Serendipity – Chapter 5
Picturing myself without you
Scaring me..
So much
“Yang ini kamar Yoseobie…” Haeyeon menunjuk ke sebuah kamar yang terletak di pojokan ruangan. Saat ini dia sedang mengantar Suzy, untuk menunjukkan bagaimana kamar Yoseob yang sebenarnya.
“Igo yo eonnie? Kamar oppa?” Ulang Suzy, dengan penasaran Ia menunjuk ke arah kamar yang dimaksud oleh Haeyeon.
Samar terdengar panggilan dari arah dapur. “Suzy-ah, mian. Eomma memanggilku, aku tinggal sebentar ya..” Dengan tergesa-gesa Haeyeon segera menyusul ke arah sumber suara itu, meninggalkan suzy yang hanya berdiri terdiam, tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Menoleh ke arah kanan dan kirinya, Ia berjalan pelan, berhenti di pintu kamar kekasihnya. Hanya di pintu kamar saja, Ia tidak berani masuk. “Masuk saja..”
“Omo!” Dengan kaget suzy reflek memegang dadanya saat mendengar suara tersebut. Mendapati Yoseob yang saat ini sedang menatapnya.
“Sedang apa kamu disitu? Apa yang kau pikirkan? Ayo masuk.. Tidak ada yang aneh dengan kamarku..” Ujar Yoseob seraya membuka pintu kamarnya dan tersenyum lebar, melihat semua hal tetap ada diposisi yang sama, tidak ada yang berubah.
Laki-laki itu merebahkan badannya ke tempat tidur, mencium wangi bantal kesayangannya sejak kecil. “Aigoo, sudah berapa lama aku tidak tidur disini.. Bantalku…” Ujar Yoseob sebari memeluk erat bantalnya.
Dengan perlahan, suzy memasuki kamar itu dan mengedarkan pandangannya. Menyimpan semuanya dalam memori otaknya, tiap hal yang ditemukannya di kamar tersebut. Ada beberapa poster yang tertempel di dinding, Queen, Muse, Bon Jovi dan lainnya. “Kenapa ada banyak poster disini oppa? Band rock? Kau suka rock?” Tanya suzy, sembari memperhatikan deretan koleksi CD pacarnya yang berjejer rapi di lemari.
“Ne…waktu SMA dulu, aku adalah vokalis band yang beraliran rock.. Apa kau bangga? Kau bangga baby? Pacarmu keren kan? Keren kan?” Ujar yoseob dengan aegyo-nya.
Suzy menatap kekasihnya tersebut sembari menaikkan kedua alisnya. “Mungkin..” begitu ucapnya. Jauh di dalam hatinya, suzy ingin sekali melihat kekasihnya menjadi seorang rocker. Dan dia sudah pernah melihatnya sekali, sewaktu di Gayo Daejun beberapa tahun yang lalu, saat Yoseob menyanyikan lagu Bohemian Rhapsody dan It’s My Life. Dia terlihat sangat tampan, keren dan berbeda dari biasanya. Tapi tentu saja, suzy tidak akan mengatakan hal ini pada Yoseob. Itu hanya akan membuat Yoseob menjadi hyper berlebih.
“Oppa…kenapa bingkai foto yang ini kosong?” Tanya suzy saat menemukan ada tiga bingkai foto yang diletakkan diatas meja.
“Hmmmm?” Ujar Yoseob dengan malas-malasan, seakan sudah hampir berangkat ke negeri mimpi setelah bertemu dengan bantalnya.
“Oppa, ppali..” Suzy memanggil sekali lagi. Dengan berat hati Yoseob bangkit dari tempat tidurnya dan menghampiri suzy.
“Waeyo?”.
“Ini..kenapa dari tiga bingkai foto ini cuma bingkai ini yang tidak ada fotonya?” Tanya suzy seraya memandang kekasihnya yang saat ini sudah berdiri dihadapannya. Merasa bingung menemukan bingkai foto kosong yang dipajang seperti itu.
Yoseob mengalihkan pandangannya ke arah bingkai tersebut dan teringat akan suatu hal. “Baby, bisa kau buka bingkai foto itu? Aku sudah menemukan foto yang akan kupasang” ujar Yoseob sembari mencari dompet di saku celananya.
