Serendipity – Chapter 3
First of all, sebelum author mulai semuanya, ada satu hal yang pengen disampaikan
For note
FF ini BUKAN hanya tentang YOZY
BUKAN hanya tentang JISEUNG
TIDAK hanya tentang JUNNA
Tapi FF ini berisi keseluruhan dari cerita semua member beast yang digabung jadi satu
Ngga masalah kalau kalian yozy shipper, atau jiseung shipper atau junna shipper
But please..Please..Tolong dimengerti
Tidak ada couple spesial disini
Semua punya bagian tersendiri dan punya timing atau waktu kapan mereka akan muncul
Kalau part mereka sedikit, tolong dimengerti, karena pairing disini ngga hanya satu. meski scene mereka sedikit tapi author pasti ninggalkan satu clue buat chapter depan
Please, bear with it
Semoga setelah ini ngga ada protes tentang banyak sedikitnya scene pairing.
karena sekali lagi
Fic ini tentang BEAST dan author hanya ingin membuat kalian jatuh cinta dengan semua kisah cintanya anak BEAST
Is it hard to accept?
***************
I wish you were here with me
I wish I was there with you
But most of all
I wish I didn’t have to wish for you
“Bisakah tidak selalu memasang wajah seperti itu setiap kali kita bertemu?” Hyunseung berucap seraya membolak balik buku menu yang ada ditangannya. Meski tidak melihat langsung, tapi laki-laki itu sadar, bahwa saat ini, gadis yang duduk dihadapannya sedang memandangnya dengan tajam.
Jia hanya memutar bola matanya saat mendengar perkataan Hyungseung dan dengan kesal kembali menatap daftar menu makanan yang ada dihadapannya. Nafsu makannya hilang, dan dia tidak lagi merasa lapar. Dengan asal gadis itu menunjuk nama makanan yang dilihatnya di daftar menu saat pelayan menghampiri meja mereka berdua. Toh seenak apapun makanan itu, tetap akan terasa tidak enak dengan Hyunseung menemaninya makan, begitu pikir Jia.
Seperti yang telah dikatakan Hyunseung beberapa hari yang lalu, dalam selang waktu satu bulan, Hyunseung berjanji akan membuat Jia jatuh cinta. Kenangan Jia kembali ke beberapa jam yang lalu, dan alasan kenapa dia harus terdampar di restoran ini dengan Prince of lies.
“Nan Shireo!!!” ucap Jia sembari bersedap, menatap Hyunseung yang saat ini sedang berdiri dihadapannya.
Setelah menyelesaikan part rekamannya, secepat kilat Hyunseung segera datang ke gedung JYP. Dia berusaha menggunakan waktu freenya sebaik mungkin karena Hyunseung sadar, waktu yang dimilikinya tidak banyak.
“Apanya yang shireo? Aku belum bilang apa-apa!!” Hyunseung mengerutkan keningnya menatap gadis tomboy dihadapannya.
“Apa maumu datang kesini?” ujar Jia langsung, Ia enggan berbasa-basi dengan laki-laki seperti Hyunseung. Tidak ada gunanya dan membuang tenaga.
“Mengajakmu makan siang..” Hyunseung membetulkan letak topinya saat ada beberapa staf JYP yang melewtinya. Ia tidak ingin siapapun mengetahui keberadaannya disini. Hyunseung adalah seorang fanboy dari si tomboy Jia, cukup member Miss A dan Beast saja yang tahu. Itu salah satu rahasia terbesar yang dimilikinya.
“Oke. Shireo.” Jia melangkahkan kakinya, berjalan melewati Hyunseung dan enggan meladeninya lebih lanjut.
“Apakah hanya aku yang tukang bohong disini? Apa hanya aku yang pantas disebut Prince of lies disini? Karena baru saja ada seorang gadis yang membohongiku dan mengingkari janjinya untuk memberikanku kesempatan selama satu bulan. Apa dia bisa kusebut princess of lies sekarang?” ucap Hyunseung.
“Kamsahamnida..” ucap Hyunseung saat pelayan kembali ke meja mereka mengantarkan makanan yang mereka pesan.
Hyunseung yang sedari tadi sudah menahan lapar, memandang piringnya dengan bersemangat. Makanan yang sejak lama ingin dicobanya, akhirnya bisa dinikmati olehnya. Segera Ia mengambil pisau dan garpu yang terletak di samping piring. Tidak sengaja, Hyunseung melihat ke arah Jia yang saat ini terlihat kesal saat memandang piring yang ada dihadapannya.
