Serendipity – Chapter 1

- PROLOGUE -

Sometimes I wonder

Do I ever cross your mind?

Cause for me

It happens all the time

 

 

Ruangan dorm terlihat lengang malam ini. Sekembalinya BEAST dari Malaysia, mereka segera kembali menuju dorm dan beristirahat untuk mempersiapkan schedule mereka keesokan harinya. Terlihat tiga orang laki-laki yang duduk merosot di sofa, dengan wajah kucel dan kuyu, yang sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiga laki-laki yang kebetulan, jauh dari kata yang bernama ‘cinta’.

“Seungie tadi pergi kemana?” Ki Kwang  bertanya sambil memasukkan beberapa buah pop corn ke dalam mulutnya.

“Pergi ke gym. Aku kadang khawatir dengannya, dia lebih gila untuk berolahraga daripada kamu akhir-akhir ini…” jawab Doojoon melamun. Mengingat kembali bagaimana Hyunseung berubah menjadi gym freak dalam sekejap. Yang bersaing dengan Junhyung yang gila kerja.

“Aku tidak keberatan kalau dia mau mengambil gelar eye candy dariku. Aku bisa pensiun melepas kaosku tiap konser dan digantikan olehnya. Rasanya itu lebih menyenangkan. Atau aku sekalian bisa mengajarinya American dance….” jawab Ki Kwang menerawang membayangkan beban beratnya sewaktu konser agak sedikit berkurang.

“Jangan berkhayal yang tidak-tidak hyung..” sambut Dongwoon. Maknae itu sedang duduk ditengah, diapit oleh para hyungnya. “kapan Yoseob hyung  kembali?” tanyanya.

“Molla.. Biarkan saja dia…Mereka sudah tidak bertemu lama. Berapa minggu?” tanya Doojoon sembari menyeruput cola-nya.

“Kata hyung hampir 3 minggu..” Dongwoon berusaha mengingat percakapan yang dilakukan dengan hyung-nya itu sewaktu dipesawat. Bagaimana Yoseob sangat ingin bertemu dengan Suzy hari ini, bagaimanapun caranya. Ia tidak ingin mengundur hari untuk bertemu dengan kekasihnya itu.

“Mereka sanggup ya berhubungan seperti itu?” ujar Ki Kwang dengan nada tidak percaya. Membayangkan Yoseob yang selalu berusaha tetap menjalin komunikasi dengan Suzy, sesibuk apapun schedule Beast saat itu.

“Kalau aku tidak mampu…” sambut Doojoon yang saat ini sedang memandang hampa ke arah televisi didepan mereka. “Aku tidak akan mampu menjalani hubungan dengan ritme seperti itu..” sambungnya. Teringat akan kilasan seorang wanita yang sempat muncul dihatinya, tapi seketika Ia tersadar, bahwa jika Ia meneruskan kedekatan mereka ini, Ia yakin, hubungan itu tidak akan bertahan lama. Dia yang tersakiti, atau wanita itu, hanya itu pilihannya. Doojoon tidak ingin gagal lagi. Tapi, menghapus wanita itu dari pikirannya, menghapus senyum wanita itu dari memorinya, tidaklah mudah.

“Aku bahkan tidak mempunyai waktu untuk dekat dengan wanita manapun selain dengan 4Minute atau A-Pink yang jelas-jelas satu manajemen dengan kita…” Ki Kwang menyetujui apa yang telah dikatakan oleh Doojoon. Mereka berdua tidak memiliki waktu untuk mencari dan menemukan.

“Hyosung?” tanya Doojoon.

“Tidak ada yang berubah antara aku dan Hyosung. Seperti perumpamaan ‘acara selesai dan begitu juga hubungan kita’, seperti itu rasanya hubunganku dengannya. Andai saja aku memiliki lebih banyak waktu luang…haaahhh…” Ki Kwang menghela nafas lelah. Teringat lagi akan Hyosung yang sempat menjadi targetnya namun harus diakui bahwa sekali lagi, waktu tidak berpihak padanya. Atau memang waktu tidak rela membuatnya lepas dari gelar jomblo.

