Serendipity – Chapter 4
Previous chapter
I love you
So simple. So true.
But so painful
♥ ♥ ♥ ♥
Junhyung’s POV
Flashback
Aku menatap hampa gadis yang ada dihadapanku. Tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan saat ini. Rasa kecewa dan rasa rindu yang bercampur jadi satu saat melihatnya, seakan membuat otakku tidak bisa berfungsi secara normal. Dia yang tiba-tiba hadir disini, dan aku tahu, tidak ada satupun yang berubah darinya. Dia tetap gadis yang sama.
“Oppa…?” suaranya.. Suaranya yang sempat aku lupakan, suara yang aku tahu akan selalu meruntuhkan pertahananku. Suara yang selalu aku tunggu untuk kudengar setiap harinya.
“Ne Hara-ah..”ucapku sembari menggenggam tangannya. Merasakan genggaman tangan hangat yang aku rindukan selama ini. Kami berdua duduk disebuah bangku yang ada ditaman, yang jaraknya tidak jauh dari dormku.
“Mianhae.. Aku tahu aku sudah banyak mengecewakanmu. Dan seberapa banyak kata maaf yang muncul saat ini tidak akan membuat semuanya kembali. Aku tahu aku salah, aku tidak bermaksud untuk melupakanmu oppa, tidak pernah. Tidak sedikitpun aku melupakanmu di hariku. Hanya semua schedule ini membuatku gila. Setiap kali aku memiliki waktu senggang, selalu saja ada hal yang lain datang. Setiap saat aku senggang, aku selalu mengecek apakah itu bertabrakan dengan waktu istirahatmu, dan aku tidak ingin mengganggumu.Aku tahu terlalu banyak alasan yang aku ucapkan dan aku…”
“Lalu kenapa kau ada disini?” tanyaku. Memandang langsung ke arah matanya, mencoba mencari satu jawaban yang bisa kupegang, satu saja alasan yang bisa membuatku percaya.
“Aku.. Aku pergi diam-diam.. Aku baru pulang dari jepang tadi sore. Begitu semua member tidur aku segera datang kesini. Kalau Gyuri eonnie tahu aku disini, dia pasti akan sangat marah. Aku hanya tidak mau memendam ini lagi oppa. Aku ingin bertemu denganmu, kalau tidak sekarang aku tidak tahu kapan lagi.. Nan..neomu bogoshipeo..” ucapnya pelan.
Aku melihatnya menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Apakah kau benar-benar merindukanku Hara? Apakah kau tahu apa yang aku rasakan selama ini? apa kau mengerti seberapa besar rasa kecewa yang aku pendam saat ini? apa kau mengerti? Yang ku tahu, aku tidak sanggup melihatnya seperti ini. Perlahan menyentuh wajahnya dan merasakan ada yang aneh. Suhu badannya…
“Apa kau sakit?” ucapku, merasakan separuh hatiku mencelos. Keningnya, pipinya yang tidak bersuhu normal, telapak tanganku terasa terbakar saat menyentuh kulitnya. Dia sakit? Damn it Junhyung!! Apa yang sudah kau lakukan hah? Apa??!! Kenapa kau malah seperti saat pacarmu sakit??
“Anniyo oppa.. Aku cuma..” dengan kaku dia melepaskan tanganku dari wajahnya, berusaha menghindari tatapan mataku.
Aku segera menggapainya. Memeluknya dengan erat. Menumpahkan segala rasa khawatirku saat itu. “Kenapa tidak mengatakannya padaku? Kenapa datang saat kau sedang sakit seperti ini? Kau harus istirahat, badanmu panas sekali…” ucapku sembari mencium rambutnya.
Aku merasakannya pundaknya bergetar, dan samar aku mendengar isak tangisnya.”Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir. Aku tidak ingin membebanimu lebih banyak lagi. Sudah cukup dengan semua pemberitaan tentang kita, sudah cukup dengan semua bashing tentang kita dan aku tidak mau menambahnya lagi. Mianhae oppa.. Mian..Aku hanya ingin melihatmu.. Melihatmu lagi sebelum memulai rutinitasku besok. Meyakinkan bahwa kamu sehat. Mianhae oppa…” aku bisa merasakan Ia membalas pelukanku dengan erat.
“Jagiya… Kau tahu aku akan selalu menunggumu….”.
Aku memejamkan mataku. Merasakan rasa cinta yang seakan kembali muncul di hatiku dan pada saat yang sama, rasa sakit yang tiba-tiba seakan menghujam jantungku. Nana…..