“Wae?” tanya Hyunseung pada akhirnya. “Apa tidak enak?”.
Jia tidak mengucapkan sepatah katapun, gadis itu juga sama sekali tidak berminat untuk menatap ke arah Hyunseung. Jia mengambil garpu dan pisau kemudian memisahkan beberapa makanan yang ada di piring untuk dipinggirkan.
“Apa ada yang salah dengan makanannya?” Hyunseung bertanya dengan alis yang terangkat sebelah, tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Jia saat ini. Memperhatikan tiap gerakan yang dilakukan oleh Jia.
“Buncis…” Jia memandang jijik ke arah piring dihadapannya.
“Buncis?” Hyunseung segera mengecek piring Jia dan menyadari bahwa semua buncis yang ada di piring itu sekarang sudah berjejer rapi di tepi.
“Aku benci buncis..” rutuk Jia pelan. Ia tidak tahu apa yang harus dimakannya, karena sebagian besar dari makanan yang dipesannya berbahan dasar buncis. Kenapa tadi aku tidak memesan dengan benar? Kenapa tadi aku tidak teliti?, Jia mengomel pada dirinya sendiri. Membenci dirinya yang selalu melakukan suatu hal tanpa dipikir lebih dahulu jika dia sedang dalam kondisi emosi.
Hyunseung menyandarkan punggungnya, matanya menatap lekat Jia, memperhatikan tiap ekspresi yang muncul saat itu. “Apa kau ingin pesan makanan yang lain?” tanya Hyunseung pada akhirnya, yang hanya mendapat gelengan dari Jia. “Kau tidak mau memesan yang lain? Yakin?” ulang Hyunseung yang sekali lagi bertanya pada Jia dengan pertanyaan yang sama, dan sekali lagi, mendapat jawaban yang sama, gelengan. “Apa kau suka salmon?” tanya Hyunseung tiba-tiba.
Jia mengangkat wajahnya dan melihat ke arah laki-laki berambut pirang dihadapannya dengan muka masam. Kemudian kembali menatap piringnya lagi.
“Jiji.. Apa kau suka salmon?” ulang Hyunseung lagi saat Jia tidak menjawab pertanyaan yang diajukan olehnya.
Jia hanya mengangguk pelan dan kembali fokus pada piringnya, berusaha menghabiskan sayuran selain buncis yang terpampang dihadapannya. Tiba-tiba saja piring gadis itu terangkat dan berganti dengan sebuah piring yang berisikan salmon. Dengan kaget Jia menengadahkan wajahnya dan melihat piringnya telah ada didepan Hyunseung.
“Makanlah..” jawab Hyunseung singkat. Ia mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, rasa lapar yang sudah tidak bisa ditahan lagi olehnya. “Kalau kau tidak mau memesan makanan lagi setidaknya makanlah salmon itu..”.
“Tapi aku…”.
“Makan. Atau aku akan memperpanjang perjanjian kita menjadi dua bulan” ucap Hyunseung, sembari menatap mata Jia.
Sesaat, Hyunseung berharap, bahwa Jia tidak akan pernah memakan salmon itu. Sesaat Ia berharap, Jia akan tetap menjadi gadis keras kepala yang dikenalnya. Namun harapannya pupus seketika saat melihat Jia mulai menyuapkan salmon ke dalam mulutnya, dan mulai mengunyah dalam diam. Sebegitu tidak inginnya kah kamu untuk bersama denganku, Jiji?
♥ ♥ ♥
Nana’s POV
Sungai Han nampak sepi malam ini. dan sejujurnya itu yang kucari. Disela waktu senggangku, aku menyempatkan diri untuk melakukan jogging di malam hari. Karena hanya itu yang bisa aku lakukan, tidak memungkinkan bagiku untuk beraktifitas di pagi hari dengan fans yang selalu akan mengikutiku. Aku menghirup udara sedalam mungkin, mengisi paru-paruku dengan udara yang terasa segar. Kemudian menuju salah satu bangku kosong yang ada.
Untuk pertama kalinya, aku melakukan jogging malam ini tidak sendirian…
“Jogging?” suaranya yang terdengar heran akan apa yang baru saja aku katakan. Menjadi kebiasaan baruku dan mungkin juga kebiasaan barunya untuk saling betelepon pada malam hari seperti ini. bertelepon, tanpa ada seorangpun yang tahu.