Dengan wajah bingung, suzy menuruti perintah Yoseob. Ia membuka bingkai foto tersebut dan menyerahkannya pada Yoseob. “Foto apa itu oppa?” Tanya suzy saat melihat Yoseob dengan gerakan kilatnya memasang foto yangg telah disimpannya itu dalam bingkai.
Dengan wajah puas, Yoseob kembali memasang bingkai tersebut di atas meja, berjejer dengan dua foto yang lain.
“Ige mwoeyo?” Ujar suzy saat melihat bingkai foto yang tadinya kosong sekarang sudah terisi dengan foto.
“Sejak dulu…aku sudah menyiapkan bingkai foto ini. Tiga bingkai yang mewakili 3 hal penting dalam hidupku. Masing-masing dari bingkai foto ini memiliki arti. Bingkai foto pertama..keluargaku” ujar yoseob seraya menyentuh pinggiran bingkai tersebut. Foto keluarga Yang, tergambarkan empat orang yang saat itu tersenyum dengan lebar ke arah kamera. “Appa, eomma, noona. Sampai kapanpun mereka adalah yang terpenting…”.
“Kemudian yang kedua..adalah BEAST..” terang Yoseob lagi, memperhatikan foto yang terpajang dalam bingkai itu, kenangan sewaktu rambutnya masih blonde, masa debut BEAST. “Sampai kapanpun, BEAST juga akan menjadi hal yang penting. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa mereka berlima. Kami tidak akan terpisahkan..Dan aku berharap tidak akan pernah” Ujar Yoseob sembari tersenyum.
Dan disitu, bingkai foto ketiga, dengan foto yang baru saja dipasang oleh Yoseob beberapa menit yang lalu. Suzy merasakan wajahnya memerah. Ia malu harus mendengarkan penjelasan Yoseob tentang foto itu. Bingkai foto itu berisi foto Yoseob dan Suzy saat mereka berdua ada di Jepang. Hari pertama setelah mereka resmi menjadi kekasih. Dengan foto yang diambil dari samping, pose Yoseob didepan memegang kamera, dan suzy dibelakangnya. Keduanya tersenyum lebar sembari menunjukkan cincin couple mereka. Kenangan yang tidak akan pernah diilupakan oleh kedua orang itu.
“Dan yang ini… Ini juga hal yang terpenting dalam hidupku.. Satu dari 3 hal terpenting yang melengkapi hidupku. Untuk pertama kalinya bingkai ini terisi, karena selama ini aku membiarkannya kosong. Gadis ini, gadis yang berfoto denganku ini, aku mencintainya..Dan aku akan melakukan apapun.. Apapun.. Agar dia bahagia…”.
Suzy menoleh ke arah yoseob. Bukan karena atas apa yang diucapkan oleh Yoseob, melainkan sesuatu hal dalam perubahan nada suaranya, perubahan dari ekspresi wajah Yoseob saat memperhatikan foto tersebut. Seakan ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Yoseob dan Suzy tidak mengetahuinya.
“Suzy-ah…ayo..waktunya foto keluarga..” Tiba-tiba Haeyeon sudah muncul dipintu dengan wajah yang berbinar bahagia.
Dengan bingung suzy menatap eonnienya itu. “Foto keluarga?” dengan ekspresi yang penuh tanda tanya, Suzy menghampiri Haeyeon, meninggalkan Yoseob dibelakang. Yoseob yang saat ini berusaha mengendalikan perasaannya. Mengendalikan semua rasa kalutnya seoorang diri.
“Ne..setiap kali Yoseob pulang selalu ada foto keluarga..” ujar Haeyeon seraya menggandeng tangan Suzy, mengajak gadis itu berjalan mengikutinya menuju keruang keluarga. Yoseob yang melihat pemandangan ini hanya mampu menghela nafas lelah. Ia seakan tidak memiliki kuasa untuk melawan apa yang terjadi saat ini. Dengan berat, Yoseob mengikuti kedua gadis itu dari belakang.
Suzy mengerjapkan matanya berkali-kali, berusaha menafsirkan apa yang diucapkan Haeyeon padanya. “Tapi aku bukan..”.