“Hyung~~”.

“Ne…” Jawab Doojoon dan Ki Kwang bersamaan.

“Menurutmu…Sohyeon..Hayeon..Min…Diantara mereka bertiga, mana yang cocok untukku?” Dongwoon menyandarkan kepalanya ke bahu sofa sembari memejamkan matanya. “Siapa yang pantas untuk ku cintai? Atau harusnya bukan? Bukan siapapun diantara mereka bertiga? Karena persahabatan lebih penting dari pada segalanya?” Dongwoon meletakkan lengannya di dahi, berusaha menghilangkan rasa galau yang menerpanya akhir-akhir  ini.

“Mencintai sahabat sendiri itu terlarang Woonie ah…” jawab Doojoon kemudian.

“Karena ketika kita sadari bahwa sahabat kita itu tidak memiliki perasaan yang sama dengan kita, persahabatan kita akan terasa tidak sama lagi seperti semula” Ki Kwang seakan membuka luka lamanya. Luka yang Ia yakin sudah tertutup rapat. Kilasan gadis yang sempat menjadi spesial di hatinya. Hyuna.

“Nan.. Yeoja chingu hagoshippo…(aku ingin punya pacar)” ucap Dongwoon pelan.

“Dan mungkin Dongwoon-ah.. Kita bertiga memang belum ditakdirkan untuk memiliki yeoja chingu. Tidak sekarang. Mungkin nanti. Entah kapan…” Doojoon menguap lebar sembari merenggangkan tangannya, berjalan dengan terkantuk-kantuk menuju ke tempat tidurnya.

 

 

Yoseob’s POV

“Baby.. Ayo kita main suit” ucapku seraya melihat ke arah Suzy yang sedang serius menonton televisi, kami sedang menonton film kartun Monster Inc berdua.

Hari ini aku dan Suzy akhirnya bisa bertemu diantara jadwal kami yang padat. Setelah kedatanganku dari Malaysia, aku segera meminta izin pada manajerku untuk menemui Suzy, dan beruntungnya bahwa aku sama sekali tidak dilarang. Karena kita berdua sama-sama lelah, aku memutuskan untuk menghabiskan waktu di dormnya saja. Suzy yang baru saja selesai syuting pasti akan semakin lelah jika aku memintanya untuk kencan di luar.

“Kamu nanti kalah lagi aegi oppa…” Jawabnya pendek, sembari menyuapkan sesendok es krim strawberry yang ku belikan untuknya.

Permainan suit kami berdua yang selalu kami lakukan sejak awal kami berdua pacaran. Siapapun yang kalah suit harus melakukan apa yang disuruh oleh pemenangnya. Dan sejauh ini aku selalu menjadi korban. Apa aku ini benar-benar tidak ahli atau apa?

“Oke kita coba lagi. Moodku sedang bagus hari ini..” Ucapku sembari mengubah posisi dudukku menghadap ke arahnya.

Aku melihatnya menahan  tawa, “oppa, kau sudah kalah tiga kali. Dan tiga kali juga aku sudah mengerjaimu. Aku tidak punya ide lagi. Kapan-kapan saja” jawabnya enteng, seakan tidak peduli dengan apa yang aku katakan sebelumnya. Lihatlah.. Sekarang dia sudah berlagak menjadi ratu suit yang tak terkalahkan.

“Baby.. Satu kali ini saja.. Oke? Lagipula kamu juga belum tentu akan menang..Tidak mungkin ada orang yang bisa memenangkan suatu hal terus-terusan..” Jawabku sinis.

Memang betul dan harus kuakui bahwa dia sangat lihat dalam bermain suit, seakan dia bisa membaca pikiranku. Sudah 3 kali dia mengerjaiku. Yang pertama menyuruhku selalu memakai kacamata hitam kemanapun aku pergi selama satu minggu. Dia tahu betul aku paling benci memakai kacamata.

Yang kedua, menyuruhku membuat love sign sewaktu lagu perform Soom part ‘ I don’t know’. Bayangkan, love sign? Lagu ‘Soom’? Aku masih ingat bagaimana wajah semua memberku yang memandangku seakan aku orang gila.