Aku menunggu disini, didalam mobilku dengan gugup, mencengkram erat setir mobilku. Tidak melepaskan pandangan sedetikpun dari gedung yang tidak berjarak jauh dari mobilku. Hari sudah beranjak pagi saat ini, dan dinginnya pagi menghampiriku. Setelah mengantar Hara kembali ke dormnya, tanpa diminta, aku mengemudikan mobilku kesini. Jangan tanya kenapa, karena aku juga tidak tahu, seakan tanganku bergerak tanpa diminta. Rasa kantukku hilang, aku yang sama sekali tidak tidur hingga sekarang.
Samar aku melihat sosok berambut pirang keluar dari gedung itu. Jantungku seakan berhenti berdetak. Bidadariku….
Nana’s POV
Aku merenggangkan badanku saat melewati pintu lobby dorm, hari ini aku ada schedule pemotretan, dan aku harus berangkat pagi. Semalam, aku menunggunya, menantinya sendiri hingga pagi hampir menjelang tapi dia tidak datang. Apa yang kau nanti Nana? Apa yang kau minta? Berharap dia akan datang? Berharap seorang Yong Junhyung akan memiliki perasaan yang sama denganmu? Ayolah Nana.. Dimana akal sehatmu? Dimana rasiomu?
“Nana….”.
Refleks yang selalu terjadi tiap kali mendengar suara ini, suara serak yang seakan tidak bisa aku hilangkan dari pikiranku. Aku menoleh dan menemukannya berdiri tidak jauh dariku. Seakan mulutku terkunci rapat dan otakku berhenti berfungsi. Mau apa dia disini?
“Maafkan aku.. Semalam aku…”.
Maaf untuk apa? Penjelasan untuk apa? Aku tidak pantas menerima penjelasan apapun. “Jebal…Jangan jelaskan apapun padaku oppa…” ucapku sembari mengalihkan pandanganku darinya. Berhenti menatap matanya yang terlihat sayu saat ini.
“Wae?” aku merasakan dia mendekat kearahku.
Aku menghela nafas lelah. “Karena aku tidak ingin mendengarnya. Karena terkadang, mendengarkan suatu kenyataan akan sangat menyakitkan. Dan aku tidak siap dengan itu. Aku ingin menjadi orang yang tidak perlu tahu akan apapun. Aku tidak ingin ada orang yang tersakiti. Pulanglah oppa, wartawan bisa menemukanmu disini. Aku tidak ingin ada pemberitaan negatif muncul setelah ini tentangmu.. Pulanglah.. Jebal..”.
Jeda keheningan yang terjadi setelah itu sebenarnya lebih menyakitkan. Melihat sunyi yang mendatangi kami berdua, aku merasa tidak mampu lagi ada ditempat yang sama dengannya. Aku ingin menghilang darinya.
“Hara semalam datang ke dormku….” ucapnya datar.
Aku tersenyum, senyum tulus. “Ara yo…”. Tersenyum akan imajinasi yang telah kubuat menjadi suatu kenyataan yang ternyata menimbulkan efek sesakit ini. Lihat kan Nana? Hara masih menjadi orang penting dihatinya. Aku yang akan mengakhiri semua ini sebelum semuanya terlambat. Senyum terakhir dipertemuan rahasia kami. Aku melangkahkan kakiku yang seakan terasa berat. Seakan separuh dari diriku tidak mengijinkanku untuk meninggalkan Junhyung oppa. Separuh dari diriku yang memaksaku untuk tetap tinggal dan membalikkan badanku untuk memeluk Junhyung dengan erat.
“Kajima..” aku merasakan sebuah tangan menggenggam erat tanganku, menahan langkahku untuk pergi. Aku tidak ingin menoleh, ayolah Nana.. Jangan seperti ini, karena saat kau menoleh kearahnya, kau akan menjadi lemah lagi. Aku bisa merasakan air mata sudah berkumpul disudut mataku. Tolong.. Jangan mempersulit ini semua Junhyungie..Aku mohon…
“Jebal..Kajima…Tetaplah disampingku Nana.. Tetaplah bersamaku… Saranghae….”
Setetes air mata turun dari mataku, berharap semua ini bukan mimpi…
♥ ♥ ♥ ♥
Jia’s POV
Aku mendapati diriku melamun lagi hari ini. Melamun dengan pikiran yang kosong seakan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Melamun yang seakan telah menjadi aktifitas wajib. Aku menoleh ke arah Min yang saat ini sedang berjalan ke arah pintu saat mendengar bel pintu dorm berbunyi. Aku bosan. Aku harus mencuci otakku sesegera mungkin. Melihat ke arah jam dinding, mungkin ada baiknya jika aku jalan-jalan sebentar.
“Eonnie..” Min memanggil, dengan segera aku menoleh ke arahnya dan mendapatinya memandangku dengan gugup.
Ada apa dengannya? “Waeyo?” ucapku. Menyadari bahwa seseorang telah datang dan sepertinya tamu itu sangat penting. Aku mendapati diriku shock saat itu juga, saat menyadari sosok tersebut muncul dari balik badan Min.
