalam kata-kata itu tapi aku tak tahu maksudnya apa.</p>
<p>“kau bicara apa? Aku yakin kau pasti sembuh.” Junhyung mengelus kepalaku lalu merapikan poniku yang menutupi wajahku. Kemudia ia menatapku lembut penuh rasa bersalah. Aku jadi sedih melihatnya.</p>
<p>“minggu depan temani aku ke taman yah?” pinta junhyung. Aku sedikit terlonjak mendengar permintaanya karena sangat aneh.</p>
<p>“Ketaman? Untuk apa?” tanyaku sambi menaikkan alisku.</p>
<p>“aku mau berkencan bersamamu, hehehe” jawabnya sambil terkekeh.</p>
<p>“Ha? Kamu iniii, ada – ada saja.” Aku merasa wajahku memerah. Untuk pertama kalinya aku dianjak kencan oeh junhyung, rasanya sangat menyenangkan membuatku sulit untuk tidak tersenyum.</p>
<p>Aku jadi bingung dengan perasaanku sendiri. Disisi lain aku mencintai chansung namun disisi lain juga aku sangat menyayangi junhyung. Walau bagaimana pun junhyung telah mengisi hatiku selama 2 tahun belakangan ini. Berkat dirinya aku banyak belajar. Aku belajar bagaimana harus kuat, sabar dan juga tegar. Dan satu hal yang penting ia juga mengajariku bahwa cinta tak harus memiliki.</p>
<p>Jatuh bangun telah kurasakan ketika aku begitu mencintainya dulu, he is everything to me and i realize that i didn’t just love him but it’s more than love. aku begitu menginginkannya tapi tak tahu harus berbuat apa hingga aku sadar kalaupun kami memang jodoh maka ia pun tak akan kemana, jadi aku mengubah pandanganku dan berpikir bahwa cinta tak harus memiliki, kalaupun memang jodoh maka ia tak akan pergi kemanapun.</p>
<p>Tapi sekarang? Memang semua yang telah kubayangkan dulu tak terjadi sekarang namun ini suatu keluar biasaan. Dulu aku merasa begitu tidak disayang oleh siapapun dan sekarang semua justru berbalik menyayangiku, bahkan chansung yang tak pernah kuharapkan sebelumnya kini ada disisiku.</p>
<p>Jujur aku merasa bahagia dan bersyukur dengan semua ini walaupun pada kenyataanya aku tahu junhyung dan chansung tidak dalam keadaan orang normal yang sehat tapi setidaknya aku punya cinta mereka yang tulus. Dan aku berharap semua akan baik – baik saja dan mereka kembali sehat seperti dulu.</p>
<p>Kalau aku disuruh memilih antara chansung atau junhyung aku pasti jawab tidak bisa memilih. Karena memang keduanya sangat berarti untukku. Aku tak akan pernah bisa memilih satu diantara mereka. Keduanya telah menjadi bagian dari hatiku. Aku sayang mereka berdua apapun yang terjadi.</p>
<p>“jadi mau atau tidak?” tanya junhyung menyadarkanku.</p>
<p>“hm&#8230; mau tidak yaaa?” aku sengaja menggodanya hehehe.</p>
<p>Lalu junhyung mengelitiku supaya aku menjawab “ya! Aku serius.”</p>
<p>“hahaha.” Aku menghindar darinya namun tiba – tiba ia memegangi kepalanya<em>. ‘oh tidak, sakit lagi kah?’</em> tanya ku dalam hati. Dengan segera aku merengkuhnya lalu mengambil obat penghilang rasa sakitnya dan meminumkannya.</p>
<p>“junhyung&#8230;” panggilku khawatir. Lalu ia tersenyum kecil.</p>
<p>“sudah tidak sakit hehe.” Ujarnya. Aku pun menghembuskan napas lega. Kukira akan parah.</p>
<p>“maafkan akuuu.”</p>
<p>Ia menggeleng pelan. “jangan minta maaf.”</p>
<p>“sudahlah sebaiknya kamu tidar saja.” Aku memerintahnya karena takut nanti ia kambuh lagi. Namun ia tak menurut.</p>
<p>“aku ingin bermain pianao, lalu ia bernajak dari kasurnya menuju piano yang sangat dekat dengan kasurnya karena masih berada dalam satu ruangan. “kau belum pernah melihatku bermain pianokan?” tanyanya, lalu aku menggeleng.</p>
<p>“kau mau aku bermain lagu apa?” tawarnya padaku.</p>
<p>“hm&#8230; terserah kau saja.” Jawabku. Lalu ia mulai melantunkan sebuah lagu.</p>
<p>Bukan main, ia benar – benar membuatku terpukau. Permainnanya sangat apik, aku dibuat cengo olehnya. Sambl menikmati alunan musiknya aku berjalan mendekatinya lalu duduk disebelahnya. Kami pun menyanyikan lagu itu bersama. Ia tersenyum padaku.</p>
<p>“permainan pianomu hebaaat! Kau harus mengajariku.” Pujiku padanya.</p>
<p>“benar mau kuajari? Sini kemarikan tanganmu.” Ia merapatkan posisinyakearahku, meraih kedua tanganku kemudian menjetikkan jarinya pada tuts piano.  Hari itu pun kami lewati dengan indahnya, dengan sabar ia mengajariku bermain piano. Sungguh hari ini aku tak bisa berhenti tersenyum dibuatnya.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Hari kencanku bersama junhyung pun tiba. Karena kami berniat untuk piknik maka aku membawa beberapa makanan yang kumasak supaya nanti bisa dimakan bersamanya. Ia menjemputku dengan mobilnya, lalu kami pun pergi kesebuah taman yang sangat jauh dari kota. Aku tak tahu dimana tepatnya tapi taman itu sangat dekat dengan pantai. Sangat indah dan sepi. Ia menggelar sebuah karpet lalu membantuku membereskan semuanya.</p>
<p>Selama disana kami terus saling bertukar cerita, dan itu membuatku lebih mengenalnya dan ia pun lebih mengenal diriku. Bercerita, dan bermain bersamanya sungguh menyenangkan. ia tidak pernah mengeluh jika aku meminta sesuatu yang aneh padanya, ia menuruti semuanya. Ia juga tidak menunjukkan kelelahannya sama sekali walaupun aku tahu ia mencoba menahannya. Junhyung tidak cukup pintar berbohong padaku.</p>
<p>Setelah puas bermain, kami kembali duduk di karpet yang ia gelar tadi.</p>
<p>*junhyung’s pov*</p>
<p>Setelah puas bermain, kami kembali duduk di karpet yang ia gelar tadi.</p>
<p>Sejujurnya aku merasa lelah tapi aku tak ingin donghwa mengetahuinya, kerena ini kencan pertama kami aku tak ingin membuatnya kecewa. Saat ini donghwa sedang menguncir rambutnya, mungkin karena gerah lalu ia mengibas – ngibaskan tangannya didekat wajahnya agar menimbulkan angin. Aku menyentuh poninya dan merapikannya karena berantakan, ia pun tersenyum.</p>
<p>“kau mau minum?” tanyanya padaku.</p>
<p>“tentu saja.” Jawabku. Lalu ia memberiku sebotol minuman. Dan aku menegaknya.</p>
<p>Donghwa meregangkan ototnya lalu berselonjor. “lelahkah?” tanyaku padanya.</p>
<p>Donghwa menggeleng. “tidak sama sekali. Udaranya sangat segar. Jam berapa sekarang?”</p>
<p>“aku melihat kearah jam tanganku. “jam 5 sore, sebentar lagi akan ada sunset.”</p>
<p>“waaah benarkah? Kita dapat melihatnya dari sini?” tanya antusias. Aku tersenyum dan mengangguk.</p>
<p>Dan tiba – tiba ada suatu dorongan dalam diriku, aku ingin mencium donghwa untuk terakhir kalinya. Donghwa sedang asyik mengedarkan pandangannya keseluruh sudut tempat ini. Ia terlihat kagum dan juga takjub. Tentu saja, karena baru pertama kalinya ia kesini. Tempat ini adalah tempat yang sering kukunjungi jika sedang ingin sendiri. Tak banyak orang yang tahu tentang taman ini karena tempatnya yang agak nyempil. Waktu aku menemukannya tempat ini hampir tak terawat lalu aku memutuskan untuk menyuruh orang merawatnya.</p>
<p>Aku pun memberanikan diri untuk bertanya pada donghwa. “donghwa&#8230;” panggilku</p>
<p>“ya?” tanyanya.</p>
<p>“boleh aku minta sesuatu?”</p>
<p>“tentu saja, hari ini aku telah banyak minta padamu, sekarang giliran kamu.” Ujarnya riang.</p>
<p>“hm&#8230;” aku binging dan juga gugup. “hm&#8230; boleh aku menciummu?”</p>
<p>Donghwa agak tersentak. “hah?”</p>
<p>“kalau kamu tidak mau tidak apa – apa kok hehe.” Aku berusaha menguasai diriku yang gugup.</p>
<p>Donghwa diam saja, seperti sedang menimbang lalu tersenyum. “boleh koook, ini kan kencan kita.”</p>
<p>Aku agak lega mendengar jawabannya. Ia menatap mataku lembut. Aku membenarkan posisiku agar nyaman tapi sekilas aku dapt melihatnya menggigit biir bawahnya, kelihatannya sedikit takut.</p>
<p>“kamu siap?” tanyaku bercanda untuk mencairkan suasana yang mulai tegang. Ia tertawa.</p>
<p>“kau iniiii.”</p>
<p>Aku mendekatkan kepalaku dengan kepalanya, donghwa memejamkan matanya memundurkan kepalanya sedikit membuatku ingin tertawa tapi kutahan. Sejurus kemudia aku mendaratkan bibirku di bibirnya. Ia menggunakan lipgloss rasa blueberry. Hihihi.</p>
<p>Awalnya ia diam saja, namun ia mulai menggerakkan bibirnya seirama denganku dan kupejamkan mataku. Tidak lama kemudian aku merasakan basah. Ada air yang menetes dipipiku. Aku pun membuka mata dan melihat mata donghwa basah tapi masih dalam posisi tertutup. Ia menangis.</p>
<p>Aku langsung melepaskan ciumanku. Dan ia menunduk. “donghwa kenapa? Apa aku melakukan kesalahan? Maafkan aku.” Hatiku sakit melihatnya menangis.</p>
<p>Ia menggeleng – geleng. Aku mengangkat dagunya dan menghapus airmatanya. “lalu kenapa kau menangis?”</p>
<p>“aku tidak tahu kenapa jun&#8230; tiba – tiba saja keluar.” Jawab donghwa, dan aku tahu ia tidak berbohong. Tapi mungkinkah? Masa ia menangis tanpa alasan.</p>
<p>Kesunyian melingkupi kami. aku merasa sangat lelah dan tubuhku juga pegal – pegal. Padahal tadi aku tidak melakukan aktifitas yang berat. Ini aneh.</p>
<p>“jun.. jam berapa sekarang? Apa sunset sebentar lagi?” tanya donghwa memecah kesunyian. Aku pun mengecek jamku lagi.</p>
<p>“iya sebentar lagi.” Donghwa menoleh kearahku dan agak kaget melihat wajahku.</p>
<p>“ada apa?” tanyaku penasaran.</p>
<p>“kenapa kau pucat sekali? Apakah kau capek?” tanya donghwa khawatir. Ia menyentuh wajahku lembut.</p>
<p>“iya, kurasa aku lelah.” Jawabku. “boleh aku berbaring?”</p>
<p>“tentu saja, sini berbaringlah disini.” Ia menepuk – nepuk pelan pahanya. Lalu aku berbaring, menaruh kepalaku dipahanya sambil menghadap kearah laut.</p>
<p>“jun&#8230; terima kasih untuk hari ini sangat indah.” ujar donghwa.</p>
<p>“sama – sama donghwa, terima kasih juga karena kamu mau menemaniku.” Aku merasa sangat mengantuk. Dan iba – tiba kepalaku terasa sangat menyakitkan, lebih sakit dari biasanya. Sekuat tenaga aku menahannya karena aku tak ingin dongwa tahu. <em>‘oh God, apa sudah waktunya? Sekarangkah?’</em> tanyaku dalam hati. Diam – diam aku mengepalkan tanganku, mencoba menahan sakit dikepalaku. <em>‘kalau memang sekarang, aku siap. Tapi kau harus menjaga donghwa Tuhan. Berjanjilah.’</em> Pintaku pada Tuhan.</p>
<p>Karena menahan sakit aku jadi berkeringat dan semakin pucat. “junhyng kau yakin baik – baik saja? Kau berkeringat sekali dan wajahmu makin pucat apa sebaiknya kita pulang sekarang?” donghwa semakin khawatir melihatku.</p>
<p>“tidak, aku ingin tetap disini melihat sunset bersamamu, donghwa.” Pintaku.</p>
<p>“baiklah.” Jawab donghwa pasrah.</p>
<p>*donghwa’s pov*</p>
<p>“tidak, aku ingin tetap disini melihat sunset bersamamu, donghwa.” Pinta junhyung padaku.</p>
<p>“baiklah.” Jawabku pasrah. Sebenarnya aku tak tega melihat junhyung. Perasaanku sangat tidak enak, seperti akan ada sesuatu yang terjadi.</p>
<p>Tadi ketika junhyung menciumku, tiba – tiba aku menangis karena aku merasa akan kehilangan sesuatu tapi aku tah tahu itu apa. Aku takut. Kurahap bukan junhyung maksudnya.</p>
<p>Sunsetpun datang. Sangaaaaat indah. Aku tak bisa menutupi kekagumanku, aku benar – benar terpukau melihat matahari terbenam. Sangat cantik. <em>‘Tuhan, ini sangat luar biasa. Terima kasih telah menciptakannya’</em> ucap syukurku dalam hati.</p>
<p>Aku menunduk kearah junhyung dan aku melihatnya memejamkan mata. “ya! Junhyung kenapa malah merem, lihat itu mataharinya sudah tenggelam.” Aku menggoyang – goyangkan tubuhnya, namun tidak ada reaksi.</p>
<p><em>Deg!</em> Aku merasa sangat panik. “junhyung!!!” panggilku setengah berteriak agar ia bangun. Tapi ia tetap tak bergeming. Ya Tuhan aku sangat takut.</p>
<p>Kuberanikan menyentuh jantungnya, namun aku tak mendengar apapun. lalu aku menyentuh hidungnya, tidak ada hembusan napas. Aku menyentuh denyut nadi dipergelangan tangannya tapi tak berdetak juga. Seketika tu aku menangis. “tidak mungkin, tidaaaaaak! Junhyung ayo bangun. Jangan bercanda.” Aku masih berusaha menggoyang – goyangkan badannya berharap ia akan bergerak. Tapi tidak ada apapun yang terjadi.</p>
<p>“jun&#8230;.” tangisku pecah. “junhyuuuuung!!” teriakku. Aku memeluk tubuhnya seerat mungkin. Wajahnya sangat pucat namun ada senyum dibibirnya. Kamu meninggalkan aku jun, tega sekali. Sore itu aku menangisi kepergiannya, sendiri. Aku mengecup keningkannya lama dan meneteskan beberapa airmta dikeningnya. Aku tak mampu berkata apapun, hanya mampu menangis.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Epilog</p>
<p>2 bulan telah berlalu semenjak kepergian junhyung. Rasanya sangat berat bagiku menghadapi semua ini, tapi aku tidak pernah sendiri. Selalu ada orang – orang yang berada disisiku, seperti ayah dan mom, kyuji, krystal, kedua orang tua junhyung, teman temanku yang lain, dan juga chansung.</p>
<p>3 minggu setelah kepergian junhyung, chansung mendapatkan donor mata dari seseorang dan kini ia dapat kembali melihat. Awalnya aku tidak tahu siapa yang telah memberikan chansung donor mata. Semua orang seperti berusaha menutupinya dariku hingga akhirnya setelah chansung pulih total ia mengatakannya padaku. Sebuah fakta.</p>
<p>Ternyata yang mendonorkan matanya untuk chansung ialah junhyung. Ya. Yong Junhyung. Awalnya aku sangat terkejut dan tidak percaya, namun chanusng menjelaskan semuanya.</p>
<p>*flashback*</p>
<p>“chan… boleh aku mengatakan sesuatu? Tapi berjanjilah jangan beri tahu donghwa, ini sangat penting.” Ujar junhyung.</p>
<p>“apa itu?”</p>
<p>“jika nanti aku pergi, ambillah mataku.” Ucapan junhyung membuat chansung sangat terkejut.</p>
<p>“apa maksudmu jun?” tanya chansung.</p>
<p>“kamu tahu aku sudah lama mengidap menyakit kanker otak. Dan kurasa umurku kini tidak akan lama lagi chan.”</p>
<p>“jun! Apa yang kau katakan?! Jangan bicara seperti itu.” Chansung membentak junhyung. Namun junhyung tetap kalem.</p>
<p>“aku sungguh – sungguh. Dengarkan aku. Jika nanti sudah waktunya aku pergi,aku akan mendonorkan mataku kepadamu. Ambillah mataku, dan jaga baik – baik.”</p>
<p>‘tidak, aku tidak mau.”</p>
<p>“kamu harus mau chan, ini demi dirimu dan juga donghwa.aku ingin kamu menjaganya dan membuatnya bahgia ketika aku pergi nanti. Dan dengan mataku aku akan mengawasimu dan juga donghwa. Aku sungguh berharap kalian akan bersama selamanya dan hidup bahagia. Sudah itu saja yang kuinginkan.”</p>
<p>“tapi&#8230;”</p>
<p>“sudahlah terima sajaaaaa, aku mohon. Aku telah membicarakan ini pada keluargaku dan juga dokterku. Jadi kau jangan khawatir. Semuanya telah ku atur.”</p>
<p>“junhyung, apa kau yakin?”</p>
<p>“ya, aku sangat yakin.”</p>
<p>“apa kau begitu mencintai donghwa hingga harus seperti ini.”</p>
<p>“perasaanku pada donghwa, sama seperti perasaanmu pada donghwa. Aku yakin kamu mengerti.”</p>
<p>Chansung terdiam.</p>
<p>“dan aku ingin donghwa tidak tahu akan hal ini, jangan beritahu dia sampai saatnya tepat.”</p>
<p>“aku mengerti, terima kasih banyak jun. Tapi aku sungguh tak berharap kau pergi.”</p>
<p>“aku juga.” Lalu chansung dan junhyung berpelukan.</p>
<p>*flashback’s end*</p>
<p>“ia berpesan padaku bahwa ia hanya ingin kau bahagia. Berhentilah bersedih dan lanjutkan hidupmu. Tidakkah kau ingin membuatnya bahagia juga sama seperti yang ia lakukan padamu?” Ujar chansung kepadaku. Oh God, really i can’t believe it. Chansung benar. Dan ia menyadarkanku. Selama ini aku terus bersedih jika mengingat junhyung padahal aku tahu ia pasti ikut sedih melihatku seperti ini.</p>
<p>Dia benar benar menyayangiku dan ingin sekali aku bahagia. Tapi apa yang kulakukan. Selama 2 bulan ini aku hanya terus bersedih. Aku pasti mengecewakannya.</p>
<p>Begitu sayangnya kah ia padaku hingga menitipkan matanya kepada chansung untuk mengawasi diriku? Baiklah, aku berjanji padanya bahwa aku akan bahagia. Pasti. lewat mata chansung aku akan menunjukkan padamu bahwa aku akan terus menjalani hidupku dan aku berjanji akan bahagia. Percayalah padaku.</p>
<p>“kau benar chan&#8230; terima kasih sudah mengatakan hal yang sebenarnya. Jangan khawatir, aku akan bahagia. Kita akan bahagia.” Ujarku pada chansung lalu ia merengkuhku kedalam pelukannya. “mari kita tempuh lembaran baru bersama.” Aku terseyum padanya.</p>
<p>Junhyung memang masa laluku tapi chansung adalah masa depanku. Kini aku harus fokus bersamanya. Semoga Tuhan selalu menjaga kami, Amin.</p>
<p align="center"><strong>*FIN*</strong></p>
<p><em>Lalalala&#8230;. akhirnya selesai juga fanfic pertamaku. Maaf ya kalau mengecewakan. Maklum pengalaman masih sedkiti hehehe. Jangan lupa comment yaaaaa J</em></p>
<p><em>Terima kasih buat yang udah mau baca dan comment *bow*</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://fan3less.wordpress.com/category/fanfiction-korea/'>fanfiction korea</a> Tagged: <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/2pm/'>2pm</a>, <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/hwang-chansung/'>Hwang Chansung</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fan3less.wordpress.com/11728/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fan3less.wordpress.com/11728/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fan3less.wordpress.com/11728/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fan3less.wordpress.com/11728/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fan3less.wordpress.com/11728/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fan3less.wordpress.com/11728/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fan3less.wordpress.com/11728/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fan3less.wordpress.com/11728/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fan3less.wordpress.com/11728/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fan3less.wordpress.com/11728/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fan3less.wordpress.com/11728/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fan3less.wordpress.com/11728/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fan3less.wordpress.com/11728/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fan3less.wordpress.com/11728/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fan3less.wordpress.com&amp;blog=8241797&amp;post=11728&amp;subd=fan3less&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/26/in-the-end-part-8-end/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://fan3less.files.wordpress.com/2011/12/cover-ff-fix-copy3.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://fan3less.files.wordpress.com/2011/12/cover-ff-fix-copy3.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">cover FF fix copy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4e11ffec65306fa8048212455fc7ea6?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikariani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fan3less.files.wordpress.com/2011/12/cover-ff-fix-copy3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">cover FF fix copy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>our beloved girl ( part 2 )</title>
		<link>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/25/our-beloved-girl-part-2/</link>
		<comments>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/25/our-beloved-girl-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 00:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dikariani</dc:creator>
				<category><![CDATA[fanfiction korea]]></category>
		<category><![CDATA[SNSD]]></category>
		<category><![CDATA[Super Junior]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fan3less.wordpress.com/?p=11754</guid>
		<description><![CDATA[Author : Ahua chapter 2 @Soo Hee POV aku bertanya kepada Sung tentang gadis yang tadi kami lihat di audisi,dan aku terkejut bahwa ternyata kami 2bersaudara ini menyukai wanita yang sama di saat yang sama “hahahaha”tawaku dalam hati sambil bercanda dengan Sung di dalam taxi dan saat tuh sebelah kiri mobil muncul mobil truk aku&#160;&#8230; <a href="http://fan3less.wordpress.com/2012/01/25/our-beloved-girl-part-2/">Read&#160;more</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fan3less.wordpress.com&amp;blog=8241797&amp;post=11754&amp;subd=fan3less&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="color:#ff0000;"><strong>Author : Ahua</strong></span></h2>
<p><strong>chapter 2</strong></p>
<p>@Soo Hee POV</p>
<p>aku bertanya kepada Sung tentang gadis yang tadi kami lihat di audisi,dan aku terkejut bahwa ternyata kami 2bersaudara ini menyukai wanita yang sama di saat yang sama</p>
<p>“hahahaha”tawaku dalam hati sambil bercanda dengan Sung di dalam taxi</p>
<p>dan saat tuh sebelah kiri mobil muncul mobil truk</p>
<p>aku dan sung menjerit</p>
<p>AAAAAAaaaaaaaaa!!!!!</p>
<p>hah&#8230;&#8230;.hah&#8230;hah&#8230;!</p>
<p>ternyata mimpi..dan membuatku keringat dingin jika memimpikan nya lagi</p>
<p>Ternyata persawat telah sampai di seoul,aku pun menelepon ke omma</p>
<p>“omma ada datang menjemput?”tanyaku lewat handphone</p>
<p>“omma tidak bisa menjemput,nanti pulang omma masakin makanan kesukaan mu”jawab omma</p>
<p>kemudian hp pun kumatikan</p>
<p>aku pun ke depan dan memanggil taxi dan pulang kerumah yang telah 6 tahun lebih tidak pernah ku pijakan kaki ku lagi disana</p>