Yang ketiga, menyuruhku merekam semua memberku mengatakan “Yang Yoseobie pabo”. Tentu saja hal terakhir ini amat sangat diterima oleh memberku dengan senang hati. Bahkan Doojoonie mengulang kata tersebut lebih dari lima kali.

“Kalau kamu kalah lagi jangan salahkan aku oppa. Suit hanya sekali oke? Siapapun yang menang di suit pertama dia langsung jadi pemenang” Suzy akhirnya mengubah posisinya dan duduk menghadap ke arahku.

“Ssiiippp.. Ayo!!” Aku menggosokkan kedua tanganku bersiap. Kali ini aku harus menang! Apapun yang terjadi, aku tidak boleh kalah!!

” Gai bai buk!!! ” Teriak kami berdua pada saat yang bersamaan.

Aku melihat dia mengeluarkan batu dan aku kertas. “Yaaahhooooooo!!!!!” Teriakku sekeras mungkin. Yeess!!! Aku berhasil!!!

“Aaiisshhh” Suzy menghentakkan kakinya dengan kesal saat menyadari kekalahannya. “Kenapa harus batu?? Kenapa?? Tadi harusnya gunting…” Suzy dengan kesal menggoyangkan kepalanya berkali-kali.

“Wahahaha..akhirnya..” Aku tertawa puas mengenang kemenangan perdanaku atas nona suit dihadapanku.

“Apa kau puas? Apa kau senang?” Ucap Suzy keki.

“Tentu saja.. Jarang-jarang aku bisa menang darimu..Baiklah untuk hukumanmu..Mmm.. Apakah minggu depan schedulemu penuh baby?” Tanyaku sembari mengatur nafasku yang memburu karena terlalu bersemangat.

“Minggu depan? Sepertinya aku free di hari minggu oppa.. Seminggu besok aku ada ujian. Waeyo?” Tanyanya dengan  wajah yang terlihat sangat penasaran.

“Free dari pagi sampai malam?” Tanyaku sekali lagi. Mengkonfirmasi apa yang aku dengar.

“Ne..dari pagi sampai malam. Waeyo?”.

“Oke kalau begitu. Akan ku jemput hari minggu besok jam 10 pagi ya baby..Kebetulan aku juga free dihari itu” Jawabku sembari duduk disampingnya lagi dan kembali menonton televisi.

“Apa hubungannya jam 10 pagi, hari minggu dengan tantanganku?” Wajah Suzy terlihat bingung sekarang, dan sungguh.. Aku suka sekali membuatnya seperti itu, kekeke..

” Hari Minggu. Jam 10. Aku akan menjemputmu. Kita berdua akan bertemu dengan keluargaku” ucapku sembari tersenyum padanya.

Tidak ada respon dan suara apapun dari Suzy, Ia hanya memandangku shock dengan mulut terbuka.

 

 

 

 

Jia’s POV

Aku memandang Suzy dan Yoseob yang sedang terlihat menikmati kebersamaan mereka. Haaahh… Pasangan yang sedang dimabuk cinta. Mengambil sebotol air dari dalam kulkas, dan duduk disalah satu bangku yang adadiruang makan. Tanpa kusadari, aku memandang kosong ke arah jendela besar yang ada dihadapanku, aiisshh!!! Kenapa wajahnya muncul disaat seperti ini!! Jiaaa!!! Jeball!!! Kembalilah ke akal sehatmu!!

Flashback

“Aku bilang pulang!!!” teriakku dari intercom saat mendengar suaranya muncul. Ini sudah malam, dan sungguh aku sangat lelah. Jetlag menerpaku. Kepalaku pusing, badanku amat lelah dan aku sungguh sangat tidak ingin diganggu oleh siapapun sekarang. Kehadirannya malam ini tidak membuat semuanya menjadi lebih baik.

“Shireo” aku mendengarnya menjawab dengan kata dan nada datarnya yang sama.