Dengan tidak sabar Haeyeon menggerakkan tangannya, “Bicara apa kau ini. Ayo..kau juga bagian dari keluarga Yang..Yang Su Ji..hahaha..ayo..ppali..eomma dan appa sudah menunggu kita..”.
Dengan Yoseob yang mengekor dibelakang, mereka bertiga kembali ke ruang keluarga dan terlihat sepasang suami istri Yang, sudah duduk di sofa. Mereka berdua tersenyum saat melihat kehadiran anak-anak mereka. Dengan cepat yoseob segera mengeset kamera di tripod yang telah dipersiapkan Haeyeon dan mengatur jarak yg tepat agar foto terlihat bagus.
“Eomma ditengah. Aku dan suzy akan duduk disamping eomma. Seperti ini. Duduklah suzy. Nah appa duduk disampingku, disini…oke. Yoseob ah..kau tahu dimana posisimu kan?” ucap Haeyeon memastikan.
Yoseob mengalihkan pandangannya dari kamera dan mengecek posisinya. “Ne..” Jawabnya. ” Oke semua siap?” tanyanya, yang mendapat anggukan sebagai jawaban. ” Oke..timer dimulai..hitungan ke 15 ya..dari..sekarang…”.
Yoseob memencet tombol timer dan berlari ke arah sofa, menuju posisi yang telah ditentukan oleh noonanya. Disamping Suzy. Disamping gadis yang dicintainya. Dan berharap selamanya… Mungkin…
“Klik..”.
♥ ♥ ♥ ♥ ♥
Hyunseung’s POV
Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam saku celana, berdiri menunggu hingga kakiku kram seperti ini, dan waktu yang aku punya cuma tinggal setengah jam lagi sebelum van menjemputku, dan dia tidak kunjung muncul. Aisshh… Bodohnya lagi kenapa aku ada disini? Bukannya aku harusnya tahu kalau dia tidak akan datang? Apakah tadi harusnya aku datang ke dormnya saja? Tapi dia pasti berteriak lagi seperti biasanya, dan aku sedang tidak ingin mendengarnya berteriak saat ini. Apa dia akan datang? Dingin sekali disini. Aku menggoyang-goyangkan kantong ungu yang berisi hadiah untuknya. Hadiah yang entah kenapa kubeli tanpa alasan. aku mendongak menatap langit yang saat ini terlihat bersih tanpa bintang. Yeah yeah.. Aku tidak pantas untuk jadi pujangga seperti Junhyung, tapi alangkah baiknya jika menunggu seperti ini ada hal lain yang bisa mengalihkan pikiranku.
“Ada apa?” aku mendegar sebuah suara muncul di taman yang sepi ini. Menoleh dan menemukannya sedang berdiri didepanku saat ini dengan ear warmer yang betengger ditelinga. Dia pasti sangat kedinginan. Aku merasakan rasa lega saat melihatnya lagi.
“Aku pikir kamu tidak akan datang” ucapku seraya menyodorkan bungkusan berwarna ungu kearahnya. “besok aku berangkat ke Jepang…” ucapku.
Aku melihatnya terdiam. Diam dan hanya memandangku. Ekspresi wajah dinginnya itu, apa dia tidak punya ekspresi yang lain tiap kali melihatku? Kapan dia bisa memandangku seperti dia memandang chansung tadi siang? “Apa itu?” tanyanya kemudian.
Dari nada suaranya, seakan aku bisa merasakan apa yang akan terjadi setelah ini. Seakan aku sadar bahwa timing-nya berteriak akan datang sebentar lagi. “Kacamata..” jawabku. “Ambil. Setelah itu aku akan pulang”.
Jiji yang saat ini sedang memandangku dengan kening berkerut berucap pelan, cukup pelan dan bisa kudengar dengan jelas ditelingaku. “Aku tidak butuh kacamata. Dan aku tidak peduli meski besok kau akan pergi ke bulan sekalipun. Atau kau tidak akan kembali sekalipun, aku tidak peduli. Kau menyuruhku datang hanya untuk ini? Menyuruhku datang tengah malam buta hanya untuk melakukan hal seperti ini? Jinjja tuan Jang… Pulang. Aku muak melihatmu..” .