“Ne oppa. Biasanya aku melakukan jogging dimalam hari. Waeyo?” tanyaku sembari mengambil sepatu olahragaku dari dalam rak sepatu.
“Jogging shireo…” ucapnya malas-malasan.
Aku mengerutkan keningku mendengar apa yang baru saja dikatakan olehnya. Jogging shireo? Lalu bagaimana caranya menjaga kesehatannya? Apa dia terlalu sibuk sampai tidak memiliki waktu untuk berolahraga? Atau memang dia tidak suka jogging?
“Lalu olahraga apa yang kamu suka oppa?” tanyaku lagi. Rasa ingin tahu yang selalu saja muncul jika menyangkut tentang dirinya. Aku ingin sekali mengenalnya lebih dekat.
“Semua olahraga aku tidak suka. Shireo..Jeongmal shireo…” suara seraknya terdengar lagi, seakan benar-benar menggambarkan bahwa olahraga adalah sesuatu yang harus dijauhi. Dan tidak sedikitpun dia ingin berdekatan dengan olahraga. Aku bisa merasakan sifatnya yang keras kepala mulai muncul. “Wae? Apa ada yang lucu?” tanyanya saat mendengarku tertawa.
“Ne..Kamu yang lucu..Aku baru pertama kali bertemu orang yang sangat membenci olahraga sepertimu…” ucapku.
“Aku tidak benci olahraga Nana…”
“Tapi aku malas Nana…” sambungku seraya menirukan suaranya dan gaya bicaranya yang mulai kuhafalkan. “Cerita lama oppa.. Ya sudah kalau begitu. Aku pergi dulu ya.. Jika jogging terlalu malam pun udaranya tidak akan baik untuk kesehatan. Oppa sudah ada di dorm kan? Beristirahatlah. Kau butuh itu…” jawabku. Rasa khawatir yang selalu muncul tiap kali berhubungan dengannya. Teringat akan kata-katanya beberapa hari yang lalu saat mengatakan bahwa dia sering sekali terkena migrain dan aku sempat membaca tentang cidera yang dialaminya di punggung. Aku tidak ingin dia sakit lagi.
“Dimana kau akan jogging?” tanyanya tiba-tiba.
“Sungai Han.. Disana lumayan sepi.. Dan dekat dari dorm.. Sudah ya oppa…” aku keluar dari kamarku dan melihat memberku sedang berkumpul didepan tv, menonton film drama.
“Aku ikut…” ucapnya lagi.
“Mworaguyo?” kataku kaget. Bukannya tadi dia bilang dia tidak suka jogging?Dan sekarang dia bilang ingin ikut? Apa aku tidak salah dengar?
“Tunggu aku.. Aku akan sampai disana 20 menit lagi, Nana..Aku berangkat sekarang…”.
Aku memeluk botol air yang mineral yang kubawa dari dorm. Melihat ke sekeliling dan belum menemukan tanda-tanda kedatangannya. Nana..Apa kau pikir ini sudah benar?Dia bukan seseorang dengan status single. Yong Junhyung itu terlarang Nana.. Terlarang…’.
Oke, sekarang pertentangan antara hati dan otakku dimulai lagi. Pertentangan yang selalu dimulai sejak hari pertama aku memberikan nomer telponku padanya. Sejak hari itu, dan sejak pertemuanku yang tidak sengaja dengannya di taman beberapa waktu yang lalu, aku sama sekali tidak bisa melupakan dia dari pikiranku. Rasa khawatir akan dia, rasa rindu yang tiba-tiba muncul tanpa aku inginkan, dan suatu perasaan yang muncul pelan-pelan dihatiku.
Apa sebenarnya yang ada dalam hati dan otakku? Sungguh, aku sadar dan aku sangat sadar bahwa Junhyung oppa adalah pria terlarang, pria yang sampai kapanpun tidak bisa aku raih, pria yang sampai kapanpun tidak bisa aku miliki. Tapi, ada sesuatu dalam dirinya. Sesuatu yang hanya dengannya aku merasa nyaman, sesuatu yang hanya dengannya aku merasa sanggup membagi semuanya. Tiap kali mendengar suaranya, dan caranya tersenyum saat mendengar apa yang aku katakan. Aku merasa tidak akan pernah sanggup untuk pergi darinya. Aku tidak ingin meninggalkannya sendiri, aku ingin ada disampingnya.