“Shireo katamu? Ya sudah. Terserah. Tunggu saja disana. Aku tidak akan membukakan pintu ini untukmu, tidak akan pernah!!” ucapku kesal kemudian berjalan menuju sofa dan merebahkan badanku begitu saja. Meladeninya membuat rasa lelahku menjadi lebih parah dari sebelumnya.

“Eonnie~~” aku mendongak dan melihat Suzy menatapku dengan bingung. Ia menoleh ke arah pintu dan kembali menatapku,“Emm.. Kenapa tidak membiarkannya masuk? Besok dia ada penerbangan pagi ke Malaysia. Apa kau tidak kasihan padanya?”.

“Tidak” jawabku singkat sembari menutup wajahku dengan bantal. Berusaha menghalangi suara bel yang terus saja berbunyi untuk masuk ke telingaku.Seakan memaksaku untuk memulai pertarungan ronde kedua lagi.

“Tapi eonnie…”

“Jangan pedulikan dia Suzy-ah.. Biarkan saja… Anggap dia tidak pernah ada..Apa kau sekarang lebih membelanya daripada aku? Kau berpihak padanya?” ucapku lagi sembari menutup mataku rapat, berusaha memanggil kantuk untuk segera menjemputku.

“Hyunseung-ah, pulanglah.. Ini sudah malam…” aku mendengar suara Fei eonnie, pasti saat ini dia sedang berusaha membuat orang keras kepala itu untuk pulang. Percuma, kau tidak akan bisa. Berapa kalipun menyuruhnya untuk berhenti, Ia tetap tidak akan mau. Yang ada dipikiran laki-laki itu hanya dirinya sendiri. Dia tidak akan pernah peduli apa yang dirasakan oleh orang lain.

“Noona.. Mian.. Tapi aku harus menemuinya…” aku mendengar suaranya lagi. Kenapa dia tidak pernah mau mengerti? Kenapa selalu dia yang ingin dimengerti? Kenapa dia harus selalu memulai semua dengan pertengkaran? Segera aku bangkit dari sofa dan berjalan kembali ke arah pintu dengan kesal. Fei eonnie menatapku bingung saat melihatku mendekat dan segera menyelamatkan dirinya sejauh mungkin saat aku membuka pintu. Dihadapanku saat ini, berdiri seorang laki-laki, rival abadiku.

“Mau apa kesini?” aku mendongak memandang ke arahnya. “Bukannya tadi aku sudah bilang jangan datang? Sudah kan? Katamu kamu ingin melihatku kan? Sudah cukup? Butuh waktu berapa lama untuk melihatku?” lanjutku. Mendapati matanya menatapku dengan tatapan sedingin es yang seakan punya ribuan makna dibaliknya.

“Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku dalam waktu satu bulan…” ucapnya tiba-tiba.

“Uhuukk” aku mendengar suara tersedak tidak jauh dariku, segera aku menoleh dan menyadari Fei eonnie sedang menatapku sembari menutup mulutnya. Suzy, yang berdiri disampingnya terlihat kikuk saat aku memandangnya kemudian sok sibuk dengan ponselnya. Sedang Min yang baru saja keluar dari kamar mandi memandangku dengan mulut ternganga.  Great tuan Jang!!! Great!! Sekarang kau juga menimbulkan masalah dengan memberku. Apa kau ingin mengetes kesabaranku lagi?

Aku mengerutkan keningku saat menatap matanya lagi. Ada apa dengannya? Apa sebenarnya yang ada dalam pikirannya? “Apa kau mengigau tuan Jang?” tanyaku.

Aku melihatnya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan tersenyum dengan lugu seakan apa yang telah dikatakannya tidak bermakna apa-apa. Aku berusaha mencari sedikit saja keseriusan dalam matanya. Tapi di matanya, ada sesuatu yang membuatku merasa takut. Sesuatu yang seakan mengharuskanku tidak terlalu dekat dengannya, sesuatu yang kelak akan menimbulkan bahaya untukku.

“Aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku. Terhitung sejak aku membalikkan badanku setelah ini..” ucapnya lagi dengan lugas. Aku melihatnya membalikkan badannya, punggungnya menghadap kearahku. Dia? 4D Jang akan membuatku jatuh cinta? Dia?Laki-laki yang merasa sok keren dengan memasang tampang sok misterius? Jangan bercanda denganku tentang hal bodoh seperti ini.

Sebuah tawa sinis meluncur dari bibirku dan tanpa bisa aku kendalikan, sebuah kalimat yang aku yakin terdengar jelas ditelinganya, aku berucap, “ Then make me. Make me fall for you. Make me feel that way if you can…”

  

 

“Ji~~?Jia~~?” aku menoleh dan mendapati Fei eonni sudah berdiri didepanku. “Kamu melamun apa?” tanyanya sembari duduk disampingku. Pandangan kami  berdua sekarang tertuju pada Suzy dan Yoseob yang sedang tertawa dengan kompaknya saat melihat dvd.

“Tidak ada..” aku menopang daguku diatas meja dengan kedua tanganku memandang masam  ke arah pasangan innocent yang sibuk dengan dunianya sendiri. Suzy yang sekarang berbeda dengan Suzy yang dulu. Sekarang dia lebih banyak tertawa. Harus kuakui bahwa Yoseob banyak memberikan perubahan yang positif pada dirinya.

“Mereka berdua cute ya..?” ujar Fei eonnie sembari menyeruput susu coklat hangatnya.

“Ne…”.

“Apa kamu tidak ingin mencoba dengan Hyunseung?” aahh, pertanyaan ini akhirnya muncul juga. Sudah seminggu ini aku berharap pertanyaan itu tidak akan pernah dilontarkan oleh siapapun, aku berharap tidak seorangpun dari memberku yang akan membahas soal si 4D ini, tapi sepertinya harapan itu tidak berguna.

“Sebelum bertanya hal itu padaku, tidakkah eonnie ingin mencobanya dahulu?” tanyaku langsung. Membalikkan pertanyaan yang diberikannya. “Bukannya kamu sudah dekat dengan Doojoon?”.

Aku melihat Fei eonnie menghela nafasnya dan terdiam  lama. Seakan aku telah mengatakan suatu hal yang sama sekali tidak ingin dibahas olehnya. “Aku rasa, cinta itu bukan untukku. Cinta itu ada, dan aku percaya kalau setiap orang memiliki cinta. Tapi, aku sadar.. Bahwa cinta bukan untukku…” ucapnya pelan.

Aku berdiri dari tempat dudukku dan bergumam  pelan, cukup jelas hanya untuk didengar oleh Fei eonnie, “Dan kau tahu eonnie.. Aku tidak percaya cinta itu ada…” ucapku sembari berjalan kembali menuju kamar. Love is bullshit.

 

 

Junhyung’s POV

Tidak seperti memberku yang lain, yang bisa langsung pulang dan beristirahat di dorm setelah perjalanan jauh kami, aku masih harus kembali ke studio untuk mengecek persiapan recording lagu kami besok. Karena lagu pertama yang direkam besok adalah  lagu ciptaanku, aku ingin semua berjalan sempurna.

Hari sudah larut saat aku keluar dari studio untuk kembali pulang ke dorm. Aku mengemudikan mobilku dengan pelan dan membuka jendelanya. Merasakan udara malam  yang menusuk tiap kulitku dan sadar. Aku merasa kesepian. Sangat kesepian. Aku butuh teman untuk menemaniku. Seseorang yang bisa menghiburku. Kuparkir mobilku ke sebuah taman yang berjarak tidak jauh dari jalan utama. Memperhatikan bahwa saat ini tidak ada siapapun ditaman itu. Aku memutuskan untuk keluar dari mobil, memakai kacamata hitam dan hoodie jaketku agar tidak dikenali oleh siapapun.