“Pagi…” ucapnya santai. Santai dengan caranya sendiri. Tanpa diijinkan oleh siapapun dia memasuki dorm, melepas sepatunya, lalu berjalan menuju dapur sambil membawa plastik dikedua tangannya. Perlahan mengeluarkan box makanan dari dalam plastik tersebut.
Fei eonnie yang baru keluar dari kamar, membeku ditempatnya saat menyadari tamu yang datang. Dengan segera Ia menatapku seakan siap menungguku menjadi murka. Dan sejujurnya, aku sudah lelah menjadi murka. Tidak untuk hari ini. Aku tidak punya tenaga. Jia power is empty.
“Aku membawakan kalian sarapan. Kalian semua belum sarapan kan? Makanlah.. Aku tadi bangun jam 3 pagi untuk memasak ini semua..Habis dari sini aku akan ke Cube. Jadi mungkin aku tidak akan lama. Apa Suzy sudah berangkat?” ucapnya dengan wajah datar seperti biasanya, mengedarkan pandangannya ke sekeliling dorm seakan mencari Suzy.
“Dia sudah berangkat setengah jam yang lalu. Jeongmal yo kau yang membuat ini oppa? Woooaahhh” Min terlihat kaget dan segera berjalan menuju dapur untuk mengambil box makanan yang sudah berjejer di meja. “Bangun jam 3? Daebak” ucapnya dengan takjub.
Fei eonnie perlahan berjalan ke dapur dan mengecek makanan yang dibawa olehnya. “Kau hebat Hyunseung-ah…” Fei eonnie tersenyum ke arahnya.
Hallo???!!!!! Apakah semua percaya dengan ucapannya? Apakah semua memberku akan terjerumus dalam semua ucapannya? Dengan malas-malasan aku berjalan ke dapur, lebih tepatnya berjalan kearahnya dan berhenti tepat dihadapannya. Aku bisa melihat dia membalas tatapan mataku. Bisa kurasakan Fei eonie dan Min mulai menyelamatkan diri mereka. Seakan mereka tahu perang yang akan terjadi sesat lagi.
“Siapa yang membuat ini? “ tanyaku.
“Aku” jawabnya dengan nada datarnya.
“Jam berapa kau membuatnya?” tanya ku lagi.
“Jam 3…” jawabnya singkat.
Tidak sedetikpun aku melepas pandangan mataku darinya. Tidak dengan tatapan tajam seperti biasanya, namun hanya memandangnya. Dan ada suatu hal yang baru saja aku temukan. Satu hal yang baru saja aku sadari sejak makan siang yang aku lakukan dengannya kemarin. Aku tersenyum dan mengambil kotak makan yang dibawanya, satu-satunya kotak makan yang tersisa. Duduk disalah satu kursi yang dekat denganku, dan membuka kotak makan tersebut lalu menyendokkan beberapa makanan kedalam mulutku.
“Kau bohong…” ucapku sembari mengunyah makanan, memecah keheningan yang menyelimuti kami berdua saat itu.
Aku mendengarnya tertawa dan duduk tepat dihadapanku. “ Jang Hyunseung. Apa kau ingin bertaruh denganku? Apa kau ingin tahu siapa yang sanggup bertahan melewati semua ini? Percayakah kalau aku bilang… Aku bisa melihat semua kebohongan dari matamu?” senyum terlukis diwajahku saat mengucapkan kata itu. Saat ini, dia hanya terdiam, memandangku sembari melipat kedua tangannya didada. Tidak beberapa lama, saat aku mengunyah makananku…
“Jyohaeyo…” aku seakan membatu mendengarnya. Makanan yang aku kunyah seakan berhenti ditenggorokanku dan aku tidak bisa menelannya.
“Jyohaeyo.. Kalau aku bilang itu.. Bisakah kau melihatnya sebagai suatu kebohongan? Atau suatu kenyataan?” ujarnya santai.
Aku memandangnya sekali lagi. Menguatkan diriku untuk menatap mata yang seakan seperti black hole yang sanggup menarikku masuk kedalam pusarannya dengan paksa. Aku tidak bohong saat mengatakan aku bisa membaca matanya. Aku tidak bohong saat aku bilang aku bisa membedakan kapan saat dia berbohong dan tidak.
“Apa kau tahu banyak berbohong tidak baik untuk otakmu? Pabo…” ucapku sembari menyuapkan beberapa sayur kedalam mulutku.
Dia bangkit dari kursinya, dan mengacak pelan rambutku. “Aku bohong? Geurae.. Hahaha… Aku pamit ya.. Aku harus kembali ke Cube sekarang, ada rapat.. Habiskan makananmu..” ucapnya. Dari sudut mataku, aku melihatnya berjalan ke arah pintu dan menghilang dari pandanganku.