Seakan ada sesuatu hal kasat mata yang memukul keras dadaku. Apakah 4D juga merasakan hal seperti ini? dan bagian apa yang sebenarnya membuatku sakit? Nada suaranya? Penolakannya? Fakta bahwa dia tidak ingin bertemu denganku setelah ini? “Paling tidak ambillah kacamata ini..” ucapku seraya berjalan mendekat kearahnya. Memperpendek jarak diantara kami.
“Shireoo!! Aku tidak akan menerima pemberian apapun darimu!!” ucapnya dingin.
Jinjja yo Jiji.. Hatiku tidak pernah sesakit ini saat mendengar semua ucapanmu. “Lihat dulu! Ini kacamata hitam berframe ungu!!!” tak terasa nada suaraku ikut meninggi.
Ia membalikkan badannya dengan kesal dan tidak memperdulikan apa yang aku katakan. Melihat punggungnya yang menjauh dariku membuatku semakin sakit. Aku datang kesini, pada jam selarut ini bukan tanpa alasan. Aku baru selesai latihan dan segera datang kesini karena aku tahu setelah ini aku tidak bisa menemuinya lagi. Dengan cepat aku berlari mengejarnya, dan tanpa berpikir panjang memeluk badannya dari belakang. Melingkarkan lenganku disekeliling pundaknya. Badannya yang terasa hangat dalam pelukanku.
“Yaah!!!!! Apa-apaan ini!!! Leeeppaaasss!!!!!” aku mendengarnya berteriak dan memberontak berusaha melepaskan pelukanku.
“Tolong dengarkan aku sekali saja…” ucapku seraya meletakkan dahiku di pundaknya, berusaha membuatnya berhenti bergerak dengan memeluknya lebih erat.
“Aku… Aku. Tidak. Ingin. Mendengar. Apapun. Darimu. Pembohong!!!! Lepaskan akuu!!! Lepaass!!!!” teriaknya lagi.
Tidak sedikitpun aku meregangkan pelukanku. Hingga kurasakan perlahan dia mulai berhenti memberontak dan aku tahu, ini saatnya aku memulai. “Kau tahu Jiji, aku lelah…Aku lelah harus terus seperti ini. Aku lelah harus terus menjadi orang yang selalu berharap. Aku lelah harus terus memilikirkanmu tiap harinya. Dan lebih lelah lagi saat aku menyadari bahwa semua yang aku lakukan adalah percuma. Bahwa ternyata tidak sekalipun seorang Meng Jia memikirkanku. How I wish I had the power to ignore you the way you ignore me…” ucapku pelan.
“Aku berhenti dari perjanjian satu bulan itu. Perjanjian yang kau sebut tolol ini akan kuakhiri hari ini. Masa bodoh dengan waktu satu minggu yang tersisa. Aku tidak peduli lagi. Oke, kamu menang dan aku kalah. Aku tidak akan mengganggumu lagi, tidak akan meneleponmu lagi, tidak akan datang ke dormmu lagi, tidak akan memaksamu utuk menemaniku makan siang lagi. Kamu bahagia sekarang? Senang sekarang?” tanyaku.
Aku tidak mendengar apapun. Seakan yang kudengar hanya degup jantungku yang berdetak dengan kencang saat ini. Aku meletakkan dahiku dipundak Jiji. Farewell. Terakhir kalinya seperti ini. Samar tercium wangi vanilla dari rambutnya. Seperti inikah wangi rambutmu Jiji? Aku suka. Aku sangat menyukainya. Tapi aku akan lebih suka kalau seumur hidup aku tidak pernah mencium wangi ini.
“Jagalah dirimu baik-baik. setidaknya ijinkan aku menjadi fanboymu…” ucapku tertawa pelan. Nyeri. Sakit. Kecewa. Semuanya bercampur dalam dada ini. perjanjian tolol yang kupikir bisa berhasil, ternyata berjalan dengan seperti ini. Jang Hyunseung. You are such a mess. Perjanjian tolol untuk orang yang tolol, begitu dulu kau menyebutnya kan Jiji? Dan aku rasa aku memang tolol.
Aku menghela nafas panjang. Lega karena bisa mengucapkan ini semua. Meski harus kuakui seakan seperti menjilat ludahku sendiri, tapi lebih baik seperti ini. Jang Hyunseung. Kelak setelah kau melepaskan pelukan ini, rasanya tidak akan terlalu sakit seperti ini. Aku berulang kali mengucapkan kata itu. Berharap kekuatan tambahan muncul.