<p>ne&#8230;hari ini adalah hari kepulangan ku ke seoul,tidak disangka sudah tujuh tahun lamanya semenjak kejadian dalam mimpiku itu dan sekarang setelah lulus dari universitas harvard aku dipanggil pulang oleh appa untuk membantu di perusahaan nya</p>
<p>#Depan Rumah keluarga Lee</p>
<p>saat Soo nyampe di rumah di dpan pintu telah menunggu seorang wanita yang tidak lain adalah omma ny yang baru pulang dari Mall</p>
<p>“dari mana omma??kok banyak kali barang bawaaan nya”tanya Soo sambil membantu omma nya menggangkat barang belanjaan</p>
<p>“ne..abiz dari mall bapak mu, kamu kapan masuk kerja ke perusahaan??”sambil berjalan memasuki rumah</p>
<p>#Rumah keluarga Lee</p>
<p>“Bibi&#8230;!!!ni sayur tolong di cuci dan daging nya tolong di siapkan ya”</p>
<p>“ya bu”balas bibi yang datang dari dapur dan melihan Soo”selamat datang kembali Tuan muda”sapa bibi</p>
<p>“apa kabarnya bibi?da 6 tahun low tidak jumpa,masih sehat kan?”balas Soo</p>
<p>“bibi masih baik kok”balas bibi pada Soo sambil mengambil barang belanjaan ke dapur</p>
<p>“Soo kamu kan capek..sana mandi dulu,nanti papa mu pulang cepat dan kita makan bersama,omma mau menyiapkan makan malam dulu dengan bibi”kata omma sambil berjalan ke dapur</p>
<p>@Soo POV</p>
<p>aduh rasanya capek juga setelah perjalanan jauh,ah bibi..!!(sedikit terkejut)</p>
<p>bibi da bekerja disini semenjak usiaku masih 5tahun dan terakhir kali aku melihat bibi adalah hari dimana aku berangkat untuk melanjutkan ke universitas Harvard</p>
<p>“apa kabarnya bibi?da 6 tahun low tidak jumpa,masih sehat kan?tanyaku pada bibi yang telah lama merawat ku dan Hyung ku</p>
<p>dan bibi membalas dengan mengatakan kabarnya baik</p>
<p>dan omma memintaku keatas mandi dan istrahat sejenak sebelum makan malam dan kelihatanya appa akan pulang cepat hari ini</p>
<p>dengan membawa koper ku..aku pun menaiki tangga..kamarku sendiri ada di lantai 3,dan betapa terkejutnya aku melihat kamarku yang bersih dan semua tersusun seperti sebelum aku berangkat ke luar negri 6 tahun lalu</p>
<p>“aigoo..ini kan gitar yang dulu sering di pake Hyung dan sering ku pinjam tanpa mjemberitahunya”kataku dalam hati sambil melihat-lihat foto jaman sekolah ku dulu</p>
<p>ternyata selama ini selama aku gak ada bibi dan omma selalu menjaga kamarku agar tetap bersih</p>
<p>betapa senangnya hati ku memikirkan hal ini..namun aku segera bangkit dan bersiap-siap untuk mandi dan istirahat</p>
<p>@Omma POV</p>
<p>“Soo kamu kan capek..sana mandi dulu,nanti papa mu pulang cepat dan kita makan bersama,omma mau menyiapkan makan malam dulu dengan bibi” kataku kepada Soo</p>
<p>melihat Soo naik ke atas aku merasa senang melihat kepulangan putra ku</p>
<p>sambil mengeluarkan barang-barang aku berbicara dengan bibi</p>
<p>“bi kita masak makanan kesukaan nya si Soo ya”pintaku pada bibi</p>
<p>dan bibi menjawab”ya” dan bibi juga bertanya” kira-kira gmna ya perasaan tuan muda setelah melihat kamarnya”</p>
<p>dan aku pun menjawab”pasti senang dan terharu,kan bibi yang paling rajin ke kamarnya dan bersihkan kamarnya..hahaha..”(sambil memotong sayur)</p>
<p>aku pun melanjutkan memotong sayur dan gak berapa lama terdengar suaara pintu tertutup dan perasaanku mengatakan ini pasti bapak</p>
<p>dan saat melihat ternyata memang bapak,dan aku pun mengatakan” selamat datang,capek kan..Bibi tolong ambil air buat bapak”pintaku sambil membantu bapak membuka jas</p>
<p>@Bapak Lee</p>
<p>duh da jam 05.pm aku harus balik dulu&#8230;</p>
<p>robert nanti masalah proposal baru kutunggu kabar darm mu pagi sebelum jam 10</p>
<p>kemudian aku menaiki lift dan terpikirkan telepon dari istriku tadi</p>
<p>~FlashBack~</p>
<p>tepat pukul 3 sore saat lagi meminum kopi mocchacino kesukaan ku</p>
<p>“pak ada telepon dari istri bapak” kata sektetarisku</p>
<p>“ok!..tolong sambungkan”pintaku</p>
<p>“annanghaseyo..ada apa?”tanyaku pada istriku lewat telepon</p>
<p>“pak hari ni cepat pulang ya,jangan lupa low,soalnya hari ini Soo akan nyampe ke seoul dan nanti coba pak ajak dia kerja di perusahaan”kata istriku tanpa memberiku kesempatan berbicara</p>
<p>“ne..nanti kita bicarakan masalah pekerjaannya saat sedang makan malam saja”</p>
<p>“oow” balas istriku pelan dan kulanjutkan dengan memberitahu bahwa aku juga ingin menjodohkan Soo yang sudah berumur 26 tahun namun belum mempunyai pacar</p>
<p>~Flashback end~</p>
<p>Dan akhirnya sesampai dirumah bertemu dengan istriku dan istriku mengucapkan selamat datang,dan dia meminta bibi membawakan air untukku sedangkan dia membantuku membuka jas ku</p>
<p>“Mana Soo?”tanyaku padanya,”Soo lagi mandi” jawab istriku</p>
<p>Kemudian aku bergegas mandi agar tidak telat makan malam</p>
<p>#Ruang makan</p>
<p>“Soo..gmna hidupmu di sana?bahkan kamu tidak mau menerima uang saku dari ku..kamu Cuma menerima uang saku selama 6 bulan setelah itu kamu bekerja dan gak meminta uang saku dan malahan meminta uang buat modal  padaku dan kau memang tidak mengecewakan ku”Tanya bapak kepada Soo</p>
<p>“Ya biasa appa,setelah aku mendapat kerja,perlahan aku menabung dan dengan modal yang bapak kasih aku bermain saham hingga kek yang bapak liat,aku sendiri da pny uang yang lumayan la untuk diriku sendiri”jawab soo dengan santai dan bangga</p>
<p>“trus mana pacar mu?ato omma jodohin ja?”sambil melirik ke Soo</p>
<p>“ne??Ani…ani…aku masih belum kepikiran buat menikah,aku ingin mencari uang yang banyak dulu”jawab Soo yang agak terkejut setelah tiba-tiba ditanya masalah pacaran</p>
<p>“Ato soo,kamu kerja sama bapak ja..nanti bapak berikan posisi bagus untuk mu”</p>
<p>Soo langsung menolak”ani…!!!”</p>
<p>@Soo PVO</p>
<p>“Hah..wew..kok Tanya masalah pacaran mendadak ya?apakah segitu pengenya omma dan appa mau punya cucu??”pikirku heran</p>
<p>Dan tiba-tiba ayah nawarin aku kerja di perusahaannya dan dengan spontan kujawab “Ani..!!”</p>
<p>“Aku ingin mandiri dan tidak ingin ada sangkut paut pekerjaan ku nanti dengan hubungan keluarga..susah nanti banyak gosip” pikirku sambil melahap makanan</p>
<p>yah..omma aku duluan ya..sambil langsung naik ke tangga</p>
<p>Saat terbaring tiba-tiba pikiranku mengingat wanita yang pernah aku dan hyung jumpai di saat ada audisi,gimana ya kabarnya,aku Cuma tau nya dia anggota SNSD yang terkenal itu</p>
<p>Dan saat memikirkan itu akupun tertidur</p>
<p>~in dream~(whoa..ni masih PVO nya Soo low^^)</p>
<p>“Trus hyung aku lihat kamu menyukai tuh gadis ya?jujur saja deh soalnya aku juga keknya penasaran juga sama tuh cew yg menang juara 1 td”Tanya ku pada hyung dan membuat hyung  terkejut dan Cuma dibalas dengan jawaban”ternyata cewek tuh membuat kita berdua menyukainya ya”</p>
<p>Kemudian hyung menggusulkan”gimana kalo kita bersaing secara adil..yang duluan menjadi penyanyi terkenal boleh menyatakan cinta pada cewek tadi walaupun akhirnya bakalan ditolak..setuju???”</p>
<p>Aku pun berpikir sih oke” aja..tapi apa taruhan ini masuk akal..tapi ya dah la</p>
<p>“ok”jawabku pada hyung..gak berapa lama kulihat dari arah kak hyung ada lampu terang dan kami pun terbanting…kami di TABRAK..!!! “apa aku akan mati muda??”sekilas pertanyaan itu muncul di benakku dan aku pun gak sadarkan diri..namun sekilas aku melihat hyung yang berlumuran darah melindungi ku dari serpihan-serpihan kaca.</p>
<p>Hah??ini dimana?kok terang berwarna putih..pikirku dalam hati..dan setelah melihat lebih jelas,aigoo ini di rumah sakit..HAH..!!berarti tabrakan tadi Bukan mimpi…!!</p>
<p>Akupun berlari dan bertanya dimana hyung ku…salah satu suster menggatakan hyung lagi di ruang UGD</p>
<p>Aku menunggu dokter keluar sambil berdoa,hatiku merasa tidak tenang,aku Cuma berharap hyung baik-baik saja..sesaat kemudian omma dan appa datang menanyakan gimana kondisi hyung</p>
<p>Aku berlutut di hadapan omma dan memberitahu bahwa tadi ada suster yang mengatakan kalo hyung menderita luka yang parah dan berada di UGD”</p>
<p>Omma yang mendengarkan terjatuh lemas dan di pikul appa</p>
<p>Setelah menunggu 1 jam dokter keluar dan Cuma menggelengkan kepala kepada appa dan omma dan mengatakan “Mianhamnida”</p>
<p>Aku pun langsung lari kedalam dan melihat hyung yang tertidur pulas walau bagaimanapun aku mengguncangnya dan memanggilnya..hyung yang selama ini menyayangiku dan mengalah padaku kini bahkan tidak bisa lagi mendengar suaraku</p>
<p>HYUNG…HYUNG…bangun Hyung..hiks..masalah cewek tadi kali ni aku akan mengalah dan membiarkan Hyung yang bersamany..makanya HYung bagunlah..hiks…hiks..”kataku sambil menangis dan memegang tangan Hyung</p>
<p>HYUUUNG…..!!!</p>
<p>Hah…!!lagi-lagi aku memimpikan hal ini pikirku sambil bangun dan ke toilet</p>
<p>Saat aku melihat kaca..aku mendapati pipi ku basah oleh air mataku..</p>
<p>Perasaan sedih inilah yang membuatku melarikan diri ke luar negeri buat kuliah..yang membuat aku membuang cita-citaku menjadi penyanyi seperti Hyung,pikirku dalam hati.</p>
<p>Setelah mandi dan sarapan aku putuskan untuk pergi membeli 1mobil untuk keperluanku sendiri</p>
<p>Dan aku pun memutuskan membeli 1 unit mobil LAMBORGHINI Raventon seharga $1,4juta</p>
<p>Yang akan nyampai dalam 2 minggu lagi</p>
<p>Kemudian aku memutuskan untuk berjalan ke Hyundai department store milik appa</p>
<p>#Hyundai department Store</p>
<p>“Wah dah lama kali aku tidak jalan-jalan kesini”kata Soo pada dirinya sendiri</p>
<p>Saat Soo sedang jalan-jalan terdapat sebuah toko game yang lengkap kelihatanya dan membuat Soo tertarik untuk mampir</p>
<p>Namun ada yang lebih menarik perhatian Soo di dalam toko itu</p>
<p>Salah seorang pembeli wanita memakai masker,topi,kaca mata dan syal</p>
<p>“Aneh tuh cew..padahal bukan musim dingin..tapi pake syal..topi..masker sama kacamata lagi” piker Soo dalam hatinya yang kebinggugan dan menarik perhatiannya.</p>
<p>Soo membeli kaset PS3 Final fantasy versus XIII dan saat membayar dia mengantri tepat di belakang gadis aneh itu</p>
<p>Siapakah gadis aneh yang menarik Perhatian Soo?apakah gadis ini adalah gadis yang disukai oleh ke 2 bersaudara ini? <strong>Continued….</strong></p>
<p><em>Aduh akhirnya chapter 2 selesai</em></p>
<p><em>Mungkin banyak pembaca yang heran..kok um muncul ya snsd,suju dan lainya..tapi tenang..snsd akan muncul kok di chapter ke 3</em></p>
<p><em>Karna itu mohon bantuanya di kritik dan saran agar dapat memberikan ku imajinasi</em></p>
<p><em>Thank’s sudah membaca^^</em></p>
<p><em>Dan thank’s juga ya buat author^^</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://fan3less.wordpress.com/category/fanfiction-korea/'>fanfiction korea</a> Tagged: <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/snsd/'>SNSD</a>, <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/super-junior/'>Super Junior</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fan3less.wordpress.com/11754/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fan3less.wordpress.com/11754/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fan3less.wordpress.com/11754/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fan3less.wordpress.com/11754/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fan3less.wordpress.com/11754/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fan3less.wordpress.com/11754/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fan3less.wordpress.com/11754/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fan3less.wordpress.com/11754/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fan3less.wordpress.com/11754/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fan3less.wordpress.com/11754/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fan3less.wordpress.com/11754/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fan3less.wordpress.com/11754/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fan3less.wordpress.com/11754/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fan3less.wordpress.com/11754/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fan3less.wordpress.com&amp;blog=8241797&amp;post=11754&amp;subd=fan3less&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/25/our-beloved-girl-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4e11ffec65306fa8048212455fc7ea6?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikariani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fragile Destiny (part 3 &#8211; end)</title>
		<link>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/24/fragile-destiny-part-3-end/</link>
		<comments>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/24/fragile-destiny-part-3-end/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 11:47:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nine</dc:creator>
				<category><![CDATA[fanfiction korea]]></category>
		<category><![CDATA[2pm]]></category>
		<category><![CDATA[2pm-Hwang Chansung]]></category>
		<category><![CDATA[2PM-Nichkhun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fan3less.wordpress.com/?p=12146</guid>
		<description><![CDATA[<img class="aligncenter" title="fragile destiny" src="http://fan3less.files.wordpress.com/2011/08/fragile-destiny1.jpg?w=640" alt="" width="420" height="313" />

Kenapa… kenapa takdir ini terasa begitu rapuh? Hanya ada beberapa jalan yang ditawarkan dan ketika menapaki salah satunya, kau bisa saja tersesat atau terjatuh karena sulitnya. Jalan yang dipilih… tidak jelas kemana ia akan membawa kita.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fan3less.wordpress.com&amp;blog=8241797&amp;post=12146&amp;subd=fan3less&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><span style="color:#000000;"><em>Dikarenakan saya hiatus sungguh sangat amat lamaaaaaa sekali, jadi saya memutuskan untuk membuat ringkasan cerita untuk part-part sebelumnya. Semoga bisa mengingatkan kembali cerita sebelumnya *kalau ada yg inget</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Yup! Enjoy the story</em></span></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;"><em>___________________________________________________________________</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em><strong>Ringkasan cerita :</strong></em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Chansung mendapati kejadian buruk di masa lalunya, dua tahun lalu ia dikhianati oleh klannya sendiri dan hal tersebut juga melibatkan Jiyeon, wanita yang di sayanginya itu akhirnya harus meninggal karenanya. Hal ini juga membuatnya terjebak masalah dengan klan Siloueta, karena Chansung sendirilah yang membunuh ketua dari klan tersebut. Waktu itu, tentu hidupnya akan berakhir jika ia tidak bertemu dengan Eliz. Wanita itu meyakinkan klannya sendiri –klan Siloueta— untuk bisa percaya pada Chansung bahwa ia tidak bersalah dalam kasus pembunuhan ketua mereka terdahulu. Eliz membawa Chansung untuk masuk ke dalam klan Siloueta, Klan yang didirikan atas dasar persaudaraan, setidaknya itu yang selalu mereka katakan. Eliz berusaha keras membantu Chansung bangkit dari keterpurukan, namun hal tersebut tidak cukup sampai membuatnya melupakan sosok Jiyeon. </em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Tetapi tanpa sepengetahuan Chansung, Eliz menyimpan sesuatu tentang kejadian dua tahun lalu yang menimpa laki-laki yang sangat disayanginya itu. Eliz tahu Chansung belum bisa menerima penuh kehadirannya, walau ia sudah berusaha selama  dua tahun lamanya. Asalkan Chansung masih ada di sisinya, itu sudah cukup tanpa Chansung harus melakukan apapun.</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Namun, kehadiran sosok Hyorin membuat segalanya berubah. Hyorin, wanita itu memiliki wajah yang seupa dengan Jiyeon. Lantas semenjak Chansung melihat Hyorin, ia jadi semakin sering menemuinya.</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Suatu ketika klan Siloueta mendapati satu kasus untuk membebaskan anggota klan mereka dari tangan polisi, namun hal tersebut ternyata melibatkan sosok Hyorin. Dan Chansung pun tidak bisa membiarkan Hyorin dalam keadaan bahaya, ia pun mengkhianati klannya itu untuk menyelamatkan Hyorin. Hal ini juga membuatnya dalam masalah yang sangat besar, Chansung disalahkan oleh dua pihak –klan Siloueta dan pihak kepolisian–. Namun Chansung tidak peduli, asalkan Hyorin selamat itu sudah cukup.</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Kali ini Eliz juga tidak bisa membantu apa-apa untuk Chansung. Ia tidak lagi bisa meyakinkan klannya untuk percaya pada Chansung, karena dirinya sendiri pun sudah ragu untuk percaya pada Chansung. Sebenarnya Eliz masih mencintai sosok pria itu, namun ia tak yakin bahwa pria itu mau memberi rasa yang sama terhadapnya. Eliz rasa semuanya sudah cukup, dan sudah waktunya untuk mengakhiri hubungannya dengan Chansung.</em></span></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;"><em>___________________________________________________________________</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Kalau masih merasa ringkasan ceritanya kurang jelas, bisa baca disini yaa ll <a href="http://fan3less.wordpress.com/2011/08/24/fragile-destiny-part-1/" target="_blank">Part 1</a> ll <a href="http://fan3less.wordpress.com/2011/08/29/fragile-destiny-part-2/" target="_blank">Part 2</a> ll</em></span></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;"><em> </em></span></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;"><em>Kenapa… kenapa takdir ini terasa begitu rapuh? Hanya ada beberapa jalan yang ditawarkan dan ketika menapaki salah satunya, kau bisa saja tersesat atau terjatuh karena sulitnya. Jalan yang dipilih… tidak jelas kemana ia akan membawa kita.</em></span></p>
<p align="center"><a href="http://fan3less.files.wordpress.com/2011/08/fragile-destiny1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-10181" title="fragile destiny1" src="http://fan3less.files.wordpress.com/2011/08/fragile-destiny1.jpg?w=640" alt=""   /></a></p>
<h3 align="center"><strong><span style="color:#000000;">FRAGILE DESTINY</span></strong></h3>
<p align="center"><strong><span style="color:#000000;">#Final Destiny#</span></strong></p>