Dengan rasa gugup yang datang terlambat, aku menyendokkan dengan cepat makanan yang ada didepanku kedalam mulut. Terekam sinar mata Jang Hyunseung yang baru kulihat beberapa menit yang lalu. And for this time, I’m the one who did that. I’m the one who lies. Not him…..
“Jyohaeyo…”
Kata bodoh yang berdengung ditelingaku dan tidak mau berhenti…..
♥ ♥ ♥ ♥
“Noona..Yah Jia noona…!!” aku tersadar dari lamunanku saat Chansung memanggilku.
“Waeyo?” ucapku menatapnya dengan bingung.
“Jinjja yo noona, aku sudah memanggilmu berkali-kali dan kau sama sekali tidak memperdulikanku. Lalu apa gunanya aku menemanimu disini kalau kau sibuk dengan duniamu?? Jika tahu akan sangat membosankan seperti ini, lebih baik aku tadi ikut Junho hyung…” .
Aigoo~~ maknae ini.. “Kau sudah berjanji akan menemaniku jalan-jalan Chansung-ah.. Tepati janjimu..” ujarku.
Keluar masuk dari satu butik ke butik lainnya, tidak tahu apa yang aku cari. Aku mengajak Chansung untuk menemaniku menghirup udara segar, menghilangkan rasa penat, menghilangkan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul. Dan aku sadar, apa yang kulakukan tidak menimbulkan efek apapun. Tidak membuatku merasa lebih baik.
“Jia eonnie!!!!” aku menoleh ke arah sumber suara yang menyebut namaku dan melihat seorang gadis berambut panjang, dengan kaos putih berukuran besar, tersenyum dengan riang kearahku.
“Omoo!!! Hyuna –ah..” ucapku. Mendatanginya dan memeluknya. “Aigoo~~ sudah lama sekali aku tidak melihatmu. Bagaimana kabarmu?”.
Hyuna yang selalu terlihat cantik kapanpun dan dimanapun. Rasa iri yang menyeliputiku.
“Baik eonnie..kekekeke…Apa eonnie sendirian? Aku tidak melihat membermu..” ucapnya sembari memandang berkeliling.
“Anniyoo~~ aku tidak bersama dengan memberku, tapi dengan Chansung. Chansung-ah~~~ mana anak itu?” dengan bingung aku mencari sosok jangkung yang sejak tadi menggerutu hanya untuk mendapatinya berdiri tidak jauh dariku dan tatapan matanya yang tertuju pada seseorang. Aku tiba-tiba teringat akan janji yang pernah aku ucapkan padanya.
“Hyuna-ah..Apa kau kenal Chansung..?” tanyaku pada Hyuna.
Aku melihat Hyuna mengerucutkan bibirnya, seakan mengingat-ingat suatu hal. “Aku pernah bertemu dengannya sewaktu masih jadi trainee, tapi tidak pernah mengenalnya lebih dekat..Waeyo eonnie..?” Ia bertanya padaku dengan nada penasaran.
Sebuah ide muncul di otakku. “Jadi begini Hyuna-ah.. Uri Chansung adalah fans berat..” seketika aku merasakan sebuah telapak tangan menutup mulutku dengan paksa. Aku menoleh hanya untuk menemukan bahwa tangan sialan itu adalah milik Chansung. Wae!!!! Aku hanya membantumu pabo!!! Aku berusaha melepaskan tangan Chansung namun percuma.
“Ah, Hyuna-ssi.. Tolong jangan kau dengarkan omongannya noona ini. Dia sedang bermasalah dengan otaknya…” terang Chansung sembari tertawa lebar.
Yah!!!! Siapa yang bermasalah dengan otak disini hah!! Siapa!!!! Siapa yang selalu memuja Hyuna tiap pagi siang malam hah?? Siapa yang mengoleksi foto Hyuna dalam berbagai pose hah!!! Sia….
“Hyuna.. Apa kacamata ini bagus? Atau..”
Aku merasa tubuhku melemas seketika saat melihat sosok laki-laki yang mendatangi Hyuna. Rapat di kantor Cube eh? Check point Jang Hyunseung. Kau memang terlahir untuk berbohong….
Hyunseung’s POV
Setelah menyelesaikan rapat dengan team dari Trouble Maker di kantor Cube, aku dan Hyuna mengisi waktu luang yang tersisa dengan berbelanja. Karena aku tahu, selera Hyuna dalam fashion sangat bagus, jadi aku mengajaknya untuk membantuku memberikan saran. Saat melewati rak kacamata, aku teringat padanya. Teringat akan Jiji yang suka sekali memakai kacamata hitam. Dengan tersenyum aku melihat satu persatu kacamata yang berderet di etalase toko dan menemukan kacamata hitam berframe unik, warna ungu. Warna faforitnya.