“Aku tidak mudah percaya dengan orang. Siapapun itu…” aku mendengar suara Jiji memecah keheningan saat ini. suaranya yang terdengar berbeda saat ini. “Percaya pada seseorang, secara tidak langsung melemahkanmu. Dan aku tidak suka menjadi lemah” ucapnya.
Dengan masih meletakkan dahiku dipundaknya, aku berbisik pelan, “Aku tidak memaksamu untuk percaya padaku…”.
“Tidak percaya? Bisakah? Saat aku mengatakan padamu, bahwa aku mempercayaimu.. Tolong, jangan membuatku menyesal mengucapkan kata itu.. Jangan membuatku menyesal pernah percaya padamu….”.
Samar aku merasakan jarinya menyentuh tanganku yang berada di pundaknya. Apa ini halusinasi?Apa aku terlalu lapar dan mengantuk sampai merasakan sentuhannya seperti ini? dan untuk pertama kalinya dia berbicara dengan nada yang kalem. Lembut. Nada yang tidak pernah aku dengar sebelumnya..
“Asal kau tahu Jang Hyunseung. Aku tidak percaya cinta. Selain percaya pada orang, cinta adalah hal yang kubenci. Aku menghindarinya seumur hidupku karena aku tahu, bahwa cinta adalah satu hal yang membuat kita lemah” ucapnya lagi.
Aku menghela nafas lagi. Mempererat pelukanku, menghirup dalam-dalam wangi vanilla yang sekarang mengisi tiap sel otakku. My own poison. “Maka ijinkan aku ada disini.. Aku tidak akan merubahmu.. Dan hanya agar kau tahu Jiji… Aku sama takutnya denganmu…”.
♥ ♥ ♥ ♥ ♥
Hara’s POV
Aku tersenyum saat melihat syal yang kurajut saat ini. Syal berwarna hijau yang sebentar lagi akan selesai, tinggal memberi inisial ‘JH’ diujung syal dan semuanya akan terlihat perfect. Awalnya, aku berencana memberikan syal ini pada Junhyung oppa bulan lalu, tapi karena kesibukan yang menggila aku tidak bisa menyelesaikannya tepat waktu. “Harus selesai minggu ini, Hara hwaiting~~~!!!” ucapku dengan bersemangat pada diriku sendiri. Semoga dia menyukainya. Baru kusadari bahwa merajut syal sangat sulit.
“Hara..Apa kau sudah minum obatmu?” aku mendengar suara Gyuri eonnie yang mengingatku tentang obat yang sangat kubenci. Aku melihatnya muncul dibalik pintu dengan wajah yang khawatir.
“Sudah eonnie…” jawabku pelan. Bisa kupastikan dia pasti akan mengomel lagi setelah ini.
“Dan tidurlah. Kau belum sembuh. Besok saja kau melanjutkan rajutan itu..” ujarnya. Haha, sesuai dengan apa yang aku bayangkan. Dan satu lagi. Jika aku masih saja melawannya, dia akan merampas syal ini dengan paksa.
“Tidur atau kuambil syal itu Hara!!” teriaknya lagi saat melihatku yang masih saja sibuk dengan rajutanku.
Aku menahan tawaku dan meletakkan syal tersebut di meja, besok pasti sudah selesai. Dan aku bisa memberikannya pada Junhyung oppa. Kepalaku masih pusing. Badanku masih terasa lemas, dan suhu badanku tidak kunjung turun. Mungkin benar, apa yang aku butuhkan saat ini cuma istirahat. Aku bermain dengan cincin yang melingkar ditanganku sembari menunggu rasa kantuk efek dari obat datang. Cincin coupleku dengan Junhyung oppa. Senyum yang muncul dibibirku saat ini, bahagia karena dia masih saja memakai cincin itu hingga sekarang. Aku berjalan ke arah tempat tidurku dan berbaring, memandang kosong ke arah ponsel ditanganku. Ingin sekali mendengar suaranya. Ingin sekali mendengar suara tawanya. Ingin sekali bersandar dipundaknya.