<p><span style="color:#000000;">Sepi. Sekarang hanya hembusan halus deru angin yang terdengar. Suara gesekan daun-daun yang bergerak diterpa angin juga menjadi musik melankolis yang ada. Chansung masih berada di tempatnya, tidak bergerak sama sekali.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>“Aku, Kakakku… dua tahun lalu, kami yang merencanakan pembunuhan ketua kami terdahulu.”</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Apa maksudnya? Eliz, gadis itu… gadis yang pertama kali menawarkan pertolongan padanya. <em>Tega sekali kau!</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>“Kami… yang memanfaatkanmu untuk membunuh ketua kami itu. Sekarang kau pasti membenciku kan? Tapi itu memang pantas… ”</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Chansung mengepalkan tangannya kuat. Satu tinju keras dihentakkannya pada bangku kayu yang didudukinya. Perasaan apa yang tengah menyelimutinya kini? Chansung sendiri juga tak tahu. Kesal… tentu ia sangat kesal. Diantara sekian banyak orang busuk di dalam organisasinya, kenapa harus Eliz? Kenapa rasanya ia tidak rela jika Eliz terlibat dalam hal yang paling dibencinya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Tidak rela? Kenapa? Dari awal Chansung memang tidak peduli dengan Eliz. Ia dekat dengan Eliz karena Chansung merasa Eliz adalah orang baik yang telah menolongnya. Ia dekat dengan Eliz semata-mata hanya untuk membalas kebaikan Eliz selama ini.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Dan sekarang ia tahu, Eliz bukan orang yang sebaik itu. Eliz… dia licik.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em> “Aku memang orang jahat yang tidak pantas mendapat perlakuan baik dari siapapun… sampai kapanpun. Maaf untuk semuanya…”</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Apakah benar Eliz bukan orang yang baik?</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Chansung?”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Sebuah suara menyadarkannya. Jiyeon… eh, bukan itu Hyorin.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Maaf menunggu lama. Tapi, apa perlu kau terus mengikutiku sepanjang hari?”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Chansung menatap lama wajah itu. Rasanya sangat rindu melihat wajah itu. Ia pun langsung mendekap tubuh Hyorin dalam pelukannya. “Biarkan begini sebentar saja”, suara Chansung terdengar pelan nyaris seperti bisikan.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Hyorin agak memberontak pada awalnya. Namun perlahan ia menikmati rasa hangat itu. Hyorin merasa nyaman berada di dekat Chansung.</span></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;">***</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Rasa kantuk masih menjelajahi matanya. Berapa banyak obat bius yang diberikan dokter-dokter itu padanya, entahlah. Namun rasa haus mengalahkan rasa kantuknya. Tenggorokkannya terasa kering, kapan terakhir kali ia minum?</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Ia melirik ke samping kirinya. Air. Dan sekarang bagaimana caranya untuk mengambil benda itu. Jarum infus menahan tangan kanannya, sementara tangan kirinya… Ah, biar saja. Seorang Nichkhun tidak akan kalah hanya dengan goresan kecil yang ada ditangannya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Aaaw…” Saat mencoba menggerakkan tangan kirinya, rasa nyeri langsung menyerbunya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Luka tembak yang tepat bersarang di pundak kirinya itu masih menyisakan luka.  “Sial!!! Orang itu! Apa yang dipikirkannya,” umpatan kasar keluar saat ia melihat luka tembak itu.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Klek. Suara pintu kamarnya terbuka.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Hei, apa ini? Pasien seharusnya tidur, bukannya malah berteriak-teriak seperti itu.” Eliz datang membawakan beberapa buah segar.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Eliz, kau menemukan Chansung? Dimana orang itu?” ketika melihat Eliz yang datang, rentetan pertanyaan tentang ‘mantan sahabatnya’ langsung dilontarkan.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Eliz berjalan mendekati Nichkhun. Dan menaruh bingkisan yang dibawanya di meja kecil disamping tempat tidur Nichkhun. “Kau haus?”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Apa?&#8230;” Nichkhun tidak mengerti, Eliz tidak menjawab pertanyaannya. “Ya.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Eliz menuangkan segelas air untuk Nichkhun. Ia membantu Nichkhun untuk bangun, dan memberi segelas air itu untuknya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Eliz kau tidak menjawab pertanyaanku.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Tentang Chansung? Mengapa kau bertanya tentangnya padaku?”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Mata Nichkhun membelalak, dan ia menarik napas beberapa kali dengan goyah. Ia tahu saat ini Eliz belum menyelesaikan kalimatnya. Nichkhun memberinya ruang, memberinya waktu. Selama ini ia hanya menjadi teman, bahkan tidak mendekati batasan yang sudah diyakinkan dirinya sendiri.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Kau bertanya seolah-olah aku masih berhubungan dengan pengkhianat macam dia?” Eliz berkata ketus, walau demikian matanya seakan sembunyi dari tatapan Nichkhun.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Alisnya terangkat sebelah, “Benar. Tentu saja, pengkhianat tidak pantas dimaafkan.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Keduanya masih memikirkan kalimat yang telah dilontarkan oleh mulut mereka sendiri. Memang benar mereka hidup di dunia tanpa cahaya dengan kegelapan hati banyak orang. Tapi, terlalu banyak kenangan baik yang dirasakan mereka bertiga selama ini.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> “Kukira masih banyak yang harus aku benahi, klan sedang kacau dan Elliot masih koma. Dan kau, seharusnya besok kau sudah bisa keluar dari rumah sakit, jangan manja” sedikit senyum diberikannya dan Eliz pun pamit pergi.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Nichkhun memperhatikan kepergian gadis itu. Minggu lalu mereka bertiga –Nichkhun, Eliz, Chansung–  masih baik-baik saja. Dan saat ini&#8230; apa yang terjadi saat ini? <em>Chansung, kau sangat tolol!</em></span></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;">***</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Hyorin berjalan gontai melintasi gang kecil menuju rumahnya. Kadang ia tak sanggup berada di dekat Chansung. Semakin hari ia semakin sering merasakannya karena ada satu hal yang masih menggelayuti pikirannya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Ia rasakan saat lelaki itu mengulurkan tangannya, menyentuhnya, dan ia merasa nyaman. Perpisahan Chansung dan Eliz akan membuat lelaki itu lebih bersikeras ingin bersamanya. Tapi tidak benar&#8230; hal ini salah.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>“Hyorin, sikapmu yang sekarang sama saja dengan mencampuri kehidupan orang lain.”</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>“Tapi, dia yang lebih dulu menemuiku.”</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Ya, bukan salahnya. Chansung yang terlebih dulu mengganggunya. Datang tiba-tiba dalam kehidupannya. Dan tanpa sadar membuatnya merasa nyaman.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>“Kenapa tidak menghindarinya? Padahal kekasihnya datang menemuimu. Kau benar-benar tidak tahu diri.”</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>“Yaa Minra! Masa kau tega berkata seperti itu pada sahabatmu.”</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em> “Jangan lupa Hyorin, kau punya kehidupanmu sendiri.”</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Hyorin menyadari satu fakta tidak menyenangkan,  dan ia harus segera memutuskan.</span></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;">***</span></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;"><em>Kenangan tidak akan bisa diubah, namun berbeda dengan masa depan.Tak ada yang bisa menebak apa yang terjadi di masa depan.</em></span></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;">***</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Seorang gadis kecil menangis tersedu-sedu di depan pusara kedua orang tuanya. Padahal kemarin, mereka berdua baik-baik saja, mereka masih tertawa bersama. Namun masa depan tidak bisa ditebak, semua terjadi begitu saja tanpa diketahui kapan dan bagaimana.</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Seorang bocah laki-laki –terlihat lebih tua dibandingkan gadis kecil itu– menghampirinya, menghapus air mata yang mengalir deras dari mata adiknya. “Jangan menangis lagi Eliz, Ayah dan Ibu pasti tidak ingin melihat kau menangis, aku berjanji akan selalu melindungimu&#8230; jangan menangis ”</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Eliz menatap kakaknya yang berusaha untuk tersenyum tegar. Ia yakin Elliot juga sedih dengan kepergian orang tua mereka.</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>“Aku akan menjadi kakak yang terbaik di dunia, untukmu”, Elliot masih tersenyum.</em></span></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;">***</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pusara itu masih sama, namun kondisinya sudah terlihat sangat tak terurus. Rerumputan liar menghiasi makam itu. Terlihat seperti tak pernah ada yang mengunjungi makan itu. Seorang gadis terlihat berdiri di samping pusara itu.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Ia berjongkok, mengamati kedua pusara itu lekat. Wajahnya terlihat letih, seakan tak sanggup akan panjangnya hidup yang ditempuhnya. Kedua tangannya mencabuti rerumputan liar, di sekitar pusara itu. Lama, akhirnya bulir-bulir air itu menghiasi wajahnya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Lagi, dipusara yang sama Eliz menangis.</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Ayah&#8230; Ibu&#8230; aku,” eiz berhenti sejenak. “Rasanya aku ingin mati saja” ucapan itu terdengar sangat lemah dan parau. Terdengar keputusasaan yang mengalun dalam ucapannya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em> </em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>“Jangan menangis lagi Eliz, Ayah dan Ibu pasti tidak ingin melihat kau menangis, aku berjanji akan selalu melindungimu&#8230; jangan menangis ”</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em> “Aku akan menjadi kakak yang terbaik di dunia, untukmu”,</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Ia meninju keras tanah yang dipijaknya. “Bodoh! Mana janjimu untuk melindungiku?”, Eliz semakin terisak.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Aku.. tidak mau sendirian”, suaranya terdengar sangat halus diantara hembusan angin kencang. Ia mulai beranjak dari tempat duduknya, memandang kembali sekilas pusara itu. Tersirat suatu rasa terkhianati dalam pandangannya, namun kelamaan pandangan tersebut erubah lembut.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Ayah, Ibu, tolong jaga Elliot”</span></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;">***</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Langkah kaki yang berderu kencang terdengar semakin keras menuju ruang yang ditempatinya. Ia tidak sendirian, beberapa orang juga ada di sana. Para anggota klan yang setia menunggu kabar atas kondisi ketua mereka.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Orang-orang yang berlari itu tepat berhenti di depan pintu kayu. Raut wajah mereka menggambarkan sesuatu yang tidak baik. Lama mereka terdiam, dan akhirnya salah satu diantara mereka bersuara.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Ketua Park. Dia&#8230; meninggal.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Kabar itu berlangsung begitu cepat. Semua yang ada di ruang itu tertunduk. Tapi entahlah, tertunduk sedih atau karena inilah kesempatan mereka untuk menempati tempat yang telah kosong itu.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Nichkhun menghela napas panjang, ia orang pertama yang meninggalkan ruangan itu. Ia tidak peduli dengan tetek bengek masalah organisasi klannya. Lagipula cepat atau lambat klan mereka akan segera diburu polisi, kecuali ada yang bisa memanipulasi kejadian waktu itu dan mengkambinghitamkan orang lain atas kesalahan yang dibuat bersama.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Kini ada satu hal yang lebih penting. Eliz. Dimana wanita itu sekarang? Di saat seperti ini malah menghilang entah kemana.</span></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;">***</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Bagaimana dengan Chansung, anjing busuk itu bisa dijadikan umpan”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Ya, sepertinya bisa. Lagipula dia sudah tidak berguna lagi sejak park bersaudara itu sudah tidak ada.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Maksudmu Eliz juga sudah mati?”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Entahlah, tapi yang jelas wanita itu tidak akan berani menampakkan wajahnya lagi di depan klan Siloueta karena tindakan kekasih busuknya itu.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Kau benar. Tapi&#8230; sepertinya memanfaatkan chansung akan lebih sulit dari yang kita perkirakan, kita harus menyiapkan rencana yang spesial”</span></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;">***</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Kali ini Hyorin sudah menyiapkan hatinya, ia yakin ini adalah pilihan yang tepat untuk mereka. Ada secuil rasa ragu, namun ia punya jalan  hidupnya sendiri.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Kini ia tepat tengah duduk dalam sebuah restaurant tempat mereka bertemu pertama kali, setidaknya Chansung yang mengatakan demikian. Tak lama menunggu, denting bel restaurant itu berbunyi. Chansung berdiri disana, tepat di sebrangnya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Ah, senyumnya terlontar ke arah Hyorin. Bagaimana bisa Hyorin mengabaikan senyum pria itu. <em>Tidak boleh, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri.</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Hai, sudah lama menunggu?” Chansung segera menempatkan dirinya berhadapan dengan Hyorin.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Saat itu Hyoin hanya tersenyum.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Ada apa tiba-tiba kau ingin betemu denganku? Apa kau serindu itu padaku?”, Chansung sedikit bergurau.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Hyorin melihat pria itu tersenyum. Lagi.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Jadi, ada apa?”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Hyorin tersadar, “Ah, sebenarnya Chansung&#8230;”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Diperlihatkannya sebuah cincin yang menghiasi jari manisnya. Chansung tampak tidak begitu mengerti apa yang hendak Hyorin sampaikan.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Chansung, aku sudah bertunangan”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Chansung terlihat membatu sejenak sebelum sempat merespon apapun, “maksudmu?”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Aku akan segera menikah&#8230; dengan orang lain.” Hyorin berusaha terlihat meyakinkan akan kalimat yang diucapkannya, “Aku tidak bisa menjadi Jiyeonmu, lagipula aku bukan Jiyeon aku&#8230; Hyorin.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Chansung segera ingin menyanggah Hyorin, namun Hyorin tidak memberi kesempatan.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Kau harus berpikir baik-baik. Jika aku tidak memiliki wajah yang sama dengan Jiyeon, apa kau akan sedekat ini padaku?”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Chansung tidak menjawab.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Sadarkah kau, ada orang lain yang sangat mencintaimu. Bahkan lebih dari cintamu pada sosok Jiyeon.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Chansung mennoleh pada Jiyeon, ia mencoba menerawang kalimat yang baru saja dilontarkannya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Aku pergi. Dan&#8230;” Hyorin menoleh pada Chansung sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu. “Jaga dirimu baik-baik, dan satu lagi&#8230; jangan biarkan semuanya terlambat karena kebodohanmu.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Kali itu Hyorin benar-benar pergi. Dan Chansung pun membiarkannya pergi, ia tidak  mencegahnya sedikitpun. Tidak ada perasaan mengganjal sama sekali, berbeda dengan kepergian&#8230; Eliz.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Eliz?</em> Kenapa tiba-tiba Chansung mengingat gadis itu.</span></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;">***</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Sakit. Hyorin memegang bagian dadanya, ada sesuatu yang membuatnya sesak disana. <em>Kau melakukan yang benar Hyorin.</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Hyorin berusaha kuat meyakinkan dirinya. Kenyataan bahwa ia menyukai Chansung, itu tidak salah sama sekali. Tapi kenyataan itu seharusnya tidak pernah terjadi, pertemuannya dengan Chansung, rusaknya hubungan Eliz dan Chansung&#8230; ia telah mengubah banyak hal yang seharusnya tidak terjadi.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Tetapi apa benar ini semua salahnya? Cinta&#8230; perasaan itu datang begitu saja, bahkan sebelum ia sempat mengetahuinya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Hyorin, hyorin&#8230; kau melakukan hal yang benar”, ia berusaha tersenyum tegar.</span></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;">***</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Bunuh dia, secepatnya&#8230; untuk klan kita yang berjaya. Klan Silouetta”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Semua orang yang berada dalam ruang rapat itu tersenyum penuh arti, mungkin mereka pikir setelah masalah ini selesai, klan Silouetta akan meraih kembali masa jayanya dengan pemimpin baru.</span></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;">***</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Sudah nyaris tengah malam, dan malam itu Chansung tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Padahal ia pun baru tertidur pukul sebelas malam, berarti ia hanya mengistirahatkan matanya kurang dari satu jam saja.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Chansung memutuskan untuk mengambil segelas air untuk menjernihkan pikirannya. Tanpa menyalakan lampu-lampu kamar, ia langsung menuju dapur kecilnya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Ia mengambil minuman dingin dari kulkasnya, dan membiarkan kulkasnya terbuka begitu saja. Membuatnya sebagai satu-satunya penerangan di ruang itu. Baru saja Chansung akan menuangkan minuman itu, tiba-tiba ia merasakan suatu benda dingin tepat dibelakang kepalanya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Sejak kapan kau jadi tidak waspada begini?”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Suara itu memecah keheningan di tengah malam itu.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Kau tentu tidak lupa atas perbuatanmu padaku kan?”, laki-laki itu kini berputar berhadapan dengan Chansung. Sebelum melihat wajah laki-laki itu, Chansung sudah mengetahui identitasnya. Bagaimana ia bisa lupa dengan suara yang akrab itu.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Nichkhun, apa kau mendapat perintah untuk membunuhku?”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Ya, dan tanpa mendapat perintah pun, aku akan melakukan hal yang sama.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Apa kau secengeng itu, hanya mendapat luka kecil dariku dan kau ingin membalas dendam padaku?”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Bodoh! Sampai kapanpun kau tetap sebodoh ini ya,” Nichkhun tetap menodongkan pistolnya. “Klan kita kacau, ketua park meninggal dan kau tahu? Aku tidak peduli, aku malah senang klan itu hancur, tapi&#8230;”</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Elliot park meninggal? Kakak Eliz meninggal? </em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Kau tahu siapa yang paling menderita karena ini? Chansung, kau pasti tahu kan.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Satu sosok bayangan langsung muncuul di benak Chansung. Gadis itu sendirian, dengan semua masalah yang dibuatnya. Eliz</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Brukk! Satu tinju keras dilemparkan Nichkhun pada Chansung, dan berhasil membuat sudut bibir Chansung memar seketika. “Kurasa itu belum cukup untuk melampiaskan kekesalanku padamu, tapi kau sebaiknya segera pergi dari tempat ini.” Nichkhun memperingatkan.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Krek!</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Terdengar suara kenop pintu yang terbuka sangah halus. Nichkhun tahu gerombolan klannya sudah sampai di tempat ini untuk memburu Chansung. “Pergilah. Biar aku yang tangani para tikus busuk itu.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Chansung melihat Nichkhun, ia masih Nichkhun yang sama&#8230; Nichkhun sahabatnya. “Apa kau sanggup menghadapi mereka sendirian?”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Kau pikir aku siapa? Aku Nichkhun, tidak akan mati hanya karena tikus-tikus kecil itu,” katanya sambil berbisik tegas. Terlihat sangat percaya diri.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Thanks Brotha.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Dan kau, hilangkan sifat bodohmu itu. Satu lagi&#8230; jaga Eliz”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Chansung tersenyum, “Pasti.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Setelah itu Chansung segera berlari menuju basement. Diselimuti rasa panik ia mencari mobilnya, <em>Ah sial dimana ia meletakkan mobilnya?</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Akhirnya ia menemukan mobilnya. Dorr! Peluru itu baru saja lewat sekitar satu sentimeter di samping pelipisnya. Chansung siaga dengan pistol di sakunya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Ia sigap bebalik, dan saat itu ia meihat sosok wanita yang dicarinya. Eliz tepat berdiri dihadapannya dengan pistol yang mengarah pada Chansung.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Eliz?”</span></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;">***</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>“Kami sungguh menyesal atas kematian kakakmu, Eliz.” Suara pria itu benar-benar terdengar memuakkan, Eliz tahu laki-laki itu sama sekali tidak menyesali apapun. “Ketua park, adalah yang terbaik, klan Silouetta sangat berduka.”</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>“Semua ini pasti tidak akan terjadi jika, laki-laki busuk itu tidak mengacaukannya.” Pria lain menimpali. “Semua kekacauan ini, kematian ketua park, semua itu karena Chansung.”</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Eliz mencermati kalimat itu baik-baik. Chansung? Karena Chansung? Benar, semua ini terjadi karena Chansung.</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>“Kalian benar. Laki-laki itu harus mendapat ganjarannya,” ujar Eliz.</em></span></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;">***</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Eliz?”