“Boleh aku melihat yang ini?” ucapku pada pramuniaga toko sambil menunjuk kacamata yang aku perhatikan sejak tadi, tak lama pramuniaga tersebut memberikan kacamata yang kumaksud. Iya, Jiji pasti suka. Dia sepertinya belum punya kacamata seperti ini. Aku menoleh dan menyadari Hyuna tidak lagi bersamaku. Kemana dia? Ah rupanya dia disana. Dengan bersemangat aku menghampirinya.
“Hyuna.. Apa kacamata ini bagus? Atau..”
Aku membeku di posisiku, menyadari dengan siapa saat ini Hyuna sedang berbicara. Apa yang dia lakukan disini? Jiji dan Chansung? Aku melihatnya melepaskan tangan Chansung dari mulutnya dan berdeham. Sekali lagi, aku melihatnya. Aku melihat mata yang tajam itu menatapku dengan nanar.
“Hyuna-ah..Emm..Aku pergi dulu…Nanti akan kuhubungi lagi. Ada hal tentang Chansung yang harus kita bicarakan..kekekeke” ucapnya tertawa. Tawa yang tidak pernah kulihat saat dia bersamaku. Dia tidak pernah tertawa seperti itu. Tidak pernah. Tidak sama sekali.
“Yah..Noona!!!!” aku melihat Chansung berteriak pada Jiji, dan sekali lagi senyum yang muncul dibibirnya.
“Ahahaha..Oke..Kami pergi dulu Hyuna-ah…Annyeong…” Ia memberikan salam, dan sama sekali tidak memandangku. Tidak menoleh kearahku. Mataku yang tidak berhenti memandang punggungnya yang sekarang mulai menghilang dari pandangan mataku. Andai kau tahu Jia, aku tidak akan menunggumu selamanya. Aku tidak akan seperti ini selamanya.
“Oppa?” aku menoleh dan melihat Hyuna sedang memandangku dengan bingung. “Tadi mau tanya apa? Apa kau sudah menemukan barang yang kau cari?”.
Aku memandang kacamata yang kupegang sejak tadi. Kacamata berframe ungu.”Anniyo..Ayo kita makan siang.. Perutku lapar sekali..” ujarku.
Jang Hyunseung. Rasa sakit ini tidak akan lama. Rasa sakit ini akan berakhir seminggu lagi.
♥ ♥ ♥ ♥
Terlihat dua orang, sepasang kekasih yang sedang berjalan berdampingan melewati beberapa rumah. Yoseob, seakan ingin melindungi kekasihnya dengan cara menggenggam erat tangan Suzy saat mereka berjalan. Hari ini adalah hari dimana hukuman Suzy akan dijalankan.
“Baby.. Mianhae harus mengajakmu berjalan sejauh ini. Apa kau lelah? Kalau van masuk kesini dan berhenti di depan rumah, fans akan tahu bahwa hari ini aku pulang dan kita tidak bisa bertemu dengan keluargaku dengan tenang” Yoseob menjelaskan.
“Oppa.. Apa aku perlu berdandan dan memakai make up?” sambut Suzy dengan pertanyaan yang sama sekali tidak ada hubungan dengan pertanyaan Yoseob sebelumnya.
Yoseob menoleh dan mengerutkan keningnya, kemudian memandang gadis itu dengan seksama. Dan kekasihnya, selalu tampak cantik dimatanya.
“Anniyo.. Sudah cukup. Kamu hanya akan bertemu dengan keluargaku baby, bukan mau konser. Buat apa pakai make up? Natural seperti ini saja…” ucap Yoseob sembari tersenyum.
“Oke kalau begitu..” Suzy mengangguk dengan gugup. Untuk pertama kalinya merasa gugup, lebih gugup daripada harus tampil dihadapan fansnya, atau lebih gugup daripada saat menerima award. “Kalau rambut? Apa rambut sudah oke oppa? Apa tidak masalah kalau digerai seperti ini? Atau..Atau.. Mmm.. Atau harus diikat ya? Aku bawa ikat rambut tadi…” Suzy kembali berucap seraya membongkar isi tasnya, mencari-cari ikat rambut yang sudah dimasukkannya ke dalam tas yang dibawanya.
“Gerai saja… Aku suka seperti itu…” jawab Yoseob sembari mengelus pelan kepala Suzy.
“Oke..” ujar Suzy. Ia kemudian berusaha merapikan rambutnya, dengan menyisirnya menggunakan jari, memastikan bahwa rambutnya masih terlihat rapi dan tergerai sempurna.