Aku tidak ingin membebaninya. Aku ingin menjadi orang yang bisa dibanggakan olehnya. Entah sudah keberapa kalinya aku melakukan ini. Akukembali menempelkan ponselku ditelinga, berharap mendengar suaranya diantara nada sambung saat ini. Aku tertawa lemah saat menyadari telfon dariku tidak diangkat oleh Junhyung oppa untuk kesekian kalinya. Apakah ini sudah terlalu malam untuk menghubunginya? Apa dia sudah tidur? Junhyung oppa eodissoyo?
♥ ♥ ♥ ♥ ♥
Junhyung’s POV
Aku menoleh ke arah ponselku untuk kesekian kalinya saat menyadarinya bergetar kembali.
5 missed call
Jagiya
Aku tahu aku salah. Aku tahu itu. sangat tahu. Tidak mengangkat telepon dari Hara, dan ini baru pertama kalinya aku lakukan. Ada apa denganku? Yong Junhyung. Mendua. Apakah ini bisa disebut sebagai perselingkuhan? Aku tidak bisa melupakan kejadian tadi pagi. Kejadian yang seakan membuat hidupku menjadi lebih berwarna.
Flashback
“Jebal..Kajima…Tetaplah disampingku Nana.. Tetaplah bersamaku… Saranghae….”ucapku, menggenggam erat pergelangan tangannya memaksanya untuk tidak pergi.
Aku mohon Nana, tolong jangan. Jangan tinggalkan aku seperti ini. Aku membutuhkanmu. Perlahan aku berjalan mendekat ke arahnya dan menakupkan kedua tanganku di pipinya. Melihat air mata yang mulai menetes pelan di pipinya, hatiku terasa sakit.
“Hanya kamu dan aku.. Aku tidak butuh yang lainnya..” ucapku seraya menghapus air matanya. “Aku tidak ingin menempatkanmu dalam posisi seperti ini. Tapi hanya ini yang aku bisa Nana. Hanya ini yang mampu kuberikan. Kau bisa menyebutku egois.. atau pengecut. Atau bajingan sekalipun.. Tapi aku…”.
Aku merasakan telunjuknya berhenti dibibirku. Matanya, matanya yang indah, menatapku sendu. “Hajima..” ucapnya dengan terbata.”Nado saranghae….”.
“Ummmm……” aku menoleh ke arah yang berlawanan dari ponselku dan melihat Nana yang saat ini sedang memandang mangkok Jjangmyun-nya dengan mulut yang mengerucut. Jjangmyunku masih tersimpan rapi dibungkusnya. Aku merasa tidak lapar. Saat berhadapan dengan lirik lagu, aku merasa seakan hal yang lain tidak berarti. Project lagu untuk Beast, dan lagu ini sudah harus selesai dalam minggu ini.
Harusnya aku sudah kembali ke dorm saat ini, tapi nyatanya aku masih duduk manis dengan kertas yang bertebaran di seluruh ruangan studioku. Satu bait lagi, satu bait lagi dan aku akan pulang. Aku mengajak Nana untuk menemaniku setelah dia mengatakan bahwa schedule pemotretannya sudah selesai. Besok aku akan berangkat ke Jepang, dan kemungkinan tidak akan bisa bertemu dengannya beberapa hari. Aku hanya ingin mempergunakan waktu luangku sebaik mungkin dengannya. Aku mendapati diriku tersenyum lebar saat membuka pintu studio dan melihat Nana berdiri dengan kantung plastik berisi makanan dan tentu saja, cola.
“Wae..?” ucapku saat melihat mukanya yang terlihat menggemaskan tapi pada saat yang sama juga membuatku penasaran.
“Ummm.. Ada yang salah dengan makanan ini…” ucapnya tiba-tiba. Ia sekarang bermain dengan sumpit dan jjangmyun.
“Kenapa Jjangmyunnya? Tidak enak?” tanyaku lagi.
“Uuuummmm….” hanya itu jawaban yang kudengar, dan dia tidak menoleh sedikitpun kearahku.
Am um am um. Dia ini kenapa sih? Aku meletakkan pulpenku dan berjalan ke arahnya mengambil tempat duduk disampingnya. “Apa yang salah? Apa makanannya basi?” tanyaku lagi. Aku melihatnya menyumpitkan jjangmyun dan menyodorkannya tepat di depan mulutku. “Wae? Aku tidak lapar. Makanlah..”.