Salahkah aku? Salahkah jika semua perhatian yang kuberi ini berubah menjadi perasaan yang lebih? Salahkah jika aku berharap suatu saat Junhyung oppa akan menggapkuku lebih dari temannya? Setiap kali mendengar ceritanya tentang pekerjaannya, tekanan publik yang ditujukan kearahnya, bagaimana hubungannya dengan Hara yang dia tidak tahu akan dibawa kemana, membuatku seakan ingin sekali memberikan hal terbaik yang aku miliki dan meyakinkannya bahwa semua akan berjalan baik-baik saja. Menguatkan dirinya yang terlihat kesepian dan rapuh dimataku.
Aku tidak ingin menjadi perusak hubungannya dengan Hara, aku tidak ingin merusak hubungan siapapun, tapi aku juga tidak bisa menjauhinya. Kenapa Nana? Kenapa harus seperti ini? Kenapa seorang Yong Junhyung harus hadir dihidupmu saat dia tidak bisa kau miliki? Kenapa kamu mengambil jalan ini Nana? Kenapa? Aku mengecek jam tanganku. Dia sudah terlambat 30menit. Aku tersenyum kecut saat menyadari imajinasi yang sedang bermain di dalam otakku saat ini.
♥ ♥ ♥
Junhyung’s POV
“Aku pergi dulu…” ucapku seraya mengambil kunci mobilku yang ada di atas meja dan berjalan menuju pintu secepat mungkin, aku harus sampai di Sungai Han dalam waktu 20 menit. Aku tidak ingin Nana terlalu lama menungguku.
Nana. Im Nana. Gadis yang mampu mengubah hari dan pemikiranku akhir-akhir ini. Nana, yang selalu menghiburku dan selalu ada untukku bahkan di saat dia sibuk sekalipun. Teringat kejadian beberapa hari lalu, saat aku iseng menelponnya, dan dia masih sempat menjawab telponku meski saat itu dia sedang ada di lokasi pemotretan. Meski tidak bisa berbicara lama dengannya, tapi mendengar suaranya saja sudah cukup untukku. Cukup untuk mengobati rasa sepiku. Aku tahu aku salah, aku tidak seharusnya melakukan ini semua dibelakang Hara. Tidak seharusnya melakukan ini saat aku sebenarnya telah memiliki Hara. Tapi, ada suatu hal yang tidak bisa membuatku jauh dari Nana. Sesuatu yang membuatku mampu melewati segalanya. Dan aku tidak ingin orang lain tahu. Cukup Nana dan aku. Hanya kami berdua.
“Mau kemana?” aku menoleh dan mendapati Yoseob sedang bersandar disamping jendela dengan sebuah mug ditangannya, memandangiku dari kaki hingga ujung kepalaku dengan kening berkerut. Beruntung hanya Seobie dan bukan member lengkap yang menginterogasiku saat ini. Seobie saja sudah cukup membuatku pusing dengan pertanyaannya.
“Jogging..” jawabku singkat.
Aku menalikan sepatuku, tidak peduli dengan apapun reaksi yang diberikan oleh Yoseob. Semakin banyak aku berbasa basi dengannya semakin lama aku akan pergi. Berhadapan dengan seorang Yang Yoseob saat sedang terburu-buru seperti ini sebenarnya bukan hal yang menguntungkan.
“Apa aku tidak salah dengar? Apa tadi kau bilang? Jogging?” Yoseob melanjutkan pertanyaannya lagi. “Apakah hanya aku seorang diri disini yang sadar bahwa akhir-akhir ini kau banyak berubah?” Aigoo~~ Seobie.. Tolong jangan berdebat denganku sekarang.
“Junhyeom-ah…” panggilnya lagi. Mungkin kesal karena aku sama sekali tidak menjawab atau peduli dengan pertanyaannya.
“Aku tidak punya banyak waktu Seobie. Aku pergi..” ucapku. Melambai sekenanya pada Seobie, dan tersenyum simpul saat bayangan Nana dan senyumnya muncul. Dia warna baru hidupku. Dengan bersemangat aku segera menuju pintu dan membeku saat melihat sosok yang berdiri dihadapanku sekarang. Senyumku menghilang saat dia menyapaku.
“Oppa.. Annyeong…kekeke…” ucapnya.
“Ha..Hara?”.