Saat melewati sebuah mart dipojokan jalan, Yoseob dengan bersemangat menceritakan tentang lingkungan tempat tinggalnya pada Suzy. Bagaimana dia dulu suka sekali membeli lollipop di mart tersebut dengan uang yang diambil diam-diam dari noonanya. Bagaimana biasanya dia bermain petak umpet di lingkungan itu. Bagaimana…
“Oppa.. Apa menurutmu aku salah memakai baju? Ini.. Dress ini.. Apakah ini berlebihan? Apakah tadi harusnya aku memakai celana dan kemeja? Atau.. Aiisshhh…. Kenapa aku memilih baju ini???” Suzy kembali terlihat uring-uringan.
Untuk kesekian kalinya Yoseob kembali menoleh dan menatap gadisnya dengan alis yang terangkat sebelah. Ada apa dengan gadis ini? Begitu pikirnya. Yoseob kemudian memandang dress yang dipakai Suzy. Dress berwarna putih selutut. Tidak ada yang salah, begitu pikirnya.Dan jujur, Yoseob sangat menyukai dress yang sedang dipakai oleh Suzy sekarang. Simple dan cantik.
“Apa? Wae? Kenapa melihatku seperti itu? Apa aku terlihat jelek? Baju ini tidak cocok? Begitu kan? Pasti itu kan? Aiiishhh… Pabo!! Kenapa aku memilih yang ini..!!” Suzy mulai nampak panik setelah melihat wajah Yoseob yang tanpa ekspresi dan tidak memberikan penilaian apa-apa.
Saat itu, Yoseob akhirnya menyadari suatu hal. Suzy yang berdiri dihadapannya saat ini bukanlah Suzy yang biasanya. Suzy yang sedari tadi terus mengomel soal pakaian yang dikenakannya. Yang terus saja menggurutu tentang penampilannya. Yoseob akhirnya tahu, Ia tersenyum sembari memegang dagu Suzy, membuat gadis itu melihat ke arah Yoseob. “Baby…”.
“Aku.. Ayo kita pulang.. Aku akan ganti baju dengan yang lebih baik dan sopan lagi. Pakaian yang sesuai. Mungkin jeans dan.. Emm.. Atau..Rok…Atau dress…” Suzy berusaha mengalihkan pandangannya dari Yoseob, berusaha mengingat semua pakaian yang dimilikinya dan sekiranya pantas dipakai saat berkunjung kerumah kekasihnya. Ia menyesal telah memilih pakaian yang salah.
“Baby.. Lihat aku…” ucap Yoseob sekali lagi. Meletakkan kedua tangannya di pipi Suzy, memaksa gadis itu untuk menatapnya. “Gwenchana?”.
Suzy terdiam dari kepanikannya. Memandang Yoseob tepat dimatanya. “Anniyo…” jawab Suzy pada akhirnya. Gadis itu menghela nafas panjang, lega karena Yoseob berhasil menangkap rasa gugup yang tengah dirasakannya.Ia tidak sanggup lagi menanggung rasa gugup itu sendirian.
“Waeyo?” tanya Yoseob sembari memindahkan tangannya yang semula memegang pipi Suzy, menjadi menggenggam kedua tangannya.
Suzy memandang laki-laki yang berdiri dihadapannya. Menatap almond eyes milik kekasihnya yang sangat disukainya. Mata yang selalu berhasil membuat Suzy menjadi tenang. Mata yang seakan selalu bersinar dengan hangat.
“Aku… Aku gugup. Aku takut kedatanganku hari ini akan membuat keluargamu kecewa, dan aku tidak ingin itu terjadi. Aku berusaha menyiapkan semuanya sebaik mungkin, tapi begitu sampai disini seakan semuanya yang aku siapkan percuma dan tidak berguna. Aku takut pada akhirnya mereka tidak menyukaiku. Dan aku…”
“Ini pertama kalinya aku mengajak seorang perempuan untuk bertemu dengan keluargaku baby…” Yoseob dengan kikuk memegang telinganya. “Sejak semalam aku tidak bisa tidur, memikirkan apa yang akan terjadi hari ini. Tapi aku yakin, appa, eomma, noona.. Mereka semua akan menyukaimu sama seperti aku. Jadi tenanglah. Jadilah dirimu sendiri hari ini. Aku akan mengenalkanmu bukan sebagai Suzy, maknae dari girlband Miss A. Tapi aku akan mengenalkanmu sebagai Bae Su Ji. Jadilah seorang Bae Su Ji. The ordinary Bae Su Ji yang berhasil membuatku jatuh cinta..”.
Sesaat, Suzy merasa tidak tahu apa yang harus dilakukan olehnya. Ia berdiri diam mematung, dan tiba-tiba rasa tenang menyelimuti hatinya. Mencoba mencerna setiap ucapan Yoseob, bahwa mungkin, tidak ada salahnya untuk mencoba. Bahwa mungkin, ini adalah awal yang baik untuk hubungan mereka. Sebuah senyuman muncul di bibirnya, kemudian mengangguk dengan mantap. Iya. Suzy siap melewati ini. Sisi dari seorang Bae Su Ji yang tidak pernah diketahui oleh media.