Aku duduk disalah satu bangku taman dan menikmati kesendirianku. Mengeluarkan ponsel dari saku celanaku untuk menghubungi Seobie, dan teringat bahwa saat ini dia pasti sedang menghabiskan waktu dengan Suzy. Pacarnya. Girlfriendnya. Kekasihnya. Dan aku? Dengan siapa kuhabiskan waktu luangku saat ini? Apakah ada yang peduli denganku? Reflek tanganku seperti begerak sendiri, memencet nomer telpon Hara, dan seketika teringat bahwa menghubunginya pun aku akan tetap mendapat jawaban yang sama, mailbox.

Aku mengedarkan pandangan kesekeliling taman dan melihat ada seseorang yang sedang bermain ayunan. Orang macam apa yang bermain ayunan di malam hari seperti ini? mungkinkah dia juga sama kesepiannya seperti aku? Hatiku seakan berhenti berdetak saat aku menyadari siapa orang itu. meskipun dia berusaha menutupinya tapi aku tetap bisa mengenalinya. Dengan cepat aku melangkahkan kakiku menuju ke arahnya. Kakiku yang seakan berjalan dengan sendirinya tanpa aku minta.

“Omo…!!” teriak sosok itu kaget saat aku mengayunkan ayunan yang didudukinya. Segera Ia menoleh dan dengan mata bundarnya menatapku kaget. “Junhyung oppa??” sebutnya.

Aku tertawa kecil saat melihatnya. Ternyata benar, mataku tidak salah sewaktu  melihatnya tadi. Ia benar-benar disini. Dan sekali lagi, dia selalu ada saat aku butuh seseorang. “Apa yang kamu lakukan disini?” tanyaku sembari duduk di ayunan kosong yang ada disampingnya.

“Ini… Tadi Lizzy dan Kahi eonnie menyuruhku membeli beberapa ramyun, jadi aku pergi ke mart yang ada dipojokan jalan sana..” ujarnya seraya menunjuk mart yang berjarak tidak jauh dari taman. “Setelah dari mart, aku lihat taman ini kosong dan aku sangat ingin sekali main ayunan, jadi…hehehe…” ucapnya sembari menertawakan dirinya sendiri.

Ada apa dengan gadis ini? kenapa dia terasa begitu istimewa untukku? Seakan moodku berubah menjadi lebih baik saat melihatnya. Rasa tenang yang akhirnya menyeliputiku.

“Apa dormmu disekitar sini?” tanyaku.

“Ne..Diseberang taman itu adalah dormku…Aneh ya.. Apa ini semacam suatu kebetulan? bertemu lagi denganmu? kekeke” ujarnya.

Aku mengangguk memperhatikan dorm tempatnya tinggal, mungkin aku bisa mengunjunginya suatu hari nanti.  Dan ini.. Bertemu denganmu disini adalah suatu kebetulan? Aku rasa tidak. Ini bukan kebetulan Nana. Ini takdir. Fate. Aku mengeluarkan sebungkus rokok dari saku jaketku dan  hendak menyalakannya.

“Apa itu?” tanya Nana tiba-tiba ia sudah berhenti mengayunkan ayunannya. Dan melihatku dengan serius.

“Ini rokok Nana. Masa kau tidak tahu ini apa?” aku menggelengkan kepala saat menjawab pertanyaan gadis disampingku ini. Bukankah sudah jelas?

“Iya..Aku tahu itu rokok. Tapi untuk apa?” tanya Nana lagi.

“Untuk menghilangkan stres…” jawabku enteng sembari menghisap rokokku pelan.

“Stress?” ulang Nana. “Kamu sedang stres? Apa hubungan stres dengan rokok ini?”.

Dari balik kacamata hitamku, aku menoleh ke arah Nana, yang sedang memandangku dengan tatapan penuh selidik dan rasa ingin tahu. Gadis yang tiba-tiba nampak unik dimataku.  Gadis yang mampu membuatku melupakan semua masalah yang ada dalam diriku.

“Dengan rokok aku bisa melupakan masalahku. Itu membantuku untuk berfikir jernih” ucapku sembari menghisap rokokku lagi dan menerawang jauh. Berharap dalam setiap hisapan rokokku, semua luka hati ini akan sembuh. Semua kecewa akan Hara. Semua ketidak mengertianku akan hubunganku dengan Hara.