♥ ♥ ♥
Hyunseung’s POV
Aku keluar dari kamar mandi sambil mengalungkan handuk dileherku saat mendengar suara pintu dorm tertutup. “Siapa itu?” tanyaku pada Yoseob yang saat ini berdiri didekat jendela, pandangannya tidak lepas dari pintu. Malam-malam seperti ini? Siapa yang keluar? Aku mengintip ke dalam kamar dan melihat Ki Kwang dan Doojoon sudah tertidur pulas. Mereka berdua memang seharusnya beristirahat.
“Junhyung baru saja keluar..” jawab Yoseob sembari duduk dilantai dan bersandar ditembok yang ada dibelakangnya.
“Malam-malam seperti ini? Junhyung?” tanyaku lagi.
“Iya..Jogging..” katanya sembari mengangkat bahunya. Meskipun Yoseob berusaha terlihat masa bodoh, tapi aku tahu bahwa sebenarnya dia sangat mengkhawatirkan Junhyung.
“Jogging? Junhyung jogging?” tanyaku dengan tidak percaya. Tidak mungkin. Ini pasti bercanda. Sejak kapan dia suka olahraga?
“Ne..Jogging dengan Hara. Itu tadi Hara datang kesini. Akhirnya ada seseorang yang berhasil menyadarkannya bahwa olahraga itu penting..” Yoseobie berucap sembari membuka-buka sebuah majalah dan membacanya.
“Hara? Junhyung masih pacaran dengan Hara?” tanyaku. Hara yang sudah lama tidak pernah dibahas oleh Junhyung, tiba-tiba datang kembali. Mereka baikan atau apa?
“Nan molla…Mungkin mereka sudah baikan atau semacamnya..” jawab Yoseob. “Apapun itu, yang penting aku tidak melihatnya muram. Junhyung sudah lebih baik akhir-akhir ini. Sejak Hallyu Wave concert keadaannya mulai membaik. Semoga selamanya seperti itu. Dan berhenti berbicara dengan nada histeris seperti itu Seungie, kau membuatku takut…”.
Aku mengangguk pelan, menyetujui apa yang baru saja dikatakan oleh Yoseob tentang Junhyung. Junhyung memang menjadi lebih baik. Aku bisa melihatnya lebih banyak tersenyum. Dan mungkin ini semua karena hubungannya dengan Hara yang semakin membaik.
“Apa kau tidak menemui Suzy?” tanyaku sembari menyalakan televisi dan duduk di sofa yang letaknya berhadapan dengan Yoseob. Dari sudut mataku aku bisa melihat Yoseob yang mengangkat wajahnya dari majalah yang sedang dibacanya untuk menatapku, kemudian melanjutkan membaca majalah lagi.
“Anni” ucapnya pelan.
“Waeyo? Bukannya mereka free hari ini?”. Seingatku jadwal Miss A free seminggu ini. Mereka tidak memiliki kesibukan apapun sampai minggu depan. Akhirnya.. Setelah sekian lama, aku memiliki kesempatan untuk bertemu dan menghabiskan waktu dengannya hari ini, meski harus kuakui, gagal total.
“Darimana kau tahu kalau Miss A free hari ini?” pertanyaan Yoseob yang tiba-tiba membuatku kaget. Aiishh!! Cerobohnya aku!! Kenapa aku harus menanyakan itu pada Yoseob!! Dia pasti akan curiga.
“Tebakan saja. Tebakan jitu..Biasanya kan tiap ada waktu free kalian selalu bertemu..” ucapku cepat. Sebisa mungkin membuat Yoseob percaya. Meski sebenarnya aku tidak yakin kalau dia akan langsung percaya dengan apa yang aku katakan.
Kulihat Yoseob memandangiku dengan kening berkerut, “Tidak. Suzy ada ujian sekolah seminggu ini. Dan aku tidak mau mengganggunya. Malam ini Dongwoon juga pulang terlambat, dia akan mengajari Sohyun. Sohyun dan Suzy kan sekolah di tempat yang sama meski beda kelas. Tunggu, sebenarnya kau tanya tentang Suzy atau Jia noona?”.
Otakku menjadi blank seketika saat Yoseob menyebut namanya. Apakah aku sejelas itu? Aku tidak akan menjawab pertanyaan Yoseob ini. Akan lebih baik jika aku diam.