</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> “Aku ingat, seminggu yang lalu kuanggap diriku orang paling bahagia sedunia, diantara semua makhluk ciptaan Tuhan,” Eliz berhenti sejenak. “Kau tahu? Aku sudah memikirkan semuanya, aku dan kau yang akan keluar dari klan, lalu menikah, hidup normal layaknya orang-orang biasa, dan&#8230;” kali ini sorot matanya tidak menatap Chansung, entah apa yang dilihatnya namun Eliz terlihat sangat frustasi.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Benarkah itu baru seminggu yang lalu? Bukannya ratusan abad yang lalu”, eliz bergumam kecil, bahkan nyaris tidak dapat terdengar oleh siapapun selain dirinya sendiri. Suaranya terdengar miris.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Tangan kanannya yang memegang pistol mulai terangkat, mengarah pada Chansung. “Apa kau tahu? Sekarang semuanya serasa runtuh menimpaku.” Tanpa gemetar sama sekali, pistol itu masih mengarah pada Chansung dengan pandangan matanya yang sama berbahaya dengan senjata yang sedang digenggamnya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Eliz..” Chansung pun tidak nampak takut ataupun gemetar sama sekali. Ia terus berjalan mendekati Eliz. “Maaf, tidak.. mungkin kata maaf tidak cukup.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Sekarang jarak diantara mereka kurang dari satu meter, tetap denga Eliz yang mengacungkan pistol dan Chansung yang terus mendekatinya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Kau pikir aku tidak akan berani menembakmu?” Eliz berkata garang.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Dan Chansung hanya tersenyum kecil menanggapinya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">DORR!!! Suara tembakan itu terdengar nyaring. Darah mengalir deras dibagian sudut bahu Chansung. Namun hal itu tidak menghentikannya untuk semakin mendekati Eliz. Tepat dihadapan Eliz, Chansung berlutut.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Kalau kau rasa membunuhku cukup untuk menggantikan segala hal buruk yang menimpamu&#8230; silahkan, lakukan saja” suara Chansung terdengar sangat tenang. “Eliz, kau tahu? Ada satu hal yang perlu kau ketahui, bahkan hal ini pun baru saja kuketahui.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Mendengar suara tenang Chansung yang mengalun lembut di telinganya membuat tangan Eliz mengendurkan pegangan pistolnya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Aku tahu, walaupun saat ini tidak ada yang bisa kau percaya di dunia ini setelah semua yang terjadi&#8230; termasuk kesalahanku, tetapi percayalah aku mencintaimu. Eliz, aku mencintaimu, sepenuh hatiku.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Tidak&#8230; tidak ada yang salah dengan pendengarannya. Eliz yakin, Chansung mengatakan bahwa ‘Chansung mencintainya’. Tidak ada rekayasa dalam kalimatnya, Eliz mengenal Chansung dengan baik, ia bukan tipe orang yang mengatakan suatu hal yang tidak benar-benar diyakininya. Tetapi, kenapa? Kenapa sekarang? Kenapa baru saat ini?</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Sudah kubilang Eliz, jika kau merasa membunuhku dapat mengobati semuanya&#8230; lakukan saja.” Chansung tersenyum miris, “Saat ini, aku terlalu bodoh untukmu kan? Ini pilihan terakhirmu Eliz..”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“BODOH! Kau memang bodoh, sangat bodoh, sampai kapanpun.” Eliz sadar, saat ini air matanya mulai mengalir membasahi pipinya. “Kau&#8230;” Eliz memegang erat pistolnya kembali, mengacungkannya tepat di kepala Chansung.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">DORR!!!</span></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;">***</span></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;"><em>aku berjanji akan selalu melindungimu&#8230; jangan menangis.</em></span></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;">***</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pusara itu masih baru, terlihat dari tanahnya yang masih basah dan merah. “Elliot, sekarang aku yang akan menjaga adikmu, aku tidak akan membiarkannya menangis lagi. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya.” Chansung melirik gadisnya, ia merangkul Eliz dengan sebelah tangannya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Kami akan melewati jalan yang berbeda sekarang, jalan yang lebih terang dan tenang”, Eliz menambahkan. Ia menoleh pada Chansung, “Ada yang ingin kutanyakan. Ehm.. bagaimana kau tahu aku tidak akan menembakmu saat itu?”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Chansung mengelus puncak kepala Eliz, “Bagaimana kau bisa membunuh orang yang baru saja menyatakan cinta padamu? Apalagi orang itu adalah pria yang paling dicintainya.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Memangnya aku masih mencintaimu?”, Eliz mengetes Chansung.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Aku tidak peduli. Yang jelas pria dihadapanmu ini mencintaimu sepenuh hatinya.” Chansung berhasil membuat gadisnya itu tersenyum.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Hei, kalian berdua. Sampai kapan aku harus menunggu kalian” Nichkhun sudah berkoar-koar tidak jelas di depan mobilnya. “Ayolah, banyak yang harus kita urus.”</span></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;"><em>Harapan akan muncul di tengah kegelapan, ditengah segala kegundahan. Percayalah harapan itu pasti ada. Dan cinta, kekuatan yang terus memberi alasan bertahan hidup untuk setiap manusia. Hidup yang rapuh pun, akan menjadi kokoh karenanya.</em></span></p>
<p align="center"><span style="color:#000000;">_END_</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> *ditunggu comennya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </span></p>
<br />Filed under: <a href='http://fan3less.wordpress.com/category/fanfiction-korea/'>fanfiction korea</a> Tagged: <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/2pm/'>2pm</a>, <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/2pm-hwang-chansung/'>2pm-Hwang Chansung</a>, <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/2pm-nichkhun/'>2PM-Nichkhun</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fan3less.wordpress.com/12146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fan3less.wordpress.com/12146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fan3less.wordpress.com/12146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fan3less.wordpress.com/12146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fan3less.wordpress.com/12146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fan3less.wordpress.com/12146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fan3less.wordpress.com/12146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fan3less.wordpress.com/12146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fan3less.wordpress.com/12146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fan3less.wordpress.com/12146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fan3less.wordpress.com/12146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fan3less.wordpress.com/12146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fan3less.wordpress.com/12146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fan3less.wordpress.com/12146/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fan3less.wordpress.com&amp;blog=8241797&amp;post=12146&amp;subd=fan3less&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/24/fragile-destiny-part-3-end/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/634230e7cbdded1552f6eba5096dfd70?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nine junki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fan3less.files.wordpress.com/2011/08/fragile-destiny1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">fragile destiny1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HOW CAN I ( Part &#8211; 8 End )</title>
		<link>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/24/how-can-i-part-8-end/</link>
		<comments>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/24/how-can-i-part-8-end/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 00:06:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dikariani</dc:creator>
				<category><![CDATA[fanfiction korea]]></category>
		<category><![CDATA[DBSK]]></category>
		<category><![CDATA[Hiro-Jaejoong]]></category>
		<category><![CDATA[Max-Changmin]]></category>
		<category><![CDATA[Mickey-Yoochun]]></category>
		<category><![CDATA[U know-Yunho]]></category>
		<category><![CDATA[Xiah-Junsu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fan3less.wordpress.com/?p=11752</guid>
		<description><![CDATA[HOW CAN I   By                           : NantHa Cast                       : Kim Jaejoong, Kim Junsu Other Cast          : Jung Yunho, Park Yoochun (numpang lewat), Shim Changmin (numpang lewat juga) Genre                   : Romance Disclaimer          : FF ini hanya fiksi beLaka, hasiL imaJinasi dari autHor.. semoga para rEaDer suka sama ceriTanya.. sLamaT memBaca dan Jangan LuPa tinggaLin commenT kaLian&#160;&#8230; <a href="http://fan3less.wordpress.com/2012/01/24/how-can-i-part-8-end/">Read&#160;more</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fan3less.wordpress.com&amp;blog=8241797&amp;post=11752&amp;subd=fan3less&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>HOW CAN I</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<h2><span style="color:#ff0000;"><strong>By                           : NantHa</strong></span></h2>
<p><strong>Cast                       : Kim Jaejoong, Kim Junsu</strong></p>
<p><strong>Other Cast          : Jung Yunho, Park Yoochun (numpang lewat), Shim Changmin (numpang lewat juga)</strong></p>
<p><strong>Genre                   : Romance</strong></p>
<p><strong>Disclaimer          : FF ini hanya fiksi beLaka, hasiL imaJinasi dari autHor.. semoga para rEaDer suka sama ceriTanya..</strong><strong> sLamaT memBaca dan Jangan LuPa tinggaLin commenT kaLian yaH..</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>&gt;&gt; Part 8..</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Hye In berlari menyusuri koridor rumah sakit secepat yang ia bisa. Beberapa kali ia nyaris menabrak orang-orang yang berada di koridor, namun seolah tidak peduli, Hye In terus saja berlari menuju satu tempat yang ditujunya.. ruang tempat Jaejoong dirawat.</p>
<p>Hye In memperlambat langkahnya ketika ia telah tiba di depan ruangan tempat Jaejoong dirawat. Perlahan ia membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Ia bisa melihat beberapa orang tengah berdiri mengelilingi ranjang tempat Jaejoong berbaring. Ada Junsu, So Hee, Yunho dan juga dokter Han, appanya So Hee sekaligus dokter yang menangani penyakit Jaejoong.</p>
<p>“Hye In-a..” Panggil So Hee yang menyadari kehadiran Hye In di tempat itu, membuat yang lainnya mengalihkan pandangan mereka ke arah Hye In.</p>
<p>“Jaejoong oppa..”  Ujar Hye In sambil menatap mereka semua satu persatu. Semuanya terlihat menundukkan kepala saat mendengarnya menyebut nama Jaejoong.</p>
<p>Hye In melangkah mendekat menghampiri ranjang tempat Jaejoong berbaring. Junsu dan So Hee langsung menggeser posisi mereka, membiarkan Hye In berdiri di antara mereka berdua di samping ranjang. Dari tempatnya berdiri sekarang, Hye In bisa dengan jelas melihat sosok Jaejoong yang tengah terbaring di atas ranjangnya. Wajah Jaejoong masih terlihat sangat pucat, kedua mata namja itu pun masih tertutup rapat, sama seperti saat ia melihatnya kemarin. Yang berbeda adalah, saat ini tidak ada lagi berbagai peralatan medis yang menempel di tubuh kurus Jaejoong. Dan wajah itu.. wajah Jaejoong terlihat begitu tenang dan damai.</p>
<p>“Jaejoong hyung..” Ujar Junsu lirih, membuat Hye In mengalihkan pandangan dari sosok Jaejoong dan berganti menatap ke arahnya. Ia sendiri menatap Hye In dengan kedua matanya yang memerah dan basah oleh air mata. “.. dia sudah pergi, untuk selamanya..” Tambahnya dengan suara parau. Setetes air mata kembali mengalir mulus dari sudut matanya.</p>
<p>Hye In menggelengkan kepalanya sambil terus menatap Junsu. Bukan kalimat itu yang ingin ia dengar. Ia tidak ingin mempercayai kata-kata namja itu. Ia berharap bahwa apa yang baru saja didengarnya adalah suatu kesalahan. Junsu pasti salah bicara. Bukan hal itu yang seharusnya dikatakan Junsu.</p>
<p>“Andwae..” Gumam Hye In lirih seraya mengalihkan pandangannya dari Junsu, kembali menatap sosok Jaejoong yang berada di hadapannya. Benarkah sosok itu sudah tidak bernyawa?</p>
<p>Perlahan tangan Hye In terulur dan menggenggam pergelangan tangan Jaejoong, mencoba merasakan denyut nadi namja itu, tapi Hye In tidak berhasil merasakannya. Pandangan Hye In kemudian terarah ke dada Jaejoong. Tidak ada gerakan naik turun yang menandakan bahwa namja itu tengah bernafas. Tubuh Jaejoong benar-benar terbujur kaku di atas ranjangnya, membuat Hye In sadar bahwa apa yang dikatakan Junsu benar, Jaejoong telah pergi untuk selamanya.</p>
<p><em>‘Tuhan, inikah caramu mengabulkan permintaanku? Aku minta supaya Engkau menghilangkan penderitaan Jaejoong oppa karena penyakitnya.. inikah caramu menghilangkan penderitaannya? Dengan membawanya ke sisi-Mu?’</em></p>
<p>Air mata mulai mengalir deras membasahi wajah Hye In. Ia sama sekali tidak menyangka Jaejoong akan pergi secepat ini.</p>
<p>“Oppa..”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>Junsu hanya bisa tertunduk lemah sambil terus menangis. Hal ini merupakan suatu pukulan yang begitu berat baginya. Junsu harus kembali kehilangan orang yang sangat penting dan berarti dalam hidupnya. Ia telah kehilangan kedua orang tuanya beberapa tahun yang lalu karena suatu kecelakaan. Kini, satu-satunya yang tersisa, hyung semata wayangnya juga pergi meninggalkannya untuk selamanya. Dan bukan hanya itu, ia bahkan harus menyaksikan orang yang sangat disukainya tengah menangisi kepergian hyungnya. Panggilan lirih yeoja itu pada hyungnya, dan juga isak tangis yeoja itu semakin melengkapi kepedihan hatinya saat ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>Siang itu, langit terlihat gelap dan mendung. Rintik-rintik hujan mulai turun membasahi area pemakaman, seolah langit pun merasakan kesedihan yang sama seperti yang dirasakan orang-orang yang tengah berada di depan sebuah makam, dengan nisan bertuliskan sebuah nama.. Kim Jaejoong.</p>
<p>Seorang namja, duduk bersimpuh dengan rangkaian bunga di tangannya, menatap pilu gundukan tanah di hadapannya. Perlahan, rangkaian bunga itu ia simpan di depan nisan, lalu tangannya terulur menyentuh nisan itu dengan lembut.</p>
<p>“Hyung.. bagaimana aku harus menjalani hidupku tanpamu? Sekarang aku hanya sendiri.. benar-benar sendiri.. tidak ada omma, tidak ada appa, tidak ada kau..”</p>
<p>Namja itu tertunduk dalam, mencoba menyembunyikan tangisannya dari orang-orang yang juga ada di area pemakaman bersamanya. Ia sadar, bahwa cepat atau lambat ia akan menghadapi hal ini. Ia juga sudah berusaha mempersiapkan dirinya untuk bisa menerima kenyataan ini. Sesungguhnya ia ingin terlihat kuat dan tegar, tapi kepedihan hatinya terlalu jelas untuk bisa disembunyikan.</p>
<p>“Junsu-a.. ini sudah takdir Tuhan, kita semua harus bisa menerimanya dengan ikhlas.. biarkan Jaejoong beristirahat dengan tenang di sisi-Nya..”</p>
<p>Namja itu, Kim Junsu, menghela nafas berat, mencoba menenangkan dirinya sendiri yang terlalu larut dalam kesedihan. Ucapan So Hee memang benar, meski berat, ia harus bisa menerima kepergian Jaejoong hyungnya dengan ikhlas.</p>
<p>“Lagipula kau tidak sendirian , Junsu-a.. ada aku di sisimu.. bukankah aku ini noonamu?”</p>
<p>Junsu mengalihkan pandangannya ke samping, menatap lekat sosok So Hee yang kini telah duduk bersimpuh di sampingnya.</p>
<p>“Noona..”</p>
<p>“Aku tidak akan membiarkanmu merasa sendirian dan kesepian, Junsu-a.. kau tidak sendiri, kau masih memiliki keluarga.. masih ada aku dan appa..”</p>
<p>“So Hee benar, kau tidak sendirian.. ada kami, keluargamu..”</p>
<p>Junsu mengalihkan pandangannya pada sosok dokter Han, appanya So Hee sekaligus pamannya, yang ikut bersimpuh di sampingnya sambil mengelus lembut kepalanya. Ucapan So Hee dan appanya membuat perasaan Junsu menjadi hangat. Mereka benar, dia tidak sendirian, ia masih memiliki keluarga yang begitu peduli dan menyayanginya.</p>
<p>Junsu mengulas sebuah senyum di sela-sela tangisnya, sebelum akhirnya kembali mengarahkan pandangannya ke depan, tempat makam Jaejoong hyungnya berada.</p>
<p><em>‘Mianhae, hyung.. karena aku sempat tidak bisa merelakan kepergianmu.. beristirahatlah dengan tenang dan tidak perlu mencemaskanku.. aku akan berusaha menjaga diriku dan hidup bahagia, seperti apa yang kau inginkan.. aku janji..’</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>                Hye In menyentuh pipinya yang telah basah oleh air mata dengan tangannya. Perlahan jari tangannya bergerak, menyeka air mata yang membasahi pipinya. Pemandangan yang tengah ia saksikan membuatnya terharu. Junsu terlihat tengah terisak pelan sambil memandangi makam Jaejoong dengan So Hee dan appanya yang berada di samping kanan dan kirinya. Meski demikian, namja itu sepertinya sudah mulai bisa merelakan hyungnya yang telah tiada, dan hal itu membuat Hye In merasa sedikit lebih lega. Entah mengapa, melihat Junsu yang begitu terpukul karena kehilangan hyungnya membuat hatinya semakin perih. Hye In tidak ingin melihat Junsu bersedih, ia merindukan senyum ceria namja itu.</p>
<p><em>‘Tuhan, aku mohon berikan kami kekuatan untuk bisa dengan ikhlas melepas Jaejoong oppa kembali ke sisi-Mu..’</em></p>
<p>Hye In memejamkan kedua matanya seraya memanjatkan doa pada Tuhan. Matanya kembali terbuka saat ia merasakan sebuah sentuhan di bahu kanannya. Hye In menolehkan kepalanya ke samping kanan dan mendapati Yunho tengah menatapnya dengan lembut sambil mengulas sebuah senyum.</p>
<p>“Neo gwaenchanha?”</p>
<p>Hye In menganggukkan kepalanya perlahan sambil tersenyum untuk menunjukkan pada Yunho bahwa dirinya baik-baik saja.</p>
<p>“Aku tahu kau juga terpukul atas kepergian Jaejoong, sama seperti Junsu dan kami semua yang ada di sini.. karena kau juga sangat menyayangi Jaejoong, sama seperti kami.. benar kan?”</p>
<p>Sekali lagi Hye In menganggukkan kepalanya seraya berkata, “Ne.. tapi seperti yang dikatakan So Hee eonni, ini sudah takdir Tuhan dan kita harus bisa menerimanya dengan ikhlas..”</p>
<p>“Syukurlah, kau bisa tegar seperti ini..”</p>
<p>Hye In kembali tersenyum sebelum akhirnya mengarahkan pandangannya ke depan, menatap makam di hadapannya sambil membayangkan wajah Jaejoong yang tengah tersenyum bahagia.</p>
<p><em>‘Selamat jalan, oppa.. berbahagialah kau di sana..’</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>Lima hari sejak kepergian Jaejoong..</p>
<p>Hye In duduk sendirian di taman belakang kampus, bersandar pada sebuah pohon rindang dimana Jaejoong mengukir dua huruf J pada batang pohon itu. Pandangan Hye In menerawang ke arah langit yang terlihat carah.</p>
<p>“Jaejoong oppa.. bagaimana kabarnya di sana?”</p>
<p>Hye In bertanya lirih, yang sebenarnya lebih ditujukan pada dirinya sendiri. Tatapannya kemudian beralih pada rerumputan hijau yang tumbuh di sekitarnya.</p>
<p><em>‘Dan Junsu.. apa dia baik-baik saja..?’</em></p>
<p>Hye In mendesah berat, mendapati kenyataan bahwa dirinya sama sekali tidak tahu bagaimana kabar Junsu saat ini. Hye In tidak pernah lagi bertemu dengan Junsu sejak pertemuan terakhir mereka di pemakaman Jaejoong. Setiap hari Hye In selalu menyempatkan diri melewati kelas Junsu, tapi namja itu tak pernah terlihat ada di kelasnya. Sepertinya Junsu memang belum kembali kuliah, dan hal itu justru membuat Hye In semakin mencemaskan keadaan Junsu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>Tujuh hari sejak kepergian Jaejoong..</p>
<p>Hye In menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruang kelas Junsu, memperhatikan satu persatu mahasiswa yang keluar dari kelas itu. Tidak ada sosok Junsu di antara mereka, bahkan hingga kelas kosong sosok Junsu tetap tidak muncul.</p>
<p>Hye In mendesah kecewa. Lagi-lagi ia tidak berhasil melihat Junsu. Namja itu belum juga kembali kuliah.</p>
<p>“Apa kau mencari Kim Junsu?”</p>
<p>Hye In yang sudah nyaris beranjak dari tempatnya, urung melangkah saat mendengar sebuah pertanyaan yang sepertinya diajukan padanya. Perlahan Hye In menolehkan kepalanya dan mendapati dua orang namja yang ia tahu bernama Yoochun dan Changmin tengah menatapnya.</p>
<p>“Hari ini juga Junsu tidak kuliah..”</p>
<p>“Apa kau ada perlu dengannya? Kenapa tidak mencoba menghubunginya saja?”</p>
<p>Hye In menundukkan kepalanya, membuat Yoochun dan Changmin saling melempar pandang. Mereka benar, Hye In bisa saja menghubungi Junsu atau bahkan langsung menemui namja itu di rumahnya, tapi Hye In tidak memiliki keberanian untuk melakukannya. Yang Hye In inginkan hanyalah bisa melihat Junsu, meski dari jauh, asalkan ia tahu bahwa Junsu baik-baik saja, itu sudah cukup baginya.</p>