“Jinjja? Benar-benar bisa berpikir jernih?” ulangnya seakan tidak percaya. Melihat perubahan wajahnya, saat dia tersenyum, saat dia cemberut, saat dia kaget, dan aku masih ingin melihat ekspresi wajahnya yang lain. Haruskah aku mengakui bahwa kelak dia akan menjadi gadis yang spesial di hariku? Atau.. Apakah dia sudah menjadi spesial?

“Ne…” jawabku sambil mengangguk dan memperhatikan dengan seksama ekspresi lucu apalagi yang akan muncul di wajahnya.

“Oke, kalau begitu beri aku satu…” ucapnya dengan bersemangat.

“Hah?”

“Beri aku satu batang oppa…” ujarnya lagi seraya mengulurkan tangannya ke arahku dengan tidak sabar..

“Apa kau merokok?” aku menatapnya bingung. Seorang Nana merokok? Seorang gadis? Aku tidak pernah tahu kalau ada idol wanita yang merokok.

“Tentu saja tidak. Yang benar saja. Tadi kan kau bilang sedang banyak masalah dan aku ingin membantumu. Jadi kalau aku ikut merokok akan membuatmu semakin berfikir jernih. Sini, beri aku satu…” Nana mengambil bungkus rokok dari tanganku dengan paksa dan  mengambil sebatang.

“Nana…” aku tidak bisa mengucapkan apa-apa lagi, terlalu shock dengan apa yang dilakukan olehnya. Dia tidak akan berani melakukannya. Tidak. Dia tidak mungkin berani.

“Aigoo~~ Ini bagaimana cara menyalakannya..” ujar Nana sembari sibuk menyalakan pematik korek api milikku, yang sama sekali tidak bisa dinyalakannya.

“Nana…Hajima…” aku berusaha mengambil rokok dan pematik milikku dari tangan Nana, namun ditangkis Nana dengan cepat.

“Tunggu oppa. Aku akan membantumu supaya berfikir jernih. Sebentar lagi oke..Eommaya~~akhirnya.. Ini apinya didekatkan ke rokok seperti ini…” Nana menginstruksikan dirinya sendiri. Dengan pelan-pelan Ia melakukannya.

Aku menggelengkan kepala, tidak percaya dengan apa yang harus aku hadapi. Aku tidak menyangka menemukan seorang gadis yang bisa mengendalikanku dengan cara yang berbeda. Tersenyum lemah, segera aku membuang puntung rokok yang kuhisap tadi ke tanah kemudian menginjaknya hingga mati. “Sudah? Puas sekarang?”.

Nana menoleh kearahku, sebuah senyum muncul dibibirnya saat menyadari apa yang baru saja aku lakukan. “ Ehehehe…Ne…” jawabnya. Ekspresi wajahnya yang baru, caranya tersenyum sembari menggigit bibirnya. Apakah aku tengah melihat bidadari saat ini?

Aku mendapati diriku tersenyum, senyum tulus yang benar-benar muncul dari hatiku, dan bukan karena terpaksa. Seakan hatiku menjadi hangat kembali dan merasa tenang. Merasa tenang saat bersamanya.

“Bagaimana kalau kita makan ini saja? Aku rasa bentuknya hampir sama…” Nana berucap sembari membuka bungkus stick coklat berlabel ‘Pocky’ dan memberikanku sebatang. “Setidaknya kita bisa berlagak sedang merokok sekarang…kekeke” lanjutnya seraya tersenyum kearahku. Senyum yang  membuat jantungku berdetak lebih cepat. Lagi.

“Jadi seperti yang kamu katakan tadi padaku.. Apa kau benar-benar bisa membantuku, Dokter Nana?” tanyaku dengan kalem sembari memakan coklat stick pemberiannya. Tergambarkan dalam pikiranku, bahwa malam ini akan menjadi salah satu malam yang tidak akan terlupakan untukku. Menghabiskan malam berdua dengannya. Bidadari yang tiba-tiba masuk kedalam hidupku tanpa pernah kuharapkan kehadirannya.