“Suzy bilang kamu datang ke dorm mereka waktu malam kita konser di Hallyu Wave” Yoseobie menyambung pertanyaannya lagi. Kenapa malam ini dia banyak sekali bertanya? Apa dia juga secerewet ini jika bersama Suzy? Bagaimana Suzy bisa betah dengannya?
“Apa kau percaya dengan ucapan Suzy? Bagaimana kalau dia bohong? Apa tidak pernah terlintas dalam pikiranmu kalau Suzy berbohong selama ini padamu?” ucapku sinis.
Aku mendapati Yoseob menaikkan sebelah alisnya saat memandangku, “Tidak ada untungnya juga jika Suzy berbohong padaku. Dan dia juga tidak pandai berbohong. Jangan mengalihkan bahan pembicaran Seungie, katakan padaku, Apa kau serius mengatakan itu padanya? Kau serius menyatakan perasaanmu pada Jia noona?” Yoseob berdiri dan berpindah tempat untuk duduk disampingku. Dan sekarang dia sudah mulai melihatku lekat, seakan berusaha mencari jawaban dari raut wajahku.
“Aku tidak menyatakan perasaanku Seobie. Aku hanya akan membuatnya jatuh cinta kepadaku. Itu saja..” jawabku sembari bermain dengan remote televisi yang sudah kupegang dari tadi. Merasa nervous tiba-tiba akan pertanyaan Yoseob.
“Apa kau yakin?” ulangnya lagi.
“Kenapa? Kau melarangku?”.
“Aku tidak melarang Seungie-ah..Itu hakmu. Kau bebas bersama dengan gadis manapun yang kamu suka. Hanya, perlukah mengatakan hal seperti itu? Membuat Jia noona menicntaimu? Dalam waktu satu bulan? Apa kau gila?”.
“Aku rasa aku sudah cukup gila sejak aku melihatnya di Sydney…Meski aku tahu bahwa itu tidak mungkin..” aku tersenyum saat teringat moment antara aku dan Jia terulang. Saat dia memasukkan sebuah roti berukuran besar ke dalam mulutku, hanya agar aku berhenti bertanya.
“apanya yang tidak mungkin?” tanya Yoseob lagi.
“Aku merasa..Dia tidak akan mungkin menyukaiku. Tidak ada yang berubah darinya. Dia tetap berteriak padaku. Dia tetap menatapku dengan pandangan penuh emosi. Dia selalu melawanku. Dan aku tidak melihat setitik saja, sinyal yang mengatakan bahwa dia menyukaiku, atau paling tidak rasa peduli. Sebulan saja Yoseob ah..Sebulan ini adalah batasku…Sebulan ini adalah batasku untuk membuatnya sedikit saja peduli akan diriku..”
“Jika tidak bisa? Jika sebulan tidak cukup?”.
“Aku harus cukup puas dengan label fanboy..Apapun yang terjadi..Apapun akhirnya..Aku akan mundur..” kataku sembari berdiri dari sofa dan berjalan menuju kamar. Hari ini sungguh sangat melelahkan. Aku berencana menemui Jiji, kapanpun saat aku mendapat waktu free. Aku tidak peduli meski akhirnya aku akan ditendang oleh security atau manajernya. Aku akan tetap menemuinya.
“Dan jika kau berhasil membuatnya jatuh cinta? Jika pada akhirnya Jia noona mencintaimu? Apa yang akan kau lakukan?”.
Ucapan Yoseob membuatku berhenti dari langkahku. Pengandaian yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, karena aku tahu itu hal yang sangat tidak mungkin. Aku tersenyum saat menyadari bahwa separuh hatiku terasa kelu saat mendengar perkataan Yoseob. Rasa kelu yang selalu ku dapat tiap kali melihat Jiji atau mendengar seseorang menyebut namanya.
“Hal itu tidak akan pernah terjadi Yoseob-ah.. Tidak akan pernah…”.
♥ ♥ ♥
Yoseob’s POV
Melihat dua memberku bertingkah aneh dalam waktu yang hampir bersamaan membuatku harus memutar otak. Hyunseung dan Jia noona? Oke. Memang ini salahku. Aku sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi diantara mereka berdua sampai Suzy membahasnya beberapa hari lalu. Suzy yang menyuruhku menanyakan pada Seungie tentang perasaannya pada Jia Noona. Aku sudah bertanya, dan dapat jawaban yang seperti tadi. Maksudnya apa?? Dia suka atau tidak? Aigoo~~ aku tidak mengerti.