“Sudah tenang sekarang? Apa sekarang sudah siap baby princessa?” tanya Yoseob kemudian setelah berhasil menangkap senyum Suzy. Otomatis, seakan tanpa diminta, Ia pun menjadi lebih tenang.
Suzy menoleh ke kanan dan melihat sebuah rumah dengan halaman yang asri. Rumah yang terasa akan sangat nyaman dan penuh dengan cinta. “Ne aegi oppa…” ujar Suzy seraya mengangguk sekali lagi dengan mantap. “Chamkanman.. Apa aku sudah bilang bahwa hari ini kau sangat sangat sangaaaattt tampan?” ujar Suzy sembari meletakkan jarinya di dagu, memandang Yoseob dari kaki hingga ujung kepala. Yoseob yang hari itu memakai kemeja putih dengan lengan yang digulung, terkesan sangat dewasa. Yoseob hanya tertawa mendengar perkataan Suzy itu dan mengacak pelan rambutnya.
Berdua, masih dengan tangan saling menggenggam, seakan lewat genggaman itu mereka berusaha memberikan semangat satu sama lain., berjalan masuk ke arah halaman dan menuju pintu utama. Segera Yoseob memencet bel pintunya. Merasa sudah tidak mampu menahan rasa rindu pada keluarganya lagi. Tidak lama terdengar samar suara sahutan dari dalam rumah. Sebuah suara yang sangat dirindukan oleh Yoseob.
Dalam hitungan menit, pintu terbuka. Nampak seorang gadis berambut panjang yang saat ini terlihat shock dengan tamu yang berdiri dihadapannya. “Yoseobie???” ucap gadis itu tidak percaya, yang hanya mendapat jawaban berupa tawa dari Yoseob.
Gadis itu semakin shock saat menyadari siapa yang berdiri disamping Yoseob. Ia terbelalak saat melihat Yoseob dan Suzy berdiri berdampingan sambil berpegangan tangan. “Omo~~~” ucapnya kaget.
“Minggir…. Mana eomma? Eomma!!! Yoseobie pulaaangg~~” Yoseob berjalan masuk mendorong gadis itu untuk minggir karena menutupi jalannya. Dengan tetap menggenggam tangan Suzy, Yoseob berjalan masuk ke dalam rumah. Menghirup wangi rumah familiar yang selalu dirindukannya.
“Yah paboo!!! Kenapa pulang tidak mengabari kami dulu..” teriak gadis itu saat Yoseob berhasil melewatinya. Ia kemudian sadar akan tamu yang ada dihadapannya.
“Annyeong hasseyo~~” sapa Suzy sembari menunduk memberikan salam, sebuah senyum muncul kemudian. “Haeyeon eonnie…”. Gadis yang sama dengan foto yang pernah dilihatnya di ponsel Yoseob. Foto keluarga yang terlihat sangat harmonis.
“Yoseobie…Kamu pulang…?” sebuah suara yang membuat rasa gugup Suzy kembali muncul tanpa diminta.
“Eomma..” dengan segera Yoseob berlari dengan cepat dan memeluk wanita itu. Eomma yang sangat ingin ditemuinya sejak lama.
Suzy, yang terdiam, memandang ke arah Yoseob dengan kikuk saat wanita paruh baya itu tersenyum kearahnya. Suzy segera membungkukkan badannya, memberi salam. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini.
“Siapa itu Yoseobie..? Apa kau tidak ingin memperkenalkan dia pada kami?” suara yang penuh wibawa tiba-tiba muncul, dan Suzy mendapati seorang pria paruh baya, dengan senyum yang mirip sekali dengan milik kekasihnya, datang menghampirinya.
Yoseob berdeham pelan. “Appa..Eomma..Noona.. Kenalkan.. Ini Bae Su Ji.. Pacarku…” ujar Yoseob dengan senyum polosnya.
“Su.. Su Ji imnida..” ujar Suzy seraya menunduk lagi memberikan salam entah untuk keberapa kalinya.
“Aigoo~~ Su Ji-ah..Eomma sudah lama menunggu saat ini, menunggu kapan kamu akan datang kerumah kami…” ujar wanita paruh baya itu saat menghampiri Suzy.
Suzy menoleh kearah Yoseob dengan bingung, seakan berharap kekasihnya bisa menangkap sinyal yang diberikan olehnya. “Panggil dengan sebutan appa dan eomma saja… Selamat datang…” Haeyeon berucap sembari tersenyum lembut. Tersenyum kepada adik perempuannya yang baru.
Yoseob’s POV
“Dia cantik ya…” aku menoleh dan mendapati noona sedang berdiri tepat disampingku, menatap ke arah yang sama.