<p>“Kau punya nomor Junsu, kan?”</p>
<p>Pertanyaan yang diajukan Yoochun membuat Hye In tersadar dari lamunannya. Pada akhirnya ia menganggukkan kepala seraya berkata, “Ne, nanti aku akan coba menghubunginya.. gomawo..”</p>
<p>Hye In membungkukkan tubuhnya sejenak pada kedua namja di hadapannya, sebelum akhirnya benar-benar beranjak pergi. Sambil melangkahkan kakinya, tangan Hye In meraih ponsel dari dalam tasnya lalu menggenggam ponsel itu erat-erat sambil berpikir, haruskah ia menghubungi namja itu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>Junsu berdiri termenung di depan pintu kamar Jaejoong yang terbuka lebar, memperlihatkan bagian dalam kamar itu yang terlihat begitu rapi. Kedua mata Junsu menatap nanar tempat tidur yang tidak akan pernah lagi digunakan oleh pemiliknya. Biasanya Junsu bisa melihat hyungnya berbaring di atas tempat tidur itu, tapi kini..</p>
<p>“Junsu-a! Kemarilah.. makanannya sudah siap..!”</p>
<p>Junsu sedikit terkesiap, teriakan So Hee dari arah dapur membuatnya kembali tersadar. Ia menghela nafas panjang lalu beranjak dari tempatnya berdiri menuju dapur sambil berseru, “Ne, noona..!”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>“Kenapa berdiri saja di situ? Cepat duduk di sini! Aku sudah membuatkan makanan kesukaanmu..”</p>
<p>So Hee menggerakkan tangannya, memberi tanda pada Junsu yang dilihatnya tengah terdiam di ambang pintu untuk mendekat ke arahnya.</p>
<p>“Ini makanlah yang banyak..” Ujar So Hee sambil menyodorkan seporsi besar masakan hasil karyanya di atas meja makan tepat di depan Junsu yang telah duduk di hadapannya.</p>
<p>“Banyak sekali.. kau benar-benar ingin aku menghabiskannya?”</p>
<p>“Tentu saja.. lihat, sekarang kau jadi semakin kurus.. kau harus makan yang banyak untuk mengembalikan berat badanmu..” Ujar So Hee dengan penuh semangat. “Cepat dimakan..” Tambahnya seraya menjejalkan sumpit ke tangan Junsu.</p>
<p>Senyum So Hee langsung merekah saat melihat Junsu mulai menyuapkan makanan itu ke mulutnya. Akhir-akhir ini pola makan Junsu memang tidak benar. Sepupunya itu sering menolak jika diajak makan. Kalaupun mau, dia tidak pernah menghabiskan porsi makannya. Sejak kepergian Jaejoong, Junsu lebih banyak menyendiri di dalam kamarnya, menghabiskan waktunya dengan melamun.</p>
<p>“Enak tidak?” Tanya So Hee yang dijawab Junsu dengan anggukan pelan, sementara tangannya kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Sepertinya selera makan Junsu kali ini sedang bagus.</p>
<p>“Lebih enak mana dengan buatan Jaejoong?”</p>
<p>Seketika So Hee menyesali pertanyaan yang baru saja ia ajukan. Berkat pertanyaannya itu, kini Junsu terlihat diam tertegun seraya menatap kosong makanannya.</p>
<p><em>‘Han So Hee, neo pabo!’</em> Rutuk So Hee di dalam hati sambil memukul pelan kepalanya.</p>
<p>“Tentu saja lebih enak buatan Jaejoong hyung..”</p>
<p>So Hee cukup tersentak mendengar jawaban Junsu. Ia menatap lekat wajah Junsu. Sepupunya itu kini terlihat tengah tersenyum ke arahnya.</p>
<p>“Tapi sejujurnya aku lebih suka buatanmu, buatan Jaejoong hyung biasanya terlalu pedas untukku.. kau tahu kan aku tidak terlalu suka pedas?”</p>
<p>So Hee tersenyum mendengar ucapan Junsu. Ia tahu, Junsu sedang berusaha terlihat tegar di hadapannya, seolah tidak terjadi apa-apa padanya. So Hee tahu betul sebenarnya saat ini Junsu ingin sekali menangis. So Hee bisa melihatnya dari kedua mata Junsu yang suda berkaca-kaca. Kedua mata itu kini tengah menatap lurus ke arah dapur. Junsu pasti sedang membayangkan hyungnya memasakkan makanan untuknya.</p>
<p>“Aku merindukan masakannya.. aku merindukannya.. Jaejoong hyung..”</p>
<p>So Hee memejamkan kedua matanya sejenak. Ucapan lirih Junsu membuat hatinya terasa perih, tapi So Hee mencoba menguatkan hatinya. Tangannya terulur, menggenggam lembut tangan Junsu, berharap hal itu bisa sedikit memberi kekuatan bagi Junsu.</p>
<p>“Nan gwaenchanha.. gomawo, noona.. karena kau selalu ada di sisiku..”</p>
<p>So Hee bisa melihat Junsu kembali mengulas sebuah senyum dan akhirnya ia pun membalas senyum itu. So Hee tahu, Junsu adalah seorang namja yang kuat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>Hye In duduk termenung di samping jendela kamarnya sambil memandangi layar ponselnya. Ibu jari tangan kanannya berada tepat di atas layar touchscreen ponselnya, nyaris menyentuh tulisan ‘send’. Alih-alih menempelkan ibu jarinya di atas tulisan ‘send’ itu, ibu jarinya malah bergeser sedikit ke arah kanan hingga akhirnya menyentuh tulisan ‘cancel’. Ya, entah sudah untuk yang keberapa kalinya Hye In mengurungkan niatnya untuk mengirim sebuah pesan singkat pada Junsu, meski sebenarnya ia sangat ingin mengetahui kabar namja itu.</p>
<p>Hye In mendesah berat, sebelum akhirnya melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Ia lalu mengarahkan pandangannya ke atas langit, menikmati kilauan bintang yang bersinar indah menghiasi langit malam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>“Kau sedang apa?”</p>
<p>Junsu mengalihkan pandangan dari kertas-kertas di tangannya, menatap So Hee yang tengah berjalan menghampirinya.</p>
<p>“Aku sedang membereskan berkas-berkas ini..” Jawab Junsu sambil kembali menyibukkan diri dengan kertas-kertas di hadapannya.</p>
<p>“Apa kau sudah benar-benar yakin dengan keputusan ini?”</p>
<p>Junsu kembali menatap So Hee yang kini telah duduk di hadapannya sambil mengambil salah satu kertas yang baru saja ia taruh di atas meja. Untuk beberapa saat, ia hanya terdiam sambil menatap So Hee, seolah merasa ragu untuk menjawab pertanyaan yeoja itu. Dan pada akhirnya, Junsu pun mengangguk lemah seraya berkata pelan, “Ne, aku rasa begitu..”</p>
<p>“Apa kau sudah memberitahu Hye In?”</p>
<p>Kali ini Junsu hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap kosong ke arah kertas-kertas di hadapannya.</p>
<p>“Kau harus memberitahunya, Junsu-a..”</p>
<p>“Ne, aku akan memberitahunya.. nanti..”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>Sepuluh hari sejak kepergian Jaejoong..</p>
<p>Hye In duduk sendirian di dalam kelasnya yang sudah bubar sejak lima menit yang lalu. Kedua matanya terarah ke layar ponselnya, membaca ulang pesan singkat yang baru saja dibuatnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>To: Junsu</em></p>
<p><em>Junsu-a, bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja?</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hye In mengarahkan ibu jari tangannya hingga berada tepat di atas tulisan ‘send’ yang tertera di layar ponselnya. Kedua matanya lalu ia pejamkan, tidak berani untuk menyaksikan apa yang selanjutnya akan ia lakukan. Sambil menahan nafas dan dengan kedua mata yang masih terpejam, ibu jarinya menyentuh layar ponselnya tepat di atas tulisan ‘send’. Dan akhirnya, pesan itu pun berhasil ia kirimkan pada Junsu.</p>
<p>Hye In kembali membuka matanya seraya menghela nafas panjang. Entah mengapa mengirim sebuah pesan singkat pada Junsu menjadi sesuatu yang cukup sulit ia lakukan, hingga ia membutuhkan keberanian ekstra untuk melakukannya.</p>
<p>“Kabarku baik-baik saja.. apa kau begitu mencemaskanku?”</p>
<p>Seketika Hye In langsung terlonjak dari tempat duduknya karena sebuah suara yang tak asing lagi baginya, suara yang sudah lebih dari seminggu ini tidak pernah ia dengar.</p>
<p>“Ju..Junsu..?” Ujar Hye In terbata, merasa tidak percaya melihat sosok Junsu yang berdiri di ambang pintu kelasnya.</p>
<p>“Lama tak bertemu, Hye In-a..”</p>
<p>Hye In hanya berdiri terpaku di tempatnya. Kedua matanya terus menatap ke arah Junsu yang tengah berjalan menghampirinya.</p>
<p>“Kau sendiri, bagaimana kabarmu?”</p>
<p>“Ka.. kabarku juga baik..”</p>
<p>“Apa aku mengganggumu?”</p>
<p>“A..an..aniyeo..”</p>
<p>“Kau ada waktu? Ada yang ingin ku bicarakan denganmu..”</p>
<p>“Ne,”</p>
<p>“Bagaimana jika kita bicarakan sambil makan siang?”</p>
<p>“Ne,”</p>
<p>“Baiklah kalau begitu, kajjha..”</p>
<p>Hye In mendesah panjang saat Junsu membalikkan tubuhnya dan mulai melangkah pergi mendahuluinya. Jantung Hye In berdebar cukup kencang saat berbicara dengan Junsu tadi, membuatnya jadi merasa gugup. Hye In sendiri tidak mengerti apa ini karena sudah cukup lama ia tidak bertemu dan berkomunikasi dengan namja itu? Atau karena Junsu yang tiba-tiba muncul membuatnya kaget? Atau mungkin karena diantara mereka sebenarnya masih ada masalah yang belum diselesaikan? Tentang kesalah pahamannya pada namja itu..</p>
<p>“Hye In-a, kenapa masih berdiri di situ?”</p>
<p>“Ah, ne.. Junsu-a..”</p>
<p>Hye In segera melangkahkan kakinya menyusul Junsu yang kembali berjalan mendahuluinya. Rasanya sedikit aneh, tidak biasanya Junsu berjalan meninggalkannya di belakang. Biasanya Junsu selalu menunggunya dan akhirnya mereka akan berjalan beriringan. Tapi dengan segera Hye In menepis perasaan anehnya itu. Yang terpenting sekarang adalah dirinya tahu bahwa Junsu baik-baik saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>Hening, itulah suasana yang terjadi diantara Junsu dan Hye In saat ini. Sudah nyaris setengah jam mereka duduk di salah satu sudut kafe dan tidak ada satu pun diantara mereka yang mengeluarkan suara. Hye In terlihat menggulung-gulung spaghettinya dengan enggan, sementara Junsu hanya menatap kosong sepiring spaghetti miliknya yang baru ia makan beberapa suap. Keduanya nampak tidak berselera dengan santapan mereka dan malah sibuk dengan pikiran masing-masing.</p>
<p>“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?”</p>
<p>Suara Hye In terdengar memecah keheningan diantara mereka, membuat Junsu tersentak dari lamunannya dan beralih menatap Hye In yang terlihat sudah berhenti menggulung-gulung spaghettinya.</p>
<p>“Ah, ne..” Ujar Junsu pada akhirnya seraya merogoh isi tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya itu. “Ini..” Tambahnya sambil menyodorkan sebuah benda ke hadapan Hye In.</p>
<p>“Apa ini?”</p>
<p>“Album foto..”</p>
<p>“Aku tahu, tapi kenapa kau berikan album foto ini padaku?”</p>
<p>Hye In menatap Junsu bingung, sementara Junsu malah tersenyum, membuat Hye In mengerutkan keningnya karena semakin tidak mengerti.</p>
<p>“Bukalah..” Pinta Junsu yang langsung diikuti Hye In. Ia bisa melihat ekspresi terkejut dari yeoja itu saat membuka album foto yang disodorkannya. “Album foto itu milik Jaejoong hyung.. dia menyimpan kenangannya bersamamu di album foto itu..”</p>
<p>“Oppa..”</p>
<p>Junsu terus mengamati Hye In yang tengah membuka album foto itu halaman demi halaman. Hye In terlihat terpana memandangi gambar-gambar dirinya di album itu, sepertinya beberapa gambar diambil tanpa sepengetahuannya.</p>
<p>“Jaejoong oppa..”</p>
<p>Seketika Junsu merasakan sesak di dadanya karena mendengar Hye In menyebut nama hyungnya. Foto-foto itu pasti telah membuat Hye In kembali teringat pada kenangan masa lalu mereka, kenangan-kenangan indah yang pernah yeoja itu lalui bersama hyungnya.</p>
<p>Junsu memejamkan kedua matanya, mencoba menahan rasa perih di hatinya dengan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali perlahan. Kedua matanya kemudian kembali terbuka, menatap Hye In yang masih terfokus pada album foto itu.</p>
<p>“Kau harus tahu, sampai akhir hidupnya Jaejoong hyung masih sangat mencintaimu dengan sepenuh hatinya.. dia tidak pernah berhenti mencintaimu, meski dia memilih untuk meninggalkanmu..”</p>
<p>Junsu mengalihkan pandangannya pada album foto yang telah dibuka Hye In hingga halaman terakhir, dimana terdapat tulisan tangan Jaejoong di bagian sudut kiri bawahnya.</p>
<p>“Saranghae, Park Hye In.. yeongwonhi..” Lanjut Junsu dengan suaranya yang lirih, namun berhasil membuat Hye In beralih menatapnya. “Kau bisa melihat ia menuliskan kalimat itu di situ, kan? Jaejoong hyung mencintaimu, untuk selamanya..”</p>
<p>Junsu kembali menatap Hye In yang kini tengah menatapnya lekat, membuat pandangan mereka beradu satu sama lain. Keduanya kini saling memandang dalam diam. Junsu bisa merasakan jantungnya berdegup sangat kencang, hingga akhirnya ia memilih untuk memutuskan kontak mata diantara mereka.</p>
<p>“Mianhae..”</p>
<p>Junsu tertegun mendengar ucapan Hye In, namun demikian kedua matanya masih berusaha menghindari tatapan Hye In, seolah takut untuk kembali beradu pandang dengan yeoja di hadapannya itu. Ya, Junsu memang takut. Ia takut tidak bisa mengendalikan perasaannya bila harus kembali menatap kedua mata Hye In.</p>
<p>“Jeongmal mianhaeyo..”</p>
<p>“Tidak perlu meminta maaf, Hye In-a.. kau tidak melakukan kesalahan..”</p>
<p>“Ani, aku telah bersalah pada Jaejoong oppa.. dan juga padamu.. aku telah salah paham pada kalian..”</p>
<p>Junsu memberanikan dirinya kembali menatap lurus ke arah Hye In. Yeoja itu kini tengah menundukkan kepala, terlihat begitu sedih dan menyesal.</p>
<p>“Kita lupakan masalah itu, yang terpenting sekarang kau sudah tidak salah paham dan membenci kami..”</p>
<p>“Aku tidak membenci kalian..”</p>
<p>Junsu sedikit tersentak. Hye In tiba-tiba kembali mengangkat kepalanya yang tertunduk, membuat pandangan mereka kembali beradu. Junsu yang lagi-lagi merasakan degupan jantungnya jadi semakin cepat langsung mengalihkan pandangannya.</p>
<p>“Syukurlah, aku bisa pergi dengan tenang setelah tahu kau tidak membenciku..”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>“Pergi?”</p>
<p>Yunho menatap tak percaya ke arah So Hee yang terlihat asik dengan majalah yang tengah dibacanya.</p>
<p>“Ne,”</p>
<p>“Dia sudah mau keluar rumah?”</p>
<p>“Junsu pergi untuk menemui Hye In, dia akan memberi tahu Hye In tentang keputusannya..”</p>
<p>“Jadi, Junsu benar-benar sudah memutuskan untuk meninggalkan Korea?” Tanya Yunho lagi, seraya menghempaskan tubuhnya ke sofa. “Apa dia yakin ini yang terbaik untuknya? Bagaimana dengan Hye In?”</p>
<p>“Mollayo..”</p>
<p>Yunho hanya bisa menghela nafas mendengar jawaban So Hee. Ia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran Junsu hingga mengambil keputusan seperti itu. Dan sepertinya So Hee juga begitu..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>“Kau.. akan kembali ke Jepang?”</p>
<p>Junsu menganggukkan kepalanya yang tengah tertunduk. Ia tahu Hye In pasti terkejut dengan berita kepergiannya.</p>
<p>“Wae..?”</p>
<p>Junsu terdiam, memikirkan jawaban atas pertanyaan Hye In, karena sebenarnya ia sendiri merasa tidak yakin dengan alasannya kembali ke Jepang.</p>
<p>“Melanjutkan studi di Jepang adalah impianku sejak dulu. Aku kembali ke sini karena Jaejoong hyung, dan sekarang..”</p>
<p>“Sekarang tidak ada lagi alasan bagimu untuk tetap tinggal di sini, begitu?”</p>
<p>Junsu semakin tertunduk. Apa yang dikatakan Hye In mungkin saja benar. Tidak ada lagi alasan baginya untuk tetap tinggal di sini, tapi benarkah sudah tidak ada lagi satupun alasan yang bisa mengubah keputusannya untuk pergi?</p>
<p><em>‘Ani.. kau, Hye In-a.. kaulah alasanku untuk tetap tinggal di sini.. sekali saja kau memintaku untuk tidak pergi, maka aku tidak akan pergi..’</em></p>
<p>“Kapan kau akan kembali ke Jepang?”</p>
<p>Junsu tertegun sejenak. Hye In baru saja menanyakan waktu kepergiannya. Apa ini berarti yeoja itu tidak akan mencegahnya untuk pergi?</p>
<p>“Besok.. aku akan pergi besok, jam satu siang..” Jawab Junsu lemah.</p>
<p>“Mweo?! Besok..?”</p>
<p>Junsu kembali mendengar ada nada terkejut dari ucapan Hye In. Apakah ini berarti masih ada harapan baginya? Mungkinkah Hye In akan memintanya untuk tetap tinggal?</p>
<p>“Ne, besok..” Jawab Junsu sambil diam-diam berharap Hye In akan mencegahnya pergi meninggalkan Korea.</p>
<p>“Arraseo.. selamat jalan, Junsu-a..”</p>
<p>Deg.</p>
<p>Seketika Junsu merasa sesuatu seolah menghantam dadanya, membuat nafasnya terasa begitu berat dan sesak. Hye In mengucapkan selamat jalan padanya. Hye In membiarkannya pergi. Yeoja itu bahkan mengulurkan tangan ke arahnya, hendak memberinya sebuah salam perpisahan.</p>
<p>Junsu menatap nanar tangan Hye In yang terulur ke arahnya. Sejujurnya ia merasa kecewa karena bukan ini yang ia harapkan, meski sebenarnya Junsu sadar bahwa Hye In tidak akan pernah memintanya untuk tidak pergi.</p>
<p><em>‘Aku ini benar-benar bodoh! Bagaimana mungkin Hye In akan memintaku untuk tetap tinggal? Memang apa pentingnya diriku baginya?’</em></p>
<p>Junsu mendesah berat, menyadari kebodohannya karena telah berharap begitu besar pada Hye In. Pada akhirnya Junsu pun menyambut uluran tangan Hye In dan menjabatnya seraya berkata, “Gomawo, Hye In-a.. selamat tinggal..”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>Perih. Itulah yang Hye In rasakan saat ini. Entah mengapa ucapan selamat tinggal Junsu seolah menusuk dadanya. Dan kini, air matanya bahkan sudah menggenang di pelupuk matanya. Dengan susah payah Hye In berusaha menahannya agar jangan sampai menetes. Ia tidak ingin menangis, tidak di depan Junsu, meski sejak tadi namja itu terus saja menghindari kontak mata dengannya dan lebih banyak menundukkan kepala.</p>
<p>Jauh di lubuk hatinya, Hye In ingin mencegah kepergian Junsu. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia tidak bisa melakukan apapun. Ia tidak bisa meminta namja itu untuk tetap tinggal. Ia tidak memiliki hak untuk menahan namja itu tetap berada di dekatnya. Lagipula Junsu berkata bahwa melanjutkan studi di Jepang adalah impiannya. Bagaimana Hye In bisa meminta Junsu untuk melepas impiannya hanya demi dirinya? Bagaimana ia bisa bersikap seegois itu?</p>
<p>“Senang bisa mengenalmu, Junsu-a.. aku benar-benar bersyukur memiliki teman sepertimu.. aku harap dimanapun kau berada, kau akan hidup dengan bahagia..” Ujar Hye In pada akhirnya, masih sambil menjabat tangan Junsu.</p>
<p>“Aku juga berharap kau selalu bahagia, Hye In-a..”</p>
<p>“Ne, tentu saja..”</p>
<p>Hye In berusaha menunjukkan senyumnya pada Junsu, meski sebenarnya saat ini air matanya sudah semakin sulit dibendung. Untuk yang ketiga kalinya pandangan mereka saling beradu satu sama lain, dan untuk yang ketiga kalinya pula Hye In mendapati Junsu kembali memutus kontak mata diantara mereka. Hye In menghela nafasnya yang kini semakin terasa sesak. Ia benar-benar tidak sanggup untuk bertahan lebih lama lagi.</p>
<p>“Mianhae, aku harus pergi sekarang..” Ujar Hye In seraya menarik tangannya yang tengah bersalaman dengan Junsu lalu bangkit dari duduknya, bersiap untuk pergi.</p>
<p>“Biar aku antar kau pulang, Hye In-a..”</p>
<p>“Tidak perlu, aku akan pulang sendiri..” Tolak Hye In, membuat Junsu yang telah ikut bangkit kini tertegun di tempatnya. “Selamat tinggal, Junsu-a..”</p>
<p>Hye In bergegas melangkahkan kakinya meninggalkan kafe. Ia bahkan sedikit berlari agar bisa segera menjauh dari sosok Junsu yang masih berdiri tertegun memandangi kepergiannya. Setelah berjalan cukup jauh meninggalkan kafe, Hye In pun terduduk di sebuah halteu bus, menumpahkan air mata yang sejak tadi berusaha ditahannya, membiarkannya mengalir membasahi wajahnya, tanpa suara, tanpa isakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>Junsu kembali menjatuhkan dirinya di atas bangku kafe. Kini Hye In telah pergi meninggalkannya. Yeoja itu menolak untuk diantarkan pulang olehnya, membuatnya tidak bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan yeoja itu di saat-saat terakhirnya sebelum pergi meninggalkan Korea. Sebuah senyum menghiasi wajahnya, senyum getir yang menemani butiran-butiran air matanya yang memaksa untuk keluar, seolah mencibir dirinya sendiri yang terlalu pengecut untuk mengakui perasaannya.</p>
<p>Kini semuanya telah berakhir, dan bahkan hingga akhir pun Junsu lebih memilih untuk memendam perasaannya, menyimpannya rapat-rapat untuk dirinya sendiri. Ia justru memilih untuk pergi jauh daripada memperjuangkan cintanya. Ya, Junsu bukan hanya sekedar menyukai Hye In. Ia mencintai yeoja itu, benar-benar mencintainya. Tapi bagaimana dengan Hye In? Yang Hye In cintai adalah Jaejoong hyungnya, bukan dirinya. Hye In hanya menganggapnya sebagai teman, tidak lebih dari itu. Sampai kapanpun Junsu tidak akan bisa menggeser posisi Jaejoong di hati Hye In. Karena itulah ia menyerah dan memutuskan untuk pergi meninggalkan cintanya, berharap dengan begitu ia akan bisa melupakannya, bisa menghilangkan perasaannya, meski ia sendiri tidak yakin bisa melakukannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>BLAM!</p>
<p>Junsu menutup bagasi taxi yang tadi ditumpanginya setelah mengeluarkan koper miliknya. Dengan langkah berat, ia menyeret kopernya memasuki area bandara. Tidak ada seorangpun yang mengantar kepergiannya, meski sebenarnya sejak kemarin So Hee memohon-mohon padanya supaya diijinkan mengantar sampai bandara. Dan seolah tidak terpengaruh dengan raut memelas yang ditunjukkan So Hee, Junsu tetap saja menolak permintaan noonanya itu.</p>