Dan Junhyung.. Sudah lama sejak Hara datang ke dorm, dan ekspresi wajah Junhyung tadi. Apakah dia benar-benar akan jogging dengan Hara atau.. Aaahh molla~~!!! Melihat ke arah ponselku. Tidak ada telfon. Tidak ada sms. Aku memandang wallpaper ponselku. Selca Suzy yang baru dikirim olehnya beberapa jam lalu. Selca yang diambilnya sembari memeluk buku pelajaran dengan wajah cemberut. ‘Yang Yoseob sunbaenim, annyeong..Hari ini pacarku adalah buku ini. jaga dirimu baik-baik, karena dia lebih penting saat ini daripada kamu… ppyong~~’.
Aku tertawa lagi, entah untuk keberapa kalinya saat teringat akan pesan aneh khas baby princessa. Ne, belajarlah baby… Aku akan menurut kali ini, aku tidak akan mengganggumu malam ini. Aku menyibukkan diriku dengan ponselku, sembari menunggu rasa kantuk menghampiriku. Membuka twitter dan mengecek semua mention yang ditujukan padaku.
‘Beruntung kau sudah putus dengan Suzy, kau tidak pantas untuknya. Suzy terlalu sempurna untukmu’
‘Apa kau pikir kau tampan?Seharusnya kau bersyukur Suzy mau menjadi pacarmu!! Kenapa kau malah menyia-nyiakannya?’
‘oppa.. Aku senang kau putus dengan Suzy..Dia tidak cocok denganmu. Suzy cocok dengan Wooyoung. Dan kamu lebih pantas dengan IU eonnie..’
Senyum getir yang perlahan muncul dibibirku. Mention sejenis yang selalu aku terima sejak pengakuan publik yang aku lakukan, dan mention seperti itu tidak berhenti hingga hari ini. Dan tidak ada yang tahu, tidak Suzy, tidak memberku, tidak siapapun. Aku tidak ingin siapapun tahu tentang mention-mention seperti ini. Merasakan rasa kecewa dan sedih yang mulai menguasaiku lagi. Sampai kapan mereka akan melakukan ini semua? Apakah selamanya aku dan Suzy tidak akan diterima oleh semua fans? Apakah selamanya kami berdua akan menerima bashing seperti ini? Apakah ini harga yang harus aku bayar untuk mencintai seorang Bae Su Ji? Aku bisa bertahan kan? Aku bisa menyembunyikan hubungan ini kan? Aku bisa menjalani hubungan yang seperti ini kan?Atau…. Aku tidak bisa? Aku tidak bisa mempertahankan hubungan ini? Kenapa seperti ini? kenapa tiba-tiba merasa tidak yakin seperti ini? Aku memejamkan mataku, bayangan akan senyum Suzy yang selalu menemaniku.
“Baby.. Tolong kuatkan aku.. “ aku berucap pelan. Rasa ragu dan takut yang datang kembali, dan aku tidak mampu menghadapinya lagi…
♥ To Be Continue ♥
Readers annyeong ^^/
Gimana? udah ya Seungienya.. Seriusan..Author frustasi kalo harus ditagihin kaya kemaren..bikin ngga tenang nulis part member yang lain..*curhat*
Semoga kali ini ngga ditagihin..
Ato ditagihin lagi? Partnya si Yoseob kurang? Jebal~~ jangaaaann T.T
Rasanya author masih kena euforia winningnya Beast, KBS Song Of The Year…
Yoon Leadah, 4D JS, Joker the rapper, Yangderella, Eye ‘Kiki’ smile, Son Namshin..
Chukkaeyo uri OT6 ♥
See you on next chappie ^^/ *waving with baby junhyungie*












daebak !!!!.
Kereen.
Smw feelingnya ngdapet.
thor !!!.
Berbakat jd penulis ya???.
Kapan ni lanjut nya???.
Di tunggu
Kenapa gak bikin buku aja?pasti sukses deh..apa udh buat?.___.
Uaaa~ bergerilya nyari komenku *plaak xD
tetep kurang suka nana dr awal juga :p
biarPun dia baik u.u
haaa.. yoseobie harus tahaan..
gag bole ninggalin suzy yaa
awas kalo ditinggal *ngancem* hihihi
mwohahaha uri jjang oppa udah kemajuan sama jia eonni :” chukkaee!!!
yoseob oppa hwaiting kau pasti kuaaaat!
daebak lah tetep :”