“Jinjja yo oppa, jjangmyun ini rasanya aneh…” ucapnya, dan sekali lagi menyodorkan sumpit penuh jjangmyun kedepan mulutku dengan ekspresi tidak sabar diwajahnya. Dengan kening berkerut aku membuka mulutku,dan mengunyahnya dengan pelan, berusaha merasakan makanan tersebut kalau saja beracun atau sejenisnya. Kerutan dikeningku semakin bertambah.
“Apanya yang aneh?” ucapku dengan mulut penuh jjangnyun. “Rasanya enak kok..”.
Aku melihat Nana menggeleng dengan keras. “Oppa, apa kau tidak bisa merasakan makanan dengan benar? Makanan ini rasanya aneh..” ujar Nana lagi dan kembali memasukkan jjangmyun ke dalam mulutku. Yang mau tidak mau harus ku kunyah juga.
Aku melihatnya memandangku dengan tersenyum, kemudian perlahan menyuapkan jjangmyun ke dalam mulutnya. Samar terdengar dia mengucapkan kata ‘enaknya…’. Seketika ada satu hal yang baru kusadari. Ini yang membuatku mencintainya. Ini yang membuatku merasa tidak akan pernah mampu jika dia sampai meninggalkanku.
“Kalau aku tidak seperti ini, kau tidak akan makan kan oppa?” ucapnya seraya menyuapkan jjangmyun lagi ke dalam mulutku.
Aku tersenyum mendengarnya. Caranya yang berbeda dalam memahamiku. Cara mengingatkanku untuk makan. Dan aku menyukainya. Tanpa terasa dua mangkuk penuh jjangmyun habis begitu saja. Aku tidak pernah tahu jjangmyun akan terasa seenak ini, hahaha.. Sembari makan kami bercerita tentang banyak hal. Tentang minatku dalam membuat lagu, tentang minatnya di bidang fotografi dan masih banyak yang lain. Seakan malam ini tidak akan pernah cukup untuk membuatku berhenti mengaguminya.
Aku mendengar ponselku bergetar lagi. Entah sudah keberapa kalinya. Dan aku seakan mematung duduk disini dengan Nana disampingku, tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
“Angkatlah telpon itu oppa.. Dia pasti mengkhawatirkanmu…” aku merasakannya bangkit dari sofa dan berjalan menuju meja tempatnya menaruh beberapa coke. Dengan rasa bimbang, aku mengambil ponsel yang tidak berhenti bergetar sejak tadi.
“Yeobosseyo.. Ne jagiya…..”.
♥ ♥ ♥ ♥ ♥
Jia’s POV
Aku memicingkan mataku, berusaha membukanya lebar-lebar. Arrgghhh, masih jam berapa ini??? siapa yang menelepon sepagi ini??? aku kurang tidur!! Aku masih mengantuk!!! Aku berusaha menggapai ponselku yang sedari tadi berdering tiada henti.
“Ne…?” ucapku. Suaraku terdengar serak sekarang.
“Ini aku…” jawab suara diseberang sana. Ini aku? Aiisshh jinjja. Aku sedang tidak berminat untuk bermain teka-teki sekarang.
“Aku siapa?” aku mengucek mataku pelan dan melihat ke arah jendela yang masih terlihat gelap. Segera aku mengecek jam yang saat ini menunjukkan pukul 4.
“Aku tidak bisa tidur..” jawab suara diseberang sana.
“Hah?”
“Aku tidak bisa tidur” ulangnya lagi.
“Tunggu..Jang Hyunseung? Apa ini kau?” tanyaku. Apa-apaan orang ini? Aku butuh tidur tuan pembohong. “Ada apa?” aku bangun dari tidurku. Dengan rambut awut-awutan dan menguap lebar.
Sejak beberapa jam lalu, kejadian di taman. Entah itu bohong atau kejujuran, yang jelas aku belajar untuk mengenalnya. Mungkin aku salah menilainya selama ini. Mungkin aku harus memberinya kesempatan.
“Tidak ada apa-apa. Sudah ya.. Annyeong~~~” aku mengerutkan keningku saat mendengar nada ‘tut tut’ mengikuti kemudian.