<p>Junsu tidak suka melihat tangisan So Hee saat mengantar kepergiannya,  karena itu ia lebih memilih untuk tidak diantar. Ia takut pendiriannya akan goyah bila melihat tangisan So Hee. Tadi saja, saat So Hee memeluknya di rumah sambil terisak, nyaris saja membuatnya mengurungkan niat untuk pergi. Ia harus kembali memantapkan hatinya hingga akhirnya ia berhasil tiba di bandara. Keputusannya untuk pergi sudah bulat, meski sebenarnya diam-diam ia masih mengharapkan keajaiban dimana Hye In akan datang ke bandara untuk menahan kepergiannya. Hal yang cukup mustahil memang, mengingat kemarin mereka sudah saling mengucapkan salam perpisahan.</p>
<p>Junsu menghempaskan tubuhnya di salah satu deretan bangku, menunggu peringatan dari pengeras suara yang akan memintanya dan juga para penumpang lainnya untuk menuju pesawat yang akan membawa mereka ke Jepang, dan mungkin juga menunggu Hye In yang sepertinya tidak akan pernah muncul untuk memintanya tetap tinggal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>“Kau kenapa? Dari tadi melihat jam terus.. apa ada sesuatu yang harus kau lakukan?”</p>
<p>Hye In menghela nafas berat. Apa yang dikatakan temannya memang benar, sudah sejak setengah jam yang lalu ia terus-menerus mengarahkan pandangannya pada jam yang melingkar di tangan kirinya.</p>
<p>“Jam berapa mata kuliah ini berakhir?” Tanya Hye In pada teman yang duduk di sebelahnya.</p>
<p>“Jam satu.. waeyo? Apa kau berniat keluar sebelum mata kuliah ini selesai?”</p>
<p>“Ani..” Jawab Hye In sambil menggeleng lemah. Ia lalu menjatuhkan kepalanya di atas meja, membenamkannya diantara buku-bukunya yang terbuka.</p>
<p>“Apa terjadi sesuatu? Kau kelihatan resah sekali..”</p>
<p>Hye In kembali menggelengkan kepalanya yang kini terkulai di atas buku-bukunya. Sementara itu, temannya terlihat menatapnya dengan cemas.</p>
<p>“Hya, tegakkan tubuhmu.. lihat, dosen sedang melihat ke arah kita.. kau tidak ingin kena marah bukan?”</p>
<p>Hye In hanya pasrah ketika temannya berusaha kembali menegakkan tubuhnya ke posisi duduk yang benar. Pikirannya sudah kacau sejak kuliah dimulai. Sejak awal ia sudah tidak bisa berkonsentrasi dengan kuliahnya karena terus-menerus memikirkan Junsu yang akan pergi meninggalkan Korea hari ini. Sekali lagi Hye In melirik jam tangannya, menyadari hanya tinggal bersisa tiga puluh menit sebelum kepergian Junsu.</p>
<p>“Tidak ada yang bisa ku lakukan sekarang, semuanya telah berakhir..” Ujar Hye In lirih, terlihat begitu pasrah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>Junsu menatap kosong tiket pesawat dan passport di tangannya. Sebentar lagi waktunya untuk pergi akan tiba, dan sampai detik ini keajaiban yang ia harapkan tak kunjung datang. Junsu mendesah berat, sepertinya harapannya akan sia-sia. Ia harus menyerah sekarang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>“Ajushi, tidak bisakah lebih cepat lagi?”</p>
<p>“Mianhaeyo, agashi.. ini sudah mencapai batas kecepatan maksimum..”</p>
<p>Hye In mendesah frustasi. Kalau seperti ini ia pasti tidak akan tiba tepat waktu di bandara. Ya, setelah memikirkan matang-matang pada akhirnya Hye In memilih untuk meninggalkan kuliahnya yang masih bersisa dua puluh menit lagi dan segera pergi dengan taxi menuju bandara. Berharap ia masih belum terlambat untuk menemui Junsu sebelum namja itu pergi. Atau mungkin jika ia memiliki cukup keberanian ia akan meminta Junsu untuk tetap tinggal, meski ia sendiri tidak yakin Junsu akan memenuhi permintaannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Junsu bangkit dari tempatnya duduk. Suara peringatan yang berkumandang dari pengeras suara di bandara memberitahunya bahwa ia harus pergi sekarang. Sekali lagi Junsu mengedarkan pandangannya mengitari bandara. Dan seperti sebelumnya, ia tetap tidak menemukan sosok Hye In diantara orang-orang yang berlalu lalang di bandara. Ia benar-benar harus menyerah sekarang. Waktunya sudah habis, tidak ada lagi harapan untuknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>Hye In berlari dengan sekuat tenaga memasuki area bandara sambil terus berdoa pada Tuhan supaya ia masih memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Junsu. Hye In berharap ia masih belum terlambat menyusul namja itu ke bandara.</p>
<p>“Chogiyo.. hhh.. kapan.. pesawat.. hhh.. Jepang..” Ujar Hye In pada petugas bandara dengan terbata dan nafas yang tersengal akibat lelah berlari.</p>
<p>“Apa maksudnya anda menanyakan waktu keberangkatan pesawat ke Jepang?”</p>
<p>“Ne,”</p>
<p>“Baru saja lepas landas,”</p>
<p>“Mweo?!”</p>
<p>Hye In hanya berdiri tertegun di tempatnya sambil menatap kosong petugas bandara di hadapannya. Otaknya seolah tidak mampu mencerna apa yang dikatakan petugas bandara itu barusan. Atau mungkin ia sendiri yang tidak ingin mengerti, karena jawaban petugas bandara itu bukanlah jawaban yang diinginkannya.</p>
<p><em>‘Apa maksudnya Junsu sudah pergi? Ani, pasti bukan itu maksudnya.. Junsu.. dia.. apa dia benar-benar sudah pergi?’</em></p>
<p>Hye In mulai melangkahkan kakinya menjauh dari petugas bandara itu. Langkah kakinya terlihat gontai dan sorot matanya begitu kosong. Ia lalu terduduk di salah satu deretan bangku, tempat dimana beberapa saat yang lalu Junsu duduk sambil diam-diam menunggu kedatangannya. Kalau saja Hye In datang sedikit lebih cepat..</p>
<p>“Dia sudah pergi.. benar-benar sudah pergi..” Ujar Hye In lirih, nyaris terdengar seperti sebuah bisikan.</p>
<p>Pandangan Hye In kini terarah pada jam di tangan kirinya. Jam satu lewat lima menit. Ia benar-benar sudah terlambat untuk menyusul Junsu ke bandara. Kesempatannya telah hilang. Kini Junsu telah benar-benar pergi meninggalkan Korea, meninggalkannya. Dan kini Hye In merasakan seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya seiring dengan kepergian Junsu, seolah namja itu telah membawa pergi sesuatu dari dirinya itu, membuat sebagian dari dirinya kini terasa hampa dan kosong.</p>
<p><em>‘Apa yang terjadi padaku? Kenapa dadaku terasa begitu berat dan sesak?’</em></p>
<p>Hye In menekan dadanya kuat-kuat dengan tangan kanannya sementara kedua matanya telah memerah dan basah. Dan akhirnya, seperti yang dilakukannya kemarin, ia membiarkan air matanya mengalir membasahi wajahnya, tanpa suara, tanpa isakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Satu setengah tahun kemudian..</p>
<p>Seorang yeoja tengah duduk sendirian di salah satu sudut kafe. Kedua tangannya berada di atas meja, salah satunya digunakan untuk menopang kepalanya, sementara pandangannya tertuju ke arah luar jendela.</p>
<p>“Ini minumanmu..”</p>
<p>Yeoja itu mengalihkan pandangannya, menatap seseorang yang datang menghampirinya dengan membawa segelas lemon tea untuknya. “Gomawo, So Hee eonni..” Ujarnya sambil tersenyum pada sosok yang kini mengambil tempat duduk di hadapannya.</p>
<p>“Gomawoyo, Hye In-a.. aku senang sekali karena ada kau yang membantu persiapan pernikahanku..”</p>
<p>“Aku juga senang bisa membantumu, eonni..”</p>
<p>Yeoja itu, Park Hye In, meraih gelas lemon teanya lalu meminumnya sambil kembali memandang ke luar jendela. Ada sesuatu yang tengah dipikirkannya, namun ia merasa sedikit ragu untuk mengutarakannya.</p>
<p>“Tidak lama lagi mungkin Junsu akan datang..”</p>
<p>Seketika kedua mata Hye In membulat. Ia sama sekali tidak menyangka apa yang So Hee ucapkan ternyata sama seperti apa yang tengah ia pikirkan, seolah So Hee mengetahui apa yang tengah dipikirkannya.</p>
<p>“Kau merindukannya?”</p>
<p>Hye In tertegun sejenak, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya, memilih untuk jujur pada perasaannya sendiri. Toh dirinya memang benar-benar merindukan namja itu. Sudah satu setengah tahun ini Hye In tidak pernah bertemu ataupun berkomunikasi dengan Junsu. Ia hanya mengetahui kabar Junsu dari cerita So Hee. Dan kini, Hye In begitu merindukan kebersamaannya dengan namja itu. Hye In benar-benar merindukan Junsu.</p>
<p>“Ne, aku merindukannya..”</p>
<p>“Apa kau menyukai Junsu?”</p>
<p>“Tentu saja, Junsu adalah seorang teman yang baik..”</p>
<p>“Bukan itu maksudku,”</p>
<p>Hye In mengerutkan kening tanda tak mengerti. “Lalu apa maksudmu, eonni?” Tanyanya bingung.</p>
<p>“Apa kau menyukai Junsu, seperti seorang yeoja menyukai seorang namja?”</p>
<p>Hye In kembali tertegun, memikirkan pertanyaan So Hee padanya. Mungkinkah rasa sukanya pada Junsu lebih dari sekedar perasaan suka terhadap seorang teman? Selama ini Hye In memang selalu merasa nyaman bersama Junsu. Namja itu selalu bisa membuatnya senang dan melupakan kesedihannya. Ia juga tidak memungkiri bahwa ia merasa sangat kehilangan saat Junsu memutuskan untuk pergi meninggalkan Korea. Bahkan hingga saat ini Hye In tidak bisa berhenti memikirkan Junsu yang biasanya selalu menemani hari-harinya. Tapi apakah itu berarti ia menyukai Junsu sebagai seorang namja? Bukankah satu-satunya namja yang senantiasa mengisi relung hatinya adalah Jaejoong?</p>
<p>“Mollayo, eonni..” Jawab Hye In lirih, membuat So Hee menghela nafas berat.</p>
<p>“Kau tahu? Terkadang aku tidak mengerti dengan kalian berdua.. kau dan Junsu, juga jalan pikiran kalian itu..”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>Junsu mengarahkan pandangan ke luar jendela pesawat, memperhatikan barisan awan putih yang biasanya berada jauh di atas kepalanya. Sementara itu, pikirannya kembali melayang pada sosok yeoja yang selama ini senantiasa mengisi setiap relung hatinya. Sebenarnya Junsu sudah berusaha untuk melupakan perasaannya pada yeoja itu, namun meski sudah satu setengah tahun berlalu dirinya tetap tidak bisa melakukan hal itu. Perasaannya pada yeoja itu masih tetap sama seperti dulu, tidak pernah berubah sedikit pun. Dan jika sudah begini, yang bisa dilakukannya hanyalah membiarkan kenangan-kenangan indahnya bersama yeoja itu kembali memenuhi pikirannya.</p>
<p>“Aku sangat merindukanmu, Hye In-a..”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>“Junsu-a! Di sebelah sini..”</p>
<p>Junsu mengedarkan pandangannya hingga akhirnya menemukan sosok seorang namja tengah berdiri sambil melambaikan tangan ke arahnya. Dengan semangat, ia pun bergegas menghampiri namja itu dan memeluknya seraya berseru, “Yunho hyung..!”</p>
<p>“Selamat datang kembali di Korea, Junsu-a..”</p>
<p>Junsu hanya terkekeh mendengar ucapan Yunho. Ia pun melepaskan pelukannya lalu menoleh ke kanan dan ke kiri, seperti sedang mencari sesuatu.</p>
<p>“Apa So Hee noona tidak ikut?”</p>
<p>“Ani, dia sibuk di kafe..”</p>
<p>“Aigoo, dua hari lagi kalian menikah dan kau masih membiarkannya sibuk bekerja?”</p>
<p>“Ini semua salahmu, coba kalau kau mau mengurus kafe hyungmu itu..”</p>
<p>“Kenapa jadi aku yang disalahkan? Sudahlah, lebih baik sekarang kau mengantarku, hyung..” Kilah Junsu seraya menarik tangan Yunho, mengajak namja itu untuk pergi.</p>
<p>“Hya! Memangnya aku ini supirmu? Aku juga sibuk tahu?!”</p>
<p>“Antarkan aku dulu baru lanjutkan kesibukanmu itu..”</p>
<p>“Kau ini benar-benar..”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>Junsu melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak menuju area pemakaman diikuti Yunho di belakangnya. Sudah sejak lama ia ingin sekali berziarah ke makam hyungnya, maka dari itu ia memutuskan untuk langsung ke area pemakaman begitu tiba kembali di Korea.</p>
<p>“Sepertinya ada yang sedang berziarah ke makam Jaejoong..”</p>
<p>Junsu melirik ke arah Yunho yang baru saja berbicara. Dilihatnya namja itu tengah menatap lurus ke arah makam Jaejoong yang masih beberapa meter di depan mereka. Ia pun mengikuti arah pandang Yunho dan mendapati seorang yeoja tengah berdiri tepat di depan makam hyungnya. Kedua matanya langsung membulat dan langkahnya pun terhenti saat menyadari siapa yeoja itu.</p>
<p>“Bukankah itu Hye In?”</p>
<p>Seketika Junsu merasakan jantungnya berdegup dengan kencang saat mendengar Yunho menyebut nama yeoja itu. Yeoja yang selalu memenuhi pikirannya, yeoja yang tidak pernah bisa dilupakannya, yeoja yang amat sangat ia rindukan, Park Hye In.</p>
<p>Tatapan Junsu terus terarah pada sosok Hye In yang terlihat sedang memandangi makam Jaejoong. Rasanya ia ingin sekali berlari menghampiri yeoja itu, memeluknya dan mengatakan padanya betapa rindunya ia pada yeoja itu. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, Junsu hanya bisa berdiri terpaku di tempatnya sambil memandangi yeoja itu dari jauh. Junsu bisa melihat Hye In mengusap pipinya dengan jari-jari tangannya. Apakah yeoja itu menangis? Mungkinkah Hye In masih belum bisa melepas Jaejoong sepenuhnya?</p>
<p>“Kenapa kau diam, Junsu-a? Kajjha, kita bisa sekalian bertemu dengan Hye In..”</p>
<p>Junsu mengalihkan pandangannya pada Yunho, terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Kita pulang saja, hyung..”</p>
<p>“Mweo?”</p>
<p>“Kita pulang saja, kajjha..”</p>
<p>“Hya, Junsu-a..”</p>
<p>Junsu membalikkan tubuhnya dan langsung melangkah pergi menjauhi area pemakaman, tidak mempedulikan panggilan Yunho dan tatapan bingung yang ditujukan namja itu padanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>“Kenapa pergi? Kau bilang ingin berziarah ke makam Jaejoong?” Tanya Yunho yang baru saja masuk ke dalam mobil. Dilihatnya Junsu telah duduk sambil menatap kosong ke arah luar dari balik kaca mobil.</p>
<p>“Lain kali saja, hyung..” Jawab Junsu datar tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya.</p>
<p>Yunho hanya bisa menghela nafasnya. Sikap Junsu kini berubah drastis. Padahal tadi Junsu begitu bersemangat ingin berziarah ke makam Jaejoong, tapi mendadak namja itu malah mengajaknya pulang. Yunho yakin ini ada hubungannya dengan Hye In.</p>
<p>“Kau tidak sedang menghindar dari Hye In, kan?”</p>
<p>“Ani, aku hanya tidak ingin mengganggunya..” Jawab Junsu lirih. Ia sendiri sebenarnya tidak yakin dengan jawabannya. Benarkah ia tidak ingin mengganggu yeoja itu? Atau dia memilih untuk pergi karena tidak sanggup melihat yeoja itu menangis karena hyungnya?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>Sementara itu di area pemakaman..</p>
<p>“Oppa.. benarkah yang pernah kau katakan dulu tentang perasaan Junsu padaku? Jika benar, lalu mengapa dia memilih untuk pergi? Dia bahkan tidak pernah menghubungiku sekalipun.. mungkinkah perasaannya telah berubah, oppa?”</p>
<p>Hye In menatap makam Jaejoong di hadapannya sambil mencurahkan isi hatinya, seolah ia sedang berbicara langsung dengan sosok Jaejoong. Entah mengapa saat ia merasa ingin sekali mengeluarkan semua hal yang terasa membebani pikirannya, tempat inilah yang terpikir olehnya.</p>
<p>Hye In menarik nafasnya dalam-dalam. Dadanya kini terasa begitu sesak. Pandangannya bahkan mulai kabur karena genangan air mata.</p>
<p>“Aku tidak mengerti, oppa.. kenapa aku jadi cengeng seperti ini setiap kali teringat pada Junsu? Kenapa rasanya sama seperti saat pertama kali kau memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita?”</p>
<p>Air mata Hye In tiba-tiba menetes begitu saja. Dengan segera ia menghapusnya dengan jari-jari tangannya. Ia tidak boleh menangis, ia harus menjadi seorang yeoja yang kuat dan tegar. Bukankah ia sudah mengatakan pada Junsu sebelum namja itu pergi bahwa ia akan selalu hidup dengan bahagia?</p>
<p>“Apa yang harus ku lakukan saat bertemu lagi dengannya nanti? Mungkinkah semuanya akan tetap sama seperti dulu?”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Omo, indah sekali..”</p>
<p>“Kau menyukainya, eonni?”</p>
<p>“Tentu saja, kau sudah menyulap tempat ini jadi benar-benar indah.. gomawoyo, Hye In-a..”</p>
<p>So Hee tersenyum puas sambil asik memandang ke setiap penjuru aula besar yang akan menjadi tempat pernikahannya dan Yunho besok.</p>
<p>“Oh ya, apa kau sudah tahu kalau Junsu sudah kembali dari Jepang kemarin?” Tanya So Hee yang sontak membuat senyuman di wajah Hye In menghilang. “Dia tidak mengabarimu?” Tanyanya lagi, menyadari ekspresi Hye In yang seketika berubah murung.</p>
<p>“Sejak dia pergi, kami tidak pernah berkomunikasi sekalipun..”</p>
<p>So Hee mendesah berat seraya menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Hye In dan Junsu. Kenapa hubungan mereka harus jadi serumit ini?</p>
<p>“Kau tidak ingin menemuinya?”</p>
<p>“Tentu saja aku ingin, bukankah besok aku akan bertemu dengannya di pernikahanmu?”</p>
<p>So Hee menatap lekat Hye In yang kini sudah kembali tersenyum. Senyum yang terlihat lain dari senyum yang menghiasi wajah Hye In sebelumnya.</p>
<p>“Ne, kau benar.. kalian akan bertemu besok..” Ujar So Hee pada akhirnya sambil menepuk pelan bahu Hye In, seperti ingin memberi semangat pada yeoja itu.</p>
<p><em>‘Dan aku harap hubungan kalian akan membaik seperti dulu lagi.. bahkan lebih dari itu, aku berharap kalian akan bersatu, dan bahagia..’</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hari pernikahan itu telah tiba. Semua orang yang hadir turut berbahagia menyaksikan kebahagiaan kedua mempelai, Jung Yunho dan Han So Hee. Tak terkecuali dengan Junsu yang begitu senang melihat noonanya kini telah meraih kebahagiaan bersama seseorang yang sangat dicintainya.</p>
<p>“Junsu-a..”</p>
<p>Suara lembut seorang yeoja yang memanggil namanya membuat Junsu diam terpaku di tempatnya. Jantungnya seketika berdegup dengan sangat kencang karena mendengar suara itu, suara yang sudah satu setengah tahun ini tidak pernah lagi didengarnya. Perlahan Junsu membalikkan tubuhnya menghadap yeoja itu, yeoja yang amat sangat dirindukannya.</p>
<p>“Hye In-a..”</p>
<p>“Kau masih ingat padaku? Ku pikir kau sudah melupakanku..”</p>
<p>Junsu menundukkan kepalanya. Ucapan Hye In membuatnya jadi merasa tidak enak. Ia memang mencoba untuk melupakan yeoja itu, tapi usahanya selama satu setengah tahun ini tidak pernah berhasil.</p>
<p><em>‘Bagaimana aku bisa melupakanmu, Hye In-a..?’</em></p>
<p>Junsu berusaha mengulas sebuah senyum, namun ia sadar senyumnya pasti terlihat aneh.</p>
<p>“Mianhae, Hye In-a.. aku..”</p>
<p>“Kau sibuk sekali di sana, sampai kau tidak sempat menghubungiku, bahkan sekedar untuk membalas pesanku.. benar kan?”</p>
<p>Junsu semakin menundukkan kepalanya. Sekali lagi, ucapan yeoja itu membuatnya merasa tidak enak.</p>
<p>“Kau marah padaku karena tidak pernah menghubungimu dan membalas pesanmu?” Tanya Junsu. Dengan sedikit ragu ia mengangkat kepalanya, memberanikan diri menatap Hye In yang tengah menatapnya lekat.</p>
<p>“Aku tidak punya hak untuk marah padamu.. kau memang tidak harus menghubungiku atau membalas pesanku jika memang kau tidak ingin melakukannya..”</p>
<p>“Hye In-a, aku..”</p>
<p>“Bagaimanapun juga, senang sekali bisa melihatmu lagi, Junsu-a..”</p>
<p>Hye In terlihat mengulas sebuah senyum, senyum tulus yang menghiasi wajah cantiknya. Junsu harus berjuang keras untuk mengendalikan perasaannya, karena jika tidak maka saat ini ia telah menarik tubuh yeoja itu ke dalam pelukannya.</p>
<p>“Kau benar-benar tidak marah padaku?”</p>
<p>“Tentu saja tidak, justru aku sangat senang.. tadinya ku pikir tidak akan bisa bertemu denganmu lagi..”</p>
<p>Junsu tersenyum lebar mendengar ucapan Hye In. Seketika dadanya terasa hangat mendengarkan Hye In melontarkan kalimat itu.</p>
<p>“Aku juga sangat senang karena bisa bertemu lagi denganmu, Hye In-a..”</p>
<p>Junsu menatap lekat wajah Hye In, sementara itu kakinya refleks melangkah mendekat ke arah yeoja itu. Junsu bisa merasakan jantungnya kini berdegup dengan sangat cepat.</p>
<p><em>‘Tuhan, bolehkan aku kembali berharap?’</em></p>
<p>Kini mereka berdua berdiri berhadapan dalam jarak yang cukup dekat. Perlahan Junsu mengangkat kedua tangannya, seperti hendak meraih tubuh Hye In ke dalam pelukannya, meski sebagian dari dirinya masih merasa ragu dan memerintahkannya untuk menahan diri. Tapi Junsu begitu ingin meluapkan rasa rindunya pada yeoja di hadapannya itu.</p>
<p>“Junsu-a..!”</p>
<p>Sebuah suara membuat Junsu tersentak dan menyebabkan gerakannya terhenti. Appanya So Hee tiba-tiba datang menghampiri mereka, membuat Junsu sedikit menjauhkan dirinya dari Hye In.</p>
<p>“Mianhae, mengganggu kalian.. Junsu-a, bisa ikut aku sebentar? Aku butuh bantuanmu..”</p>
<p>Junsu menatap Hye In sejenak. Dilihatnya yeoja itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.</p>
<p>“Gwaenchanhayo, nanti kita bisa mengobrol lagi..”</p>
<p>“Baiklah, aku pergi dulu..” Ujar Junsu seraya beranjak pergi mengikuti appanya So Hee, meninggalkan Hye In yang masih berdiri sambil memandangi kepergiannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hye In mengetuk-ngetukan jarinya di gelas minuman yang tengah dipegangnya sambil terus mengedarkan pandang, mencari sosok Junsu diantara para tamu undangan yang ada di sana.  Sudah nyaris setengah jam sejak Junsu pergi dan sampai saat ini ia belum melihat namja itu lagi.</p>