“Ne.. Apa masalahmu uri charismatic rapper?” ucap Nana sembari tersenyum lembut ke arahku. Memandangku dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.

Serasa waktu berhenti saat aku menatap ke dalam matanya. Tatapan matanya yang hangat dan seolah-olah benar-benar peduli akan apa yang aku rasakan. Dan senyumnya.. Senyumnya yang tidak pernah bisa aku lupakan sejak aku melihatnya di Hallyu Wave Concert. Nana. Im Nana… Can I keep that smile? Can you give that smile just for me? For me…The unavailable Junhyung…..

“Do you have a boyfriend….?”.

 

 

♥ To Be Continue ♥

 

 

First, buat yang bertanya-tanya ‘Siapa sih si Nana yang dipairing sama Junhyungie?’.. Dia Nana After School. Kalo penasaran bisa di search aja.. Cantik kog dia, ahahaha…

Sebenernya aku pengen sih ngebikin love storynya semua anak beast, mereka berenam. Tapi kayaknya bakal kerasa rakus banget ya..

Jadi udah aku tetapkan, main characternya ya tiga cowo ini. Junhyung, Hyungseung dan Yoseob.

Member lain? tenang..Aku ngga pilih kasih kog.. Aku akan usahakan mereka bakal tetep muncul sambil nyari storyline yang cocok buat mereka…Meski ngga jadi main character tapi tetep muncul lha.. ^^

Okeeeh.. Gimana ficnya? adakah yang kurang?

See you next week ^^/

 

 

Comment and suggest are so much loved

Comments
86 Responses to “Serendipity – Chapter 1”
  1. 16melinda051995 mengatakan:

    mianhae ya baru sempet komen..
    soalnya kemaren-kemaren baca di hp..
    keren banget eon ffnya :D salam kenal ya aku readers baru disin

  2. melindamel mengatakan:

    annyeong..
    salam kenal ya, aku reader baru disini :D
    ini sequel mr. aegyo fake girlfriend ya?
    seru sumpah :D

  3. beasttt mengatakan:

    wah junhyung ngerokok..wah..
    daebak unnie, seru bgt^^

  4. keycha mengatakan:

    ah~ seru nih unn !
    betewe unnie kepikiran masangin junhyung-nana dr mana sih unn ?

  5. Nadhiraa mengatakan:

    Lagi2 author sukses bikin fanfic yg gak kalah seru dr fanfic sebelum2nyaa ;D kereen!

  6. keycha mengatakan:

    unn,, aku pilih comment di chap satu nih,
    abis aku suka part ini,
    part galau – galau nya anak beast :)
    yozy sih eksis ya~~
    ah~ jadi makin berharap mereka real :0

  7. adhyra10 mengatakan:

    EONNIII AAA….bagaimana bis aku melewati ini semuaaaa D:
    aaaaa aku baru tau ada ini :”
    yaampun…*nangis dipojokkan*
    jd ini gak yozy doang ya…
    huaaa bagus deeeh aku pgn semuanya juga :’

  8. wuchan mengatakan:

    waa. ceritanyaa seruu
    jadi menarik jia ama hyunseung uun.
    thumbs up ! :D

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

  • 1. nine

      
    2. myupang

     
    3. dikariani

      
    4. min

      

    5. Uti ajjah

     

    6.ex-orgil

      

    7.sheilaananta

      

    8. shinichivskid

      

    9. aya

      

    10. rizkiamute

      

    11. chingzz

     

    12. cindytania

     

    13. gongju13

     

    14. jengjungsu

    15. artdiaz

    16. lunarcherry

     

    17. the dreamer

     

    18. phoelfish

    19. hovephi

    20. parkminra

    21. thiaelfishy

    22. kyuhyunyoja

    23. alwayskpok4ever

    24. park eunhye

     

    25. seungwon

      

    26. satsukisorayuki

      

    27. yoorin 1992

    28. mika-chan

      

    29. jungcassie

    30. ochaananda

    31. monpin

    widget

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 510 pengikut lainnya.