Ige mwoya Jang Hyunseung!!! Membangunkanku ditengah-tengah tidur nyenyakku dan tiba-tiba mematikan telpon begitu saja. Rasa gemas menghampiriku lagi. Pabo. Pabo Jang. Dengan kesal aku kembali merebahkan badanku dan rasa kantuk benar-benar sudah hilang. Kenangan di taman terulang lagi. Aku tidak pernah tahu. Dalam pelukannya, aku merasa dilindungi…. sekarang, entah kenapa..Aku ingin melihat wajah dungu itu..
♥ ♥ ♥ ♥ ♥
Suzy’s POV
Aku memandang langit-langit kamarku, dan merasakan saat ini pasti sudah beranjak pagi. Dan aku belum memejamkan mataku sama sekali. Rasa pegal disekujur badanku dan aku tmasih saja tidak bisa tidur. Seakan semua kenangan kembali menghampiriku dan aku masih belum bisa menerima apa yang semalam kudengar. Aku melihat ke arah Kuma yang berada disampingku.
Flashback
Aku merapikan rambutnya yang terlihat berantakan. Sungguh, tidak ada yang bisa menandingi rasa bahagiaku hari ini.
“Aegi oppa.. Terima kasih untuk hari ini. Nan neomu haengbokhae” aku tersenyum padanya.
Setelah bertemu dengan keluarga Yoseob oppa, menghabiskan waktu bersama mereka, Yoseob oppa mengantarku pulang ke dorm.
“Aku berangkat ke Jepang besok…” ucapnya pelan.
“Ara..Kau sudah mengatakan itu berkali-kali..Kabari aku kalau kau sudah di airport ya.. Seperti biasanya, kekekeke… Aku masuk dulu ya oppa, sudah malam. Cepatlah pulang, kau butuh istirahat…” ucapku lagi. Entah kenapa, hari ini aku melihat ada sesuatu yang berbeda darinya. Sesuatu yang aku tidak tahu apa.dan aku khawatir melihatnya seperti itu.
“Ne..Masuklah..” ujarnya. Sudah menjadi kebiasaannya, menungguku hingga masuk ke dalam lobby dorm sebelum dia pulang, seakan memastikan aku benar-benar sudah aman.
Aku mengangguk dan tersenyum lagi, terlalu bahagia, terlalu banyak tersenyum sehingga seakan bibirku sekarang terasa sakit. Aku membalikkan badanku dan berjalan dengan langkah ringan. Efek dari euforia yang selalu diberikan oleh Yoseob oppa.
“Baby~~” aku merasakan dia memanggilku. Dengan cepat aku menoleh ke arahnya dan memandangnya dengan bingung. Apa ada yang terlupa? Aku melihatnya berdiri diam. Memandangku. Dan matanya. Ada sesuatu dalam pandangan matanya.
“Bagaimana kalau kita break dulu?” ucapnya. “Bagaimana kalau kita tidak saling berhubungan dulu?”.
Waeyo? Apa ada yang salah denganku? Apa tadi aku membuat kesalahan saat bertemu dengan keluarganya? Seminggu tanpanya? Aku sudah biasa melewatkan hari tanpanya dengan rutinitas kerja kami. Tapi, kenapa aku merasa takut seperti ini? Aku seperti merasakan dia akan meninggalkanku? Aku memeluk kuma dengan erat. Break.. Break…Break dengan alasan apa? Break untuk apa? Break awal dari putus kan? Apa yang sudah aku lakukan sampai membuatnya seperti itu?
“Nan…jeongmal shireo yo aegiya…jeongmal shireo…” Ucapku lirih. Kata yang entah kenapa tidak bisa aku ucapkan tadi malam dan membiarkan Yoseob oppa pergi berlalu begitu saja…
♥ To Be Continue ♥
Apa yang sudah aku lakukan di chapter ini??? O.O
Nice surprise right? nyahahahaha…
*kabur*
Comment and suggest are so much loved
credit image to : http://bananajuice03.files.wordpress.com













Seruuuu! Tp kenapa yozy break?? Wah gasabar pengen baca chapter selanjutnyaa~
haah yoseobie galaau..
makin banyak klimaks uun..
bikin penasaran bertubitubi >.<