<p>“Mencari seseorang?”</p>
<p>Hye In menolehkan kepalanya, sedikit terkejut saat mendapati So Hee kini telah berdiri di sampingnya.</p>
<p>“Eonni..”</p>
<p>“Siapa yang kau cari?”</p>
<p>“Aah.. aniyeo, hanya..” Jawab Hye In terbata. Ia bahkan tidak melanjutkan kalimatnya, seolah bingung mau menjawab apa.</p>
<p>“Mweoya..?”</p>
<p>“Eonni, sejak tadi aku tidak melihat Junsu..”</p>
<p>“Junsu? Bukankah tadi dia sudah pergi ke bandara?”</p>
<p>“Mweo?!!” Pekik Hye In terkejut. Kedua matanya membulat, menatap tak percaya ke arah So Hee yang terlihat bingung. “Kau bilang Junsu sudah pergi ke bandara?”</p>
<p>“Ne, waeyo?”</p>
<p>“Aku.. aku harus menyusulnya, eonni..”</p>
<p>“Hya, Hye In-a..!”</p>
<p>Hye In langsung berlari meninggalkan So Hee begitu saja, tidak mempedulikan panggilan yeoja itu sama sekali. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah segera menyusul Junsu menuju bandara sebelum semuanya terlambat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>Hye In berlari kencang memasuki area bandara, hal yang sama seperti yang pernah dilakukannya satu setengah tahun yang lalu. Nafasnya mulai tersengal, tapi Hye In tidak peduli dan terus saja berlari. Kali ini ia tidak boleh terlambat lagi.</p>
<p>Hye In menghentikan langkahnya lalu menatap sebuah layar besar yang memperlihatkan jadwal keberangkatan pesawat dengan putus asa. Tubuhnya seketika melemas saat dilihatnya pesawat dengan tujuan ke Jepang sudah lepas landas lima belas menit yang lalu.</p>
<p><em>‘Andwae, ini tidak mungkin.. aku terlambat lagi..’</em></p>
<p>Hye In menggelengkan kepalanya dengan gusar, menolak untuk percaya pada apa yang telah dilihatnya.</p>
<p>“Ani, aku harus memastikannya..” Gumam Hye In pada dirinya sendiri seraya kembali berlari menuju ke arah petugas bandara.</p>
<p>“Hye In-a..!”</p>
<p>Langkah Hye In seketika terhenti. Suara seseorang yang berteriak memanggil namanya membuat tubuhnya langsung membeku.</p>
<p>“Apa yang sedang kau lakukan di sini? Kenapa kau berlari-lari seperti itu?”</p>
<p>“Aku.. kau.. ini..” Ujar Hye In tak karuan, seolah separuh dari kesadarannya hilang karena melihat sosok yang kini telah berdiri di hadapannya. Tangannya bergerak menunjuk dirinya sendiri lalu menunjuk sosok di hadapannya, sementara pandangannya tak pernah lepas dari sosok itu.</p>
<p>“Hye In-a, neo gwaenchana?”</p>
<p>Hye In merasakan tubuhnya berguncang. Sosok itu kini tengah memegang kedua bahunya seraya menatapnya dengan sorot penuh kecemasan.</p>
<p>“Junsu-a..” Panggil Hye In lirih, dan detik berikutnya ia langsung menghambur ke arah sosok itu dan memeluknya dengan erat. “Jangan pergi, Junsu-a.. tetaplah di sini, aku mohon..”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>Junsu berdiri terpaku di tempatnya. Ia sama sekali tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini. Hye In memeluknya dengan sangat erat, membuat jantungnya berdegup dengan tempo yang sangat cepat.</p>
<p>“Hye In-a..”</p>
<p>“Aku tidak ingin kau meninggalkanku lagi.. aku takut kehilanganmu, Junsu-a.. aku takut tidak bisa melihatmu lagi.. bagaimana aku bisa melewati hari-hariku seperti biasanya tanpamu? Aku benar-benar takut..”</p>
<p>Junsu termangu mendengar ucapan Hye In. Semua ini seperti mimpi baginya, mimpi yang terasa begitu nyata.</p>
<p><em>‘Tuhan, jika semua ini hanya mimpi, tolong jangan bangunkan aku..’</em></p>
<p>Junsu menjauhkan tubuh Hye In dari dirinya dengan perlahan, membuat pelukan yeoja itu terlepas dari tubuhnya. Dipandangnya kedua mata Hye In dengan lekat, mata yang kini telah memerah dan berurai air mata.</p>
<p>“Uljimara.. tidak ada yang perlu kau takutkan, Hye In-a.. aku tidak akan kemana-mana..” Ujar Junsu lembut seraya menghapus air mata Hye In dengan kedua tangannya.</p>
<p>“Jeongmal? Kau tidak akan kembali ke Jepang?”</p>
<p>“Kembali ke Jepang?” Tanya Junsu yang terlihat bingung. “Untuk apa? Studiku di Jepang sudah selesai, jadi untuk apa aku kembali ke sana?”</p>
<p>“Jadi kau benar-benar tidak akan pergi?”</p>
<p>Junsu menggelengkan kepalanya seraya menjawab, “Ani, aku akan menetap di sini.. lagipula setelah So Hee noona menikah, aku akan mengambil alih kafe Jaejoong hyung..”</p>
<p>“Lalu kenapa kau kemari? Kenapa kau ke bandara?”</p>
<p>“Aku kemari untuk menukar tiket pesawat untuk bulan madunya So Hee noona dan Yunho hyung..”</p>
<p>“Mweo?”</p>
<p>Junsu mengerutkan keningnya, melihat Hye In yang nampaknya begitu terkejut mendengar penjelasannya. Tiba-tiba sesuatu terlintas di pikirannya. Mungkinkah Hye In..</p>
<p>“Apa kau berlari ke sini untuk mengejarku? Kau pikir aku akan kembali ke Jepang dan kau ingin mencegahnya, begitu?”</p>
<p>“Ne,”</p>
<p>“Wae? Kau tidak ingin aku pergi? Kau tidak ingin kehilanganku? Wae, Hye In-a?”</p>
<p>Junsu menatap lekat sosok Hye In yang kini menundukkan kepalanya, menunggu jawaban dari yeoja itu. Ia seperti menemukan secercah harapan, bahwa Hye In juga memiliki perasaan yang sama sepertinya. Tapi mungkinkah..?</p>
<p>“Aku rasa aku menyukaimu, Junsu-a..”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hye In menahan nafasnya. Ia baru saja membuat suatu pengakuan. Ya, akhirnya Hye In mengakui perasaannya yang sebenarnya terhadap Junsu. Ia sadar bahwa ternyata dirinya menyukai Junsu lebih dari sekedar teman. Junsu memiliki arti lebih bagi dirinya.</p>
<p>“Kau menyukaiku? Tapi bukankah di hatimu hanya ada Jaejoong hyung seorang?”</p>
<p>Hye In mengangkat kepalanya yang tertunduk, menatap Junsu yang kelihatannya tidak yakin dengan pengakuan yang baru saja ia katakan.</p>
<p>“Kau benar.. tapi aku sudah merelakan Jaejoong oppa, aku sudah merelakannya untuk tidak bersama denganku..” Ujar Hye In. Ia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya, “Dan sekarang ada namja lain yang mengisi hatiku.. kau, Junsu-a..”</p>
<p>“Aku?”</p>
<p>“Ne..” Jawab Hye In mantap, memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya pada Junsu. “Jaejoong oppa pernah bilang padaku kalau kau tulus menyukaiku.. apa itu benar?” Tambahnya, bagaimanapun juga ia ingin mengetahui perasaan Junsu yang sebenarnya terhadap dirinya. “Apa sampai sekarang perasaan itu masih sama?”</p>
<p>“Ani,”</p>
<p>Deg.</p>
<p>Hye In tertegun. Kedua matanya menatap kosong ke arah Junsu, sementara otaknya berusaha mencerna perkataan namja itu barusan.</p>
<p>“A.. an.. ani?” Tanya Hye In dengan terbata.</p>
<p>“Perasaanku sudah tidak sama seperti dulu lagi, Hye In-a.. aku tidak lagi menyukaimu..”</p>
<p>Seketika Hye In merasakan dadanya menjadi sesak, membuatnya sulit untuk bernafas. Pengakuan Junsu membuatnya kembali merasakan perih di hatinya.</p>
<p>“Arraseo..” Ujar Hye In lirih, dan tanpa sadar air matanya telah kembali menetes. Hye In segera menghapus air matanya dan mulai melangkah mundur, bermaksud untuk pergi menjauh dari Junsu.</p>
<p>“Kau mau kemana?”</p>
<p>Hye In hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya saat Junsu menggenggam erat tangannya, mencoba mencegahnya untuk menjauh.</p>
<p>“Kau tidak mengerti, Hye In-a.. kau tidak akan mengerti kalau kau tidak mendengarkanku sampai aku selesai berbicara..”</p>
<p>“Arraseo, kau tadi sudah bilang kalau kau tidak menyukaiku..” Ujar Hye In dengan suara yang bergetar.</p>
<p>“Tapi aku belum selesai berbicara, Hye In-a.. kau harus mendengarkanku dulu.. aku memang tidak lagi menyukaimu, karena lebih dari itu.. aku mencintaimu, sangat mencintaimu..”</p>
<p>Hye In mengangkat kepalanya, menatap Junsu dengan tatapan tak percaya. Dipandangnya kedua bola mata Junsu dengan lekat, dan kedua bola mata itu seolah mengatakan hal yang sama seperti yang baru saja diucapkan oleh pemiliknya. Sorot mata Junsu terlihat begitu lembut, membuatnya merasa teduh saat memandangi kedua bola mata itu.</p>
<p>“Junsu-a..”</p>
<p>Hye In tidak melanjutkan kata-katanya karena Junsu langsung menarik tubuhnya ke dalam pelukan namja itu. Rasanya begitu hangat dan nyaman, namun di saat yang bersamaan jantungnya berdegup dengan sangat kencang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Aitakute zutto kimiwo omouyo.. kokorokara kimiwo</em></p>
<p><em>Mouichido my heart tsutaetakute</em></p>
<p><em>Kimiga yobeba bokuwa yukuyo kimino sobade waraitaindayo</em></p>
<p><em>[I miss you, my thoughts are always with you… from the bottom of my heart</em></p>
<p><em>Once again, I want to give my heart to you</em></p>
<p><em>If you call me, I’ll go to you I want to smile by your side]</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Saranghaeyo, Park Hye In..”</p>
<p>Hye In memejamkan kedua matanya saat mendengar suara lembut Junsu di telinganya. Kalimat itu begitu membuatnya bahagia, hingga ia berharap waktu bisa berhenti sejenak, supaya ia bisa menikmati saat-saat seperti ini lebih lama lagi.</p>
<p>“Nado saranghae, Kim Junsu..” Jawab Hye In seraya membalas pelukan Junsu, membuat namja itu semakin mempererat pelukannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>With all my heart.. find me and i’ll be there for you..</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">&gt;&gt;&gt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="center">
<p>Junsu menghentikan langkahnya di depan makam hyungnya. Ia lalu menoleh ke arah kirinya dan tersenyum lebar pada sosok yeoja yang tengah berdiri sambil membawa rangkaian bunga. Yeoja itu membalas senyumnya sambil mengangguk pelan sebelum akhirnya menaruh rangkaian bunga itu di depan nisan hyungnya. Junsu kemudian meraih tangan yeoja itu dan menggenggamnya erat.</p>
<p>“Hyung, aku pasti akan membuat Hye In bahagia.. aku janji, hyung..” Ujar Junsu sambil menatap makam hyungnya.</p>
<p>“Kau juga berbahagialah di sana, oppa.. kami menyayangimu, sangat menyayangimu..”</p>
<p>Junsu kembali mengulas senyum lebar. Perkataan Hye In membuat dadanya terasa hangat. Perlahan, ia pun melepaskan genggaman tangannya dan berganti meraih pundak Hye In.</p>
<p>“Saranghae..” Ujar Junsu, setelah sebelumnya ia mengecup puncak kepala Hye In dengan lembut, membuat yeoja itu tersipu malu.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>The End</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>HorEee tamaaaT&#8230;</strong></p>
<p><strong>gimaNa ceRitanya..? Semoga ngga aneH yaH, mian kLo banyak kekuranganNya..</strong></p>
<p><strong>Hehehehe&#8230;</strong></p>
<p><strong>Owya, FF ini sPesiaL bwT miss byoL yg mana sangat suka sekaLi sama Junsu,,</strong></p>
<p><strong>makasiH banyak buat semua reaDer yg udaH ngikuTin FF ini dari awaL samPe akHir..</strong></p>
<p><strong>makasiH BwT aTensi kaLian, doakan autHor dPt insPirasi bwT bikin FF baRu,,</strong></p>
<p><strong>kamsaHamnidaaaaa&#8230;&#8230;&#8230;</strong></p>
<p><strong>n_n</strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://fan3less.wordpress.com/category/fanfiction-korea/'>fanfiction korea</a> Tagged: <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/dbsk/'>DBSK</a>, <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/hiro-jaejoong/'>Hiro-Jaejoong</a>, <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/max-changmin/'>Max-Changmin</a>, <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/mickey-yoochun/'>Mickey-Yoochun</a>, <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/u-know-yunho/'>U know-Yunho</a>, <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/xiah-junsu/'>Xiah-Junsu</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fan3less.wordpress.com/11752/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fan3less.wordpress.com/11752/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fan3less.wordpress.com/11752/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fan3less.wordpress.com/11752/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fan3less.wordpress.com/11752/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fan3less.wordpress.com/11752/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fan3less.wordpress.com/11752/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fan3less.wordpress.com/11752/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fan3less.wordpress.com/11752/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fan3less.wordpress.com/11752/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fan3less.wordpress.com/11752/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fan3less.wordpress.com/11752/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fan3less.wordpress.com/11752/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fan3less.wordpress.com/11752/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fan3less.wordpress.com&amp;blog=8241797&amp;post=11752&amp;subd=fan3less&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/24/how-can-i-part-8-end/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4e11ffec65306fa8048212455fc7ea6?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikariani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>In The End ( Part 7 )</title>
		<link>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/23/in-the-end-part-7/</link>
		<comments>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/23/in-the-end-part-7/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 00:27:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dikariani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[2pm]]></category>
		<category><![CDATA[Hwang Chansung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fan3less.wordpress.com/?p=11725</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Nama author   :  Mrs. Kimila Main Cast        :  -     Hwang Chansung -          Yoon Donghwa -          Yong Junhyung -          Cho Kyuji Other cast       : Find it Title                 : In The End Part 7 Genre              : AU, Friendship, romance Rating              : PG 13 Disclaimer       : Nama diatas itu ya milik mereka sendiri, aku hanya memliki&#160;&#8230; <a href="http://fan3less.wordpress.com/2012/01/23/in-the-end-part-7/">Read&#160;more</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fan3less.wordpress.com&amp;blog=8241797&amp;post=11725&amp;subd=fan3less&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://fan3less.files.wordpress.com/2011/12/cover-ff-fix-copy2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-11726" title="cover FF fix copy" src="http://fan3less.files.wordpress.com/2011/12/cover-ff-fix-copy2.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li><span style="color:#ff0000;"><strong>Nama author   :  Mrs. Kimila</strong></span></li>
<li>Main Cast        :  -     Hwang Chansung</li>
</ul>
<p>-          Yoon Donghwa</p>
<p>-          Yong Junhyung</p>
<p>-          Cho Kyuji</p>
<ul>
<li>Other cast       : Find it</li>
<li>Title                 :<span style="color:#ff0000;"> In The End Part 7</span></li>
<li>Genre              : AU, Friendship, romance</li>
<li>Rating              : PG 13</li>
<li>Disclaimer       : Nama diatas itu ya milik mereka sendiri, aku hanya memliki alur ceritanya saja.</li>
<li>Note                : mohon banget untuk di komen soalnya ini FF buatanku yang pertama. Dan harap maklum kalo ceritanya gak jelas yaaa, karena aku juga masih pemula hehe. Happy reading guys Semoga kalian tertarik J</li>
</ul>
<p>Donghwa tersentak, ia tak percaya chansung berkata seperti itu. “tidak chan, tidak. Aku akan tetap berada disisimu.” Ujar donghwa.</p>
<p>“untuk apa bersamaku, hah?” nada suara chansung mulai meninggi. “untuk apa bersama orang buta? Percuma. Aku tak akan bisa membahagiakanmu donghwa. Jadi pergilah ke junhyung, aku yakin ia bisa membahagiakanmu.” Pinta chansung.</p>
<p>“apa katamu? Bahagia? Tidak chan, kau salah. Mana mungkin aku bahagia dengan orang tak kusayang?”</p>
<p>“dulu kau begitu menyayanginya, apa bedanya donghwa? Kau hanya perlu menumbuhkan lagi perasaanmu terhadapnya.” Terjadi perselisihan diantara mereka.</p>
<p>“tidak chan, aku tidak mau. Aku ingin bersamamu.”</p>
<p>“tapi aku tidak. Donghwa, aku buta. Apa yang bisa kau harapkan dari namja buta seperti aku?”</p>
<p>“aku tidak pernah mengharapkan apapun chan. Lagi pula kau tidak akan buta selamanya, ini hanya sementara.”</p>
<p>“tapi tetap saja.” Chansung masih bersikukuh meminta donghwa untuk bersama junhyung.</p>
<p>“chan&#8230; kumohon, biarkan donghwa tetap disampingmu, biarkan aku menjadi matamu. apapun yang chansung alami, siapapun dirimu sekarang, kau tetap chansung yang donghwa sayang. Jadi biarkan donghwa bersama chansung, kita hadapi ini bersama – sama chan.”</p>
<p>“donghwa, please&#8230;. mengertilah. Aku tak mau kau ikut menderita bersamaku, percayalah ini juga demi kebaikanmu. Jadi mulai sekarang jangan pernah datang lagi kesini, lupakanlah aku. Kau hanya perlu mengingat junhyung dan berbahagialah bersamanya, oke.”</p>
<p>“chan&#8230;”</p>
<p>“please dongwa&#8230; sekarang kau bisa pergi, aku mau istirahat.” Chansung mengakhiri perselisihan ini secara sepihak. Donghwa tidak dapat berkutik sama sekali, karena ia pikir mungkin chansung butuh waktu untuk semua yang telah ia alami saat ini jadi donghwa mencoba mengalah.</p>
<p>Dengan hati yang sedih donghwa pun meninggalkan kamar chansung lalu pergi entah kemana, ia hanya mengikuti kemana langkahnya bergerak.</p>
<p>Sedang chansung, ia kembali menangis. Ia sudah cukup sabar menahan air matanya ini, ia tak ingin donghwa melihatnya. jadi setelah donghwa pergi ia pun mengeluarkan air matanya. Ia sangat sedih, marah, kecewa dan juga kesal terhadap dirinya sendiri. Ia merasa sangat bersalah dengan semua yang telah terjadi saat ini. Ia merasa dirinya ialah manusia terbodoh yang ada dimuka bumi.</p>
<p>Sejujurnya ia tak ingin donghwa pergi tapi ia tak ingin merasa egois untuk mempertahankan donghwa dengan keadaannya yang lemah saat ini. Jadi ia memutuskan untuk melepas donghwa. Hanya satu hal yang chansung inginkan yaitu, ia ingin yeoja itu bahagia. Tapi ia sadar donghwa tak akan bahagia bersamanya jadi ia merelakan donghwa pergi, demi yeoja itu dan demi dirnya sendiri.</p>
<p align="center">***</p>
<p>“jadi, bagaimana dok?” tanya jonghyun kepada dokter yang telah merawat anaknya yang menderita kanker otak stadium akhir ini selama kurang lebih 3 tahun.. ketika mereka telah sampai diruangan dokter itu.</p>
<p>“maafkan saya tuan dan nyonya Yong, tapi kesehatannya menurun drastic dan sepertinya keadaan anak anda semakin parah. Saya takut waktunya tinggal sebentar lagi.” Jawab dokter itu prihatin.</p>
<p>“bagaimana bisa? Kita terus berusaha untuk menyembuhkannya selama ini, tapi kenapa malah makin parah dok?” tanya jong lagi.</p>
<p>“menurut pendapat saya, ini ada hubungannya dengan psikis anak anda pak, ada sesuatu yang telah terjadi dengannya yang membuatnya seperti telah lelah berusaha. Dulu ia sangat giat datang ke sini untuk mengontrol perkembangan dirinya, namun belakangan ini ia sudah jarang sekali datang, dan itu membuat penyakitnya kambuh lagi.”</p>
<p>“dia jarang datang? Tapi ia bilang padaku bahwa ia masih rajin mengunjungimu.” Kini giliran istri jong angkat bicara.</p>
<p>“ia sudah hampir dua bulan tidak datang.”</p>
<p>“jadi dia berbohong padaku?” istri jong tampak sangat terkejut mengetahui bahwa anakanya telah berbohong.”</p>
<p>“apa kira – kira kalian tahu apa yang belakangan ini ia alami? Apa dia punya masalah” dokter itu bertanya.</p>
<p>Kedua orang itu pun menggeleng. “kami tidak tahu, tapi akan mencari tahu.” Ujar jonghyun.</p>
<p>“baiklah, kalau begitu.” Ujar dokter itu menyelesaikan pembicaraan mereka kali ini. lalu kedua orang itu pun menghampiri anak diruang rawatnya.</p>
<p>Beberapa hari kemudian…</p>
<p>Tn. Dan Ny. Yong memerhatikan anaknya yang sedang beristirahat dengan seksama. Ia terlihat begitu lemah namun suatu kedamaian muncul diwajahnya. Ia tampak tenang dan juga damai dalam tidurnya.</p>
<p>“apa yang menimpamu nak? Sesuatu telah terkjadi kah?” tanya ny. Yong kepada anak lak -lakinya, namun namja itu tak bergeming. Ny. Yong mengelus keningnya lembut penuh kasih sayang. Sedang suaminya duduk disebelahnya.</p>
<p>Tiba – tiba jari namja itu bergerak – gerak lemah menandakan bahwa ia telah sadar. “ayah, ibu” panggilnya lemah.</p>
<p>“yaaaa, ibu dan ayah disini nak.” Ujar Ny. Yong lembut.</p>
<p>“aku dirumah sakit ya?” tanyanya. Jonghyun pun mengangguk.</p>
<p>“5 hari yang lalu kau pingsan dikamarmu, sayang.” Jawab jonghyun.</p>
<p>“maafkan aku ya ayah, ibu.” Namja yang tak lain adalah Junhyung itu merasa berslah karena telah membuat kedua orang tuanya khawatir.</p>
<p>“tidak sayang, jangan minta maaf. Kau tidak salah.” Ny. Yong memeluk anaknya lembut.</p>
<p>“sebenarnya ada apa denganmu nak?” tanya Jonghyun, ayahnya.</p>
<p>“aku tidak apa – apa ayah, hanya lupa meminum obat.” Jawab junhyung.</p>