Didepan kami berdua, appa, eomma dan Suzy sedang asyik mengobrol dan terlihat sangat akrab. Apakah ini pertemuan mereka yang pertama? Kenapa cepat sekali Suzy menjadi akrab dengan keluargaku?
“Eomma, aku, dan Suzy..Menurutmu siapa yang paling cantik Yoseob-ah?”.
Aku hanya tertawa mendengar pertanyaannya. “Kalian bertiga akan selalu jadi wanita tercantik dalam hidupku noona. Kau tahu itu..”.
Aku mendapati noona memutar bola matanya dan menggumamkan kata’gombal’. Aigoo~~ aku sangat merindukan moment untuk menggodanya seperti ini. Uri kyeopta noona…
“Sampai kapan kau akan berlari dari…”
“Jangan sebut namanya Yoseobie…” aku menoleh ke arah noona. Wajahnya berubah menjadi serius seketika.
“Noona.. Kau tidak bisa seperti ini selamanya. Doojoonie…”
“Aku dan dia tidak akan pernah bisa bersama, kau tahu itu..” aku melihatnya tersenyum lemah. Merasakan hatiku ikut menjadi sakit saat melihat noona seperti itu.
“Kau bahkan belum mencobanya!!” ucapku dengan kesal.
“Aku tidak perlu mencobanya hanya untuk mengetahui bahwa aku dan dia tidak bisa bersama. Oke. 5 menit untuk bercerita Yoseobie…”.
Dan akhirnya kata-kata itu muncul. Caranya mengalihkan pembicaraan membuatku sebal. ‘5 menit Yoseob’ begitu dia menyebutnya. 5 menit dimana aku wajib dan harus menceritakan tentang masalahku. Yang aku yakin sebenarnya butuh waktu lebih dari 5 menit untuk melakukan hal itu. Sejak kecil, aku dan noona punya kebiasaan seperti ini. 5 menit Yoseob dan 1 jam Haeyeon, begitu aku menyebutnya. Hanya dengan melihat wajahku saja, noona bisa tahu apa yang terjadi denganku. Aku kadang merasa takut jika Suzy sampai bertemu dengan noona dan eomma. Mereka punya kelebihan yang sama, yang mungkin bisa membentuk perkumpulan baru, APPY. Asosiasi Pembaca Pikiran Yoseob, dengan eomma sebagai ketuanya.
“Noona..Haruskah kita bermain permainan seperti ini lagi?” tanyaku sembari mengerang kesal. Karena tahu aku akan kalah.
“5 menit Yoseob dimulai….”.
Aku menghela nafas. Dan melihat ke arah Suzy yang saat ini sedang mendengarkan cerita appa tentang hobinya memancing. Sesaat Ia menoleh ke arahku dan tersenyum dengan senyum cantiknya. “Aku mencintainya noona..” ujarku setelah membalas senyum Suzy.
“Ara..Aku bisa melihat itu dengan jelas…” jawabnya dengan lagak sok tahu seperti biasanya.
“Tapi tidak semua orang bisa melihat dengan jelas..” teringat lagi semua mention yang ditujukan padaku, seakan bebanku menjadi lebih berat ribuan kali. “Aku akan mengakhiri ini noona”.
“Mworagu?” aku bisa merasakan Haeyeon noona menatapku saat ini dengan pandangan matanya yang tajam dan berbicara dengan nada tingginya.
“Jika mereka tidak menyetujui hubungan ini, haruskah aku akan mengakhiri ini semua? Akan kulakukan, jika memang semua akan menjadi lebih baik” ucapku saat melihat Suzy kembali menatapku dengan mulut yang bergerak tanpa suara, mulutnya yang mengucapkan satu kata yang selalu ingin kudengar tiap saat dari bibirnya.
‘Sa-rang-hae’…
♥ To Be Continue ♥
Woahh..Jinjja..Chapter kali ini menguras otak, wkwkwkwk
Mungkin ada yang bertanya soal Doojoonie dan Haeyeon? ahahaha..Aigoo, ini ide yang muncul tiba-tiba..
Tolong jangan ditagih cerita tentang mereka, ahahaaha *kabur*
Well..Thank you for reading..Love it? or hate it?
Comment and suggest are so much loved












yozy couple ga boleh putus…
suka bgt sama kakanya yoseob XD
Junhyung selingkuuh?o__o beruntung bgt jd suzy..;~;
junhyung~ enak banget sih jadi nana
mau juga dong oppa~
mbak hara terus apa kabar itu ?
si jiji, hyunseungi.mu sama hyuna itu di trouble maker kan “wah” banget
akhirnya mulai cemburu ya ?
love it uun !!! goodjob *bighug*
junhyung harus memilih ottoke…
yoseob jangan bimbang..
seungie… jangan bikin jia eonni goyah :”
sukaaa lah ttp-_-