<p>“kau yakin, kau tidak sedang berusaha menutupi sesuatu kan? Jujurlah pada ayah dan ibu jun” Jonghyun ingin sekali tahu apa yang telah dialami ankanya ini yang membuatnya samai drop.</p>
<p>Junhyung bangkit dari posisi tidurnya dan kini ia telah duduk bersandar dibantu oleh ibunya. “maafkan aku ayah, aku hanya sedang dalam sedikit masalah belakangan ini, tapi semuanya telah selesai, ayah jangan khawatir. Ibu juga.” Junhyung berusaha menjelaskan.</p>
<p>“apa masalah itu terkait dengan yeoja?” junhyung agak terkejut.</p>
<p>“ayah tahu?” tanya junhyung. Jonghyun pun mengangguk.</p>
<p>“iya, 2 hari yang lalu ayah dan ibu bertemu dengan seorang yeoja yang bernama Yoon Donghwa..” Jelas jong. Junhyung terlihat sedikit tersentak.</p>
<p>*flashback*</p>
<p>“jong, lihat” ujar Ny. Yong atau yang lebih tepat bernama Luna itu setengah berteriak memanggil suaminya, Jonghyun.</p>
<p>“ada apa?” jong segera menuju kearah suara yang memanggilnya.</p>
<p>“aku sedang mengecek handphone milik Junhyung dan terakhir ia dikontak oleh seorang yeoja yang bernama Yoon Donghwa. Coba lihat.” Luna menunjuk layar handphone milik junhyung yang ia temukan dikamar junhyung.</p>
<p>“siapa dia? Mungkinkah mereka berteman.” Tanya jonghyun.</p>
<p>“kalau berteman itu sudah pasti, tidak mungkin kalau mereka tak saling mengenal yeoja itu menlepon anak kita.” Jonghyun mengangguk –  angguk.</p>
<p>“dan lihat ini, ada memo yang berisi <em>‘akhirnya ia telah memilih, walaupun pilihannya bukan aku tapi aku sangat senang dan juga lega, karena aku yakin ia akan bahagia. Sayang sekali aku tidak bisa membahagiakannya dengan kondisiku yang seperti ini. aku mencintaimu </em><em>J berbahagialah dengannya’ </em>“ jonghyun dan juga luna tertegun.</p>
<p>“jadi ia menyukai seorang yeoja itu dan yeoja itu bernama donghwa? Apa menurutmu begitu.” Tanya jonghyun.</p>
<p>“kurasa, karena memo ini ditulis 2 jam setelah yeoja yang bernama donghwa meneleponnya.” Jawab luna, wajahnya tampak sedang berpikir.</p>
<p>“bagaimana kalau kita menemui yeoja itu, untuk memastikan.” Tawar jonghyun.</p>
<p>“ide bagus, aku akan menelponnya.” Luna sejutu dengan ide jonghyun.</p>
<p>Lalu tiba – tiba ketika jonghyun membuka sebuah laci ia menemukan dua buah buku. Yang satu bertuliskan <em>‘Yoon Donghwa’s diary’</em> dan yang satu lagi kosong. “luna kemarilah sebentar.” Pinta jonghyun. Luna yang tadinya ingin menelpon donghwa mengurungkan niatnya lalu menghampiri jonghyun. mereka pun membukanya satu persatu isi kedua buku itu.</p>
<p>“Jadi mereka saling menyukai, astagaaa&#8230;. sepertinya ini sangat rumit.” Ujar jonghyun setelah membaca beberapa lembar dari kedua buku itu. Luna mengangguk.</p>
<p>“jadi inilah perasaan anak kita selama ini?” tanya luna lirih.</p>
<p>“segera telpon yeoja itu, kita harus bicara dengannya. Lalu luna menelpon donghwa.</p>
<p><em>“hallo”</em> terdengar suara lembur seorang yeoja dari sebrang sambungan telepon.</p>
<p>“hallo, apa kau yoon donghwa?” tanya luna.</p>
<p><em>“iya ini aku”</em> jawabnya.</p>
<p>“maaf menganggumu, aku ibu dari Yong Junhyung, kau mengenalnya kan?”</p>
<p><em>“hm&#8230;”</em> diam sejenak<em>. “yaaa aku mengenalnya, ada apa tante menelponku? Apa ada masalah?”</em> tanya yeoja itu.</p>
<p>“tidak, tidak ada masalah, aku hanya ingin bertemu denganmu untuk membicarakan sesuatu apa kau ada waktu?”</p>
<p>Yang disebrang sana diam sejenak, lalu menjawab <em>“tentu saja, kapanpun tante.”</em></p>
<p>Lalu luna menjelaskan kapan dan dimana mereka akan bertemu.</p>
<p><em>“baiklah, sampai ketemu tante.”</em> Ujar yeoja itu lalu ia memutuskan sambungan.</p>
<p>Disuatu restoran&#8230;..</p>
<p>“maaf aku terlambat.” Dengan tergopoh – gopoh donghwa menghampiri sepasang suami istri yang sedang tampak berbincang. Keduanya pun segera menoleh kearah datangnya donghwa.</p>
<p>“tidak apa sayang duduklah, ohya perkenalkan aku Luna dan ini Jonghyun, kami orang tua dari Junhyung.” Luna membuka perbincangan.</p>
<p>Donghwa membungkukkan badannya “hallo, aku donghwa.” Ujarnya ramah. “maaf, tapi sebenarnya ada apa hingga kalian ingin bertemu denganku.” Tanya donghwa to the point.</p>
<p>Jonghyun dan luna saling bertukar pandang. Lalu jonghyun mengangguk. Dan luna pun mulai menceritakan tentang kondisi junhyung yang sebenarnya kepada yeoja itu.</p>
<p>“donghwa kami minta maaf, bukan maksud kami sebenarnya untuk ikut campur, tapi kami sebagai orang tua hanya ingin tahu apa kau ada hubungan spesial dengan junhyung” donghwa mengernyitkan dahinya.</p>
<p>“hubungan spesial?” tanyanya.</p>
<p>“iya, apa junhyung menyukaimu?” jonghyun bertanya.</p>
<p>“hm&#8230;” donghwa tampak berpikir. “sebenarnya iyaaa, aku juga baru tau belakangan ini tapi..”</p>
<p>“tapi kau tidak menyukainya?” ujar jonghyun memutus perkataan donghwa.</p>
<p>Donghwa menggelengkan kepala beberapa kali. “bukan, bukan itu. Dulu aku sangat menyukainya tapi ia selalu mengabaikanku hingga akhirnya kini aku telah menyukai orang lain tapi tiba – tiba ia datang dan bilang bahwa ia menyukaiku. Ini suatu hal yang mengejutkan, sejujurnya aku sangat senang mengetahuinya tapi&#8230;.” donghwa diam.</p>
<p>“aku mengerti bagaimana perasaanmu donghwa.” Ujar luna lembut. “kami menemukan ini” luna mengeluarkan 2 buah buku. Donghwa agak tersentak melihatnya karena salah satu buku itu adala miliknya.</p>
<p>“bagaimana kalian bisa?” tanya donghwa.</p>
<p>“kami menemukan ini dikamar junhyung dan maaf jika kami membacanya sedikit. Ini milikmu kan? Dan yang ini milik junhyung. Tapi dari sini kami mengerti tentang perasaan kalian berdua dan masalah yang kini sedang kalian hadapi. Tapi donghwa, kami ingin kau tahu bahwa selama ini junhyung mengabaikanmu karena ada sesuatu yang dia sembunyikan dan ia tak ingin kau mengetahuinya. Jangankan kau, bahkan ia tak ingin orang lain tau kecuali kami.”</p>
<p>“tahu apa?” tanya donghwa penasaran.</p>
<p>“sebenarnya&#8230;. junhyung mengidap kanker otak sejak 2 tahun yang lalu ketika ia masuk ke sekolah tinggi, hingga kini kankernya telah mencapai stadium akhir.” Akhirnya luna mengungkapkan rahais ajunhyung yang setengah mati ia sembunyikan dari seluruh temannya apalagi donghwa, yaitu tentang penyakitnya.</p>
<p>Donghwa melongo, ia sangat tidak percaya mendengar ucapan dari ibu junhyung ini. “tidak mungkin.” Ujarnya lemah tapi masih bisa didengar oleh luna dan juga jonghyun yangs emenjak tadi hanya diam.</p>
<p>“sejujurnya sejak pertama kali masuk ke sekolah tinggi dan bertemu denganmu, ia juga menyukaimu tapi ia berpikir bahwa umurnya tidak akan panjang dan ia tak akan bisa bersamamu, jika pun kalian bersama pasti hanya sebentar dan nantinya ia takut akan menyisakan luka yang dalam bagimu jika tiba saat ia harus pergi. Jadi ia memutuskan untuk memendam perasaannya selama ini dan berusaha menguburnya dengan cara mengabaikanmu. Ia berharap sekali kalau kau bisa dengan segera menemukan namja lain. Tapi&#8230;” luna diam sejenak.</p>
<p>“saat melihatmu mulai dekat dengan chansung, ia merasa hatinya sangat sakit, ia tak rela melihatmu bersama namja itu. Dan ada sesuatu yang entah itu apa tapi mendorongnya untuk berujar yang sejujurnya padamu tentang perasaannya. Maka dari itu ia pun mengutarakan perasaannya padamu, tapi itu belumlah semua yang ia ingin utarakan padamu. Sebenarnya masih banayk hal lain yang ingin ia utarakan padamu, tapi ia masih pikir –pikir.” Donghwa terlihat shock berat dengans emua ucapan luna. Ia masih tidak percaya dengan semua ini.</p>
<p>“tidak mungkin.” Hanya itu yang keluar dari mulut donghwa.</p>
<p>Lalu luna menyodorkan dua buah buku diary pada donghwa. “jika kau ingin memastikannya, bacalah ini dan kau akan mengetahui semuanya. Tapi donghwa bolehkah kami minta satu hal padamu?”</p>
<p>Tatapan donghwa kosong melihat buku itu tapi ia masih bisa mendengar suara luna dan menjawabnya “apa itu?”</p>
<p>“sebagai orang tua kami ingin melihat anak kami bahagia untuk terakhir kalinya. Kini keadaannya semakin memburuk donghwa, kata dongter ia sudah tidak mampu bertahan jadi usianya tidak akan lama lagi.” Suara luna terdengar bergetar, lalu jonghyun merengkuh istrinya lembut, menguatkannya.</p>
<p>“kami ingin kau berada disisi junhyung untuk beberapa saat ini, hingga&#8230; yah hingga waktunya. Aku ingin junhyung merasa tenang dan nyaman bersama dengan orang – orang yang dicintainya termasuk kau donghwa. Maukah kau?” tanya luna sambil meraih kedua tangan donghwa dan menggenggamnya lembut.</p>
<p>Donghwa  tak bergeming dan tatapannya masih kosong. Lalu ia menghela napas panjang. “akan kupikirkan.” Lalu ia beranjak pergi.</p>
<p>“maaf tapi aku harus pergi sekrang, sampai jumpa.” Ia membungkukkan badannya dan segera pergi, ketika itulah airmatanya mengalir cukup deras.</p>
<p align="center">*flashback’s end*</p>
<p>“lalu apa yang kalian bicarakan?” tanya junhyung.</p>
<p>“tentang perasaanmu dan juga perasaannya.” Jawab luna.</p>
<p>“oh.” Junhyung pasrah.</p>
<p>“kau masih sangat menyukainya kan? Kenaa kau biarkan dia pergi? Bukankah kau membutuhkannya?” Tanya luna.</p>
<p>“tidak, aku tidak membutuhkannya, lagi pula itu haknya, ia telah menyukai namja lain dan aku ingin ia bahagia.”</p>
<p>“kau bohong Yong Junhyung. Ibu tahu kau sebenarnya tidak rela kan, kau hanya tak ingin menyakiti siapapun, itu kan alasanmu?”</p>
<p>“ibu….”</p>
<p>“ibu tahu semuanya junhyung, jangan berpura – pura lagi. Kenapa kau tidak datang dan minta kepadanya untuk kembali? Kenapa kau merelakan ia pergi?”</p>
<p>“ibu tidak mengerti. Aku tak ingin membuatnya terluka bu, ibu tahu usiaku sudah tidak lama lagi. Kalau aku mengejarnya sama saja aku memberinya harapan palsu, toh sebentar lagi aku akan pergi.”</p>
<p>“jun… jangan bicara seperti itu. Usiamu masih panjang, ibu yakin.”</p>
<p>“sudahlah bu, kita sudah membahas tentang ini beribu ribu kali, tapi faktanya? Hanya tinggal sebentar lagi.”</p>
<p>“cukup jun.” jonghyun mendahului istrinya yang ingin berujar sesuatu, ia tak ingin terjadi pertengkaran antara anak dan istrinya.</p>
<p>Luna membelai kepala anaknya “ibu hanya ingin kau bahagia, bahkan jika memang sudah dekat waktunya.”</p>
<p>“aku akan bahagia bu, bersamamu dan ayah. Jangan khawatir.” Ucap junhyung menenangkan.</p>
<p>“tapi… kenapa 2 bulan ini kau tidak mengontrol keadaanmu jun?” tanya jonghyun.</p>
<p>“a-aku…” junhyung terlihat bingung. “a-aku tidak tahu. Ketika aku telah mengutarakan isi hatiku yang sesungguhnya kepada yeoja yang kusayangi, aku merasa hatiku sangat tenang dan merasa sudah tidak punya beban, mungkin ini alasannya aku tak ingin lagi berusaha bertahan. Aku sudah cukup lelah dengan semua ini ayah. Aku ingin membiarkan semuanya berjalan sesuai kehendak Tuhan saja. Bolehkah?” luna yang mendengar ucapan anaknya ini menitikkan airmatanya.</p>
<p>“jadi kau ingin pergi?” tanya luna nanar yang dijawab anggukan oleh junhyung.</p>
<p>“entahlah tapi ada sesuatu yang kurasa waktunya sudah dekat. Maafkan aku ayah, ibu aku tidak bisa menjadi anak yang baik seperti yang kalian harapkan. Maaf aku telah mengecewakan kalian.” Mata junhyung mulai berkaca – kaca.</p>
<p>Keduanya pun memeluk anak semata wayangnya. Sesak rasanya bagi jonghyund an juga luna mendengar anaknya berbicara seperti ini. mereka tidak bisa berbohong bahwa mereka masih tidak rela dengan semua ini, rasanya begitu tidak adil bagi junhyung. Kenapa harus anaknya yang mengalami hal ini.</p>
<p>“lalu apa yang kau inginkan saat ini? ibu dan ayah akan mengabulkannya.”</p>
<p>“aku tidak minta apa – apa kok, aku hanya ingin kalian memaafkannku.”</p>
<p>“sudahlah jangan minta maaf terus, kau sama sekali tak salah.”</p>
<p>“hehehe” junhyung nyengir lebar seperti seorang anak kecil yang baru saja dibelikan lollipop.</p>
<p>“istirahatlah, aku akan bertemu dokter dan memastika bahawa besok kau sudah boleh pulang.” Ujar luna lalu disambung oleh jonghyun “yaaa kau istirahat ya, ayah harus kekantor, jangan lupa makan siang.” Junhyung hanya mengangguk – angguk dan tersenyum lalu melihat kedua orang tuanya yang beranjak pergi dan lenyap dibalik pintu.</p>
<p align="center">***</p>
<p>“apa dia masih tidak mau menemuiku?” tanya donghwa khawatir kepada Victoria yang baru saja keluar dari kamar rawat chansung.</p>
<p>Victoria hanya menggelelng.</p>
<p>“hhh… sudah seminggu.” Ujar donghwa lemas. Ia terlihat frustasi.</p>
<p>“maaf donghwa tapi sebaiknya untuk saat ini jangan datang lagi. Ia benar – benar butuh sendiri, kurasa. Lagi pula 2 hari lagi ia akan diperbolehkan pulang. Biarkanlah ia tenang dulu, mungkin nanti dia yang akan mendatangimu.” Victoria memberi saran, ia sedih melihat donghwa yang tampak frustasi dan hampir putus asa menghadapi kenyataan bahwa setelah percakapan terakhir mereka saat chanson baru saja sadar, chansung tak pernah ingin ditemui olehnya. Ini sudah yang ke 10 kalinya ia datang dan chansung sellau menolak untuk bertemu dengannya.</p>
<p>“menurutmu  begitu? Baiklah.” Dengan lemas donghwa beranjak pergi.</p>
<p>Donghwa’s pov</p>
<p>Aku tidak tahu apa yang salah denganku tapi semua ini membuatku gila. Setelah tah bahwa junhyung ternyata mengidap penyakit yang parah, hatiku semakin tak karuan dibuatnya. Aku bingung harus bagaimana, ditambah lagi chansung yang saat inis ellau menghindariku, tak pernah mau kutemui atau kuhubungi. Ini membuatku benar – benar gila.</p>
<p>Kulajukan mobilku ke taman tempat aku menemui junhyung karena hanya disitu aku merasa nyaman saat ini. setelah sampai aku mengambil salah satu kursi ditaman itu, kebetulan daerahnya sedang sepi. Lalu aku sadar bahwa didalam tasku ada 2 buah note.</p>
<p>Kubuka lagi selembar demi selembar dari salah satu note dan kubaca ulang lagi seluruh isinya. Note milik junhyung. Aku pun terkesiap. Ternyata aku tak tahu apapun tentang dirinya. Selama ini aku hanya mengetahuinya dari luar. Dan ternyata jauh didalamnya begitu banyak hal sulit yang harus ia tempuh. Dan aku sadar ia luar biasa.</p>
<p>Tidak hanya gue yang mengalami hal sulit selama ini, ternyata ia pun juga. Dan hatiku pun tergugah. Aku ingin menemuinya dan membuktikan ini semua langsung kepadanya. Akhirnya aku pun memutuskan untuk menemuinya. Kumasukkan kembali note itu kedalam tas lalu aku pun bernjak pergi ke rumah sakit.</p>
<p>Sesampainya dirumah sakit…..</p>
<p>Tok tok tok, aku mengetuk pintu kamar rawat junhyung.</p>
<p>Lalu seseorang membukakan pintu untukku yang ternyata ialah luna, ibu junhyung. “oh kau donghwa, masuklah.” Ajaknya.</p>
<p>Lalu aku langkahkan kakiku masuk keruangan itu dan aku melihatnya, junhyung. Ia terlihat lebih lemah dan pucat dari biasanya. Ketika ia melihatku, aku pun tersenyum.</p>
<p>“hai junhyung.” Sapaku. Wajahnya terlihat bingung menatapku.</p>
<p>“ibu akan ke kantin sebentar, kalian berbincanglah.” Ujar ibu junhyung llau ia bergegas meninggalkan kami berdua diruangan berbau obat itu.</p>
<p>“ada apa kamu kemari donghwa?” tanya junhyung.</p>
<p>“aku ingin menjengukmu, apa aku salah?” jawabku dengan wajah polos, ia pun tersenyum. “bagaiman keadaanmu?” Tanyaku.</p>
<p>“seperti yang kau lihat, tidak terlalu baik. Ah, aku malu kamu melihatku dalam keadaaan seperti ini hehehe.” Jawabnya.</p>
<p>“loh, kenapa harus malu. Kau ini.”</p>
<p>“jadi…” junhyung diam sejenak, kulihat ia seperti sedang menerawang. “kamu sudah tahu semua ya?” tanyanya tiba – tiba.</p>
<p>Aku pun mengangguk. “tidak apa – apakan kalau aku tahu, apa kau keberatan?” dengan cepat ia menggeleng.</p>
<p>“tidak sama sekali. Tapi aku tidak mau kau jadi iba denganku ya” Ujarnya.</p>
<p>“tentu saja tidak, untuk apa aku mengibakanmu hahaha.” Candaku.</p>
<p>“bagaiman dengan chansung?” tanyanya. Aku bingung harus berkata jujur atau tidak, tapi akhirnya aku memutuskan untuk berkata jujur.</p>
<p>“ia mengalami kecelakaan jun.” junhyung terkejut.</p>
<p>“bagaimana bisa donghwa? Tanya lagi.</p>
<p>Lalu aku pun menceritakan semua yang telah terjadi padanya. junhyung tampak sangat shock.</p>
<p>“jadi ia memintamu pergi dari hidupnya secara tak langsung?” tanyanya.</p>
<p>“sepertinya begitu” aku mengangkat bahu.</p>
<p>Junhyung sangat kalut mengetahui bahwa chansung kini tak dapat melihat. “kasihan sekali chansung… ini semua gara – gara aku. Seharusnya aku tidak memintamu memelukku saat itu.”</p>
<p>“hey, ini bukan salahmu.” Aku mencoba menghiburnya karena junhyung kelihatan sangat sedih.</p>
<p>“tidak. Ini semua salahku.”</p>
<p>“jun….” ujarku lalu aku memeluknya.</p>
<p>“aku ingin bertemu dengannya, donghwa.” Pintanya masih dalam pelukanku.</p>
<p>“jangan saat ini, kau belum pulih, nanti saja kalau kau sudah pulang yah.” Aku member saran, lalu ia mengangguk seperti anaka kecil, kelihatan lucu hehhe.</p>
<p>“baiklah, sekarang sebaiknya kau makan siang, mau kusuapi?” tawarku.</p>
<p>Junhyung menggeleng. “aku bisa makan sendiri.”</p>
<p>“aku tahu, tapi kali ini biar aku menyuapi mu yaaaaa, ayolah.” Bujukku lalu ia menyetujuinya karena tidak tege melihatku. Aku pun menyuapinya hingga ia mengahabiskan semua makanannya.</p>
<p>“nah sekarang sudah selesai, sebaiknya kamu istirahat.” Ujarku.</p>
<p>“kamu iniiii seperti ibuku donghwa hahaha.” Ia mendorong bahuku pelan sambil tertawa.</p>
<p>“aku akan menjadi ibumu seterusnya.”</p>
<p>Mendengar perkataanku junhyung menaikkan satu alisnya. “seterusnya?”</p>
<p>“iyaaaa, berhubung ini sedang liburan musim panas dan aku tidak ada kerjaan jadi aku akan menemanimu setiap hari, hihihi.”</p>
<p>“aishhh… kalau aku tidak setuju bagaimana?” tanya junhyung.</p>
<p>“setuju atau tidak setuju aku akan mengunjungimu weeek hahaha.” Ia tertawa dan ia juga hampir menempelengku kalau aku tidak menghindar.</p>
<p>“sudah sudah jangan tertawa lagi cepat istirahat.” Perintahku sok galak pada junhyung, ia hanya tertawa – tawa saja semenjak tadi namun ia mengikuti semua yang kukatakan. Ia membaringkan  dirinya lalu mencoba untuk tidur.</p>
<p>Tidak lama kemudian junhyung pun tertidur pulas. Aku memperhatikannya dengan seksama, terlihat sangat lucu seperti anak kecil dan damai namun juga didalam dirinya aku bisa melihat suatu kesedihan yang mendalam. Aku menjadi kasihan terhadapnya, junhyung adalah orang yang sangat baik yang pernah kukenal, tapi kenapa ia harus mengalami ini semua. Seharusnya aku tidak move on dan tetap membiarkan hatiku untukknya.</p>
<p align="center"><strong>*To Be Continued*</strong></p>
<p><em>Next chapter bakal jadi the last chapter jadi mohon ditunggu hehehe. Terima kasih buat yang masih setia baca dan juga comment. Saya sangat senang</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://fan3less.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a> Tagged: <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/2pm/'>2pm</a>, <a href='http://fan3less.wordpress.com/tag/hwang-chansung/'>Hwang Chansung</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fan3less.wordpress.com/11725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fan3less.wordpress.com/11725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fan3less.wordpress.com/11725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fan3less.wordpress.com/11725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fan3less.wordpress.com/11725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fan3less.wordpress.com/11725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fan3less.wordpress.com/11725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fan3less.wordpress.com/11725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fan3less.wordpress.com/11725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fan3less.wordpress.com/11725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fan3less.wordpress.com/11725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fan3less.wordpress.com/11725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fan3less.wordpress.com/11725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fan3less.wordpress.com/11725/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fan3less.wordpress.com&amp;blog=8241797&amp;post=11725&amp;subd=fan3less&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fan3less.wordpress.com/2012/01/23/in-the-end-part-7/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://fan3less.files.wordpress.com/2011/12/cover-ff-fix-copy2.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://fan3less.files.wordpress.com/2011/12/cover-ff-fix-copy2.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">cover FF fix copy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a4e11ffec65306fa8048212455fc7ea6?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dikariani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fan3less.files.wordpress.com/2011/12/cover-ff-fix-copy2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">cover FF fix copy</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
